
"Jadi kau akan menikahi Zizi?" Arend dan Zid tengah bertemu di cafe tak jauh dari perusahaan *N~A Cell*.
Zid mengangguk menjawab pertanyaan Arend.
"Apapun yang akan aku lakukan akan tetap salah. Itu memang menjadi hukuman yang pantas untuk kudapatkan atas pengkhianatan yang telah kulakukan terhadap Meldy."
Arend mengangguk. Benar kata Zid sebelumnya yang menceritakan kondisi Zizi saat di rumah sakit, wanita itu rapuh, seorang diri, lemah dan terluka.
Zizi harus kehilangan calon bayinya. Dan dia tak memiliki sesiapa tuk mendukungnya. Karena itu Zid mengambil keputusan untuk memperistri Zizi. Zid kasihan, tidak tega. Zid juga merasa jika semua yang terjadi pada Zizi saat ini adalah akibat kesalahannya.
"Lagi pula Meldy sudah benar-benar menolakku, dia tidak akan pernah mau untuk kembali lagi padaku. Aku tak bisa terus berharap padanya. Itu justru akan menyakiti kami semua."
Zid dan Arend terus membicarakan rencana pernikahan Zid dengan Zizi. Pernikahan itu akan di lakukan tertutup di apartemen Zizi. Hanya Arend sekeluarga yang akan menjadi tamu pernikahan mereka. Dan Meldy jika wanita itu bersedia. Tapi jelas Zid pesimis. Tidak mungkin Meldy akan bersedia hadir. Dan. Betapa brengseknya Zid jika ia meminta Meldy untuk hadir.
"Baiklah, aku harus kembali ke kantor sekarang. Begitu banyak pekerjaan. Kuharap kau juga bisa segera kembali bekerja." Arend pun pamit, Zid mengangguk dan mereka berpelukan sesaat sebelum berpisah.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Di Ruang Kerja Arend**.
"Zico lama sekali di kamar mandi? Apa perutnya benar-benar sedang sakit?" Meldy mulai berpikir, sudah 30 menit lebih Zico berada di dalam sana. Dan belum ada tanda-tanda akan keluar.
Meldy pun beranjak. Ia akan mengetuk pintu kamar mandi. Takut-takut mungkin saja Zico pingsan. *Aneh-aneh saja memang isi otaknya*.
"Zic\_\_?" saat Meldy mengepalkan tangan di udara hendak mengetuk pintu dan memanggil nama Zico. Tiba-tiba pintu sudah di buka. Zico berdiri berhadapan dengan Meldy.
"Apa?" tanya Zico kaget karena Meldy sudah berdiri disana.
"Aaahh?" Meldy pun sama kagetnya.
"Ehm?" Meldy terlihat berpikir, malu rasanya jika dia ingin memastikan keadaan Zico baik-baik saja atau tidak di dalam sana.
"T-ti tidak. Aku? Aku cuman kebelet, buruan minggir!"
"Aaahh?"
Meldy menarik tubuh Zico hingga Zico sempoyongan keluar dari ruang itu. Dan Meldy melesat masuk menggantikan posisi Zico.
'*Braackk*' Meldy membanting pintu.
"Aaahh? Dasar wanita setres!" Zico mengumpat.
Meldy menyalakan air kran, sehingga ia tak dapat mendengar suara Zico yang mengumpat padanya barusan.
"Bodoh bodoh bodoh. Tolol tolol tolo." Meldy merutuki dirinya sendiri sambil memukul pelan kepalanya sendiri berkali-kali.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Di Mension Aryan**.
Aryan pulang kerja saat hari menjelang sore. Ia tengah duduk santai di kursi halaman belakang. Ayla datang membawakan teh hangat. Kebiasaan mereka menikmati waktu santai bersama.
"Ay?" Aryan memulai obrolan.
"Iya Mas?"
"Apa kau tidak memikirkan bagaimana masa depan Mikaila? Dia sudah semakin dewasa. Di usianya sekarang ini, teman-temannya sudah pada memiliki anak."
"Maksud mas Aryan?"
"Kita harus menikahkan Mikaila, Ay?"
Ayla terdiam, apa yang dikatakan Aryan tentang Mikaila memang benar. Anak gadis itu sudah seharusnya menikah di usianya yang sudah dewasa.
"Tapi mas? Mikaila mencintai Rain. Dan itu tidak mungkin. Aku tidak mau ada Ineke ke dua dalam keluarga kita."
"Aku tahu, Ay. Aku juga tidak akan merestui jika sampai hubungan mereka benar terjadi. Tapi kita tidak perlu khawatir tentang itu. Rain tidak mencintai Mikaila. Dan bahkan dia sudah pergi sekarang."
Mereka kembali terdiam sesaat.
"Aku berpikir. Bagaimana kalau kita menjodohkan Mikaila dengan Zico, Ay?" Aryan mengutarakan pendapatnya.
"Bukankah dulu, kamu pernah bilang, kalau sebenarnya Zico menyukai Mikaila. Tapi karena Mikaila yang mencintai Arend. Akhirnya Zico diam tak mengungkapkan."
Aryan dan Ayla terus membicarakan perihal Kei dengan Zico. Setelah melalui pertimbangan dan pemikiran yang matang. Keduanya setuju untuk menjodohkan Mikaila dan Zico. Dan langkah terakhirnya adalah mengajak Zico dan Kei bicara bersama.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Hari sudah malam.
Kini di ruangannya Arend, Meldy dan Zico masih berkutat dengan laptop dan berkas-berkas.
"*Hoaaamm*" Meldy menguap.
Zico melirik jam di tangannya. Pukul 10 malam.
"Hhaahh" Zico menghela nafas. Lelah. Ia lantas menutup laptopnya.
"Hemm?" Meldy mendongak melihat Zico. Pekerjaan mereka belum selesai.
"Matikan laptopmu." ucap Zico.
"Tapi kan belum selesai?"
"Kau mau tidur di kantor? Kalau aku tidak mau, aku mau tidur di ranjang empuk, apalagi kalau ada wanita seksi yang menemaniku"
"*Iisshh*" Meldy jengah. Ucapan Zico selalu seputar wanita.
"Kau balik sendiri apa mau ku antar?" tanya Zico yang memakai jasnya yang tadi sempat ia lepas.
'*Aaiisshh, pertanyaan macam apa itu*?.' batin Meldy.
"Pulang sendiri." ucap Meldy kesal sambil merapikan berkas.
"Okay, hati-hati di jalan." Zico melangkah, ia benar-benar meninggalkan meldy.
Meldy terperangah, mulutnya membuka lebar, tangannya mengepal di udara. Ia ingin marah rasanya. Namun tak bisa.
"Aaahh? Dasar, laki-laki macam apa itu? Meninggalkan seorang wanita pulang sendirian padahal sudah malam. Dasar kadal." Meldy mengumpat Zico yang sudah menghilang.
Meldy pun keluar dari ruangan Arend setelah ia sudah selesai merapikan semuanya.
Beberapa lampu sudah padam, suasana sepi dan mencekam.
"Haahh? Sudah tidak ada orang?" tiba-tiba Meldy merasa sangat takut. Ia melangkah, berhenti di depan lift lalu menekan tombolnya.
"Cepat? Kenapa tidak terbuka juga?" Meldy semakin panik. Pintu lift tak kunjung terbuka.
"Meldy?"
"Aaahhh?" Meldy berteriak kencang saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Ia takut dan kaget.
"Hei? Ini aku?"
"Zid? Kau mengagetkanku, jantungku rasanya mau copot."
Zid yang pulang tadi dan ingin kembali ke Rumah Sakit tak sengaja melihat Meldy yang masih berdiri disana seorang diri.
"Kamu lembur? Sendirian?" tanya Zid.
"Tadi sama si kadal Zico. Tapi dia sudah pergi duluan." Meldy menjawab dengan nada kesal. Bahkan bibirnya sudah manyun mengekspresikan kekesalannya.
Zid tersenyum melihat Meldy berekspresi seperti itu. Imut.
"Mau pulang kan? Aku antar ya?" tanya Zid.
'*Ting*?' pintu lift terbuka. Meldy dan Zid mendongak. Zico berdiri disana.
"Zico?" seru Zid. Zico sendiri sedikit kaget saat ia melihat Zid yang juga berada disana bersama Meldy.
"Hai?" sapa Zico kaku.
"Em? Barangku ada yang tertinggal, jadi aku kembali untuk mengambilnya." Zico tersenyum lalu keluar dari lift dan kembali masuk ke ruangan Arend.
"Ayo?." ucap Zid pada Meldy mempersilahkan wanita yang dicintainya itu agar masuk lebih dulu. Dan mereka berdua pun masuk bersama kedalam lift.
Saat Zico berada di ruangan Arend. Ia mengintip dari kaca pintu, melihat Zid dan Meldy yang pergi bersama.
"Aaahh? Dasar wanita. Aku balik lagi kesini untuk menemuimu dan mengajakmu pulang bersama? Malah sudah bersama dengan pria lain. Dasar Meldy F.u.ck girl." Zico mengumpat kesal.
Sejak awal Zico sebenarnya ingin mengajak Meldy pulang bersama, mengantarnya, hingga ia bisa memiliki waktu yang lebih bersama Meldy, tapi Zico merasa gengsi sehingga ia malah mengucapkan kalimat yang seperti itu tadi. Dan Meldy pun membalas dengan angkuh.
Setelah Zico berada di dalam lift, ia terus berpikir. Sayang jika dia melewatkan kesempatan untuk bisa bersama Meldy, jadi Zico kembali. Dan justru dia mendapati Meldy sudah bersama Zid.
Zico pun kembali keluar setelah Meldy dan Zid sudah menghilang. *Kalah satu langkah*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...