LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 70





"Gadis yang baru.!"



Ucap salah satu penjahat yang berjongkok di depan Syeira sambil mengelus wajah Syeira, ia terkagum dengan kecantikan Syeira yang alami.



Syeira menepis kasar tangan pria itu. Ia memandang dengan tatapan penuh kebencian. Dan justru di balas senyuman yang susah tuk diartikan oleh pria penjahat itu.



"Bawa dia. Dan terus cari Zizi. Hidup, atau mati. Dapatkan Chip itu kembali!"



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Taksi yang di tumpangi Zizi telah memasuki halaman depan kantor *N~A Cell*. Zizi memberikan uang pada Sopir taksi menggunakan uang yang ada di tas selempang Syeira yang di berikan padanya.



'*Tuan Narendra, Tuan Narendra*!'



Zizi menghapal nama orang yang harus ia temui.



Saat Zizi hendak memasuki Gedung *N~A Cell*, Seorang Scurity menghadang jalan memberhentikannya.



Scurity itu melihat penampilan Zizi yang kacau, dan berantakan. Kaki yang tanpa alas kaki, terdapat luka-luka di kakinya. Baju yang kotor, rambut acak-acakan. Tampilan Visual Zizi tidak baik untuk bisa memasuki gedung *N~A Cell*.



"Tunggu, anda siapa.? Dan apa tujuan anda kemari.?"



Tanya Scurity menjalankan tugasnya untuk bertanggung jawab dengan keamanan perusahaan.



"Saya,.? Saya ingin bertemu dengan Tuan Narendra.!"



Jawab Zizi gemetaran. Orang-orang yang lalu lalang melihat kedatangan Zizi lantas berkasak kusuk.



"Anda siapa.? Ada keperluan apa anda ingin bertemu dengan CEO kami.?"



"Saya tidak bisa mengatakannya pada anda, saya harus bertemu dengan orangnya langsung."



Zizi semakin panik dan dia gugup. Dia ingin melangkah dan tentu di tahan oleh Scurity.



"Lepaskan saya.? Saya harus bertemu dengan Tuan Narendra. Tuan Narendra.?" Zizi bahkan berteriak karna frustasi.



"Hentikan, Nona.! Atau saya akan membawa anda ke kantor pihak berwajib!"



Seketika Zizi berhenti, ia begitu takut ketika mendengar nama tempat yang barusan Scurity sebut, ia memiliki traumanya sendiri.



"Saya mohon.? Biarkan saya bertemu dengan Tuan Narendra. Istrinya dalam bahaya, saya harus segera memberitahunya.!"



Zizi sudah menangis sekarang, ada rasa kasihan di hati Scurity, tapi dia tidak bisa bertindak gegabah. Wanita di depannya terlihat tidak meyakinkan jika mengenal Bosnya itu. Apa lagi istri nya yang identitasnya saja masih di sembunyikan dan tak di ketahui publik.



"Ada apa ini Pak.?"



Seorang wanita Customer Service menghampiri setelah melihat keributan yang terjadi.



"Nona ini ingin bertemu dengan Tuan CEO, Bu.!"



"Dan kau membiarkannya.? Apa kau pikir Tuan Narendra itu orang yang sembarangan yang bisa di temui oleh siapa saja.? Termasuk wanita \*\*\*\*\*\* seperti dia.? Bahkan pengusaha atas saja harus membuat janji untuk bisa bertemu dengan Tuan Narendra. Usir dia.!"



Perintah wanita yang menjadi Customer Service di *N~ A Cell*.



"Baik, Bu.!"



Scurity itu lantas memegang kuat tangan Zizi, menariknya agar Zizi segera keluar dari sana.



"Tidak, jangan usir saya.! Saya harus bertemu dengan Tuan Narendra.!"



Zizi terus berteriak dan sekuat tenaga menepis tangan Scurity meski tubuhnya sedikit demi sedikit justru bergerak semakin mendekati pintu untuk di seret keluar.



Arend dan Zid keluar dari Lift, mereka berdua hendak keluar dari perusahaan untuk melakukan pertemuan. Dan melihat keributan yang terjadi di depan sana.



"Lep\_\_Paskan saya.? Saya harus bertemu dengan Tuan Narendra. Syeira yang meminta saya.!"



Arend dan Zid melebarkan mata mendengar nama Syeira di sebut oleh wanita itu. Sontak mereka melangkah cepat dan mendekat.



"Tuan.?"




"Lepaskan dia.!" Perintah Arend. Scurity itu pun melepas tangannya dari tangan Zizi.



Zizi masih sesenggukan. Tangannya memegang erat tas selempang Syeira.



'*Itu tas Syeira*.'



Arend melihat penampilan Zizi dari bawah sampai atas, sangat memprihatinkan.



"Ikut saya.!"



Ucap Arend sambil melangkah cepat menuju satu ruang yang biasa di gunakan rapat atau santai saat jam istirahat di lantai bawah.



Zizi mengangguk dan Zid mengekor.



Zizi duduk di sebuah kursi, berhadapan dengan Arend. Zid berdiri di belakang Arend.



Dalam hati Arend sebenarnya sudah merasa jika sesuatu yang tidak beres pasti terjadi, sejak ia melihat tas Syeira berada di tangan Zizi. Tapi Arend sangat pandai mengontrol emosi. Ia bersikap tenang.



"Siapa kau, katakan apa tujuan mu datang kemari.!"



"Nama saya Zizi. Saya harus bertemu dengan Tuan Narendra, Syeira yang menyuruh saya.!"



Arend mengernyitkan kening.



"Saya Narendra. Dimana istri saya.? Kenapa tas nya bisa ada di tangan anda.?"



Zizi kaget, tapi juga merasa senang, orang yang di carinya ada di hadapannya, dan dia bisa langsung mengenali tas Syeira, itu artinya dia tidak berbohong.



Zizi menaruh tas Syeira di atas meja, mengeluarkan ponsel Syeira, memberikannya pada Arend.



Zizi menceritakan kisahnya hingga ia bertemu dengan Syeira. Arend dan Zid yang mendengarkan seakan tak percaya. Mereka membulatkan mata.



Arend meraih ponselnya di saku jas. Ia menyalakan benda pipih yang ia nonaktifkan sedari tadi. Dan benar saja. Ada begitu banyak panggilan tak terjawab dari Syeira.



Arend memukul meja dengan kesal. Istrinya dalam bahaya, membutuhkan pertolongannya, namun Arend justru tidak ada.



Zizi terus bercerita hingga ke bagian Syeira yang merekam Video. Lalu Arend membuka ponsel Syeira, ia mencari Video yang di maksud. Dan benar saja.



Pertama kali rekaman Video itu menampilkan wajah Zizi yang hendak bercerita, namun gambarnya jadi tidak jelas karna kamera yang terus goyang saat Syeira berlari.



Tapi suara Syeira dan Zizi yang takut dan panik terekam jelas dalam video itu, dan bahkan teriakan para penjahat yang mengejar mereka.



Mata Arend merah dan basah, giginya beradu, rahangnya mengeras. Kala Zizi menceritakan Syeira yang jatuh terkilir tak mampu berdiri. Dan Syeira meminta Zizi untuk lari meninggalkannya.



"Aaaahhh.!" Arend berteriak memukul meja meluapkan kekesalannya. Istri tercintanya telah dalam bahaya. Dan kini ia tidak tahu dimana keberadaan Syeira, dan bagaimana keadaannya.



Zizi yang melihatnya hanya bisa menunduk sambil menangis, ia takut, panik, dan juga merasa bersalah. Melibatkan seseorang yang tak ia kenal sama sekali kedalam masalah peliknya.



"Apa kita akan melapor pada.?" Zid angkat bicara, namun Arend menghentikan kalimatnya dengan tangan yang di angkat.



Zizi pun sempat kaget dan merasa kaget saat Zid mengatakan ide untuk melapor. Dia tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali.



"Apa kau memiliki sesuatu yang membuat mereka terus mengejarmu.?"



Arend bertanya pada Zizi, Zizi memang belum menceritakan tentang chipnya sedari tadi.



Zizi mengulurkan tangan lalu membuka genggamannya, menunjukkan sebuah Chip pada Arend.



"Zid.?"



Arend memanggil Zid, dan Zid langsung mengerti, Zid mengambil Chip itu dari tangan Zizi. Ia mengambil laptopnya yang selalu ia bawa. Lalu memasukkan Chip itu memalui sebuah perangkat keras, dan Zid mulai memainkan Laptopnya.



'*Benda yang mereka inginkan, belum mereka dapatkan, Syeira pasti baik-baik saja*.'



Arend memahami jika ini pasti berhubungan dengan jaringan perdagangan manusia internasional.



Arend memainkan ponselnya. Menghubungi Rain. Ia membutuhkan bantuan Uncle nya itu saat ini.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...