
Zizi berbaring menyamping di atas ranjang tidurnya, ia terus mengingat perlakuan manis Zid pada Meldy saat di halaman depan *N~A Cell* tadi siang.
Buliran-buliran bening itu terus lolos melewati sudut-sudut matanya, wajah Zizi sangat sembab. Ia terus menangis dalam diam sejak tadi.
Zizi merasa sakit, kecewa, cemburu, sepi. Cintanya pada Zid sempurna menyiksanya dalam dilema.
Zizi larut dalam emosinya yang penuh kesedihan. Ia terus teringat Zid dan Meldy. Ingin rasanya ia mengatakan keinginan hatinya pada Zid, agar dia meninggalkan Meldy, tapi itu tidak mungkin, dialah pemeran baru dalam kisah cinta segi tiga ini. Dan ia tak kan berani tuk mengatakannya, atau Zid malah bisa saja meninggalkannya.
Zid telah sampai di apartemen Zizi, ia bahkan sudah membuka pintu dan masuk kedalam kamar Zizi.
Zizi yang tengah larut dalam lamunannya sendiri tak mendengar suara pintu yang di buka. Ia tak menyadari adanya Zid yang telah datang.
Zid duduk di tepi ranjang menyentuh bahu Zizi, Zizi yang berbaring menghadap ke arah lain sontak bangun dan terduduk karna kaget.
"Hey,,, It's okay, it's me.!"
Zid menenangkan Zizi yang jelas terlihat kaget. Zizi menundukkan kepala ketika melihat itu adalah Zid, orang yang selalu di ingatnya sejak tadi, orang yang sangat di nantinya sejak tadi.
Zizi kembali menangis dalam diam. Zid langsung merengkuh tubuh Zizi memasukkannya kedalam pelukannya. Tangan Zid mengelus punggung dan rambut Zizi dari belakang.
"Ssshh.? Kenapa nangis.?"
Tanya Zid setelah ia melepas pelukannya. Karna Zizi hanya diam, ia tak membalas pelukan Zid padanya.
Zizi hanya menggeleng menjawab pertanyaan Zid. Ia hanya bisa menangis dan terus menunduk.
"Aku bagaimana bisa mengerti kalau kamu tidak mengatakannya.?"
Zid menyentuh dagu Zizi, mengangkat wajahnya agar Zizi melihat matanya.
"Hatiku merasa sakit, saat melihat mu bersikap begitu romantis pada Meldy tadi siang di halaman depan kantor.!" Jawab Zizi dengan suaranya yang lembut, lirih dan sangat pelan, ada kesedihan mendalam pada setiap kata yang Zizi ucapkan.
Zid terdiam. Ia lantas kembali memeluk Zizi, mengelus rambutnya dan mengecup keningnya.
"I'm sorry Zi.!" Hanya itu yang bisa Zid ucapakan. Dia memang salah.
"Mau makan di luar.? Kita pergi makan malam, bersiaplah.!"
Zizi mengangguk. Matanya terus menatap ke bawah tanpa titik yang pasti.
Zid tersenyum kaku. Dia sedikit bingung bagaiman cara menghadapi Zizi yang lemah. Ia selalu merasa kasihan dan bersalah setiap Zizi menangis karenanya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Gimana hubungan Lo sama Zid.?"
Meldy tengah berada di Bar. Ia bersama teman-temannya yang biasa. Duduk di kursi-kursi meja bartender.
"Baik.!" Meldy menjawab pertanyaan salah satu temannya.
"Apa kalian belum merencanakan untuk menikah.?"
Meldy menggeleng.
"Oohh,, ayolah.\_\_.? Dia pasti hanya ingin bermain-main denganmu.!"
"Jaga mulut mu.? Zid bukan pria seperti itu.?"
Meldy tidak terima dengan apa yang di katakan temannya tentang Zid.
"Lantas apa namanya.? Seorang pria dan wanita tinggal bersama, berhubungan layaknya suami-istri, tapi kau tak kunjung di nikahi. Kau harus lebih pintar, Meldy.? Kau sudah bodoh karena cinta.!"
"Diam kamu Sha.? Kau sudah melewati batasanmu.!"
Meldy pergi meninggalkan tempat. Ia marah dengan semua yang di katakan Sasha tentang dirinya dan Zid.
Meldy bukannya tidak berpikir, ia bahkan ingin agar bisa segera menikah dengan Zid, tapi Zid tak kunjung melamarnya.
Dan tentang tinggal bersama, itu dulu juga adalah idenya sendiri, bukan Zid yang membawa Meldy masuk ke tempat tinggalnya, tapi Meldy lah yang datang dan meminta untuk tinggal bersama.
Meldy keluar dari Bar dengan penuh emosi, ia merasa sangat kesal mendengar Sasha yang berkomentar tentang dirinya dan Zid.
"*Buuggh*.!"
"Aauuww.!"
Meldy menabrak seorang pria ketika ia keluar dari Bar. Tubuhnya terhuyung dan hampir saja jatuh.
"Kenapa kau marah.? Bukan aku yang salah.!"
"Kau.?"
Darren tersenyum sinis melihat Meldy yang menabraknya dan justru marah, wajah Meldy berekspresi kesal.
"Kau kenapa.? Kau sedang kesal.?" Tanya Darren yang di iringi dengan senyum nya yang seakan meledek Meldy.
"Iiiisshh.!"
Lokasi Bar itu berhadapan dengan sebuah restoran mewah, hanya ada jalan raya sebagai penghalang keduanya.
Meldy menyipitkan mata kala melihat sosok 2 orang yang sangat di kenalnya. Zid dan Zizi baru saja keluar dari sana.
Meldy membulatkan mata, menatap Zid yang pergi meninggalkan Zizi berdiri di halaman resto dan kemudian mobil Zid datang, dan Zizi masuk kedalam. Di jok depan sebelah Zid yang mengemudi.
"Babe.?" Lirih Meldy.
Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia melihat orang yang sangat dicintainya keluar dari restoran bersama dengan wanita yang sangat di cemburuinya. Hati Meldy terasa sangat sakit, itu seperti ribuan duri yang di tancapkan secara bersamaan menghujam dadanya, sakit, nyeri, dan perih.
mobil yang Zid kendarai sudah melaju. Meldy terus menatapnya dengan gugup, badannya hingga bergerak berbalik menghadap arah laju mobil.
Darren melihatnya bingung, ia tak tahu apa yang terjadi dengan Meldy yang berekspresi aneh seperti itu.
"Mobil.? Mobil.?" Meldy yang gugup memukuli lengan dan bahu Darren sambil teriak tidak jelas.
"Aauuw, sakit..? Kau ini kenapa.?" Jelas Darren kesal, tubuhnya terasa sakit karna Meldy yang terus memukulnya.
"Mobil.?" Kembali Meldy berteriak.
"mobil apa.?" Sungguh Darren tidak mengerti.
"Di mana mobilmu.?"
"Ya di parkiran lah.?"
"Ceppat ambil.? Kita ikuti mobil itu.!"
Darren sangat bingung, mulutnya menganga hendak mengatakan sesuatu, namun Meldy sudah mendorong tubuhnya dengan sekuat tenaga. Tak membiarkan Darren untuk melawan.
Darren pun menginjak gas mobilnya melaju dengan kencang sesuai arahan Meldy. Mobil Zid sudah jauh di depan. Tapi masih bisa terlihat oleh Meldy.
"Terus ikuti mobil itu.?"
"Hei.? Aku ini seorang Pop Star, kenapa kau menjadikanku supir pribadimu.? Mengikuti orang lagi.? Ini bisa menjadi kasus pidana..?
"Diam kau.? Crewet.! Jalan a
saja, nanti ku bayar.!"
"Aaahhh\_\_ kau menyebalkan sekali. Aku mau senang-senang di Bar, dan kau malah mengajak ku menjadi fast furious mu.!"
"Buruan DK.? Mobil Zid semakin menjauh.? Kau bisa kehilangan jejaknya nanti.?"
Wajah Meldy terlihat sangat panik. Bahkan tangannya mencengkram tangan Darren sebelah kiri, yang berada di kemudi, Darren merasa sakit karna cengkraman kuku-kuku Meldy, tapi Darren menahannya.
Kening Darren mengernyit, menahan sakit di punggung tangannya yang di cengkram Meldy. Dan Meldy tidak menyadari perbuatannya itu.
Darren menatap Meldy yang terlihat begitu khawatir dan panik. Ia kembali fokus melihat jalan dan menginjak gas agar mobil melaju lebih kencang.
"Apa dia pacarmu.?"
Meldy mengangguk, matanya tak pernah lepas dari mobil Zid yang melaju di depannya.
"Apa dia selingkuh.?"
"Diam kau.! Jangan sembarangan kalau bicara.?"
Meldy menoleh menatap Darren dengan tatapan matanya yang nanar, air matanya sudah sangat berdesakan. Nafas Meldy bahkan terengah, ia menahan sesak yang luar biasa mendera dadanya.
Darren mengatakannya dengan lantang dan begitu saja. Seakan menambah beban berat di hati Meldy. Hanya wanita bodoh yang tidak bisa mengerti, apa yang terjadi antara laki-laki nya yang mengatakan ada urusan bisnis diluar hingga belum bisa pulang, dan malah terlihat keluar dari sebuah restoran bersama seorang wanita lain.
Darren melihat nya dengan tatapan sendu, ia merasa ada sesuatu yang sangat berbeda dengan Meldy. Jauh dari Meldy kemarin yang centil dan genit.
Meldy kembali menatap depan. Air matanya jatuh setetes. Namun dengan cepat Meldy mengusapnya. Dan ia kembali fokus pada mobil Zid yang berada di depan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...