
Semua orang yang berada di ruang rawat Cellin keluar, hanya Zico yang masih memeluk tubuh Cellin dari belakang dan berbaring di ranjang yang sama. memberikan sedikit waktu untuk Zico bersama dengan sang istri.
Tangis Zico seakan tak mau terhenti, air matanya terus mengalir. Dan dia terus memeluk tubuh Cellin.
Setelah beberapa menit kemudian. Para perawat masuk. Jenazah Cellin harus segera di urus.
"Tu\_an.?"
Seorang perawat dengan ragu dan terbata-bata mencoba berbicara pada Zico. Tapi Zico bersikap dewasa dan langsung mengerti.
Dengan sangat pelan ia bergerak untuk membaringkan Cellin dan dia akan turun dari ranjang.
Para perawat langsung sigap membantu Zico.
Zico berdiri di tepi ranjang Cellin, memandang sendu wajah cantik sang istri bak bidadari. Cellin sangat cantik dalam tidur abadinya.
Zico mengelus wajah Cellin, lalu ia mengecup kening, alis, kelopak mata, hidung, pipi, bibir dan dagunya. Setelah itu ia mundur.
Para perawat bergerak, mulai melepas semua alat-alat medis yang berada di tubuh Cellin. Hingga kain putih menutup seluruh tubuh Cellin.
Zico keluar dari ruang rawat Cellin. Ia berdiri lemah. Sorot matanya menjelaskan begitu besar kepedihannya. Zico hanya menatap lantai berdiri mematung. Matanya merah dengan deraian tangisan yang tak kunjung berhenti.
"Zico.?"
Syeira lekas berhambur memeluk Zico. Meldy dan Zid mendekat. Arend belum juga tiba. Padahal seharusnya jarak tempuh dari bandara ke Rumah Sakit tidaklah begitu jauh. Dan dia sudah sampai seharusnya. Tapi entahlah, Arend belum juga tiba.
Kakak Cellin menangis tanpa suara duduk di lantai berselonjor bersandar pada dinding.
"Maaf Tuan dan Nyonya. Harap ada yang ikut saya untuk membicarakan pengurusan jenazah, dan kemana jenazah akan di pulangkan.?"
Salah seorang suster datang bertanya.
"Maaf.? Bisakah anda tidak menyebut istri saya sebagai jenazah.? Itu sangat menyakiti hati saya. Tolong panggil dia dengan namanya. Nyonya Cellin.!" Zico bersuara sangat pelan namun jelas. Begitu perih hatinya kala ia mengatakan kalimat itu. Hatinya serasa tersayat.
Benar kata orang, saat manusia meninggal. Maka hal pertama yang ia tinggalkan adalah namanya.
Kakak Cellin yang duduk di lantai berdiri dengan bantuan Budhe Cellin.
"Saya yang akan pergi. Zico.? Kemana kita akan membawa Cellin pulang.? Ke rumah kamu atau.? *Hiks hiks hiks*"
Belum sempat Kakak Cellin bicara ia sudah kehilangan suaranya karna kembali menangis.
"Kita bawa Cellin pulang kerumah Ayah, Kak. Cellin pasti lebih senang jika berada di sana. Kita istirahatkan Cellin di tanah ia dilahirkan."
Kakak Zico mengangguk setelah mendengar jawaban Zico. Yang artinya Cellin akan dibawa ke rumahnya. Bukan ke rumah Aryan. Lalu Kakak Cellin mengikuti suster.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Sore Hari**.
Jenazah Cellin sudah berada di rumah duka. Seluruh keluarga, sanak, kerabat, tetangga, dan teman-teman Cellin sudah hadir. Pemakaman akan segera dilakukan.
Tapi mereka masih menunggu, Arend tak kunjung datang dan bahkan tak bisa di hubungi. Lala pun sama halnya.
Zid melacak ponsel arend. Dan posisinya berada di sekitaran jembatan di pinggiran kota. Zid merasa pasti ada yang tidak beres. Zid pun mengusulkan agar Cellin segera di makamkan tanpa menunggu kedatangan Arend.
"Ada apa Zid.?" Syeira dan Zico sudah panik.
"Tidak. Dia hanya mengalami sedikit masalah. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tapi kita harus segera membawa Cellin ke tempat peristirahatannya yang ter akhir. Jangan di tunda lagi!"
Zid tak bisa mengatakan apa yang dikhawatirkannya pada Syeira dan Zico. Suasana sedang berkabung. Jika memang terjadi masalah. Maka Zid harus menyelidikinya terlebih dulu dengan pasti.
Cellin pun akhirnya di bawa ke TPU dengan iringan lantunan doa-doa dan dzikir di sepanjang jalan. Hingga semua prosesi pemakaman selesai.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Flash Back On**.
Arend dan Lala berada di dalam taksi menuju Rumah Sakit. Mereka melewati jalan pintas yang kanan kiri jalan adalah hutan agar bisa sampai lebih cepat.
Tapi saat di tengah jalan. Arend melihat seorang gadis berseragam SMA yang di goda oleh preman-preman jalanan. Biasa di bilang anak *Punk*.
Arend pun meminta supir taksi untuk menghentikan mobilnya. Arend tak mungkin membiarkan ada kejahatan di depan matanya apalagi itu dengan seorang perempuan.
"Lepaskan gadis itu.!"
"Siapa Lo.? Gak usah ikut campur urusan kita.!"
Arend pun langsung menarik tangan si gadis lalu menghajar berandalan itu.
Arend terus menghajar mereka, sampai akhirnya dari belakang seorang anak pria memukulnya dengan sebuah tongkat dari bahan besi tepat mengenai kepalanya bagian belakang. Hingga Arend tumbang, jatuh dan tersungkur ke tanah. Arend pingsan.
"Tuan CEO.?"
Lala yang melihat lekas keluar dan berhambur mendekati sang Bos. Tapi mereka justru semakin brutal. Merampas semua harta dan barang bawaan Lala dan Arend. Dan mengancam supir taksi untuk segera pergi dan diam.
Setelah itu mereka semua pergi membawa semua barang-barang berharga milik Arend dan Lala.
Anak SMA yang di tolong Arend tadi pun juga pergi. Ia sangat takut, tak ingin berurusan dengan permasalahan kriminal. (*Tidak semua orang yang sudah kita tolong akan berbuat baik kepada kita*.)
Tinggallah Lala yang terus berteriak meminta tolong karna Arend yang pingsan dan terluka di bagian belakang kepalanya. Jalanan sangat sepi. Lala terus berteriak meminta tolong.
"Tuan.? Tuan CEO.?"
**Flash Back Off**.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
\***Malam Di rumah Ayah Cellin**.
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Pengajian tahlilan tengah berlangsung. Rencananya Zico akan berada di sana selama 7 hari kedepan. Dan Syeira akan menunggu sampai Arend datang.
Meldy setia menemani sampai malam ini. Ia juga merasakan nuansa kehilangan yang mendalam.
Zid sibuk memainkan laptop dan ponselnya di halaman depan rumah Ayah Cellin.
Zid menghubungi orang-orang Rain Cosa yang ada di tanah air untuk meminta bantuan mereka mencari Arend di titik jembatan dimana radar ponsel Arend berada.
Zid sangat kaget saat anak buah Cosa memberikan informasi jika mereka menemukan ponsel Arend berada di tangan para berandal jalanan. Dan bahkan barang-barang lain yang mereka duga juga milik Arend. Tapi Arend tidak ada.
Berurusan dengan anak buah Cosa adalah hal yang salah. Sama saja bermain dengan nyawa mereka.
Anak buah Rain Cosa telah menghabisi para berandal itu, tak ada lagi yang bernyawa setelah pasukan anak buah Cosa membantai mereka. Dan dari penuturan salah seorang dari mereka sebelum meregang nyawa, jika pria yang dirampas harta bendanya itu terluka dan jatuh pingsan di jalan. Itu yang menjadi PR Zid sekarang.
Zid terlihat sangat panik. Dia harus bekerja dan menghadapi semua ini seorang diri. Ia tak bisa bicara pada Zico apalagi Syeira.
"Apa ada masalah, Zid.?" Meldy akhirnya mendekat dan bertanya setelah memperhatikan tingkah Zid yang mencurigakan sejak sore tadi.
Zid terdiam. Jantungnya berdetak cepat tidak normal. Ia menatap Meldy dalam diam cukup lama.
"Zid.?" Meldy kembali memanggilnya.
"Ada masalah yang terjadi pada Arend.!"
Meldy mengernyitkan kening dan menyipitkan mata.
"Apa maksudmu, Zid.?"
Tiba-tiba ponsel Zid berdering. Satu panggilan masuk dari nomor tak di kenal. Zid lekas mengangkatnya. Meldy masih terus mengamati dan mencoba ikut mendengarkan.
"Halo.?"
"Dengan Bapak Zid dari perusahaan *N~A Cell*.?"
"Iya, saya sendiri.!"
Zid membulatkan mata mendengar orang di seberang sana yang berbicara padanya.
Itu adalah panggilan dari petugas Rumah Sakit. Bahwa saat ini, Tuan *CEO N~A Cell* tengah berada di Rumah sakit mereka. Dan mereka mendapat nomor Zid dari Lala yang meminta mereka untuk menghubungi resepsionis kantor sore tadi.
Zid mengangguk.
"Iya, baik. Terimakasih.!"
Panggilan telepon diakhiri.
"Zid, ada apa.? Jangan membuatku takut.!" Meldy semakin panik. Dan Zid hanya diam.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...