
Di Rumah Sakit The Alinsky,seorang pria terlihat membawa seorang gadis yang tak sadarkan diri.
"Dok..Dok..Tolong gadis ini.Cepetan dok".sergah seorang pria itu kepada dokter dengan penuh amarah.
"Iyaa..iya dek kami akan menolongnya".sambung seorang dokter yang bernama Ali Wijaya tersebut.
Para perawat pun membawa seorang gadis itu menuju UGD dan pria itu langsung beranjak pergi dari rumah sakit itu dan meninggalkan gadis tersebut.
"Ahkkk...."rintih seorang gadis dengan penuh kesakitan di bagian bawah perutnya.
Kepalanya sedikit pusing dan ia terlihat dengan raut wajah penuh keheranan.Ia bingung di sekitarnya banyak alat-alat medis.
Apakah aku di rumah sakit?Lalu siapa yang membawaku ke sini?Apa yang terjadi sebenarnya denganku?gumam seorang gadis tersebut ya Aina Khanza Leonardo.
Tak lama itu seorang dokter muda dengan name tag dr.Ali Wijaya menghampiriku dengan senyuman.
"Udah membaik dek?tanya dokter Ali.
"Iya dok.Tapi tunggu dok kayaknya dokter kan yang dulu transplantasi ginjal saya?tanya Aina.
"Iyaa saya dokter yang transplantasi dulu ginjal kamu.Dan sekarang kamu baru rasakan dampaknya dengan hidup satu ginjal.Saya sarankan kamu jangan terlalu kerja berat karena nanti itu sangat berdampak sama kondisi kamu yang cuma hidup dengan satu ginjal".jelas dokter Ali Wijaya kepada si gadis di hadapannya itu.
"Iyaa dok.Tapi satu hal yang saya minta sama dokter,jangan pernah kasih tau orang tentang kondisi saya yang sekarang ini yaa dok,plisss".ucap Aina sambil memohon kepada dokter tersebut.
"Iyaa tapi saya tidak tau sampai kapan saya tutup mulut tentang kondisi kamu sekarang ini,apalagi kalo kamu keras kepala dan tetap kamu memaksakan terus bekerja,maka saya akan segan-segan memberitahukan kepada keluarga kamu".sambung dokter Ali Wijaya dan langsung keluar dari ruangan tersebut.
Gadis itu hanya menatap datar dokter tersebut keluar dari ruangannya.Ia sekarang merasa sudah tidak ada gunanya hidup di dunia ini.Ia lalu mengambil handphonenya dan langsung mengetik nama seseorang di handphonennya yang tak lain adalah Devan pacarnya.
"Halo Dev".ucap Aina di handphonennya.
"Iyaa Aina,kenapa?tumben nelpon".jawab Devan di seberang sana.
"Aku lagi di rumah sakit Dev.Dampak aku hidup satu ginjal kambuh dan aku baru rasakan sakitnya" jelas Aina di telfon tersebut.
"Hah?Kapan kamu masuk rumah sakit?kok aku gak tau".ucap Devan dengan khawatir.
"Tadi waktu aku berangkat ke sekolah.Tiba-tiba aku pingsan.Ahhh pokoknya pulang sekolah kamu ke rumah sakit aja,ntar aku ceritain".jelas Aina.
"Oke dehh,jaga diri kamu ya Aina.Ntar pulang sekolah aku langsung ke situ".balas Devan.
"Iya udah dulu yaa Dev,belajar gih sana..byy"ucap Aina.
"Iyaa byy.."balas Devan dan langsung mematikan sambungan telfonnya.
Lain halnya di SMA JAYA PUTRA seorang gadis bermata cokelat terlihat dengan penuh kekhawatiran.Ia terus memikirkan sesuatu.Entah apa yang ia pikirkan.Natasha Putry Albert ya ia dari tadi terus saja memikirkan kemana sahabatnya itu?Mengapa ia tak masuk sekolah?Apa yang terjadi dengannya?"gumam Natasha dalam hatinya bertanya-tanya.Ia pun mengambil handphonennya di dalam tasnya lalu menelpon seseorang.
(nomor yang anda hubungi tidak aktif)
Tut....tut...tut..
Arghhhhh....gerutu Natasha karena nomor yang ia hubungi tidak aktif ya ia menghubungi sahabatnya itu karena ia tak tahu di mana keberadaan Aina sahabatnya.
Di satu sisi seorang pria sudah berada di salah satu rumah sakit miliknya sendiri ya Devan Syahputra Alinsky.Ia berlari dengan raut wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
"Ai-naa".panggil Devan dengan terbata-bata.Sorot matanya terlihat sangat mengkhawatirkan seorang gadis yang ada di hadapannya sekarang.
Seorang gadis itu pun membalikkan badannya ketika ia mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.
"Devannn".jawab Aina dengan senyuman yang ia buat.
"Keadaan kamu gimana Na?Apa kamu sudah mendingan?Apa yang ada kesakitan?biar aku panggil dokter gitu".celetuk Devan dengan nada yang penuh khawatir.
Sang gadis bermata sipit itu menjelaskan semuanya tentang kondisinya saat ini kepada Devan sang kekasihnya tersebut.Ia juga meminta kepada Devan kalau ia tak ingin orang mengetahui kondisinya termasuk Natasha,ia tak ingin Natasha merasa bersalah pada dirinya sendiri karena keadaanya yang drop seperti ini karena dampak hidup satu ginjal.
"Makanya Na,kamu jangan paksain terus kerja.Kan aku udah pernah bilang sama kamu,biaya hidup kamu biar aku yang tanggung semua".sambung Devan yang tak kuat menahan air matanya melihat sang gadis yang sangat ia cintai terbaring lemah di hadapannya.
"Gak usah Dev,bukannya aku nolak permintaan kamu.Cuma aku hanya ingin hidup mandiri aja..Aku gak mau membebani orang-orang yang aku sayangi termasuk kamu Dev".jelas Aina dengan senyuman seolah ia kuat dengan semua yang terjadi pada dirinya saat ini.
"Aku sama sekali gak terbebani kok Na sama kamu,aku malah seneng banget kalo aku bantuin kamu.Tapi kamunya aja yang merasa kalo kamu membebani aku".ketus Devan sambil mencubit hidung sang kekasihnya itu.
"Iya makasih Dev semua perhatiannya.Tapi aku masih gak bisa nerima itu semua,kamu ngertikan Dev maksud aku?tanya Aina.
"Iya..iyaa Ainanya Devan".celetuk Devan dengan senyuman manisnya.
"Ishh apaan sih kamu".jawab Aina dengan malu.
Tak lama itu handphone Devan berbunyi dan di sana tertera nama seorang gadis ya Natasha sahabat kekasihnya sekaligus teman masa kecilnya.Ia bergegas keluar dari ruangan Aina untuk mengangkat telpon dari Natasha.
Dan betul saja Natasha menanyakan keberadaan Aina karena ia sangat khawatir dengannya.Devan pun memberitahukan keberadaan Aina di rumah sakit.Setelah telpon singkatnya Devan kembali masuk ke ruangan kekasihnya itu.
"Na,Natasha mau ke sini".ucap Devan.
"Apaa?Darimana Natasha tau kalo aku di rumah sakit".tanya Aina dengan raut wajah yang heran.
"Dia tadi nelpon,dia nanyain keberadaan kamu.Jadi aku bilang kamu ada di rumah sakit".jelas Devan dengan santai.
"Ihhh kenapa kamu ngasih tau Natasha kalo aku ada di rumah sakit,ntar kalo dia tau kondisi aku kek gini gimana dong?jelas Aina panjang lebar dengan ketakutan.
"Gimanapun tuh Natasha itu sahabat kamu,dia juga mesti tau karena dia juga khawatir sama kamu".sambung Devan sambil menenangkan gadisnya itu.
Tok..
Tok..
Tok..
"Ainaaaaa".teriak Natasha memeluk erat sahabatnya dengan penuh kekhawatiran.
"Sha jangan terlalu kencang meluknya dong,gue gak susah napas nih".jawab Aina.
"Heheeh..maaf ya Na,soalnya gue khawatir banget sama loh.Di sekolah tadi gue gak konsen belajar karena ke inget loh mulu.Gue telpon loh tapi nomor loh gak aktif jadi gue nelpon Devan aja dan Devan bilang loh di rumah sakit gue kaget dengarnya Na.Emang loh sakit apa Na sampai bisa masuk rumah sakit kek gini?tanya Natasha sambil memandang Aina.
Aina pun terdiam,ia tak tau apa yang ia harus katakan kepada sahabatnya ini.
"Naa...loh kok diam aja sih".ujar Natasha.
"Anu Sha tadi kata dokter gue cuma kecapean aja".jelas Aina berbohong.
"Makanya Na loh jangan maksain mulu kerja.Nanti bisa gue bilangin mami gue kok supaya loh di kurangin jam kerjanya.
"Ehhh gak usah Sha gue gak papa kok".sambung Aina .
"Sha gue bisa minta tolong gak?loh nginep ya di sini jagain Aina dulu.Lagian juga besok libur.Gue mau pulang dulu ini udah sore. Gue gak enak kalo aku di sini yang jagain Aina,apa kata orang nanti.Ntar malam gue bakal bawain makanan buat kalian".jelas Devan.
"Oiyaa gak papa Dev,tenang aja gue yang akan jagain Aina di sini".sambung Natasha dengan senyumannya.
"Oke kalo gitu gue pulang dulu ya".ujar Devan tak lupa ia mengacak rambut sang kekasihnya itu.
Di kediaman Leonardo nampak raut wajah mereka penuh dengan kekhawatiran dan rasa benci.Mereka mencari keberadaan putri mereka yang sampai sekarang belum ada tanda-tanda kepulangan gadis yang mereka cap sebagai anak pembawa sial itu.
"Yah kok Aina belum juga pulang?tanya Rita Leonardo.
"Mungkin tuh anak masuk rumah sakit".sambung Revan Alexandra Leonardo putra pertama dari keluarga Leonardo.
"Apa?kamu tau darimana Revan?tanya sang Ayah.
"Tadi aku ke sekolahnya si pembawa sial itu karena ada tugas praktek dari kampus gitu,terus gak sengaja aku denger ada seorang cewek gitu nelpon dan dia sebut nama Aina dan rumah sakit The Alinsky gitu".jelas Revan.
"Ada-ada aja tuh anak,selalu buat masalah sama keluarga kita.Benar-benar pembawa sial.Besok pagi kita ke rumah sakit".jawab Tuan Leonardo dengan penuh amarahnya.
Mentari telah terbit sinarnya menyinari seluruh penjuru dunia ini.Dunia yang fana.Dunia yang tak akan habisnya mendapat cacian-cacian manusia yang tak pernah bersyukur dan menghargai sang pencipta.
Pagi yang cukup cerah untuk seorang gadis Aina Khanza Leonardo gadis yang hidup dengan penuh beban kehidupan yang ia pikul sendiri tanpa tau penyebabnya.
"Na,loh udah bangun?"tanya Natasha yang duduk di sebuah sofa di ruangan tersebut.
"Iyaa Sha.Btw makasih ya udah jagain gue semaleman di sini".ujar Aina sambil menghembuskan nafasnya sesekali menikmati cuaca di pagi ini.
"Iyaa sama-sama Na,kek loh orang lain aja".sambung Natasha.
Keadaan hening tak ada lagi yang bersuara.Hanya gadis itu yang menatap datar di sekitarnya.Ia memikirkan hidupnya.Lamunannya pun terhenti ketika terdengar suara ketukan pintu di luar sana dan ia kaget melihat siapa yang datang pagi-pagi seperti ini.
"Ayah?Ibu?"ujar Aina dengan ketakutan.Ia tak tau apa yang akan terjadi setelah ini.
Mereka pun tak menjawab panggilan sang anak itu.Mereka hanya memberikan tatapan tajam kepadanya.Sedangkan yang di tatap hanya mampu menundukkan kepalanya sembari ia takut menatap orang yang ada di hadapannya yang tak lain adalah orang tuanya sendiri.
"Ehh Na ini orang tua loh?"tanya Natasha setelah balik dari toilet.
"Hmm iyaa Sha".jawab Aina.
"Halo tante,om.Saya teman sekolahnya Aina".ucap Natasha kepada kedua orang tua Aina sambil mencium tangan mereka.
"Oiyaa".jawab singkat Rita Leonardo.
"Kalo gitu saya ke kantin dulu ya om tante,mau beli sarapan dulu".ujar Natasha lalu meninggalkan Aina dan kedua orang tuanya.
"Aina kita harus pergi dari sini.Kalo kamu lama di sini ayah tidak mau menghambiskan uang hanya demi kamu anak pembawa sial".sergah tuan Leonardo dengan tegas.
Yang di tanya pun hanya terdiam.Ia tak tahu apa yang ia harus katakan.Hanya kepasrahan saja yang ada dalam dirinya saat ini.
"Ehh tante..om..Kalian mau bawa Aina kemana?"tanya Natasha dengan penuh keheranan yang baru datang dari kantin membeli sarapan.
"Aina udah mau pulang nak Natasha.Tadi dokter bilang dia sudah bisa pulang".jawab Rita Leonardo dengan berbohong.
"Owhh gitu ya.Yuk aku anter pulang om..tante.Kebetulan aku bawa mobil".jelas Natasha yang ingin mengantarnya pulang.
"Ehh gak usah nak Natasha kami tadi sudah pesan taksi online".sambung tuan Leonardo.
"Oh iya kalo gitu om..tante..Aina,aku pulang dulu ya".ucap Natasha sambil berpamitan kepada mereka.
Di sinilah ia sekarang di kediaman Leonardo.Rumah yang ia anggap seperti neraka dunia.Bagaimana tidak ia tak pernah di hargai sedikit pun di rumah ini.Ia hanya mendapat cacian,hinaan dari orang tuanya sendiri.
"Heh kamu anak pembawa sial,kamu ini selalu saja membawakan kami masalah di keluarga ini.Lihat tadi aku menghabiskan uangku hanya untuk membayar biaya rumah sakit kamu yang tidak berguna itu.Memang betul ya kamu pembawa sial saja".bentak sang Ayah dengan penuh amarah.
Ia pun tak tahan dengan hinaan dari ayahnya sendiri.Ia tak sanggup lagi menahan air matanya yang begitu saja mengalir ke pipinya.Ia lalu pergi meninggalkan mereka menuju sebuah ruangan yang ia tempati untuk mengeluarkan semua beban hidupnya ya sebuah kamar yang sederhana yang tak lain adalah kamarnya sendiri.Ia mengunci pintunya dan duduk di salah satu sudut kamarnya sambil memeluk kedua lututnya.
Mengapa dunia ini tak adil denganku?
Mengapa setiap kali aku mencoba berbuat kebaikan bersama mereka,tetapi mereka hanya menganggap angin lalu saja.
Ku berteriak kepada Tuhan mengapa hidupku seperti ini?
Mengapa aku berbeda?
Mengapa aku menderita?
Mengapa mereka selalu jahat dan tak pernah menghargaiku?"gumam gadis itu dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.