LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bab 7



"Na! Caphucino nya satu lukisin gambar love yak. Sama kopi Toraja dan Latte ya untuk meja no.3".kata salah seorang pelayan cafe sambil menyerahkan daftar pesanan pelanggan.


" Tunggu!!.".jawab gadis itu.


Tangannya yang mungil itu langsung bergerak cekatan meracik pesanan yang di minta.


"Nih...eits sebentar!." Sambungnya sambil sedikit memberi kesan terakhir pada kopi tersebut.


"Makasih Aina." Kata pelayan itu.


Ia melihat pelayan tersebut berlalu meninggalkannya. Dari jauh mata gadis itu bergerak menangkap ekspresi wajah pelanggan. Suatu kepuasaan tersendiri baginya ketika memberi kesan terakhir yang sulit di lupakan.


" Ini pesanannya. 1 Caphucino gambar love. Kopi toraja. Dan latte." kata pelayan sembari meletakkan 3 cangkir kopi.


"Makasih".jawab salah seorang dari mereka dengan penuh senyuman.


Mereka adalah teman kelas Aina sendiri. Lisha , Nada , dan Miska yang merupakan pelanggan tetap di cafe itu. Salah satu dari gadis itu adalah anak keponakan dari pemilik cafe elit tersebut.


"Heemm.... aroma kopi Toraja emang mantap." Kata Nada dengan polos sambil menyeruput kopinya.


"Iyalah Mantap, apalagi kalo gratis hahaha." Ledek miska kepada sahabatnya itu.


"Huu.. kopinya emang mantap kali bukan karena gratis nya hahah." Jawab Nada dengan penuh tawa.


"Lish, minum tuh kopi lo kasihan, ntar di sambar lalat." Sambung Miska.


Lisha hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya. Kedua orang itu adalah penghibur baginya ketika masalahnya datang.


"Eh .. katanya si cupu masih kerja disini yah. Apa bener dia masih jadi Barista?tanya nada kepada sahabatnya.


Lisha yang meminum kopinya itu hampir saja keselek. Entah mengapa hatinya seakan membara mendengar nama itu.


"Iyah sih. Tapi hebat juga si cupu. Kopinya enak".jawab Miska.


"Bisa gak loh gak bahas tuh cupu. Gue jadi badmood dengar namanya".tegas Lisha dengan penuh kesal.


Ia sangat tidak menyukai gadis barista itu. Entah dendam apa yang ada di dalam dirinya. Segala cara ia lakukan untuk menyingkirkan gadis itu dari hadapannya.


Matanya menatap tajam kopi tersebut. Ia memikirkan cara apa yang tepat untuk dia ambil.


"Mba...!!!."panggilnya kepada pelayan kafe.


"Ini kopi saya kok lukisan gambar love ya!. Kan saya tadi pesan ukiran nama saya LISHA!."keluh Lisha kepada pelayan tersebut.


"Maaf mbak. Bukannya saya keliru tapi memang tadi mbaknya pesan gambar love ini daftar pesanan mbaknya ."jawab pelayan itu sambil meletakkan secarik kertas di atas meja.


Lisha langsung merobek kertas itu dan membuangnya di muka pelayan tersebut. Dia sangat marah ketika orang lain menunjukkan kesalahannya. Dua sahabatnya hanya diam melihat tingkah Lisha. Mereka tidak berani menegur atau pun melarang.


"Lo Budeg yah?Gue kan bilang nama gue!!!." sergah Lisha kepada pelayan itu


Di lain sisi Aina yang mendengar keributan tersebut langsung mencari sumbernya. Matanya menangkap tiga orang yang selalu berhadapan dengannya. Sorot ketakutan terpancar jelas di wajahnya.


"Cepat panggil barista yang buat kopi gue!!." teriak Lisha seakan memecah keadaan yang ada.


Pelayan itu langsung memanggil barista yang Lisha minta. Sebenarnya pelayan itu tidak ingin menuruti perkataan Lisha, karena ia memang benar bahwa Lisha lah yang bersalah. Tapi apa yang bisa ia lakukan? Tidak mungkin dia bisa membantah perkataan keponakan tersayang pemilik kafe tersebut.


"Na. Lo di panggil tuh. Maafin gue yah."kata pelayan itu dengan penuh penyesalan.


"Iya, gak papa kok."jawab Aina.


Derapan kaki Aina seolah mendorongnya ke lubang hitam. Badannya sedikit mendingin melawan ketakutan.


"Ehhh tuhh si Cupu udah datang."kata Nada sambil menunjuk ke arah Aina.


"Eh cupu loh ***** ya?Loh ngapain lukis gambar love di kopinya Lisha?tanya Miska


"Ma..ma..ma..af Lish aku cuman bikin kopi sesuai daftar pesanan".jawab Aina gugup


"Maaf...maaf!!. Gue tuh mintanya nama gue ****!. Bukan nih gambar love!."bentak Lisha


"Aku minta maaf Lish, Aku bener gak tau apa-apa. Aku hanya bikin pesanan yang di minta."jawab Aina


"Gue juga heran ya. Masa cafe sebagus ini punya barista cupu kek loh. Ngerusak kesan nya aja".sambung Nada


Aina hanya terdunduk diam. Ia tidak berani mengangkat muka. Air matanya tumpah hanya getaran ketakutan yang bisa ia rasakan.


"Jawab ***** jangan nangis aja" kata Lisha


"Ahhk.................." rintih Aina pelan


"Astaga Lishh....!!! Tas lo."jerit Miska panik.


Lisha langsung melirik ke meja. Emosi nya melunjak melihat tasnya yang hancur bercampur kopi.


"Maaf Lish... maaf..aku gak sengaja."kata Aina.


"Eh cupu loh tau gak tas nya Lisha tuh limitied edition!."jelas Nada kesal.


"Maaf Lish.. aku beneran gak sengaja. Lagian kamu juga kok yang dorong aku."sambung Aina


"Dasar lo yah cup...."


Hampir saja ayunan tangan itu mendarat di pipi barista cantik tersebut. Seorang pria berumur sekitar 30- an menahan tangan halus Lisha.


"Ada apa ini?Kenapa ada kekerasan? Semua bisa di selesaikan baik-baik!!."ucap pria tersebut.


"Bukan urusan loh!!. Gak usah ikut campur!." sergah Lisha geram.


"Jelas ini juga urusan saya."jawab pria itu.


" Apa loh mau gue laporin Aunthy gue biar loh di pecat!!!."ancam Lisha .


Pria itu tak lain adalah Jonathan Froseor Manager Cafe tersebut Ia adalah salah satu orang yang sangat mengecam sifat anak manja itu.


"Ok. Silahkan!. Saya tidak takut karena saya merasa tidak bersalah."ucapnya.


"Saya butuh saksi untuk hal ini agar semua bisa di selesaikan."sambung Pak Jonathan.


Awalnya tidak ada yang berani angkat bicara. Mereka bungkam karena ketakutan. Namun mereka juga menginginkan keadilan. Salah seorang pelayan yang tadi melayani ketiga gadis itu angkat bicara. Dia menjelaskan semua titik permasalahan tersebut dan siap menanggung semua resiko.


"Nah .. sekarang siapa yang harus di laporkan saya atau kamu??tanya Jonathan kepada Lisha.


Lisha hanya terdiam. Matanya menatap tajam Aina seolah ada bara api di dalamnya. Ia merasa sangat di permalukan dan itu pertama kali dalam hidupnya. Hatinya berkecamuk menahan emosi yang melunjak.


"Ok. Gue juga gak mau tau. Pokok nya si Aina harus ganti rugi tas gue!!".ucapnya dengan penuh ke angkuh.


"Apa kau gila? Sudah jelas - jelas kau yang salah!!."tegas Jonathan.


"Gue mau si cupu ganti rugi tas gue. Tapi karena gue yang salah, dia boleh bayar setengahnnya."sambung Lisha.


Aina terjebak dalam lamunanya. Apa yang harus dia lakukan. Dia tidak mungkin mampu membayar ganti rugi tersebut. Hanya kata pasrah yang bisa ia keluarkan.


"Si cupu dapat dari mana duit sebanyak itu? Jaga lilin? Hahaha."timpal Miska.


"Gue gak akan minta ganti rugi asalkan dengan syarat si cupu di pecat dari cafe ini. Gimana?tawar Lisha.


Manager cafe itu habis akal melihat tingkah gila wanita di hadapannya. Ia juga tidak ingin mengambil resiko yang terlalu besar bagi perkembangan cafe.


"Baiklah. Saya akan membayar 35 juta. Itu kesanggupan saya. Dengan syarat gaji Aina di potong setiap bulan dan harus lembur sampai jam 7 malam."jawab Jonathan.


Lisha masih kurang puas mendengar hal itu dia ingin Aina mengalami derita yang teramat sangat. Bagi gadis itu dia tidak akan pernah merasa puas sampai musuhnya terasingkan oleh dunia.


Dari kejauhan seorang gadis manis berdiri di depan pintu cafe. Ia melihat orang yang selalu menemaninya berada dalam keributan.


"Eh Kunti!!. Gue heran yah sama loh. Kenapa ya setiap ada luh tuh pasti ada aja yang ribut. Emang dasar lo yah Biang!!!".kata gadis manis itu kesal.


"Na , ini ada apa?Coba cerita ke gue ini kenapa?sambungnya.


Aina hanya terdiam dan terus terdiam pikirannya buntu. Entah apa yang harus dia katakan. Salah seorang dari pelayan tersebut kemudian menjelaskan semua hal kepada gadis manis itu.


"Dasar luh yah Kunti!!. Belaguk bener loh. Gue aja yang anak dari pemilik cafe ini gak kayak loh. Sadar diri gak sih!!. Loh cuman keponakan nyokap gue. " ucap gadis itu dengan penuh emosi.


"Mana no. rekening loh biar gue transfer sisanya."sambungnya.


Yang tak lain adalah Natasha Putry Albert, putri semata wayang pemilik cafe elit tersebut.


"Gak usah Sha please!!.".pinta Aina.


"Gak papa lah. Loh sahabat gue. Kalo loh keberatan loh bisa cicil di gue."jawab Natasha.


"Oke Sha.Gue janji bakal lunasin utang gue ke loh."jawab Aina


Natasha hanya mengangguk dengan ucapan sahabatnya itu yang polos.


Lisha and the gengnya pun langsung pergi meninggalkan cafe tersebut bercampur rasa malu yang mereka rasakan.