LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 133





Zid meminta cuti pada Arend cukup lama, mungkin sampai satu Minggu, atau lebih. Zid harus fokus menjaga Zizi. Tak ada satupun orang yang mendukungnya saat ini. Biar bagaimanapun, janin yang gugur itu adalah buah karya mereka berdua.



Akibat dari liburnya Zid. Semua pekerjaannya Arend limpahkan pada Meldy. Tentu saja wanita itu menolak dan bahkan marah. Hingga setelah melewati perdebatan sengit selama 2 jam. Akhirnya Arend yang mengalah. Meldy memang sudah bekerja sangat keras selama ini.



Arend akhirnya meminta Zico untuk sementara waktu kembali ke *N~A Cell*. Ia dibutuhkan untuk membantu Zizi menghandle pekerjaan yang seharusnya diselesaikan oleh Zid.



Untuk mempermudah semuanya. Meldy mengerjakan pekerjaannya di ruangan Arend. Karna ia harus bolak-balik meminta tanda tangan Arend. Ataupun meminta pendapatnya.



Jam menunjukkan pukul 10, Zico baru datang.



"Selamat pagi, Tuan CEO?" Zid menyapa.



Arend hanya melirik tanpa berniat menjawab. Zico hanya tersenyum, ia lalu melangkah ke arah Meldy yang duduk di lantai dekat sofa fokus pada laptopnya di atas meja.



"Apa yang harus kukerjakan?" Zico bertanya pada Meldy.



Meldy lantas membuka laptop Zid. Ia membuka satu data.



"Periksa ini semua. Cocokkan dengan draft yang ada disini." Meldy menunjukkan tugas yang harus Zico kerjakan. Itu semua adalah data rahasia. Karena itu hanya orang-orang terpercaya saja yang harus mengerjakannya.



"Aaahh? Segini banyaknya? Ini sih pembunuhan berencana!" seloroh Zico setelah melihat data yang ruwet.



"Iya, kau benar, dan aku tidak mau mati sendirian. Sudah cepat kerjakan."



Mereka pun kembali fokus pada pekerjaan. Hanya keheningan. Sesekali mereka bersuara itu pun hanya tentang tanya-jawab pekerjaan, setelah itu kembali fokus.



Pekerjaan di *N~A Cell* memang menumpuk, setelah beberapa kejadian-kejadian yang terus mereka alami hingga mengakibatkan pekerjaan terbengkalai.



Saking seriusnya. Mereka sampai hampir melewatkan jam makan siang. Hingga pintu di ketuk. Seorang staf perempuan masuk membawakan makanan dan minuman untuk mereka.



"Aah? Sudah jam 1 siang. Baiklah terimakasih." Zico yang menerima makanan dan minuman dari staf itu. Dan staf itu pun pamit undur diri. Ia harus kembali bekerja lagi.



"Hei Tuan CEO? Ayo kita makan dulu. Kau juga belum membuka ponselmu sama sekali dari tadi. Pasti Ratumu sudah meninggalkanmu pesan berderet-deret." Zico bicara sambil membuka kantong kresek yang dibawakan staf tadi. Meldy pun ikut antusias membukanya. Ia juga sangat lapar.



Arend meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Lalu ia pun beranjak dan ikut duduk di lantai menghadap meja depan sofa.



"Kau sudah terlihat lebih baik, Mel?" Zico memulai obrolan. Meldy sudah menyuapkan nasi kotaknya kedalam mulutnya.



"He em?. Meldy hanya menanggapi dengan gumaman saja. Sebenarnya Meldy tengah menahan satu rasa dalam hatinya. Ia mulai kepikiran Zico setiap menjelang tidur, dan bahkan jantungnya berdebar saat berada dekat dengan pria pirang itu. Dan Meldy harus pintar menyembunyikan apa yang ia rasa.



Meldy tak ingin mengakui, dan ia takut jika sampai benar-benar jatuh cinta pada Zico. Meldy takut Zico tak menyukainya. Meski Zico sangat suka bermain dengan gadis-gadis cantik dan seksi. Nyatanya tipe istri idaman Zico adalah gadis lembut, alim seperti Cellin. Bukan dirinya yang selalu berpenampilan layaknya wanita panggilan.



Arend hanya memakan makanannya setengah, setelah itu ia memeriksa ponsel. Dan keluar dari ruangan.



"Hei, Tuan CEO? Kau mau kemana?" Zico yang berteriak tak mendapat respons dari Arend yang sudah bergerak cepat.



"Aaahhh? Dasar, pasti dia akan pulang. Dasar Bucin?" Zico menggerutu.




'*Glek*.'



Meldy merasa jika Zico terus mengamatinya. Dan dia mendongak menatap Zico.



"Ada apa?" tanya Meldy. Ia takut jika mungkin saja makannya terlalu bar-bar, belepotan hingga membuat Zico tak nafsu dan berhenti makan.



"Aaahh?" Zico kaget. Dan dia menggeleng disertai senyum cengir kuda.



"Tidak apa-apa. Makanlah."



Setelah beberapa saat, Meldy dan Zico sudah selesai dengan makan mereka. Zico meregangkan ototnya. Lalu ia bersandar pada sofa. Kakinya berselonjor di lantai. '*Nyaman*'



"Apa aku boleh bertanya?" Meldy membuka suara setelah kembali duduk dari membuang sampah.



"Apa?"



"Bagaimana kau bisa menjalani semua ini? Maksudku? Kau telah kehilangan seorang istri yang sangat kau cintai, tapi kau bisa tetap baik-baik saja. Sedangkan aku, aku hanya kehilangan orang yang sudah mengkhianatiku, tapi rasa sakitnya tetap tinggal dalam lubuk hati. Dan ini menyakitkan." Meldy menopang dagunya dengan tangan di atas meja. Ia lelah, dengan semuanya. Hati, perasaan, pikiran, dan pekerjaan.



Zico tersenyum dan dia mendekat, ia pun menopang dagu dengan tumpuan tangan di atas meja, hingga kini wajahnya dengan wajah Meldy berhadapan, cukup dekat.



"Aku juga sedih, bahkan aku tak bisa tidur beberapa kali, tapi setelah kupikir-pikir, Cellin pergi itu lebih baik. Ia menderita karena harus menanggung sakit selama hidupnya. Jadi, saat dia pergi, ia bukan hanya melepas dunia, tapi juga semua rasa sakitnya. Lihatlah kita yang masih hidup. Justru rasa sakit itu bergantian bermunculan pada kita."



Meldy menatap dalam Zico yang bicara, apa yang dikatakannya benar, pria ini memang lebih dewasa setelah bertemu dengan Cellin. Tanpa sadar Meldy tersenyum manis pada Zico. Dan Zico melihat itu. Lagi, Zico menelan salivanya kasar. Bibir Cellin selalu menarik perhatian Zico.



'*Plis Boy? Jangan bangun sekarang? Ouuh $h!!.t.t*'



Zico mengumpat dalam hati karna jagoannya dibawah sana telah bangun hanya dengan menatap dan berdekatan dengan Meldy. Ia menarik nafas dalam, menghembuskannya dengan kasar, lalu memalingkan muka.



"Aku pergi dulu."



Meldy mendongak dan kaget, Zico tiba-tiba berdiri cepat dan melangkah ke arah kamar mandi.



"Buru-buru sekali? Apa perutnya sakit?"



Zico tak bisa menahan. Dan dia melakukan satu keg!laan disana. Ia menyalakan kran air agar bisa meredam suara sumbang yang mungkin saja tidak sengaja lolos dari mulutnya.



Meldy hanya mengendikkan bahu. Ia lantas membuka kembali laptopnya, dan meneruskan pekerjaannya.



Zico masih sibuk memanjakan si Joni. Tapi bukan Cellin yang ada dalam pikirannya, justru Meldy yang memenuhi seluruh isi kepalanya.



Setelah hampir 15 menit, Zico pun sampai. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun. Tubuhnya lemas. Ia bersandar pada dinding kamar mandi.



"Hah haaahh,, haahh." Zico masih menarik nafas menetralkan rasa.



'*Kenapa aku seperti ini? Tak bisa mengendalikan diri meski aku sudah berusaha? Apa semua ini murni karna Meldy yang seksi hingga membangkitkan gairah kelelakianku, atau ada hal yang lainnya? Aku tak pernah tertarik dengan wanita manapun semenjak bertemu dengan Cellin. Tapi kenapa sekarang bayangan Meldy menggangguku dengan sempurna? Apa aku sudah mulai gila*?'



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...