LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 127





Beberapa hari berjalan dengan baik. Malam ini adalah acara award yang akan memberikan penghargaan pada para bintang.



DK datang ke perusahaan *N~A Cell* untuk menemui Meldy, ia ingin agar gadis itu datang sebagai pasangannya. Cukup lama mereka tidak bertemu, Meldy selalu saja mengabaikan pesan dan teleponnya. Tapi DK tak peduli, ia ingin agar Meldy bisa ikut bersamanya.



"Aku tidak bisa, Darren? Pekerjaanku sangat banyak." Meldy beralasan.



"Ayolah? Sekali ini saja? Aku tidak akan lagi memaksamu di lain hari." Dan DK terus membujuk.



Saat mereka tengah melakukan perdebatan, Zid tiba-tiba masuk, ia merasa kaget karna Meldy ternyata bersama dengan DK.



"Oouuh, Sorry, aku tidak tahu kalau ternyata ada orang." Zid mengatakan yang sebenarnya.



"Aku kesini hanya ingin mengambil berkas."



Meldy dan DK hanya diam. Mereka sedang berada di ruang meeting para staf, Meldy baru saja selesai melakukan meeting yang ia pimpin tadi. Dan DK yang sudah menunggunya lekas masuk saat meeting selesai.



"Mel?" DK kembali bersuara. Zid masih mencari berkas yang ingin ia ambil, atau sebenarnya ia hanya pura-pura mencarinya karna dia ingin mendengar percakapan antara Meldy dan DK yang ia kira mereka tengah menjalin hubungan.



Meldy menatap Zid yang masih ada disana.



"Baik." Jawab Meldy singkat.



"Great, thank's honey?" DK memeluk Meldy tiba-tiba. Meldy membulatkan mata, ingin rasanya saat ini dia mendorong tubuh DK. Tapi ia tak bisa. Ada Zid disana. Dan dia berpura-pura menjalin hubungan dengan DK.



*Hati mana yang tak perih melihat orang yang sangat kita cintai, yang dulunya sangat mencintai kita, kini malah berada dalam pelukan orang lain*?



Zid lekas menarik satu berkas dan dia melangkah cepat meninggalkan ruangan. Dia cemburu, dan itu sakit, sesak.



Meldy dan DK melihatnya. Mereka berdua sama-sama tahu apa arti dari raut muka Zid yang bergegas keluar tadi.



'*Kau benar-benar sudah melupakanku, Mel*?'



Ada rasa tak terima di hati Zid. Tapi ia tak tahu harus berbuat apa. Meldy tak mau lagi menerimanya.



"Lep\_pas!." Meldy mendorong tubuh DK yang memeluknya.



"Jaga batasanmu, DK?."



DK hanya tersenyum *Smirk*. Dan dia mengabaikan kemarahan Meldy.



"Baiklah, aku balik dulu sekarang, nanti malam aku akan menjemputmu jam 7. Okay, Bye?." DK hendak mengecup pipi Meldy, tapi Meldy dengan cepat menghindar, dan DK hanya mengangguk-anggukkan kepala. DK tetap santai dengan penolakan yang Meldy tunjukkan secara terang-terangan. Bahkan dia menyadari jika Meldy setuju pasti karna ada Zid tadi.



DK pun pergi dari sana. meninggalkan Meldy yang masih terdiam dengan apa yang barusan ia lakukan.



'*Kenapa aku bisa melakukan itu? Apa yang sebenarnya ingin aku buktikan pada Zid? Aaahh? Kenapa aku menerima ajakannya DK? Aaahh, Sial*?'



Meldy merasa bersalah dengan apa yang sudah menjadi keputusannya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Ada undangan sebuah acara award, jika kau mau, kau datanglah nanti malam, dan ajak Mikaila bersamamu, mungkin itu bisa sedikit menghiburnya." Aryan berbicara dengan Zico, mereka berdua berada di ruangan Aryan saat ini. Zico hanya mengangguk. Ia juga butuh refresh.



Zico tak pernah lagi bersentuhan dengan dunia malam. Mungkin mendatangi ajang bergengsi itu bisa sedikit mencuci matanya. Menjadi penghiburan untuknya. Biar bagaimanapun, melihat wanita-wanita cantik dan seksi adalah asupan gizi terbaik bagi Zico. Dan dia tidak melanggar janji apapun pada Cellin.



Perusahaan Aryan memang menjadi salah satu yang mensponsori acara itu. Dan dia di undang sebagai tamu kehormatan. Zico yang akan datang sebagai perwakilan.



Lain halnya dengan Arend yang sudah pulang kerja di siang hari, ia sudah membicarakan hal itu dengan Syeira. Mereka tidak akan datang pada acara award. Dan Arend meminta Zid yang datang sebagai perwakilan dari perusahaannya.



Syeira sedang hamil, dan Arend sangat berhati-hati saat ini. Pasti akan sangat melelahkan jika mereka datang, para wartawan pemburu berita pasti akan cukup merepotkan. Dan duduk terlalu lama itu bukanlah hal yang baik untuk Syeira.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Meldy telah siap. DK menunggunya di loby bawah, sesuai permintaan Meldy.



Meldy terlihat sangat cantik dan anggun, berkelas, elegan dan menawan, tanpa menghilangkan kesan seksi yang selalu melekat pada dirinya.



Meldy mengenakan gaun malam yang sangat indah, memancarkan kecantikannya dengan sempurna.



Sebuah gaun malam dengan tali transparan yang sangat kecil di bahunya. D.a da nya yang memang berukuran cukup besar terlihat menantang para kaum Adam. Di tambah belahannya yang sangat rendah, sehingga garis tengah d.a.da itu selalu membuat mata DK seakan ingin tertuju kesana menikmatinya. Normal. Karna dia seorang pria.



Bagian bawah gaun Meldy panjang dan jatuh, belahannya sampai ke paha atas. Menampakkan kaki jenjangnya yang putih mulus dan seksi. Lekuk tubuh Meldy adalah impian para wanita, dan dambaan bagi para pria.



'*Glek*'




'*Bagaimana Zid bisa berpaling dari berlian semahal ini hanya demi kerikil jalanan?. Benar-benar pria sial*.'



"Kau sangat cantik Meldy. Aku beruntung bisa menggandengmu malam ini."



DK mengatakannya dengan tulus. Meldy adalah suatu bukti kecantikan yang nyata.



"Terimakasih, Tuan DK. Maafkan aku, karna aku harus menghabiskan 2 milyarmu untuk semua ini." Ucap Meldy sambil mengulurkan tangan memberikan sebuah kartu Black Card yang tadi DK berikan pada Meldy untuk belanja dan bersiap.



"Tidak masalah, Mel. Nilai itu bahkan tak sebanding dengan kecantikanmu saat ini." DK terus memuji Meldy, dan dia menerima kembali Black Card nya.



Meldy tersenyum senang, dia memang sangat suka di puji, hakekat alami sebagai seorang wanita.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Di gedung acara. Mikaila dan Zico sudah sampai. Mereka berbicara menjawab pertanyaan-pertanyaan para awak media sebelum mereka masuk.



"*Tuan Zico. Apakah Nona Kei akan menjadi pasangan hidup anda? Apa kalian akan menikah*?"



Mikaila menatap Zico dalam, ia pun menunggu apa kalimat yang akan Zico ucapkan sebagai jawaban.



"Tidak, dia adalah adikku, kami sudah seperti keluarga kandung."



Mikaila tersenyum.



'*Thank's, Zico. Kamu adalah satu-satunya orang yang masih selalu ada untukku. Setelah kehilangan papa. Dan orang-orang yang ku cintai pergi mengabaikan ku, Tuhan masih berbaik hati dengan menghadirkan mu sebagai keluargaku*.'



Mereka pun masuk setelah berpose dan para awak media mengambil gambar mereka.



"Zid?"



"Zico?."



"Aaahhh, baguslah. Kita bertemu. Kursimu?"



Zico bertanya pada Zid tentang kursi yang akan Zid duduki. Zid pun mengeluarkan sebuah card dari kantong celananya.



"2b." Jawab Zid.



"Aaahh? Itu sangat bagus. Lihat punyaku."



Zico menunjukkan kartu nya, yang berarti mereka akan duduk bersebelahan. Mungkin mereka memang sudah mengaturnya dengan baik. Jika perusahaan dari Aryan dan Arend adalah satu keluarga. Dan di kumpulkan. Entahlah.



Zid mengangguk dan mereka pun masuk bersama.



DK turun dari mobilnya. Ia lantas berjalan memutar membukakan pintu untuk Meldy. Para awak media langsung menyerang mereka. Dan para Keamanan serta Bodyguard harus bekerja keras agar bisa menahan para awak media agar tidak semakin mendekat dan melewati pita pembatas.



"*Tuan DK? Tuan DK? Siapakah wanita yang tengah bersama anda saat ini? Apakah dia pacar anda*?"



DK hanya tersenyum. Ia menggandeng tangan Meldy berjalan beriringan di karpet merah. Flash-flash kamera menyerang mereka berkelebat seperti kilat.



Meldy berusaha menerima pencahayaan yang menyilaukan itu dengan tetap menghadap depan. Di tambah senyumnya yang menawan.



'*Pantas saja Syeira waktu itu terus menunduk. Gila. Rasanya mataku tak bisa melihat apa-apa. Sakitnya sampai ke kepala*.'



DK dan Meldy berdiri berpose di depan stage. Membiarkan para awak media mengambil gambar mereka. Sebelum akhirnya nanti mereka masuk ke dalam gedung acara.



"*Tuan DK? Tolonglah jawab pertanyaan kami? Apakah Nona cantik ini adalah kekasih anda*?"



DK tersenyum. Meldy pun sama halnya. Ia tahu etika. Tak mungkin bertingkah sesuatu yang bisa mempermalukan DK di depan orang-orang. Apalagi Zid juga tahunya mereka memang sepasang kekasih.



"Saya masih memperjuangkannya. Dia tidak mudah untuk di dapatkan."



Sontak Meldy menatap DK dalam. Dan Meldy tersenyum senang. Ada kebanggaan. Dan juga tidak menyangka dengan jawaban yang DK berikan. Meldy berpikir jika dia akan memperkenalkan dirinya sebagai kekasihnya di depan semua orang, tapi ternyata jawaban DK sangat mengejutkan.



"Baiklah. Terimakasih."



DK mengakhiri dan menggandeng Meldy berjalan beriringan.



Para wartawan masih meneriaki nama mereka. Dan flash-flash kamera terus berkelebat kearah mereka yang terus melangkah dan punggungnya mulai menghilang.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...