
Arend mengendarai mobil menahan emosi, Membelah jalan pusat kota menuju apartment nya. Sorot matanya tajam dan merah sempurna. Arend sangat marah melihat Syeira berada dalam pelukan pria lain.
Arend melihat ke arah Syeira yang duduk dengan mata terpejam di sampingnya. Terkadang Syeira bersuara lirih yang tak bisa di dengar dengan jelas oleh Arend. Kening Syeira mengernyit.
Air mata Syeira yang masih sering lolos dari sudut mata membuat Arend menahan amarah akibat cemburu itu. Raut muka Syeira yang jelas terlihat jika ia bersedih. Membuat Arend merasa kasihan padanya.
"*Ada apa dengan mu, Ra.? Apa masalahmu*.?"
Arend mengingat-ingat kejadian siang tadi dimana Syeira yang datang ke kantornya, ia belum mengetahui alasan Syeira datang tiba-tiba, sampai dia pergi meninggalkannya saat di Resto, dan malah datang ke Club' tadi. Arend berpikir mungkin Syeira memiliki masalah yang ingin ia ceritakan namun tidak sempat.
"Aku selalu menunggumu, aku mencintaimu."
Syeira bergumam dengan suara lirih yang pelan. Namun kini Arend bisa mendengar kalimat yang Syeira katakan.
"*Siapa yang kau tunggu Syeira.? Siapa yang kau cintai*.?"
Syeira kembali menangis, matanya masih tetap terpejam. Arend menancap gas lebih cepat. Ia harus segera membawa Syeira pulang.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zico berada di apartment. Ia jadi tidak mood untuk pergi ke Club' atau bermain dengan wanita malam ini. Ia memilih untuk menunggu datangnya Arend pulang.
Zico merasa khawatir, Arend terlihat sangat marah tadi, dan Zico menebak dengan yakin jika saudaranya itu sebenarnya telah jatuh cinta pada Syeira, namun ia belum mengakuinya saja.
Zico merasa sangat yakin karna hanya Syeira lah wanita yang selalu membuat Arend marah setiap kali dekat dengannya. Dan itu adalah karakter Arend saat merasa cemburu dengan apa yang di anggap miliknya, itu pernah terjadi dulu saat di Amerika, dimana sikap Arend saat ini juga mencerminkan hal yang sama.
Pintu terbuka, Zico yang sedari tadi duduk di sofa segera bangkit, Arend masuk dengan menggendong Syeira ala bridal style.
"Syeira.? Dia kenapa, Arend.?"
Zico bertanya, dan jelas Arend hanya diam dengan raut muka dinginnya. Zico membuka pintu kamar Syeira, Arend lekas masuk, membaringkan tubuh Syeira di atas ranjang.
Arend bangkit dan mundur setelah Syeira ia baringkan di sana. Deru nafas Arend memburu. Zico mendekat.
"Syeira.?"
Zico Duduk di tepi ranjang, membelai wajah Syeira hendak melihat keadaanya. Dengan cepat Arend menarik tangan Zico hingga saudaranya itu berdiri hanya dengan sekali tarikan.
Arend ingin memukul orang, ia butuh pelampiasan emosinya. Zico sudah mengkerut, wajahnya berekspresi takut.
*Kesalahan besar ia menyentuh wajah istri saudaranya yang sangat posesif dan dalam mode marah itu*.
Arend melepas tangannya kasar. Ia meraup wajahnya sendiri hingga ke rambut, Arend menarik nafas dalam mencoba meredam emosi.
"Aku menunggumu, Aku mencintaimu.!"
Syeira menggeliatkan tubuhnya bergerak pelan, dan lagi, kalimat itu kembali lolos dari mulutnya dengan suara lirih. Zico sontak melihatnya.
'*Apa yang kau katakan Syeira.? Kau sudah membangunkan macan yang tidur*.'
Lalu Zico menatap Arend yang menatap Syeira tajam penuh emosi.
Arend lantas keluar dari kamar itu, melangkah cepat, dan jelas saja dengan raut muka yang marah.
Zico melepas sepatu Syeira terlebih dulu, lalu menyelimuti tubuh nya. Dan keluar menutup pintu. Zico bimbang, ia takut untuk masuk ke kamarnya, Arend tengah dalam mode ON marah, dan dia tidak tega meninggalkan Syeira untuk pergi menginap di hotel.
"*Bagaimana jika besok Arend meledakkan amarahnya pada Syeira*.?"
Zico akhirnya memilih untuk tidur di sofa. Tidak harus masuk ke kamar, dan tidak juga meninggalkan Syeira. Keputusan paling tepat pikirnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Cellin menangis di kamar, Ia telah menceritakan pada keluarga tentang sikap Faisal yang buruk padanya, meski begitu, ibu nya tetap memaksa Cellin untuk menikah dengan Faisal. Dan saat Cellin menolak keras, ibu nya kembali mengungkit jati diri Cellin di keluarga ini.
"*Kurang apa selama ini kami padamu, Cellin.? Kami memberikanmu kasih sayang sama seperti kami menyayangi kakakmu*.!"
Suara ibu nya yang berbicara sambil menangis kembali terngiang di telinga Cellin.
Cellin adalah anak dari adik Ayahnya yang sudah membesarkannya. Ayah kandung Cellin entah siapa dan dimana. Dia adalah anak yang lahir di luar nikah. Saat usianya 2 bulan. Ibu kandungnya meninggal karna depresi berat. Dan dia di rawat selayaknya anak kandung di rumah ini.
Itulah salah satu alasan Cellin begitu membenci laki-laki yang suka meniduri perempuan tanpa adanya ikatan pernikahan, dia adalah korban yang nyata, hidupnya terasa keras sejak kecil. Ledekan teman-temannya, dan seloroh kebencian orang-orang yang melihatnya hina.
Kakak Cellin yang berusaha membela justru menjadi luapan emosi ibu nya, karna dia yang lama menganggur sekarang bisa bekerja juga di tempat ayahnya Faisal, keluarga Cellin memang sangat sulit secara ekonomi.
Beruntungnya Cellin yang bisa lulus kuliah karna beasiswa dan menghasilkan uang tambahan dulu sebagai guru les yang di panggil pribadi ke rumah anak didik. Dan sekarang bisa masuk bekerja di perusahaan *N~A Cell*.
Bayangan Zico tiba-tiba datang, sebenarnya Cellin mengaguminya, tapi setelah mengetahui jika Zico adalah sang pria Cassanova, ia memilih untuk menghindar, karna pria seperti itu tidak akan pernah menganggap serius hubungannya dengan wanita. Dan Cellin sangat membenci hal itu. Ia tak ingin jika ia melahirkan Cellin Cellin yang lain nantinya.
Namun entah mengapa bayangan Zico selalu saja muncul, tatapan matanya, suaranya, senyumannya, dan juga kebaikan-kebaikan Zico kepada Cellin selama ini, semakin Cellin mencoba melupakan justru bayangan Zico semakin kuat datang. Dan Cellin tersenyum sendiri mengingatnya. Air mata dan senyum itu bertemu bersama.
(*Jatuh cinta yang berat adalah mencintai seseorang yang sudah kita tahu tabiat buruknya, namun kita tetap mencintainya*.)
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Jam menunjukkan pukul 6:50. Arend tengah bersiap untuk pergi ke kantor. Ia memutuskan untuk mendiamkan Syeira sampai dia sendiri yang akan membuka suara.
Arend menyadari jika ikatannya dengan Syeira terjadi karna ancaman dari dirinya, dan kini Arend mengetahui jika Syeira telah memiliki pria lain yang ia tunggu dan ia cinta, Arend merasa sangat kesal.
Kekesalan Arend tak ingin ia akui karna rasa cemburu, tapi karna sejak perjanjian awal pra nikah, Syeira tidak di izinkan berhubungan dengan pria lain selama menjadi istrinya.
Arend sudah keluar dari kamar, pintu kamar Syeira masih tertutup, ada rasa ingin membukanya, namun Arend mengurungkan niatnya, Syeira juga pasti masih tidur.
Arend melihat Zico yang tertidur di sofa. Ia membiarkannya saja, dan kembali melangkah meninggalkan mereka berdua.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Syeira menggeliatkan tubuh. ia mulai bangun dan tersadar. Syeira duduk di atas ranjang, kepalanya sangat pusing, berat, dan pening, ia juga merasa mual. Syeira segera turun berlari menuju kamar mandi.
Hingga berkali-kali, setelah merasa lebih baik, Syeira keluar kamar, ada Zico yang masih tidur di sofa. Ia melangkah ke kamar sebelah, membuka pintu, dan sudah tidak ada Arend disana.
Syeira kembali masuk ke kamar, mengambil ponsel di tasnya. Pukul 10:58. Dia bangun terlalu siang.
Ada begitu banyak panggilan dari Bim, maupun Bu Mela, Syeira tidak menghiraukannya, bahkan pesan-pesan singkat mereka sama sekali tidak ia buka. Ia kembali membaringkan tubuh di atas ranjang, menatap langit-langit kamar, mencoba mengingat kembali rangkaian peristiwa yang terjadi sejak kemarin hingga ia yang mabuk di Club semalam.
"Siapa yang membawaku pulang.?"
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...