LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 61





"Apa saya harus memberitahu Tuan Aryan, Tuan Rain.?"



"Tunggu, Cen. Aku masih belum siap jika harus berhadapan dengan mereka.!"



"Tapi mereka pasti mencari keberadaan Nona Muda ini saat ini, Tuan Rain?.!"



"Kita tunggu sampai dia sadar, baru setelah itu antarkan dia kembali pada keluarganya.!"



Cen mendengarkan semua perintah yang Rain berikan padanya. Dan Cen menundukkan kepala mengerti. Lalu Cen keluar dari sana.



Rain mendekat duduk di tepian ranjang, Mikaila masih tak sadarkan diri, ia terbaring dengan kedua matanya terpejam sempurna.



Rain melihatnya, ia mengingat wajah Mikaila ketika masih kecil dulu, dan dia sekarang telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik hampir sempurna.



Mikaila bergeliyat, keningnya mengernyit, Rain langsung berdiri saat melihatnya. Ia menatap tajam pada Mikaila yang mulai membuka mata.



Mikaila mulai samar-samar melihat sekeliling, ia begitu kaget kala mendapati Rain yang tengah berdiri gagah di samping ranjang.



"Aaaahh.!" Mikaila refleks berteriak keras spontanitas. Rain memejamkan mata menahan amarah mendapati Mikaila yang menjerit.



Rain kembali membuka mata perlahan dan menatap Mikaila dengan tatapan tajam. Mikaila merasa takut, tapi dia mengira jika pria yang berdiri dihadapannya ini pasti adalah salah satu preman itu. Mikaila tak mengingat Rain sama sekali.



Mikaila menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia melihat sebuah botol minuman yang terdapat di atas meja. Mikaila lekas turun dari ranjang dan berlari ke arah meja itu meraih botol minuman.



Rain hanya mengamatinya dingin tanpa berniat menghentikan aksi Mikaila.



Mikaila meraih botol dan melemparkan benda terbuat dari kaca itu ke arah Rain dengan sekuat tenaga.



Rain membulatkan mata dan langsung menepis botol yang melayang kearahnya dengan lengannya, secara cepat dan kuat, hingga botol itu mengarah kesamping membentur dinding dengan keras, dan pecah.



Mikaila semakin membulatkan mata, sedangkan Rain hanya melirik Mikaila dengan tatapan tajam.



Mikaila berdiri terpaku dengan tubuh yang gemetar. Ia sungguh takut. Rain melangkah. Mikaila pikir jika pria yang seusia dengan ayahnya itu akan menghampirinya. Dia mundur. Namun ternyata Mikaila salah, Rain hanya berjalan menatap lurus ke depan melewati Mikaila tanpa meliriknya sama sekali dan keluar dari sana.



Jika dia bukanlah anggota keluarga Ayla. Pasti Rain sudah membunuh Mikaila sejak kemarin. Bagi Rain. Tidak peduli secantik apapun rupa wanita yang ditemuinya. Jika Rain tidak suka dan kesal. Maka Rain akan langsung menghabisinya.



Seperti para wanita cantik sebelum-sebelumnya yang di kirim oleh musuh sebagai penyusup. Rain akan mengungkung wanita-wanita itu di bawah kendalinya, mencari kepuasan, dan setelah selesai, maka hidup wanita itu pun selesai juga.



Beberapa wanita itu terkadang jatuh cinta pada Rain. Tapi rain tidak peduli. Tidak ada rasa yang mampu menjamah hatinya. Maka Rain tetap akan membunuh wanita itu.



Dia lah sang raja iblis. Sang Monster dunia hitam. Seorang Bos Mafia berhati dan berdarah dingin. Tuan Rain Cosa.



Mikaila lekas melangkah mengikuti gerak Rain yang keluar dari kamar. Mikaila terus berteriak mengajak Rain berbicara, namun Rain tidak mempedulikannya dan terus saja berjalan.



"Siapa kau.? Dimana aku.? Kau menculikku.?"



Mikaila terus berteriak, berjalan cepat mengikuti gerak langkah Rain, melewati lorong demi lorong gelap di Mension super besar dan mewah yang terlihat menyeramkan ini bagi Mikaila.



"Apa kau tuli.? Atau kau bisu.? Kenapa kau diam saja, Penjahat.? Katakan sesuatu.!"



Mikaila sudah sangat kesal, Ia akhirnya meraih tangan Rain dan Rain membalik keadaan mendorong tubuh Mikaila hingga punggungnya membentur dinding dengan keras.



"Aaaaahhh.?"



Rain membekuk tangan Mikaila kebelakang badannya Mikaila sendiri dengan tangan kiri Rain. Lalu tangan kanannya mencengkeram wajah Mikaila hingga pipi Mikaila merah karna cengkraman itu.



Mikaila menangis, selain merasa takut yang teramat sangat, ia juga merasa kan sakit pada pergelangan tangan dan pipi nya. Bibir Mikaila sampai manyun karna cengkraman tangan Rain yang begitu kuat.



Rain hanya diam, tak sepatah katapun yang yang keluar dari mulutnya. Mata Rain menatap tajam Mata Mikaila. Buliran jernih itu terus keluar dari sudut-sudut mata Mikaila. Rain sangat kesal dan benci melihat Mikaila.



"Tuan.?"




"Kami berhasil membawanya, Tuan. Dia berada di ruang Eksekusi sekarang.!"



Cen melaporkan satu tugas yang baru saja di selesaikan dengan baik. Rain lekas melepas cengkraman tangannya pada wajah dan tangan Mikaila, Rain melepasnya dengan sedikit dorongan kekesalan, hingga punggung Mikaila kembali mengalami benturan.



Mikaila hanya bisa menangis dan diam tanpa pemberontakan, ia masih merasakan sakit di tubuh, tangan dan wajahnya.



Rain lekas melangkah cepat meninggalkan Mikaila yang menangis bersandar di dinding. Cen melihatnya datar. Lalu ia pun ikut turut gerak langkah Rain.



Mikaila menatap mereka yang pergi meninggalkannya seorang diri dengan tatapan campur aduk, tapi rasa takut lebih mendominasi.



Tak butuh lama punggung Rain dan Cen menghilang dari pandangan.



Tubuh Mikaila merosot kelantai, ia terduduk di lantai dan merasa tak berdaya. Siapa mereka.? Dimana kini dia berada?. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya.



Hingga beberapa pelayan wanita datang membawakan makanan dan pakaian ganti untuk Mikaila.



Tentu saja Mikaila melakukan perlawanan. Tapi salah seorang wanita yang berpenampilan sangar seperti pria dengan rambut panjangnya di kuncir kuda, berpakaian serba hitam lengkap dengan jas hitamnya, Mengangkat tubuh Mikaila dengan kasar. Dia adalah meghan, istri Cen.



Meghan memaksa Mikaila untuk masuk kedalam kamar, dan memaksa Mikaila untuk menurut, Meghan adalah wanita kuat yang keras. Dia tidak suka di bantah, satu-satu nya orang yang bisa membuatnya tunduk hanyalah Rain. Bahkan Cen pun tak mampu menandinginya jika Meghan dalam mode emosi ON.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Arend bersiap, ia akan pergi ke alamat yang tertera dengan nama pemilik ***Ineke Cosa*** itu. Arend sangat yakin, jika itu adalah tempat tinggal Rain.



Alamat yang tertera lumayan jauh, itu adalah daerah paling ujung kota. Kawasan yang begitu sepi dari bangunan lainnya. Perjalanan mungkin membutuhkan waktu satu jam, karna tempat itu masih di kawasan pusat kota.



Syeira mencegah Arend yang akan pergi seorang diri. Arend tidak berniat untuk membawa pengawal. Jelas Syeira tidak akan mengizinkannya. Syeira sendiri tidak tahu apa dan siapa yang sebenarnya dicari arend. Yang dia tahu Arend hanya sedang mencari keberadaan Mikaila.



"Aku ikut.!"



Syeira mengucapkannya tegas dengan nada suara bergetar setelah Arend yang di larang tetap akan pergi seorang diri.



"Jangan bercanda, My L.! Ini bukan lah mainan.!"



"Kau tahu jika ini bukanlah mainan. Tapi kau sendiri sudah membuat nyawamu sebagai mainan. Aku hanya takut kehilanganmu, My L.?"



Syeira menangis dan menjatuhkan diri ke dalam pelukan Arend.



"Kau akan pergi mencari Mikaila. Aku takut kau berpaling padanya dimula dengan rasa kasihan.!" Syeira merajuk, suaranya terdengar manja. Dan Arend tersenyum senang mendengarnya. Akhirnya secara tidak langsung Syeira telah mengungkap rasa cemburu nya pada Mikaila.



Arend melepas pelukan Syeira padanya, ia lantas menatap wajah Syeira dalam penuh cinta. Wanitanya takut kehilangan dirinya karna wanita lain.



Arend mengangguk sebagai jawaban. Ia memperbolehkan Syeira untuk ikut dengannya. Dengan begitu, saat dia berhasil menemukan Mikaila, maka tidak ada kesempatan bagi Mikaila untuk mendekati dirinya. Karna Sang pawang ada bersamanya.



Jika tebakan Arend memang benar, itu adalah tempat tinggal Rain. Maka semua pasti akan baik-baik saja.



Arend sangat yakin semuanya akan baik-baik saja. Tuan Rain tidak mungkin melukainya, dia masih begitu mencintai aunty nya Ineke. Dan Arend adalah kebanggaan Ineke. Tuan Rain tidak akan menyakiti pada apa yang berhubungan dengan Ineke.



"Kalian mau kemana.?" Ayla yang melihat anak dan menantunya ber penampilan rapi bertanya.



"Hanya ingin mencari udara segar, Mah.!" Jawab Arend.



"Papah bagaimana, Mah.?" Syeira bertanya.



"Masih belum mau makan.!" Jawab Ayla lemas sambil menggelengkan kepalanya.



Arend harus lekas membawa Mikaila pulang kembali, hanya dialah yang saat ini bisa menjadi obat untuk papahnya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...