LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 66





Rain membaringkan Mikaila di ranjang kamar sebelumnya, kini ia tengah berada di mini bar bersama Arend dan Cen. Syeira tangah berbicara lewat sambungan telepon dengan Bu Mela di halaman luar.



Hari sudah malam.



"Bu, saya mohon.? Jangan pecat saya.? Bu.?"



Sambungan terputus, Syeira sudah berhari-hari tidak bekerja, bahkan dia sudah pernah menerima surat peringatannya, dan sekarang, dia menerima surat pemberhentian kerja dari *Melavers* lewat e-mail.



"Aaaahhhh.!" Syeira berteriak kesal melihat ponselnya yang sudah tak lagi terhubung dengan Bu Mela.



Meghan yang menemaninya berdiri tegap di depan pintu masuk melihat lurus ke depan tanpa menoleh pada Syeira yang melihatnya sedikit ngeri.



Syeira melangkah, ia sudah selesai dengan sambungan telponnya. Syeira dan Meghan masuk ke ruang Mini Bar dimana ke tiga pria itu kini tengah berada disana.



"Jelas aku sangat merindukannya.!" Ucap Rain lalu menenggak minumannya di sebuah gelas kaca kecil yang sangat cantik. Cen kembali mengisi gelas Rain dengan minuman.



Arend hanya minum minuman kaleng bersoda non alkohol. Syeira duduk di kursi dekat Arend. Arend dan Rain berhadapan. Ada sebuah meja kaca berbentuk bundar di tengah mereka. Cen berdiri di dekat Rain. Dan kini Meghan berdiri di dekat suaminya.



"Kau belum menceritakan padaku, bagaimana kau akhirnya bisa memutuskan untuk menikah, Cen.?"



Cen terbelalak mendengar Arend bertanya, bagaimana Cen bisa menjawabnya, apa lagi ada Meghan saat ini di sampingnya. Raut muka Cen terlihat panik, sedangkan Meghan hanya biasa saja.



Tersungging senyuman di bibir Rain. Lalu ia kembali menenggak minumannya.



"Kau juga belum menceritakan padaku, bagaimana kau bisa menikahi gadis ini, Arend.?"



Cen kembali memutar pertanyaan. Membuat Syeira membelalakkan mata. *Jangan sampai Arend mengatakan jika dia menikahinya karna harus membayar hutang*, itu sangat memalukan.



"Karna dia takdirku.!" Jawab Arend menatap lekat mata Syeira yang menatapnya ragu.



Mereka tersenyum mendengar Arend yang berbicara manis pada wanitanya. Dia, Narendra Putra Aryan, bocah Genius yang begitu dingin, bisa takluk pada gadis yang,? Terlihat sangat biasa-biasa saja. Dalam dunia mereka kencantikan Syeira hanyalah biasa-biasa saja. Mungkin dari 5-10, nilainya 6.



Syeira merasa sangat bahagia saat Arend mengatakannya. Entahlah, Arend seakan mencurahkan seluruh hidupnya dalam satu baris kalimat tadi.



Tiba-tiba seorang pria datang, membungkukkan badan sebelum akhirnya melapor. Dia adalah salah satu yang menjaga Mikaila di depan pintu kamar.



"Tuan. Dia keluar.!"



Pria itu menyampaikan laporannya pada Rain. Rain berdecah dan memalingkan muka.



"Ck, dia sangat merepotkan.!"



"Aku akan membawanya pulang sekarang.!" Arend menimpali Rain yang berdecak kesal.



Mereka bergerak bersama. Keluar dari mini bar menuju halaman depan Mansion Rain.



"Menyingkir kalian semua. Aku ingin pergi dari neraka ini. Cepat.! Minggir.?"



Mikaila terus berteriak, marah, dan memaki, ia ingin keluar dari Mension Rain. Tapi para anak buah Cosa menghentikan langkahnya dan menghadangnya di halaman depan.



Rain dan yang lainnya datang. Mikaila melihat ke arah mereka. Arend berpelukan pada Rain dan Cen. Setelah itu Syeira yang berjabat tangan sungkan pada keduanya. Mobil Arend datang, seseorang membawakannya.



"Baiklah, kami harus pergi. Sampai jumpa.!"



Rain mengangguk dan Cen tersenyum pada Arend yang berpamitan.




"Kau ingin masuk dengan mandiri.? Atau aku yang menyeretmu.?" Rain mendekat dan berbicara sangat pelan namun tegas di telinga Mikaila.



Mikaila menoleh pada Rain yang menunduk dan kini wajah mereka saling bertemu, hampir saja menyentuh. Namun Rain dengan gerakan cepat kembali berdiri tegak.



Mikaila sangat kesal dengan semua situasi ini. Ia melangkah dan membuka pintu mobil di jok belakang dengan sangat kesal. Mikaila bahkan membanting pintu mobil itu saat menutupnya.



Arend dan Syeira masuk. Mobil pun bergerak keluar dari area Mension Cosa. Melaju membelah jalan kota Brasilia.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Hari-hari kembali normal, Mikaila juga sudah lebih tenang, tapi karna ia yang keras kepala tidak mau pulang ke tanah air. Membuat Aryan dan Ayla terpaksa ikut tinggal bersamanya.



Arend dan Syeira sudah pergi dari negara Brazil, tapi mereka tidak langsung kembali ke tanah air. Arend dan Syeira melakukan penerbangan dengan jet pribadi Yang di sewa Aryan ke negara Australia untuk menemui Zico dan Cellin.



Arend merindukan dan juga mengkhawatirkan saudara gesreknya itu. Syeira juga merindukan Cellin dan begitu sangat ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang.



Menurut penuturan Zico, Cellin sudah selesai melakukan Operasi. Dan Operasinya berhasil. Dan Cellin juga sudah sadar dari tidur pengaruh obatnya.



Kemungkinan Arend dan Syeira akan sampai di Rumah Sakit tempat Cellin di rawat ketika pukul 8 malam.



Cellin tengah makan, hanya bubur encer yang bisa ia konsumsi sementara waktu. Makanan yang di sajikan untuk mengurangi tekanan darah.



Zico menyuapinya dengan telaten. Kakak Cellin sudah tidur di sofa, ia pasti lelah. Berhari-hari menjaga Cellin siang dan malam. Apalagi pas Zico yang harus pergi untuk urusan bisnisnya, Kakak harus menjaga Cellin seorang diri, meski ada perawat yang membantunya.



Cellin terlihat sangat kurus dan pucat, di kepalanya terdapat perban tebal yang melingkar, menutup sempurna kepalanya. Ia gadis berhijab yang tak pernah membuka mahkotanya, kini harus melepas kerudungnya dengan keadaan Tak ada lagi sehelai rambut pun yang menghiasi kepalanya. Sungguh kasihan melihat nya dalam kondisi seperti saat ini.



Pintu di buka, Arend dan Syeira datang.



"Aaaahhh,,, Cintaaa.?" Seru Syeira pelan dengan nada panjang. Syeira membawa sebuah boneka lucu untuk Cellin. Ada bunga juga di tangannya. Cellin tersenyum senang melihat kedatangan Syeira dan Arend.



Zico meletakkan mangkuk bubur Cellin di atas nakas. Ia mengambil alih barang bawaan Syeira. Cellin ingin menerima sendiri hadiah yang di berikan Syeira, namun efek dari Operasi itu membuat tubuh Syeira terasa keluh, *kram* yang membuatnya susah bergerak, tapi Dokter mengatakan itu bisa kembali normal setelah menjalani fisioterapi kedepannya.



Cellin juga belum bisa bicara dengan baik. Ia tersenyum manis menanggapi Syeira yang bercerita entah apa saja padanya.



"Bagaimana kabarmu,?" Arend memeluk Zico.



"Hampir tidak kuat menjalaninya.!" Bisik Zico sangat pelan di telinga Arend agar Cellin tidak dengar.



Arend tersenyum, itu artinya Zico memang sungguh-sungguh telah berubah. Ia mengurus perusahaan Aryan sekaligus mengurus wanita yang dicintainya. Pasti tenaga dan emosinya benar-benar terkuras. Ada hikmah di balik setiap musibah.



Mereka membicarakan hal serius bagaimana kedepannya.



"A\_ \_u i\_ \_in pu\_ \_lang.!" Dengan susah payah Cellin berusaha bicara, ia mengatakan jika dia ingin pulang. Syeira sudah hampir menangis di depan Cellin, namun ia segera memalingkan muka mengusap air matanya yang menetes dan menguatkan hatinya, jangan sampai Cellin melihatnya bersedih, dada Syeira terasa sesak melihat kondisi Cellin seperti ini.



Arend terpaku melihat kondisi Cellin. Apa lagi melihat Zico yang begitu telaten merawatnya.



Terlihat Zico tengah mengusap air liur yang tidak sengaja keluar dari sudut bibir Cellin, Arend sudah ingin menangis sekarang, saudaranya yang begitu nakal, pembangkang, menyukai wanita malam, tidak bertanggung jawab. Bisa mencintai gadis lemah ini dengan begitu tulus. Dan dia berubah demi wanitanya.



Cellin memang merasa sangat tidak betah sejak awal berada di tempat ini, ia selalu mengatakan setelah Operasi, ia ingin di rawat dan menjalani fisioterapi di Rumah sakit tanah air saja.



"Aku ke toilet dulu, kebelet.!" Ucap Syeira cepat dengan suara yang bergetar dan lekas pergi, air mata Syeira terus mengalir dengan deras.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...