
Zico sampai di Rumah Sakit, ia membuka pintu kamar rawat inap Cellin. Zico melebarkan senyumnya kala melihat Cellin yang tengah berdiri di bantu oleh Kakak.
"Kenapa.?"
Zico mendekat dan bertanya dengan nada khawatir.
"Cellin mau p!p!s." Kakak yang menjawab.
"Biar aku saja Kak.!" Ucap Zico sambil mengambil alih botol infus Cellin yang ada di tangan Kakaknya, lalu membantu Cellin melangkah.
"Aku tidak apa-apa, aku bisa sendiri." Cellin merasa malu dengan perlakuan manis kedua pria yang menyayanginya ini.
Keadaan Cellin memang lebih baik. Dorongan kebahagiaan dari hati itu bisa menjadi imun terbaik untuknya merasa lebih sehat.
"Kau memang bisa sendiri, tapi pengemis cinta ini ingin melayanimu layaknya seorang permaisuri.!" Jawab Zico menimpali ucapan Cellin yang membuat Kakak Cellin menahan tawa mendengarnya.
"Kau ini.?" Pipi Cellin semu merona. Ia merasa malu tentu saja.
"Baiklah, Kakak tinggal dulu sebentar, Kakak ingin membeli makanan di kantin, apa kalian ingin Kakak bawakan sesuatu.?"
Kakak menawari. Namun Zico maupun Cellin menggelengkan kepala bersama sebagai penolakan.
Kakak pun melangkah keluar meninggalkan mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, Cellin sudah selesai. Zico membantunya kembali sampai berdiri di dekat ranjang rawat.
Sepertinya pengait Rok panjang Cellin di belakang sana belum mengait dengan sempurna. Cellin merasakannya, dia jadi tidak nyaman. Tapi jika di biarkan, resletingnya terbuka dan fatal akibatnya jika rok nya sampai melorot.
'*Haruskah aku minta tolong padanya*.?'
Cellin merasa ragu, jelas itu memalukan, meminta Zico untuk mengaitkan pengait roknya di bagian pinggang belakang sana.
Cellin masih berdiri, tatapannya jelas terlihat bingung, Zico mengernyitkan kening melihat Cellin yang masih diam saja. Zico menaruh botol infus di atas tongkat penyangga.
"Ada apa.?" Tanya Zico lembut, membuat Cellin mendongak padanya.
"Kenapa.? Apa ada yang sakit.? Hemm.?" Zico terlihat cemas, ia khawatir jika kepala Cellin kembali sakit.
Cellin menggeleng pelan.
"Lantas apa.?" Zico semakin penasaran.
"Pengait Rok ku seperti nya terlepas.!" Jawab Cellin ragu dengan muka menunduk ke samping karna merasa malu.
Zico tidak bisa menahan tawanya, ia tertawa terbahak di depan Cellin yang tengah malu.
"Ha ha hahaha."
"Iiiihh,, malah ketawa.?"
"Habisnya kamu lucu banget, masa mau ngomong gitu aja kayak mau laporan kenegaraan, ada-ada saja.!" Jawab Zico dengan sisa-sisa tawanya.
Cellin manyun. Zico lantas berjongkok, dengan tumpuan satu lututnya di lantai. Ia lantas memegang kedua pinggang Cellin. Dan Zico mendongakkan kepalanya melihat Cellin dari arah bawah.
Jelas itu membuat Cellin kaget dan membulatkan mata. Ini terasa sangat ambigu baginya.
"Dimana pengaitnya.?"
"Aaah...?"
Zico tersenyum manis, menunggu jawaban Cellin untuk menunjukkan pengait Rok nya.
"Di bagian belakang.!" Jawab Cellin malu-malu.
Zico lantas mendongakkan kepalanya melewati perut ramping Cellin dan juga pinggang ramping istrinya itu, ia membuka sedikit bagian bawah kemeja Cellin, benar saja, pengait Rok itu tidak bertaut.
Zico tersenyum lalu lekas membenarkannya, setelah selesai, dengan nakal ia menggerakkan tangannya menyentuh lembut perut Cellin hingga ke pusarnya. Membuat Cellin merasakan setruman dan membulatkan mata.
Zico kembali berdiri, berhadapan dengan Cellin yang masih berdiri kaku karna perbuatan kecil nakal nya barusan.
Zico tersenyum melihat ekspresi Cellin yang terpaku seperti itu. Pandangannya lantas tertuju pada bibir mungil Cellin yang nampak sangat menggoda, seperti buah jambu air yang manis dan masih ranum.
"Boleh aku menciummu, Cellin.?" Zico merasa tidak tahan melihatnya, itu seperti magic yang menariknya kuat untuk mendekat.
Zico meminta izin terlebih dulu, jika sebelumnya ia selalu berbuat se enaknya langsung menautkan bibir nya pada perempuan-perempuan partner mainnya, beda halnya dengan Cellin. Zico akan bersikap sangat lembut dan hati-hati.
Cellin hanya diam, tapi matanya terlihat sayu, dan Zico mengerti tatapan itu. Zico menyentuh lembut wajah Cellin dengan tangan kirinya, mengelus pipi yang merona itu, sedikit chubby, halus dan lembut. Sedangkan tangan kanannya menyentuh lembut pinggang Cellin.
Cellin memejamkan mata tanpa bimbingan, Zico mendekatkan wajahnya pada wajah Cellin, ia akan menautkan bibirnya pada bibir Cellin untuk pertama kalinya, dengan gerakan pelan bibir mereka semakin dekat. Hingga tiba-tiba Dokter dan beberapa perawat datang ke arah mereka.
Zico yang kaget lekas melepas tangannya dari Cellin, dan dia melompat ke atas ranjang rawat berbaring disana, meringkuk menghadap Cellin yang berdiri, memunggungi Mereka yang datang. Ia lupa jika yang tengah sakit adalah Cellin, bukan dirinya. Jantung Zico berdetak kencang, rasa malu memenuhi seluruh kepalanya.
Cellin hanya berdiri terbengong, membalikkan badan melihat sang suami yang sudah meringkuk di ranjang miliknya. Cellin bertatapan dengan Dokter dan Para perawat dengan tatapan seperti orang bodoh.
Sedangkan Dokter dan para perawat yang datang tak mampu menahan tawa mendapati Zico yang justru melompat dan berbaring di ranjang rawat.
"Ha ha ha hahaha!" Gelak tawa mereka menyadarkan Zico yang sudah terlanjur berbaring.
Zico kembali bangun, duduk di tepian ranjang, menoleh ke belakang melihat Dokter dan para perawat yang sudah tertawa lepas. Dia hanya nyengir kuda.
Lagi-lagi Zico hanya bisa nyengir kuda, ia lantas menepuk-nepuk ranjang seakan tengah membersihkannya dari debu. Bangun dan berdiri, membantu Cellin untuk naik ke ranjang bergantian dengannya, Cellin berusaha menahan tawanya, namun itu lolos juga menjadi sebuah senyuman yang tertahan.
"Silahkan.!" Ucap Zico masih dengan raut muka malu pada Pak Dokter yang akan memeriksa Cellin.
Zico menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Para Perawat masih menahan tawa dengan tingkah konyolnya.
' *Memalukan. Ini benar-benar memalukan*.'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Syeira kembali ke Kantor *Melavers* setelah tadi ia gagal menemui sang suami untuk mengajak makan siang bersama.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, saatnya pulang. Syeira memeriksa ponselnya, sama sekali tidak ada pesan maupun panggilan.
Ia sebenarnya sangat berharap Arend sang suami yang bersikap romantis seperti pasangan yang lain. Mengirim pesan padanya meski hanya singkat dengan kata-kata yang romantis dan manis. Tapi dia adalah Narendra Putra Aryan. Si kulkas 20 pintu. Bagaimana bisa bersikap hangat seperti mentari di musim semi.?
'*Apa aku harus memintanya untuk menjemput ku. Dan kita pulang kerja bersama? Itu kan salah satu hal romantis yang di lakukan suami pada istrinya.? Tapi bagaimana jika dia berpikir aku terlalu mengejarnya.? Aaaahh..! Kenapa suamiku berbeda*?!'
Syeira sangat ragu dan bimbang, antara keinginan hatinya yang mengharapkan perhatian dari Arend. Dan otaknya yang mengatakan *jangan* karna itu seperti sedikit memalukan.
Syeira sudah menekan icon kontak Arend tanpa gambar profil itu. Ia masih menimang-nimang, antara melakukan panggilan, atau tidak.
Tapi rasa hati selalu menjadi pemenang di banding kewarasan akal. Syeira pun menekan panel hijau. Ia menghubungi Arend untuk memintanya menjemputnya.
...----------------...
Arend tengah berada dalam perjalanan dari pertemuan yang baru saja ia lakukan di salah satu resort pusat kota, kembali menuju perusahaan *N~A Cell*.
Ia kini berada di mobil bersama Zid yang duduk di kemudi, dan Meldy kekasih Zid yang duduk seorang diri di jok belakang. Sedangkan Arend duduk di sebelah Zid di depan.
Arend merasakan getaran di saku jasnya, Ia tersenyum tipis melihat kontak yang tengah melakukan panggilan padanya. Zid melirik namun seakan tak peduli, ia masih tetap menatap depan dengan raut muka datar.
Arend mengangkat panggilan masuk itu.
"Halo.!" Satu kata Arend dengan suara berat bariton nya mampu membuat Syeira gelagapan, dia sendiri yang menelfon, dia sendiri juga yang gugup dan sulit mengendalikan jantung yang berdegup tidak normal.
"*Kau dimana.? Apa kau sudah pulang*.?"
"Belum, aku baru selesai dengan pekerjaan."
Syeira tersenyum senang mendengar jawaban Arend. Syeira hampir tertawa namun ia tahan.
"Ada apa.?" Tanya Arend karna Syeira masih diam saja.
"*Emm.?? Bisakah kita pulang bersama*.?"
Dengan suara ragu Syeira akhirnya berhasil mengucapkan kalimat tanya itu pada Arend.
Zid menatap Meldy yang tengah memakai lipstik di jok belakang sana. Meldy pun balik menatapnya, mereka saling memberikan tatapan lewat pantulan spion yang ada di depan. Zid memberi kode pada Meldy untuk melakukan sesuatu. Dan Meldy langsung mengerti dengan kode Zid yang menggigit pelan bibir bawahnya sendiri dengan sensual.
Arend tersenyum senang mendengar Syeira yang mengajaknya pulang bersama. Ia hendak menjawabnya dengan kata '*Ya*.' Namun suara Meldy yang mengundang masalah terlebih dulu bergema.
"*Aaahh*..!" Lirih Meldy nakal.
Jelas saja itu membuat Arend membulatkan mata menoleh ke belakang, sedangkan Syeira, ia hampir terkena serangan jantung mendengar lirihan manja itu.
Meldy tidak sedang apa-apa, ia masih sibuk memakai lipstik di bibirnya, namun ia kembali berlirih manja.
"*Eeemmphh*.!"
Jelas suara-suara saru itu membuat Syeira berpikiran yang bukan-bukan.
"*Tuan CEO.? Apa yang sedang anda lakukan*.?"
Syeira berteriak marah. Arend menjadi gugup di buatnya, ini semua gara-gara Meldy yang m3nd3$4h tidak jelas.
"Syeira, kamu salah dengar.?"
"*Apa maksudmu salah dengar*.?"
Sekali lagi Meldy bersuara, kini ia malah menyebut kata sayang dengan manja sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Zid dari belakang.
"*Cepp\_pat sayaa\_\_ng*.!" Lirih Meldy yang semakin jelas terdengar dalam sambungan telepon Arend dan Syeira.
Arend pun memilih menutup telpon dengan cepat, sebelum mereka berdua benar-benar membuatnya gila.
Syeira sudah menangis sejadi-jadinya, hati nya patah, itu rasa sakit yang lebih sakit dari pada mengetahui Arend yang dulu tidak memiliki rasa padanya, Syeira merasa hancur seketika. Ia menangis dan berteriak, untung saja ia hanya seorang diri di ruang itu. Teman-teman yang lainnya sudah pada pulang.
"*Aaaaahhh haaahaahh*.?" Syeira menangis Bombay. Ia berpikir jika Arend tengah berselingkuh darinya.
Sedangkan Zid hanya tersenyum tipis. Ia yang sering kalah dari Arend kini memiliki kesempatan untuk sedikit berbalas dendam padanya, Syeira adalah sumber kelemahannya Arend. Zid merasa senang bisa sedikit mempermainkannya.
Arend hendak marah, namun apa yang membuatnya marah? Mereka adalah sepasang kekasih. Meldy dengan nakal menyesap leher Zid di depan Arend.
'*Iisshh*.' Arend mengernyitkan kening merasa jengah dan ngeri melihat tingkah dan gaya pacaran mereka.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...