
Dua sahabat itu memilih untuk segera meninggalkan mall tersebut. Mereka meneruskan perjalanannya menuju cafe kopi tempat Aina bekerja. Ya Aina bekerja di cafe itu karena mamy Natasha. Memang keluarga Albert itu menaruh rasa budi yang besar kepada Aina. Istri Tuan Albert tersebut sering kali merasa iba akan nasib gadis itu. Ia memberikan pekerjaan tersebut kepada gadis cantik itu.
Dalam perjalanannya gadis cantik itu dilatih bak penguasa si hitam. Darahnya sudah menyatu dan menjadikannya seorang ahli. Sebaliknya Putri dari Keluarga Albert tersebut sama sekali tak mempunyai ketertarikan dari cafe maminya.
"Na, gue duluan ya. Soalnya ada acara keluarga.Gue gak bisa antar loh. Maaf ya. Dan sekali lagi makasih ya aina."ucap Natasha memberikan senyuman termanisnya.
"Iya Sha. Sama-sama."kata Aina .
Natasha langsung memeluk Aina erat. Ia merasakan hal yang sama tentang kejadian waktu mereka pertama kali bertemu. Sebuah harapan hidup yang ada karena gadis cantik itu. Ia melepas pelukannya dan langsung berlari ke mobilnya.
"Sore Pak Jonathan."sapa Aina ke manager cafe tersebut.
"Sore juga nona Barista hahah." Jawab Jonathan sambil sedikit menggoda.
Gadis itu langsung berkutik di mejanya menyeduh si hitam yang memberi aroma khas tersendiri. Sekitar 3 jam dia bekerja di cafe tersebut. Ya memang bukan waktu yang lama tapi cukup membuat Aina merasa bahwa dialah pemimpin dunia di hobby nya.
"Na, kamu ada tryout kn?Kata ibu kamu gak usah kerja dulu." ucap manager cafe itu menghampiri Aina yang sedang melukis kopi.
Barista cantik itu sedikit menghentikan pekerjaanya. Ia merasa kebingungan jika ia tidak bekerja dari mana dia bisa mendapatkan uang. Tetapi Aina tidak mungkin memaksakan diri untuk tetap bekerja. Dirinya hanya bisa mematuhi apa yang di perintahkan pemilik cafe tersebut.
"Ini gaji mu. Gak ada yang di potong. Kamu juga gak perlu lembur. Uang saya kemaren udah di ganti sama ibu."sambungnya sembari menyerahkan sebuah amplop.
Aina yang menerima Amplop itu hanya melongok sembari membuka celemeknya. Ia kemudian bergegas pulang menaiki bis. Terduduk di kursi itu membuat pikirannya kembali bertanya tentang uang yang bagi mereka tidak ada artinya. Lamunan gadis cantik tersebut terhenti saat seseorang berteriak di hadapannya.
"He..! Kalo jalan tuh pake mata."ucap salah seorang penumpang bis yang hampir terjatuh karena Aina.
"Iii...ii ya mbak, saya minta maaf."kata Aina memohon.
Gadis itu kemudian turun dari bis berjalan menuju rumahnya. Badan mungilnya seakan di selimuti oleh indahnya senja yang hampir tenggelam. Rutinitas yang ia jalani hanya berputar di tempat yang sama. Matanya menangkap pria yang sangat dia hormati. Pria tampan yang membuat semua mata wanita tertuju kepadanya. Seorang kakak yang tak ingin menaungi diri Aina. Raut wajah yang datar seolah menandakan bahwa pria itu adalah orang yang keras.
"Kak? Mau kemana?Kok jalan kaki?tegur Aina kepada Pria itu yang tak lain adalah Revan Alexandra Leonardo.
"Bukan Urusan Mu!!."bisik Revan di telinga adiknya.
Aina kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tas nya.
"Kak ini uang aku gajian. Aku ambil separuh karena aku butuh."ucap gadis itu.
Sedang pria itu hanya berlalu berjalan meninggalkannya tanpa memperdulikan apa yang dikatakan Aina. Ya gadis itu memang sedikit merasa bingung akan sifat kakaknya. Ia tidak tau pasti bagaimana watak pria tampan tersebut. Kadang ia merasa bahwa Revan adalah seorang yang haus akan harta namun di sisi lain ia juga menangkap bahwa pria tampan itu terkadang tidak tertarik dengan harta. Hanya diri sendirilah yang mengetahui bagaimana watak asli kita.
Gadis itu kemudian meneruskan perjalanannya. Di depan rumah tersebut ia melihat seorang wanita tua yang sedang menyapu halaman. Ada rasa rindu besar di hati gadis cantik itu. Ia ingin merasakan pelukan hangat seseorang yang sama sekali belum pernah dia rasakan. Hatinya menangis saat orang tersebut tak ingin hal itu terjadi.
"Bu, ini uang gaji ku. Aku ambil separuh karena aku butuh. Tadi kak Revan ku kasih tapi dia gak mau ngambil."kata Aina sembari memberikan beberapa lembar uang, kepada wanita tua tersebut, yang tak lain adalah Rita Leonardo ibu kandung dari Aina.
Tangan wanita itu langsung bergerak cepat mengambil uang tersebut. Raut wajah senang terpancar jelas di wajahnya.
"Nah. Gini dong. Besok- besok kalo ngasih duit tuh yang banyak."ucapnya sembari pergi meninggalkan Aina.
Gadis itu hanya terdiam melihat kelakuan ibunya. Sudah menjadi kebiasaan bagi seorang Aina di perlakukan berbeda. Dia kemudian memasuki rumah yang selama ini menjadi tempat untuk pulang. Walaupun penghuni rumah tersebut tak mengharapkan kehadirannya.
Di lain sisi seorang pria tampan Revan Alexandra Leonardo berjalan mengikuti heningnya malam. Wajah tampan itu memikat semua mata yang ada. Pria itu sama sekali tak memperdulikan mata orang di sekitarnya. Dia tak pernah berharap atau ingin menjadi pusat perhatian. Kakinya terhenti di sebuah toko mainan anak-anak.
"Malam mas Revan." Ucap penjaga toko itu sembari terseyum kepada Revan. Ya sepertinya pria tampan tersebut sudah sering datang ke toko itu. Entah apa yang dia pikirkan hingga dirinya sampai di toko mainan tersebut
"Pesanan saya mana?tanya Revan tanpa memperdulikan sapaan penjaga toko itu.
Sifat cuek dan diam yang Revan punya tak membuat orang menjahuinya. Malah itu menjadikan point tersendiri bagi orang yang melihatnya.
"Ini mas Revan. Mas, kok pesan saya tadi malam gak di balas sih?tanya penjaga toko itu sembari memberikan dua kantong plastik besar.
Pria itu langsung mengambil pesananya dan langsung berlalu meninggalkan toko itu.
Dia meneruskan perjalanannya dengan menaiki taksi.Cukup jauh perjalanannya. Hampir sekitar 30 menit dia baru sampai.
Kakinya tiba di depan sebuah rumah. Tempat yang seringkali ia datangi sewaktu dia kecil. Ya itu adalah tempat bagi anak-anak yang merasa sendiri dan di tinggalkan oleh orang tua mereka.
"Kak revan....." teriak anak-anak itu kepadanya.
Senyuman terpancar di wajah datarnya. Revan langsung memeluk anak-anak itu. Ia begitu akrab dengan mereka bahkan sangat dekat.
"Ini kakak ada mainan untuk kalian. Kita masuk yuk main di dalam."ucap Revan lembut.
Tidak ada yang tau watak dari seseorang kecuali diri sendiri. Begitupun dengan Revan Alexandra Leonardo yang selalu dikenal kasar dan cuek. Dia seperti memiliki tabir lain di dalam dirinya. Hatinya seakan melunak ketika melihat anak-anak itu tertawa kepadanya.
"Aku baru ada kesempatan jadi baru datang sekarang."ucap Revan kepada pemilik panti itu
"Iyah mas Revan. Anak-anak ini selalu nanya kamu terus tuh."jawab wanita paruh baya tersebut.
"Tambah hari kamu makin mirip aja sama ibumu."sambungnya.
Sebait kalimat tersebut menyayat hati pria tampan itu. Ia kembali mengenang tentang seorang ibu yang ia rindukan. Bukan ibu yang selama ini menemaninya. Tetapi ibu yang sudah lama meninggalkannya dalam kesendirian. Wanita yang mengajarkannya kelembutan dan selalu membawanya ke panti tersebut. Hanya panti inilah tempat Revan mengadu rindu. Ia bahkan tak bisa membawa foto ibunya dari panti itu. Kalimat tersebut mengingatkannya dengan jelas kejadian beberapa tahun lalu yang merenggut semua kebahagiaannya.
*Desember,2000
Hari ini adalah hari kesedihan bagi keluarga Leonardo. Istri sah dari pengusaha sukses Stevan Leonardo tersebut menghembuskan nafas terakhirnya.
"Hikss...hiksss...hiks..ibuu uuu...hiks ibu..uuuu. hiks hiks."tangis anak itu di depan pusara ibunya.
"Eh bocah cengeng amat sih. Udah berhenti nangis kita mau pulang."kata seorang wanita yang sedang mengandung besar. Ya ia adalah Rita Leonardo istri simpanan ayahnya.
Anak itu terus menangis merasa tak ingin semuanya terjadi. Di dalam hatinya yang bersedih ada rasa kesal dan marah kepada ayahnya, serta wanita yang baru saja menegurnya.Namun dirinya tak bisa berkata apapun.
*1 hari sebelum kejadian
Keluarga Leonardo adalah keluarga terpandang yang memiliki segalanya. Kesuksesan mereka membawa nama Leonardo di kenal oleh semua orang.
Stevan Leonardo adalah anak anak laki-laki satu-satunya di keluarga tersebut. Dan ia merupakan pewaris dari semua aset yang ada. Aturan lama yang harus di berlakukan adalah dengan menyerahkan segalanya kepada keturunan pertama anak laki-laki.
Dia kemudian di jodohkan dengan seorang wanita cantik yang memberinya anak laki-laki.
Wanita cantik itu mengidap suatu penyakit yang membuatnya harus berusaha dua kali lebih besar untuk hidup. Jantung nya selalu melemah namun pria kecil tampan yang ia kandung itu membuatnya terus untuk bertahan.
Tepat ketika usia putranya menginjak 8 tahun. Ia mendapatkan penghianatan dari suaminya. Berulang kali dia harus keluar masuk rumah sakit karena syok yang ia alami.
Titik puncak kesedihannya ketika ia mengetahui wanita simpanan tersebut sudah mengandung anak suaminya. Ia tak bisa berkata apapun. Di rumah sakit hanya anak tercintanya yang menemani. Pesan terakhir wanita itu kepada anaknya. Agar dia bisa melakukan hal yang sama pada wanita yang merebut kebahagiaan keluarganya.
Sekitar 2 jam setelah ibunya meninggal, Revan harus menahan diri ketika ia mendengar ayahnya mengumumkan, tentang wanita simpanan tersebut.Yang sudah di angkat menjadi istri sah. Ia seperti ingin menjadi singa yang kelaparan. Jasad ibunya belum di benamkan di dalam tanah namun ayahnya sudah terang-terangan mengumumkan hal itu.
"Aku akan membalas semuanya ibu."bisik Pria kecil itu di telinga ibunya.
Satu bulan setelah kepergian wanita kuat itu Rita Leonardo melahirkan anaknya. Itu bukan harapannya karena Rita ingin anak laki-laki untuk melawan Revan dan menjadi ahli waris. Di luar dugaan anak yang lahir itu adalah seorang perempuan cantik Aina Khanza Leonardo. Rita serasa ingin membuang anaknya merasa tak terima akan ketetapan Tuhan.
"Anak nyonya perempuan dia sangat cantik." ucap perawat rumah sakit sambil memberikan bayi cantik itu kepelukan ibunya.
"Kenapa kau harus perempuan?Aku benci kepadamu."gumam Rita di dalam hatinya.
Selain itu tepat ketika bayi perempuan itu lahir perusahaan Leonardo mengalami kerugian total. Perusahaan itu jatuh dan bangkrut tanpa menyisahkan satu aset sekalipun. Semua orang menganggap bahwa bayi perempuan itulah pembawa kesialan.
Mereka akhirnya meninggalkan kehidupan mewah tersebut. Dari situ Rita dan Stevan sangat membenci bayi mungil itu. Mereka memberikan semua kasih sayang nya hanya kepada Revan bukan Aina anak kandungnya sendiri.
"Kakak ....." teriakan anak laki-laki menyadarkan Revan dari lamunanya.
"Hehe apa adekku sini kamu."kata Revan memeluk anak itu.
"Kak, bacain dongeng aku mau bobo."ucap anak laki-laki itu.
"Ya udah ayokk sini mana bukunya. Kita bobo."jawab Revan sambil membaringkan anak kecil itu.
Revan membacakam dongeng seakan ia sudah ahli melakukannya. Tak lama kemudian anak kecil itu tertidur di pelukannya. Suatu kesenangan tersendiri baginya ketika bisa membagi kasi dan sayang.
Sekitar pukul 23.00 ia tiba di rumahnya kembali. Di depan pintu rumah itu berdiri seorang wanita yang dulu merebut ayahnya dari ibu kandungnya. Rasa kesal ketika melihat muka wanita itu terus saja menghampiri. Namun Revan harus berusaha sebisa mungkin agar semuanya menganggap dia baik-baik sja.
"Bu, ngapain di luar kan dingin. Masuk yuk buk."kata Revan kepada wanita itu.
"Ibu nungguin kamu lah.Kamu juga sih telat pulangnya dan juga gak bawa motor lagi" ucap wanita itu dengan sangat khawatir.
"Aku dari rumah teman bu, ayuk masuk lah hehe. " jawab Revan kepada ibu tirinya itu.
Kukuruyukk....
Bunyi ayam berkokok membangunkan Aina dari mimpinya. Dia segera bergegas ke dapur memasak untuk keluarganya.
Thinkk..
"Aku gak bisa jemput kamu. Aku telat bangun. Maafin aku ya Ainanya Devan." pesan singkat yang masuk di hanphone gadis itu menandakan dia harus berjalan kaki ke sekolahnya.
"Bu...Yah... kak... bangun aku udah masak." kata Aina yang sudah rapi dengan pakaian sekolah.
"Tumben kau masak.Gak cepat pergi sekolah".kata ayahnya.
Gadis itu pun hanya diam mendengar ucapan sang ayahnya.
Merekapun menikmati sarapan tersebut dengan suasana hening.
"Aku duluan bu... yah.." kata Aina yang di balas dengan diam oleh keluarganya.
"Kamu tadi malam dari mana?tanya Stevan Leonardo kepada anak laki-lakinya.
"Dari rumah teman".jawabnya singkat. Ia segera berlalu meninggalkan meja makan untuk pergi ke kampus menaiki motornya.
Di perjalanan ia melihat dari jauh seperti ada orang yang sedang pingsan di tepi jalan itu. Kondisi jalan yang sepi membuatnya yakin bahwa itu adalah seorang siswi pelajar. Dia memarkirkan motornya. Menghampiri siswi tersebut.
"Astaga....Aina.. Na...Aina.... bangun.." kata Revan sambil menggoyangkan badan adiknya itu.
Tak di duga siswi itu adalah adiknya sendiri. Revan menimbang apa yang harus dia lakukan. Ia ingin menolong tapi kebenciannya terlalu besar.
Dia pun berlalu menaiki motornya meninggalkan gadis itu sendiri. Dalam perajalanan sesekali ia melihat adiknya itu di kaca spion motornya.