LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 32





Zico baru saja selesai memesan tiket, Akhirnya mereka memutuskan untuk menonton terlebih dulu.



"Film nya udah mau di mulai nih, gimana.? Masih nungguin Syeira.?"



Zico bertanya pada Cellin meminta pendapatnya.



"Aku hubungin dulu lagi deh."



Cellin mengambil ponselnya di tas, memainkan benda pipih kesayangan sejuta umat itu, menghubungi sang sahabat.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Mamah.? Ha ha ha.. Ma masuk, Mah.!"



Syeira merasa gugup mempersilahkan mamah mertuanya untuk masuk.



"Assalamualaikum sayang.?"



Ucap Ayla sambil melangkah, Syeira mengecup tangan Ayla dan menjawab salamnya.



Ayla duduk di sofa. 2 Body guard tadi memberikan tas-tas bingkisan itu pada Syeira, lalu mereka berdiri gagah di luar, Syeira kembali menutup pintu.



"Mamah gak bilang dulu kalau mau kesini. Syeira jadi gugup."



"Lha kok gugup...? Sini, duduk dekat mamah. Ini pertama kalinya mama datang kerumah kalian setelah menikah. Mamah kangen lho....!"



Syeira menurut, ia menaruh tas-tas itu di lantai dekat meja. Lantas duduk di dekat Ayla.



"Kamu sebenarnya mau pergi, ya.?" Ayla menebak setelah memperhatikan penampilan Syeira.



"He he he, Iya mah. Tapi gak papa kok, mamah ada disini, Syeira akan temenin mamah, lagian. Syeira cuman ada acara bareng sama temen Syeira, sama Zico juga. Sekedar menghabiskan hari libur."



Ayla tersenyum mendengar jawaban Syeira. Ia membelai lembut wajah menantunya yang sangat cantik dan manis.



"Suami kamu kemana.? Apa dia di rumah.? Atau keluar juga.?"



"Hah.?"



'*Degg*'



Jantung Syeira memompa lebih cepat, ia tak tahu harus menjawab apa.



'*Ddrrtt drtt drrttt*'



Ponselnya di dalam tas berdering, menyelamatkan Syeira sementara waktu dari pertanyaan Ayla.



"Maaf Mah, biar Syeira lihat dulu. Mungkin ini temen Syeira."



Ayla tersenyum dan mengangguk. Benar saja, yang menghubungi adalah Cellin. Syeira menerima panggilan itu, Ayla bangkit, ia ingin melihat-lihat kondisi rumah anak dan menantunya setelah menikah.



Ayla tersenyum tatkala berhenti di meja makan, ia mengira jika rumah tangga anaknya cukup harmonis dengan sarapan bersama, namun meninggalkan makanan itu masih berserakan di meja tanpa merapikannya dulu, Ayla anggap itu adalah kenakalan kecil pengantin baru yang malas beberes.



Ayla lantas kembali ke ruang tamu, ia mempunyai etika untuk tidak memeriksa kamar pribadi setelah anaknya berumah tangga. Adab sebagai orang tua dan mertua.



Syeira menjelaskan situasinya pada Cellin. Dan kini ponsel Cellin sudah berpindah ke tangan Zico atas permintaan Syeira.



"Lo buruan kesini Anjj,\_\_ Gua deg-degan sumpah. Gimana nanti kalo mamah tanya-tanya dan tahu semuanya. Lo buruan kesini, cepetan..?"



Syeira meminta Zico untuk segera datang, ia merasa panik, gugup dan takut menghadapi Ayla sendirian.



Syeira melihat Ayla yang kembali mendekat, ia mencoba menetralkan hati dan sikapnya.



"Iya, ada mamah. Ya udah, okay. Have fun.!"



Syeira berusaha berbicara dengan nada seceria mungkin lantas menutup sambungan telpon itu.



Ayla kembali duduk di sebelahnya. Memulai obrolan dengan menantunya itu.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Aduuhhh,\_\_ Sial - Sial - Sial."



Zico mengumpat kesal. Ia yang sudah bahagia tadi karna Syeira tidak bisa datang dan ada kesempatan untuk semakin dekat dengan Cellin, justru sekarang harus membatalkan semua rencananya dengan panggilan darurat itu.



"Ya udah sih, gak papa. Kita atur waktu lain kali aja. Buruan deh pulang, kasian Syeira tau.?"



Zico menatap Cellin yang berbicara dengannya.



'*Tidak, ini adalah hari yang sudah di nantikan selama satu Minggu, tidak mau menunggu lagi hanya untuk bisa dekat dengan mu*.'



Zico memikirkan rencana.



"Oke, Ayo kita pulang."



Cellin membulatkan mata, Zico sudah menarik tasnya agar dia mengikuti langkah Zico.



Zico mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menuju apartemen Arend. Dan dia membawa Cellin ikut bersamanya.



"Demi persahabatan. Sahabat mu sedang tidak baik-baik saja disana, kawan.!"



Ucap Zico pada Cellin membuat Cellin tak lagi dapat mengelak.



Zico menghubungi Arend. Dengan bantuan Cellin yang memegangi ponselnya. Dan Zico tetap berkonsentrasi pada kemudi dan jalan.



"Buruan pulang,. Mamah ada di apartment, dan Syeira hanya sendirian."



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...




Arend menginjak gas mobil dengan kecepatan tinggi.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Gimana sayang.? Apa sudah ada.?"



Tanya Ayla pada Syeira dengan senyumnya yang mengembang, serta matanya yang berbinar melirik ke perut Syeira yang rata.



"Haaah.?"



Lagi-lagi Syeira di buat kaget dengan pertanyaan mamah mertuanya.



"Ha ha ha ha.."



Dan Syeira hanya bisa tertawa saru tanpa tahu harus menjawab apa.



'*Bagaimana bisa ada sesuatu mamah mertua.? Putra mu saja tidak pernah menyentuhku, bahkan pernikahan ini hanyalah sebuah konspirasi. Cintaku padanya saja adalah rasa yang tak berbalas*.'



Keluh Syeira dalam hati. Tiba-tiba pintu di buka. Zico datang, Syeira dan Ayla yang duduk di sofa serentak menoleh.



"Mamah.?"



Zico berseru antusias. Sedangkan Ayla malah fokus pada seorang gadis cantik, manis, dan imut, berkerudung yang mengekor di belakang Zico.



Zico memeluk Ayla. Lalu duduk di sofa lainnya. Cellin masih berdiri canggung dengan senyumnya yang di paksakan. Syeira berdiri mendekat ke arah Cellin.



Ayla masih menatap Cellin, Zico kembali berdiri dari duduknya, ia hampir melupakan gadis yang di bawanya karna panik dengan kedatangan Ayla.



"Siapa gadis cantik ini Zico.?"



Ayla bertanya antusias. Melihat gadis yang datang bersama Zico jauh berbeda dengan gadis sebelum-sebelumnya yang tidak sengaja pernah Ayla lihat saat bersama putranya.



"Assalamualaikum, Tante."



Cellin mencium khidmat punggung tangan Ayla. Ayla menjawab salam.



Syeira tersenyum senang. Pikiran liciknya bekerja. Jika mamah mertuanya terfokuskan pada Zico dan Cellin, mungkin saja dia akan terlepas dari pertanyaan-pertanyaan mertuanya yang terasa menakutkan.



"Namanya Cellin, Mah. P pa pacar Zico."



Syeira berbohong demi keselamatannya sendiri.



Cellin menoleh ke arah Syeira membulatkan mata. Zico pun sama halnya. Syeira malah nyengir kuda. Jangan tanya soal hati. Mereka semua merasakan debaran yang sama. *Mencekam*.



Sedangkan Ayla malah terlihat jelas raut mukanya dia sangat senang mendengar kalimat yang di ucapkan Syeira. Senyum Ayla sangat tulus.



Ayla lantas memeluk tubuh Cellin hangat, mengelus punggung gadis yang baru pertama kali ditemuinya itu. Yang dia kira adalah kekasih anaknya.



"Panggil mamah, sayang, jangan panggil Tante. Biar lebih akrab.!"



Ucap Ayla pada Cellin yang sedang di peluknya.



Cellin hanya tertawa canggung, melihat ke arah Syeira dan membulatkan matanya seakan ingin marah. Raut muka Syeira mengkerut.



"*Sorry*..."



Gerak bibir Syeira yang bisa di baca oleh Cellin.



Ayla melepas pelukannya pada tubuh Cellin. Mereka semua saling melempar senyum canggung, hanya Ayla lah satu-satunya yang tersenyum dengan tulus karna perasaannya yang sangat bahagia.



Mereka pun duduk bersama. Mengobrol tentang hal-hal kecil. Benar saja tebakan Syeira, Ayla memfokuskan obrolannya pada Cellin.



Syeira bisa bernafas lebih tenang, sedangkan Cellin seperti di Landa Tremor. Tiba-tiba ia menjadi calon menantu dalam waktu yang singkat.



"Oooh, jadi kamu juga bekerja di *N~A Cell*.?"



"Iya, Tante.!" Jawab Cellin lembut di iringi senyuman.



"Jangan panggil Tante, panggil mamah.? Pantas saja kalau Zico tidak mau bekerja di perusahaan papahnya, wong ada kamu pelabuhan hatinya di kantor Arend."



"Ha ha ha." Tawa Syeira pecah. Ayla pun tertawa renyah. Dan Zico malah berbunga-bunga. Lampu hijau telah di dapatkan dari mamahnya, hanya bagaimana cara menaklukkan hati Cellin wanita yang di cintai nya itu agar bisa luluh padanya. Sebelum janur kuning melengkung.



Pintu di buka. Arend baru datang.



"Mah..? Assalamualaikum."



Arend mendekat, mencium punggung tangan Ayla, lalu memeluknya.



Arend melihat semua orang yang ada di sana. Sepertinya semua baik-baik saja pikirnya. Hanya saja Syeira, dia memalingkan muka ketika Arend datang.



'*Tidak, jangan bersikap seperti itu ketika ada mamah*.'



Arend berpikir cepat, ia lantas menarik tangan Syeira hingga Syeira berdiri.



"Maaf mah, Arend tinggal dulu sebentar, Arend mandi dulu. Arend bawa Syeira, Arend gak bisa mandi kalau gak di layani Syeira."



Ucap Arend yang membuat Syeira dan Zico serentak membulatkan mata ke arahnya.



Arend lekas membawa Syeira pergi dari sana dan masuk ke kamarnya, mengunci pintu dari dalam.



'*Apa yang kau katakan Tuan CEO.? Rencana apa lagi ini*.?'



Kepala Zico terasa pening dengan semua permainan rumit yang mereka ciptakan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Author mau ngeluh, harusnya dulu kan judulnya emang Love or Game. Eh, malah jadi Love and Life. Gara-gara gak lulus seleksi mulu. "Huufftt"