LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 135




Meldy dan Zid telah sampai di lantai bawah.



'*Ting*!.'



Pintu lift terbuka. Meldy melangkah keluar sebelum Zid.



"Mel?" Zid meraih tangan Meldy menghentikan langkahnya. Meldy menepis halus tangan Zid. Dan dia bersikap biasa.



"Ada apa?"



"Aku mau bicara?"



"Penting?"



Zid mengangguk.



"Untukku, iya." jawab Zid.



Meldy menghembuskan nafas pelan.



"Katakan!."



"Aku? A- aku?" Zid ragu untuk mengatakan pada Meldy bahwa dia akan menikah dengan Zizi.



"Aku akan menikah dengan Zizi."



'*Deg*' Untuk sesaat jantung Meldy serasa berhenti berdetak.



'*Glek*.' Meldy menelan salivanya kasar. Tapi setelah itu, ia mencoba menetralkan kembali perasaannya.



"Oohh, selamat!." ucap Meldy sambil mengulurkan tangan.



Zid menatap nanar Meldy yang terlihat tak peduli, terkesan biasa saja. Zid melihat tangan Meldy yang sudah terulur kepadanya. Dan Zid menyambut uluran tangan Meldy.



"Semoga bahagia. Dan kau tidak menyakiti istrimu, seperti kau menyakitiku. Cukup aku yang tahu rasa sakit itu seperti apa." ucap Meldy sinis.



"Mel?"



Meldy melepas tangannya yang bersalaman dengan Zid. Meldy menarik nafas dalam. Ada rasa sesak di dadanya. Biar bagaimanapun. Zid adalah orang yang pernah begitu sangat ia cintai. Zid adalah orang yang pernah begitu penting untuk Meldy. Hingga semuanya hancur dan kini berdiri sendiri-sendiri seperti dua orang asing. Itu rasanya tidak enak.



"Boleh aku memelukmu, Mel?Hanya sekali. Terakhir kali." Zid sangat berharap. Ia begitu merindukan aroma tubuh Meldy.



"Yaaaahh, tentu saja. Sebagai teman." Jawab Meldy menegaskan. Zid pun lekas memeluk tubuh Meldy. Ia memeluk tubuh Meldy sangat erat. Meldy dengan ragu menggerakkan tangannya untuk memeluk Zid. Dadanya sesak. Dengan sekuat tenaga Meldy menahan tangisnya agar tak pecah.



'*Ting*?'



Pintu lift terbuka.



Zico keluar dari lift, dan dia dikagetkan dengan pemandangan Meldy yang berpelukan dengan Zid. Ada nyeri yang terasa di hati Zico. Mata Zico membulat melihat adegan romance itu.



'*Apa mereka balikan*?'



Zico melanjutkan langkah kakinya. Melewati mereka berdua tanpa menyapa. Padahal, jika hatinya tak merasa sakit, ia pasti akan berseloroh, menggoda, atau mengumpat mereka seperti yang lalu-lalu.



"Zico?" lirih Meldy yang melihat Zico berjalan cepat. Zid tersadar. Dan Meldy lekas melepas pelukan mereka.



Sedikit canggung. Zid merasakan hal lain. Sedangkan Meldy teralihkan dengan Zico yang lewat barusan.



"Aku pergi dulu!" Meldy hendak melangkah.




"Tidak. Aku ingin pulang sendiri." Meldy pun bergegas melangkah terlebih dulu. Ia sampai di tepi jalan sebelum Zid yang terlebih dulu ke parkiran mengambil mobil keluar dari gerbang utama *N~A Cell*.



Dan saat mobil Zid keluar, Meldy bersembunyi di balik tong sampah besar yang ada di trotoar jalan. Meldy tak ingin Zid mengantarnya pulang.



Meldy berjalan kaki. Menyusuri jalan malam seorang diri. Ia tak berniat memesan taksi onlin. Meldy ingin berjalan-jalan dulu entah kemana sebelum dia pulang.



"Aku pulang ke rumah Papah, Ra. Tadi Mamah telepon katanya ada yang mau dibicarakan."


Zico sedang dalam sambungan telepon, ia berbicara dengan Syeira yang menanyakan dirinya karena sudah pukul 10 malam tapi belum juga pulang.


"Oh, ada apa emangnya? Apa ada masalah?" tanya syeira dari telepon Zico.


"Entahlah, nanti kuhubungi lagi. Ini aku udah sampai di depan pintu rumah Papah."


"Okay. Bye" Zico menutup teleponnya. Ia lantas masuk ke dalam rumah Aryan.


Saat memasuki ruang tamu, Aryan, Ayla dan Kei sudah duduk di sofa bersama.


"Malam semua!" sapa Zico. Ia langsung berhambur memeluk Ayla, mengecup pipi dan keningnya.


"Haaahh?." Zico menghela napas duduk di dekat Ayla.


"Ada apa? Mau bicara apa?" Zico langsung bertanya ke inti pertemuan mereka. Raut wajah Kei terlihat muram, ia sedih.


Aryan dan Ayla saling melempar pandang. Sedikit sulit bagi mereka untuk mengatakan tujuan mereka memanggil dan mengajak Zico bicara.


"Begini Zico. Papah akan langsung pada intinya" Aryan memulai pembicaraan. Zico mendengar dengan cermat.


"Kami berniat untuk menjodohkan kamu dengan Mikaila. Kalian berdua. Menikah."


"Apa?." Sontak Zico berteriak kaget, ia sampai berdiri.


Ayla dan Aryan pun jadi ikut kaget. Sedangkan Kei memalingkan muka. Sudah menebak bagaimana reaksi Zico saat mendengarnya.


"Ide gila macam apa itu?" seloroh Zico. Ia tak mungkin menikahi Kei sekarang, karena Zico hanya menganggap Kei sebatas saudara. Tidak lebih.


"Zico?" Ayla menarik tangan putranya agar kembali duduk.


"Aku tidak mau." sarkas Zico.


Ada rasa nyeri di hati Kei saat Zico menolaknya secara tegas. Yah, meskipun Kei tak mencintai Zico. Tapi dia adalah seorang wanita. Jelas merasa malu.


"Aku juga sudah bilang tidak setuju. Memangnya kenapa kalau aku tidak menikah? Jadi perawan tua? Biar saja. Ini hidupku, aku yang menjalani." Mikaila sudah pergi berhambur lari ke dalam kamarnya.


Suasana menjadi tidak nyaman. Serba salah.


'Ckk' Zico berdecak kesal, lalu ia kembali keluar dari rumah Aryan.


"Zico?" teriak Ayla.


Ini adalah kali pertama Zico yang tak mengindahkan Ayla yang memanggilnya. Dan Zico tetap pergi.


...****************...


"Meldy?" Zico yang mengendarai mobilnya sepulang dari mension Aryan melihat Meldy yang lagi-lagi berjalan sendirian di trotoar jalan.


'Ciitt?' Zico menginjak rem. Dan mobilnya terhenti.


"Ayo masuk." seru Zico tanpa basi-basi.


Entah kenapa, Meldy tersenyum senang. Reaksi refleks alamiah karena hati yang berbunga-bunga.


Meldy tak menjawab. Tapi lekas berlari kecil hendak memasuki mobil Zico. Dan Zico juga tersenyum sebelum Meldy sempat masuk.


'Brack' pintu sudah Meldy tutup. Zico kembali bermode santai.


Sedangkan Meldy, senyumnya tetap mengembang tanpa bisa ia kendalikan.


"Kenapa jalan sendiri? Zid?" Zico memulai obrolan.


"Aku tidak mau diantar Zid."


"Kenapa?"


"Karena aku tidak mau jadi wanita perusak hubungan orang." jawaban Meldy membuat Zico mengernyitkan kening, bingung.


"Maksud kamu?"


"He em? Zid akan menikah dengan Zizi sebentar lagi. Kalau aku masih mau diantar sama dia. Itu artinya, aku akan menjadi wanita perebut pacar orang." seloroh Meldy menjawab pertanyaan Zico.


"Zid akan menikah dengan Zizi?"


"He em mm." Meldy mengangguk berkali-kali.


"Tapi? Tadi kulihat kamu sedang pelukan sama Zid." seandainya mereka sepasang kekasih, maka saat ini Zico tengah bertanya meminta penjelasan.


"Aiiissh, hanya ungkapan selamat, sebagai seorang teman." jawab Meldy yang membuat hati Zid semakin senang.


"Oooohh" Zico rasanya ingin tertawa bahagia. Tapi tentu saja ia tahan. Akan sangat memalukan bukan jika dia tertawa tanpa alasan?


Sepanjang perjalanan mereka banyak ngobrol. Tak ayal sesekali kelakuan keduanya yang sengklek menimbulkan perdebatan dan akhirnya pertengkaran.


"Apa kau baik-baik saja Zid akan menikah dengan Zizi?" Zico mengalihkan obrolan ke tema sebelumnya setelah mendapat pukulan dari Meldy karna mengatainya sad girl.


"Yaahh? Aku baik-baik saja. Memangnya aku harus gimana? Aku nanti juga akan menikah." jawab Meldy yakin.


"Ha ha ha ha? Sama siapa?" tawa Zico meremehkan.


"Hei? Asal kau tahu ya? Banyak pria yang mengejarku, aku ini cantik, seksi, dan pintar. Aku saja yang begitu bodoh hanya melihat Zid selama ini. Dan tidak mempedulikan yang lainnya." Meldy membanggakan dirinya sendiri. Yang kenyataannya memang benar.


Zid tersenyum. Karena sebenarnya apa yang dikatakan Meldy itu benar, dia adalah wanita yang cantik, seksi dan juga pintar.


"Haaaahh?" Meldy menghela nafas. Bersandar sangat santai pada punggung Jok.


...****************...