
Zizi masuk kerja. Ia membuatkan kopi di pantry untuk para karyawan. Dan dia membawa nampan berisi 6 cangkir kopi.
Zizi masuk keruang marketing untuk menyuguhkan kopi itu pada para staf.
"Bawa kembali kopinya. Aku nggak mau minum kopi dari seorang Valakor. Yang ada aku bisa kena batu sial.?" Ucap seorang wanita yang mejanya di hidangkan secangkir kopi oleh Zizi.
"Gue juga gak mau.!"
"Apa lagi gua.?"
Zizi menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat mereka satu persatu yang menolak dirinya secara terang-terangan.
"Si Irfan kali yang mau di kasih kopi sama dia. Biar bisa Check in.?"
Hati Zizi bergetar, ia telah di pandang rendah oleh semua orang.
"Kenapa gua.? Gua udah punya istri, dan gua setia.! Mending gua gak usah ngopi dari pada ujung-ujung nya di goda.!" Jawab Irfan yang meskipun seorang pria juga menolak Zizi.
Zizi menangis, ia tidak tahan dengan semua penghinaan yang mereka berikan.
"Lo kenapa nangis, Zi.? Emang ada yang salah sama apa yang kami ucapkan.?"
"Lo buruan keluar deh Zi. Gedeg banget gue kalo ngeliat elo."
"Tunggu, kami semua. Seluruh karyawan di *N~A Cell* ini tahu semua kelakuan Lo, Zi. Tapi kami diam selama ini karna Nona Meldy yang sudah memperingatkan kami untuk tidak ikut campur.!"
"Iya bener banget, tapi sekarang aku sudah tidak tahan. Bagaimana bisa kamu sama sekali tidak merasa bersalah, Zi.? Sudah di tolongin malah ngerusak hubungan orang secara terang-terangan.!"
"Sudah guys. Balik kerja lagi. Kalau mau ngopi. Hubungi OB lain aja.!" Irfan menengahi para ladies yang meluapkan emosinya pada Zizi.
Zizi keluar dari ruangan itu, kembali ke pantry dan menangis. Setiap orang yang melihatnya pasti berkasak kusuk dan dengan tatapan yang juga merendahkan.
Begitu hinanya wanita yang merebut pria wanita lain dalam pandangan masyarakat, meskipun karna alasan cinta. Tak ada pembenaran dalam perselingkuhan. Dan jarang di antara mereka yang secara langsung menyalahkan sang pria. Pasti wanitanya lah yang salah.
Zizi terduduk di lantai, ia menangis sesenggukan, kepalanya menunduk di kedua lututnya yang sejajar dengan dada.
'*Hiks hiks hiks*.'
"Kenapa nangis.?"
Seorang OB datang. Zizi mendongakkan kepala.
"Jangan ditangisi. Kalau kamu menyesali perbuatan kamu, perbaiki. Mungkin dengan cara meminta maaf pada Nona Meldy bisa sedikit mengurangi beban di hati.?"
Ucap OB itu yang tengah membuat kopi. OB itu lantas pergi setelah selesai.
Meldy tak perlu melakukan apapun untuk membalas perbuatan Zizi dan Zid yang telah menyakitinya. Alam telah menjatuhkan hukumannya pada mereka.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Di Rumah Sakit**.
Zico, Syeira dan Meldy menunggu di luar depan pintu Ruang IGD. Cellin langsung mendapat penanganan dari para Dokter.
Mata Zico sudah sangat merah, dan dia hanya diam saja duduk di kursi deret tunggu pasien. Sedangkan Syeira mondar-mandir dan sibuk memainkan ponsel mengabari semua orang, mulai dari keluarga Cellin, Mamah-papah mertuanya di Brazil. Dan juga Aryan Di Singapura.
Seluruh keluarga besar akan segera berkumpul. Ayla dan Aryan akan terbang ke tanah air segera. Mikaila juga ikut, mereka akan terbang menggunakan jet pribadi Rain. Rain dan Cen juga ikut serta dalam perjalanan.
Keadaan Cellin sangat darurat.
Zico kembali mengingat malam terakhirnya bersama Cellin yang romantis di kamar, dimana Cellin yang meminta dirinya untuk mengg4ul!nya layaknya seorang istri yang utuh.
Cellin yang seakan menyampaikan pesan-pesan terakhirnya. Dan Zico hanya bisa diam sekarang. Ia menahan sekuat tenaga agar tidak Menangis.
Meldy pun sama cemasnya. Ia berdiri di depan pintu IGD dengan sesekali melihat ke arah pintu, berharap salah seorang dokter keluar agar bisa ia tanyai.
Tiba-tiba Zid melewati koridor itu bersama seorang Perawat yang akan membawa Zid untuk mengobati lukanya.
"Zid.?"
Syeira berteriak memanggil nama Zid. Zico mendongakkan kepala membuyarkan lamunannya yang mengingat Cellin, ia pun lekas berdiri melihat Zid yang datang, dan tangannya terluka. Darah segar terus mengalir dari sana.
Meldy membulatkan mata melihat tangan Zid berdarah dan terluka.
"Zid.?" Lirih Meldy.
Syeira langsung menanyakan tangan Zid yang terluka. Zico menyentuh tangan Zid. Memperhatikannya.
"Lukanya cukup dalam. Dan ada kaca yang masih menancap. Apa kau berniat bunuh diri.?" Zico asal nyeletuk.
Meldy sontak membulatkan mata.
'*Ck*.'
Zid berdecak, menarik kembali tangannya yang di pegang Zico dengan malas.
"Aku hanya.?"
Zid melihat Meldy yang juga ada disana. Dadanya berdetak hebat, ia menelan salivanya kasar mengingat Meldy yang ia temui semalam justru menyebut nama DK. Sakitnya tak mau hilang.
"Bukan apa-apa. Ini hanya luka kecil. Kalian kenapa ada disini.? Apa Cellin.?"
Zico mundur, ia kembali duduk di kursi deret dengan tubuhnya yang kembali melemah.
Syeira mengangguk pada Zid dengan raut mukanya yang sedih.
"Mari Tuan.? Kita obati dulu tangan anda.!" Perawat itu mengajak Zid pergi.
"Aku pergi dulu. Nanti aku kembali lagi.!" Zid lekas melangkah beriringan dengan sang perawat.
Kaki Meldy refleks melangkah, seakan ingin mengikuti Zid. Tapi ia lekas berhenti. Syeira menatapnya kasihan.
Cinta Meldy untuk Zid masih begitu besar. Tapi jelas sakit dari luka yang Zid berikan padanya lebih besar.
'*Ceklek*.\_\_!"
Pintu Ruang IGD terbuka. Beberapa Dokter keluar.
"Dokter.?"
Seorang Dokter menggelengkan kepala. Syeira dan Meldy langsung menangis. Zico yang tadi sontak berdiri langsung terduduk kembali. Jantung Zico serasa berhenti.
"Dia sudah sadar sekarang.!" Seorang Dokter yang lain membuka suara.
Zico mendongak dan mereka mendengarkan dengan cermat.
"Dia tidak mau di operasi lagi. Aneurismanya sudah pecah, darahnya perlahan masuk kedalam otaknya.!" Dokter itu menunduk. Menarik nafas dalam. Ia juga merasa kasihan dengan keadaan Cellin.
"Temani dia di saat-saat terakhirnya. Buat dia merasa bahagia. Kalau bisa. Jangan ada yang menangis di hadapannya. Dia selalu mengatakan, dia takut membuat semua orang bersedih saat dia pergi nanti.!"
"Waktunya tidak akan lama lagi. Semoga kalian bisa kuat.!"
"Dia akan di pindahkan keruang rawat. Para perawat sedang mempersiapkannya. Kami permisi.!"
Para Dokter itu pun pergi. Mata Zico merah dan sayu. Tapi tak ada air matanya yang menetes. Sama sekali. Dadanya sangat sesak. Tapi ia harus kuat.
"Aku mau cuci muka dulu. Syeira, hentikan tangisanmu, kau dengar apa yang di katakan Dokter bukan.? Cellin tidak mau melihat kita sedih. Kita harus selalu terlihat bahagia dan ceria di hadapannya. Kalian juga harus cuci muka. Tunjukkan padanya jika kita semua bahagia. Tidak boleh ada yang menangis, tidak boleh ada air mata.!"
Suara Zico bergetar saat mengatakannya. Air mata yang ia tahan sekuat tenaga akhirnya menetes. Dan Zico lekas mengusapnya.
**Tidak boleh ada air mata**.
Para perawat mendorong ranjang roda Cellin menuju ruang rawat. Zico selalu tersenyum melangkah menemani Cellin di sampingnya. Mata Zico merah, Cellin tahu suaminya itu berusaha menahan air mata dan menyembunyikan kesedihannya. Cellin pun tersenyum sangat manis menatap Zico yang terus tersenyum padanya.
Syeira tidak sekuat Zico. Ia tak berani mendekati Cellin. Karna ia terus menangis. Syeira menemani dari belakang berjalan bersama Meldy.
Ketika Cellin sudah di bawa masuk ke ruang rawat. Langkah Syeira dan Meldy terhenti. Mereka harus bisa menghentikan tangis mereka sebelum mereka masuk dan bertemu Cellin. Hanya Zico yang selalu ada di dekat Cellin.
Keluarga besar Cellin sudah hadir. Ayahnya yang duduk di kursi roda. Ibu nya, Kakak dan Kakak iparnya. Keponakan kecilnya. Dan bahkan para kerabat dan tetangga yang dekat. Mereka semua adalah orang-orang yang sayang pada Cellin.
Syeira dan Meldy menghentikan langkah mereka. Menjelaskan dengan terbata-bata bagaimana kondisi Cellin saat ini.
Kalimat yang mengatakan tidak boleh ada air mata justru membuat mereka menangis sejadi-jadinya.
Tubuh ibu Cellin merosot dan langsung di peluk oleh Kakak Cellin. Ia menjerit tertahan. Menangis tanpa suara.
Ayah Cellin yang stroke meneteskan air mata. Mereka semua sedih begitu dalam.
**Tak ada kepergian dan perpisahan yang tak meninggalkan kesedihan dan air mata**.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...