LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bab 24



" huuffth... akhirnya balek kampung." Teriak Arga.


"Apaan sih Ga. Ini kota kalik bukan kampung." Sahut Leon.


"Terserah gue dong. Mau cepat pulang sopir gue mana sih." Ujar Arga sambil matanya terus saja menulusuri kerumunan orang di bandara.


"Tuhh... sopir mu yang pake baju biru Ga." Kata Aina menunjuk salah satu pria tua di antara kerumunan tersebut.


"Ohh ya... pak ini koper ku bantu bawain." Teriaknya yang langsung melangkah ke arah pria tua itu.


"Gue duluan ya gays Dah..." sambungnya sambil mengangkat salah satu tangannya.


"Untung ganteng kalo ngak udah ku patahkan lidahnya." Ucap Bagas.


"Iri bilang bos hahaha." Sahut Leon mengejek.


Sementara yang lainnya hanya bisa tertawa dan geleng-geleng kepala melihat tingkah kocak pria-pria tampan tersebut.


Ya mereka sudah tiba dari libur panjangnya. Raut wajah bahagia jelas terpancar di muka mereka. Sejenak beban hidup yang mereka rasakan bisa sedikit berkurang.


"Gue duluan juga ya guys. Makasih nih buat Devan yang udah ngasih liburan free haha." Ucap Leon yang langsung memukul punggung pria bermata biru tersebut.


"Nyenye kalo gratis cepet lo semua." Kata Devan sinis.


Leon hanya mangut-mangut mendengar ucapan sahabatnya itu. Dia langsung bergegas meninggalkan sahabatnya setelah mendapat notif dari seseorang.


"Gue pamit ke toilet bentar ya. Aina jagain koper abang oke." Ucap Bagas yang langsung berlari meninggalkan kopernya.


"Sip Bang." Jawab Aina dengan penuh senyuman.


Suasana pun menjadi hening. Mereka bertiga tidak ada yang membuka suara. Entah mengapa suasana canggung hadir di antara mereka.


"Dev... loh sama gue pulangnya ya. Sopir gue gak bisa jemput katanya." Pinta Natasha memecah keheningan.


"Emm gimana ya Sha.Gue harus antar Aina, sudah itu gue mesti ke rumah sakit. Tugas udah banyak numpuk jadi gue gak pulang ke rumah. Maaf ya Sha." Kata Devan.


"Iss Devan aku bisa kok sama Bagas. Kamu antar Natasha ajah. Kan jalan ke rumah sakit sama komplek kalian satu arah." Ujar Aina sambil memukul pelan lengan kekasihnya itu.


"Gak papa kok Na. Gue naik taksi ajah." Ucap Natasha.


"Ada apa ini?" Tanya Bagas yang datang tiba-tiba entah dari arah mana.


"Bagas kamu sama aku pulangnya ya. Natasha sama Devan." Ucap Aina


Sontak saja kalimat itu membuat kening Bagas berkerut. Percakapan apa yang ia lewatkan sampai seorang wanita rela melepaskan kekasihnya pergi bersama wanita lain.


"Apaan sih Na..." rintih Devan pelan.


"Akh ngak mau. Gue ajah yang antar Natasha Loh sama Devan. Siapa tau kan setelah jadi sopirnya bisa masuk ke hatinya." Kata Bagas sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Natasha.


"Mm tapi kan..." ucap Aina.


"Gak ada tapi-tapi. Ya kan cewek imut loh sama gue kan pulangnya. Tenang ajah gue gak jahat kok." Sambung Bagas memotong pembicaraan Aina.


"Iii...iiya Na. Gue sama Bagas ajah." Kata Natasha canggung.


"Gini kan enak. Ya udah yuk." Kata Bagas sambil menarik koper miliknya dan Natasha.


"Kami duluan ya. Makasih Dev." Ucap Natasha tersenyum dan langsung mengikuti langkah detektif muda di hadapannya itu.


Aina dan Devan pun hanya membalasnya dengan senyuman.


Pasangan kekasih itupun langsung bergegas meninggalkan bandara tersebut.


Di sisi lain sebuah mobil bewarna merah melaju cukup pelan di jalanan ibukota. Mobil yang di dapatkan dari hasil kerja keras seorang Bagas Wijaya. Pria tampan yang tak pernah ingin menghirup harta milik orang tuanya. Ia lebih memilih untuk terjun di dunia yang sangat berbeda dari keinginan ayahnya. Di umur yang masih sangat muda ia sudah bisa membeli rumah mewah miliknya sendiri.


Alunan musik jazz menemani mereka di tengah perjalanan. Mata coklat gadis di sampingnya itu hanya menatap ke depan. Tampak sorot mata itu penuh beban. Mulutnya seperti di gembok dengan pikiran yang kosong.


"Eh loh kok diam ajah sih. Kayak patung ajah. Entar loh kesurupan gue lempar loh keluar mobil haha." Ucap Bagas mencoba menyadarkan gadis imud itu dari lamunanya.


"Ahaha... gak lah. Siapa juga yang mau kesurupan." Kata Natasha.


"Lo suka sama Devan yah?? Tanya Bagas.


Natasha yang mendengar pertanyaan itu hanya terdiam. Jantungnya seperti di pacu dengan sangat cepat.


Dalam hatinya bertanya apa semua orang menyadari perasaanya ke Devan. Toh selama ini dia sudah berusaha keras menutup rapat hal itu untuk tidak terendus oleh mereka.


"Lihat tuh muka lo panik. Bener ternyata loh suka sama Devan. Kan?? Ujar Bagas sambil sesekali melirik gadis imud di sampingnya.


"Aa.. apaan sih. Gak lah. Mana mungkin gue suka sama Devan. Gue sama Devan tuh udah sahabatan dari orok ngak mungkinlah." Bantah Natasha.


"Hahaha gue bercanda kalik. Serius amat." Ucap Bagas.


"Gak lucu." Jawab Natasha kesal.


"Jangan marah hahaha. Eh btw beberapa hari lagi Aina mau ultah loh." Kata Bagas.


"Emm... iya emang kenapa?Biasanya juga kalo dia ultah gak pernah ngadain apa-apa tuh. Terlebih kondisi keluarganya." Kata Natasha.


"Ya... jadi loh ketinggalan zaman yah Sha. Aina kan punya orang tua angkat." Ujar Bagas.


Sontak saja hal itu membuat Natasha terkejut. Ia langsung menatap tajam pria tampan di sampingnya itu. Dalam hatinya bertanya mengapa sahabatnya itu tidak memberitaukan tentang orang tua angkatnya.


"Orang tua angkat...?" Tanyanya kepada Bagas.


"Iyalah Sha. Eiits udah sampai." Ucap Bagas sembari keluar dari mobilnya membukakan pintu mobil untuk Natasha.


Pria tampan itupun langsung mengeluarkan koper Natasha dari bagasi mobilnya.


"Makasih ya Bagas Wijaya." Kata Natasha dengan penuh senyuman sambil menarik kopernya dari tangan Bagas.


"Ihh pipi loh kalo senyum kayak di bor ajh ya. Lesungnya itu loh hahah." Ujar Bagas.


"Iss apaan sih. Yah udah gue masuk duluan ya dah..." kata Natasha yang langsung berlari kedalam rumahnya.


Bagas yang melihat itu hanya menatap punggung gadis itu dengan raut wajah datar. Ya seorang Bagas tak akan mungkin menunjukkan sifat dinginnya kepada orang lain. Entah mengapa ketika ia menatap Natasya rasa hatinya ingin menjauhi wanita bermata coklat itu.


Ia pun meneruskan perjalananya menuju salah satu perusahaan milik papa Aina.


Sesampainya di perusahaan itu, semua karyawan terutama kaum hawa memandang detektif muda itu dengan tatapan memuja. Wajah tampan yang bak terpahat memikat semua mata. Senyum yang selalu terukir di bibirnya serta lambaian tangan menyapa orang yang ada di hadapannya membuat siapapun ingin pingsan melihat hal itu.


"Ada..." jawabnya.


"Oke." Kata Devan sambil memberikan senyumannya.


"Permisi Tuan..." ucapnya sambil mendorong pintu ruangan itu.


"Eh si bagus. Udah pulang ya. Gimana liburan mu? Ujar pria paruh baya yang langsung mengalihkan mata dari komputernya.


"Ihh om ini lama-lama ketularan virus pikun si tante." Ucap Bagas.


Di barengi oleh tawa kedua pria itu.


"Lagian juga ini tugas om bukan liburan." Sambungnya.


"Alahh... kau ini Gas. Anggap aja itu liburan. Yah udah duduk dulu lah.


Apa nih yang mau kamu laporin.?" Kata Tuan Brahmana menghampiri Bagas di sofa.


"Emm banyak om... oke yak di mulai dari..." ucap Bagas menceritakan secara detail apa saja yang ia lihat saat liburan tersebut.


"Oo... begitu. Mau minum Gas ngak capek mulut mu senam??Tanya pria tua itu menyodorkan air mineral ke hadapan detektif itu.


"Akh... om aku serius nih." Kata Bagas kesal.


"Gak usah serius Gas. Kau ajah belum punya pacar haha." Ujar Tuan Bramana mengejek.


"Oh ya om udah nyebarin undangan ulang tahun Aina ke guru, teman sekolahnya serta beberapa wali murid mereka." Kata pria tua itu.


"Bagus om. Ini pasti akan sesuai rencana kita." Ucap Bagas ternyesum sinis.


Di lain sisi Devan sibuk membeli cemilan untuk kekasihnya. Cukup banyak yang dia beli setidaknya itu bentuk permintaan maaf akan ke egoisan dirinya. Setelah membayar belanjaannya tersebut ia langsung bergegas menuju mobil sport yang terparkir di depan minimarket itu.


"Ini Na air. Minum dulu" katanya ketika masuk di mobil itu sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Sedang gadis yang di tawari itu hanya terdiam dan sibuk dengan hanphone yang ada di tangannya. Gadis itu sama sekali tak memperdulikan apa yang di katakan orang di sampingnya tersebut.


"Aina ini airnya di minum dulu tadi katanya haus." Kata Devan dengan lebih lembut.


"Mmmm..." jawabnya yang langsung memalingkan mukanya ke jendela.


"Yah udah kalo gak mau. Ini ada ice cream makan yah kalo gak sayang meleleh." Tawar Devan sambil meletakkan belanjaanya di kursi penumpang.


"Emang aku bocah." Kata Aina.


"Apaan sih yang ada di jendela sampai kamu betah ngelihat kesana?Ada cowok ganteng yah?Ucap Devan.


"Kepo.!!!" Jawab gadis cantik itu.


Devan hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu.


"Na kamu milih jurusan apa masuk universitas? Tanya Devan.


"Arsitek." Jawab Aina singkat.


Yah itu memang cita-cita seorang Aina. Dia sangat mencintai seni sejak dari kecil. Terlebih lagi orang tua angkatnya juga tidak memaksakan gadis cantik itu harus masuk jurusan tertentu.


"Oo kalo aku dokter dan udah di terima. Jelas dong di terima ngak ada yang bisa nolak orang ganteng macam aku ini." Ucap Devan sambil mengacak rambutnya.


"Iyain ajah deh." Ucap Aina sambil merampas ice cream yang dipegang Devan.


"Katanya bukan bocah haha" kata Devan mengejek.


"Biarin." Kata Aina sinis.


"Kalo Leon sih dia milih bisnis ya kalo Arga gak tau juga itu anak katanya mau seni tapi ya gitu orang tuanya maksa buat bisnis dan bisnis. Kalo Natasha gimana?Ujar Devan


"Ooo begitu. Kalo Natasha sih katanya ambil matematika. Dia pintar sih jadi wajar ajah." Jawab Aina


"Emang sih dari kecil dia udah suka matematika." Sambung Devan


"Emm iyalah. Oh iya Awas ajh yah kamu ulang kejadian kayak tadi. Ingat Dev, Natasha tuh bukan orang lain dia itu sahabat aku dan juga teman kecil kamu juga." kata Aina.


"Iya iya gak akan ku ulang kalo gak ku lupa hehe. Yah udah pulang yok." Ucap Devan.


"Gak usah pulang berenang ajah." Jawab Aina.


"Bocah mana bisa berenang haha." Kata Devan dengan penuh tawa.


Sedang Aina hanya menatap kekasihnya itu dengan tatapan tajam.


Dilain sisi ada dua orang pria yang terus saja mengunyah makanan di dalam ruangan kantor. Ya mereka memilih untuk memesan makanan cepat saji dari pada harus ke restoran bintang lima.


"Om ini enak banget ." Ucap Bagas dengan mulut yang penuh.


"Iyalah Gas. Oh yah emang apa ajah bukti yang kamu punya untuk rencana kita .?" Tanya Tuan Bramana yang menyudahi makannya.


Bagas langsung meneguk air dan mengelap bibir merahnya dengan tisu.


"Aku udah punya rekaman CCTV mall tersebut sama rekaman CCTV Restoran tempat om makan sama keluarga kemaren itu." Ucapnya mulai seriyus.


"Emang jelas muka pelakunya itu.?" Tanya Papa Aina tersebut.


"Di Mall tuh sangat jelas om. Karena dia ngak make pelindung muka alias masker. Kalo yang di restoran gak terlalu jelas karna dia nutup mukanya gitu tapi, udah ku selidiki ternyata orangnya sama." Kata Bagas.


"Terus kemaren aku gak sengaja ketemu di mall pas aku di kejar adek kelas ku dulu sama orang yang pertama nyebarin foto itu. Dan dia juga punya rekaman audio saat si pelaku nyerahin foto itu secara langsung sama dia." Sambungnya.


"Rekaman audio?Emang siapa orangnya? Eh btw juga om baru tau loh kalo kamu punya fans hahaha." Kata Tuan Bramana


"Is om aku ganteng juga kalik." Ucap Bagas.


"1 minggu kemaren sebelum aku pergi liburan kan aku ke mall tuh jalan- jalan om lagi asyik jalan eh....


"Bagas...." teriak seorang cewek dengan ciri khas suara cempreng yang memecah keramain mall.


Pria yang di teriaki itu sangat mengenal suara tersebut. Suara yang terus saja mengejar dirinya bak benalu yang ingin mengisap nutrisi jiwanya. Langkahnya terhentih dan berharap bahwa itu bukanlah orang yang selalu mengejarnya dahulu. Yah siapa tak tergoda akan ketampanan dan keramahan seorang Bagas Wijaya. Ia sangat ramah dengan semua orang kecuali dengan satu wanita yang pernah membuatnya malu akan tingkah wanita tersebut yang terlalu memuja dirinya. Perlahan dia membalikkan tubuhnya.


"Kekey." Ucapnya pelan dengan mata yang hampir saja melotot tak percaya.