
*Sangat menyakitkan, bukan.? Ketika ingatan-ingatan tentang nya terpaksa harus terhapuskan. Namun getaran hati begitu kuat untuk terus menetap. Menciptakan kemelut dalam jiwa yang tak mudah di terima oleh logika. Menciptakan perang antara yang nyata dan itu hanya fana*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Arend mungkin tak kan pernah sembuh dari amnesia nya. Tapi nyatanya, batin yang terikat itu begitu kuat menarik nya kedasar cintanya terhadap Syeira.
Syeira dan Meldy melompat-lompat kecil menghentak-hentakkan kaki mereka pada genangan air hujan, membuat air-air itu gemericik memercik ke sekitar. Mereka bahkan tak sungkan tertawa begitu lepas. Tak begitu menyadari jika kini keduanya telah menjadi pusat perhatian.
Arend dan Zid saling menoleh ke kiri dan ke kanan. Memperhatikan orang-orang di sekitar sana yang menjadikan wanita-wanita mereka sebagai tontonan.
"Apa yang kalian lakukan.? Kembali bekerja.?" Zid berteriak membentak mereka semua. Hingga mereka berhambur kalang kabut meninggalkan area kembali ke bekerja.
Arend terus menatap Syeira tajam. Ia tidak menyukai perempuannya yang menjadi pusat perhatian orang lain.
Syeira dan Meldy lelah, harus berpur-pura bahagia. Menyembunyikan hati yang sebenarnya nelangsa.
Arend melangkah berjalan menuju Syeira, dan dia lekas menarik lengan Syeira, menghentikan tingkah Syeira yang membuatnya merasa kesal. Hingga kini tubuh Syeira berhenti bergerak dan menghadap Arend sempurna.
Sorot mata Arend begitu tajam menatap Syeira dalam. Dan Syeira menatapnya penuh kebingungan.
Tanpa bicara Arend menarik Syeira menuju parkiran. Lalu memaksanya masuk kedalam mobil.
"Apa yang kau lakukan.?" Syeira protes, Arend lagi-lagi bertingkah semaunya.
"Syeira.?" Meldy berteriak hendak mengikuti langkah sahabatnya. Namun entah sejak kapan Zid sudah berada di sana dan dia mencegah Meldy dengan memegang lengannya.
"Zid.?" Meldy dan Zid saling menatap dalam.
"Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan.?" Suara Zid terdengar penuh penekanan. Seperti ada luapan amarah disana.
"Memangnya apa yang ku lakukan.?"
"Lihat dirimu.?" Mata Zid menatap Meldy begitu tajam. Dan Meldy melakukan apa yang Zid katakan. Ia memperhatikan penampilan dirinya sendiri. Yang berbalut pakaian ketat melekat super seksi. Di tambah dengan badannya yang basah memperjelas setiap bagian lekuk tubuhnya yang terpampang indah.
Bahkan tak dapat di pungkiri. Gairah Zid bangkit dengan cepat hanya dengan berhadapan dengan Meldy seperti ini. Zid menelan salivanya kasar.
Zid menarik tangan Meldy. Memaksanya masuk kedalam gedung *N~A Cell*. Mereka masuk kedalam lift menuju lantai atas. Zid membawa Meldy pergi ke tempat tinggalnya.
"Kenapa kau membawaku kesini.? Aku akan pulang ke apartemen ku sendiri.?"
Protes Meldy saat mereka telah sampai di tempat tinggal Zid. Ia menahan dingin yang tiba-tiba menyerang, badannya menggigil, kedua tangannya mengepal di atas dada. Giginya beradu gemeretakan.
"Bisakah kau diam dan turuti saja.? Jangan sampai aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri hingga aku melukaimu.!" Suara Zid sudah terdengar sangat berat. N4f$unya memuncak. Meldy merasa tidak enak sekarang.
"Kau bersihkan tubuhmu. Dan segera ganti baju.?"
"Kau masih menyimpan baju-bajuku.?" Meldy bertanya karna dia berpikir saat Zid menjalin hubungan dengan Zizi dulu, semua milikinya sudah Zid buang.
"Aku bahkan masih menyimpan setiap kecil partikel kenangan-kenangan di antara kita.!"
Meldy memalingkan muka. Jengah, atau malu, atau senang, entahlah. Zid terus menatapnya dalam. Dan kalimat yang ia ucapkan sebagai jawaban mempertegas perasaannya terhadap Meldy.
Meldy lantas lekas berlari ke kamar mandi. Ia tak mau terlalu lama terjebak dalam situasi serba canggung seperti ini.
*Andai semua itu tak pernah terjadi, pengkhianatan yang sangat menyakitkan. Menjadi badai dahsyat yang menerjang, meretakkan dan bahkan menghancurkan suatu hubungan. Menjadikan mereka semua sebagai korban*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Arend melajukan mobilnya kencang, ia bahkan memutar kasar kemudi membelokan mobil sportnya ke depan halaman gedung sebuah hotel terdekat, Syeira menggigil. Dia kedinginan. Arend tak bisa membiarkan Syeira dalam keadaan seperti itu lebih lama lagi, dan jika mereka pulang ke apartemen. Jaraknya cukup jauh.
Hujan masih turun sangat lebat. Membuat keduanya kini basah dan di Landa kedinginan.
"Kenapa kita kesini.? Kenapa tidak pulang saja.?" Syeira berteriak. Suaranya tetap terdengar kecil teredam dengan suara hujan yang turun deras.
Arend tak menanggapinya. Ia terus menarik tangan Syeira untuk ikut masuk. Mengikuti langkahnya.
"VVIP Room.!"
"Tuan Narendra.? Iya.!"
Seorang Resepsionis bertindak cepat melihat Arend yang datang dan kehujanan. Ia lekas memberikan card kunci pintu satu kamar VVIP yang Arend minta.
Arend kembali menarik tangan Syeira membawanya naik lift Mamuju lantai atas. Hingga mereka masuk kedalam kamar yang mereka dapat.
Keduanya sangat kedinginan.
"Kau mandilah dulu.!" Ucap Arend menggigil, sambil membuka lemari mengambil baju handuk untuk Syeira.
"Kau juga kedinginan, Arend. Kau saja yang mandi dulu.!" Syeira sama halnya. Ia tak tega melihat Arend yang sudah sangat kedinginan. Padahal dirinya sendiri sudah sangat menggigil.
"Hah.?" Tanya Arend asal saat ia mengambil baju handuk untuk dirinya sendiri.
Syeira terdiam. Ada rasa malu saat Arend dengan begitu gamblang mengucapkan pertanyaannya yang saru tadi.
Arend menatap Syeira. Syeira menggeleng sebagai jawaban.
"Kalau begitu, ini untuk yang pertama kalinya.!"
Arend yang sudah tak lagi tahan menggandeng tangan Syeira cepat melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Arend.?" Syeira hanya bisa berteriak. Tapi Arend tak peduli.
Mereka berdua sudah sampai di dalam kamar mandi sekarang. Sebuah kamar mandi yang luas. Ada satu shower. Satu Bathtub berukuran besar. Wastafel dan satu kloset duduk yang tertutup tirai.
Canggung, hanya itu kata yang pas menggambarkan perasaan mereka berdua saat ini.
"Kamu menghadap kesana. Dan aku menghadap kesini.!" Ucap Arend sambil membalikkan badan Syeira menghadap ke sisi timur, dan Arend lantas menghadap ke sisi yang lain. mereka berdiri saling membelakangi.
"Cepat lepas bajumu. Dan mandi. Kalau tidak kau bisa sakit karna kedinginan.!" Arend sudah bergerak terlebih dulu melepas pakaiannya satu persatu. Dan ia melemparnya pada meja wastafel. Sembarangan.
"Hanya ada satu shower.?" Lirih Syeira. Ia juga telah usai membuka bajunya. Dan saat ia ingin menuju ke arah shower berada. Barulah hal itu kepikiran.
Dada Arend berdetak hebat, kelelakiannya terpancing begitu saja. Gemuruh nafasnya berkejaran tak beraturan.
"Kau sudah melepas bajumu.?" Arend bertanya.
"Sudah.!" Jawab Syeira singkat.
Mereka kini seperti dua sosok bayi yang baru lahir.
Arend membalikkan badan cepat lalu menarik tangan Syeira menuju tempat shower bersama.
"Aaahh.?" Syeira kaget. Tapi cara itu cukup ampuh membuat mereka bergerak lebih cepat.
Arend menekan tombol hingga shower itu menyala mengeluarkan air yang sudah Arend atur suhu hangatnya. Mengguyur mereka berdua yang kini berhadapan sempurna.
Jantung keduanya serasa ingin melompat keluar, getaran yang mereka rasakan adalah getaran cinta dan n.a.fsu yang luar biasa.
Arend dan Syeira saling menatap dalam. Mata keduanya terlihat sayu. Syeira merasa malu, ia menundukkan kepala, namun justru itu salah. Syeira dengan jelas melihat tubuh Arend yang sudah mengeras dan berdiri. Dan Syeira kembali mendongakkan kepala karna kaget.
"Kau melihatnya.? Dasar nak\_kal.!"
Syeira membulatkan mata, dan dia menggeleng cepat, malu.
Arend masih terus menatapnya dalam, bergantian ke arah wajahnya dan ke arah d.a.d.a Syeira yang selalu menjadi bagian yang selalu ia damba.
"Apa kita sudah pernah melakukannya.?" Tanya Arend dengan suara berat menahan naf$u.
Syeira mengangguk pelan. Arend semakin mendekatkan tubuhnya. Tangan kanannya merengkuh pinggang Syeira. Menyentakkan tubuh mereka hingga bertaut dan beradu.
"Aaahh.?" Syeira kaget. Suaranya justru terdengar seperti d3$4han.
Kaki Syeira berjinjit. Karna tangan Arend seperti mengangkat tubuhnya. Hingga d.a.da Syeira menempel sempurna pada d.a.da. Arend. Dan bagian bawah Arend pun sudah menyentuh tajam pada paha Syeira.
"Apa kita bisa melakukannya sekarang.?" Arend kembali bertanya. Matanya sudah sangat sayu. Deru nafasnya sangat berat. Jantungnya berdetak hebat. Ia merasa ingin menuntaskan hasrat yang lama ia pendam.
'*Kau tidak berubah Tuan CEO. Tak peduli meski kau tak mengingat kenangan diantara kita. Tapi kau masih tetap saja bersikap sama. Kau selalu bertanya terlebih dulu jika ingin melakukannya*.!'
"Ra.?"
"Ehm?"
Wajah Arend sudah menempel pada leher jenjang Syeira. Ia mencium dalam aroma yang terasa familiar dan menjadi candu untuknya itu. Syeira memejamkan mata. Ia sendiri sudah di Landa hasrat yang membara.
"Dengan sebutan apa kau memanggilku kemarin.?" Arend memang sangat pintar menahan gejolaknya. Ia masih mengajak Syeira bicara meski libidonya sudah naik dan berada di puncaknya.
"My L.!" Lirih Syeira dengan nafasnya yang tersengal.
"Panggil aku dengan sebutan itu. Kau mau.?"
"Aaahhh.?"
Arend bermain nakal. Ia berpindah ke titik d. a.da Syeira.
"Eehhmmpph.!" Syeira mengangguk menahan hasratnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...