LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bab 26



Kadang diri merasa di kucilkan


Kadang juga merasa tak di hargai


Ketika ucapan biasa di anggap janji yang mendorong hati untuk terus menagih.


Di sebuah Gazebo kediaman rumah keluarga Albert. Tampak putrinya sedang terduduk merenung. Entah apa yang ada di pikirannya. Gadis itu adalah sosok yang bisa menghibur orang lain tapi tak bisa menghibur dirinya sendiri. Dia adalah gadis yang berusaha menutup perasaan dan luka yang ia alami. Terlihat di wajahnya kejenuhan akan sebuah penantian. Kadang dirinya merasa lelah namun berusaha untuk tetap bertahan karna sebuah harapan.


"Sha..." suara lembut seorang wanita terdengar mendekat ke arahnya.


"Kamu kenapa nak?" Ucap wanita itu yang tak lain adalah mama Natasha.


"Gak papa kok mah." Kata Natasha.


"Emmm begitu. Oh yah kamu udah siapin kado buat Aina? Tanya wanita itu.


Seketika kalimat itu menyayat hati Natasha. Mengapa terus aina dan aina? Mengapa sahabatnya itu mempunyai banyak perhatian dan kasih sayang.? Setidaknya mengapa ibunya tidak menanyakan kondisi kampus barunya?Bahkan orang yang selama ini dia nanti adalah milik sahabatnya itu.


"Gak Ma. Aku ngak pergi." Jawab Natasha sambil berusaha mengukir senyum.


"Loh.. kok gitu. Aina kan sahabat kamu sendiri. Masa kamu gak pergi. Lagian juga dia udah mama anggap anak sendiri." Kata Mamanya.


"Mama juga udah siapin semuanya kok kadonya. Gaun kamu juga udah mama siapin." Sambung mamanya.


"Kalo gitu mama aja yang pergi. Aku..."


"Kamu harus pergi." Sahut papanya memotong ucapan Aina.


"Kamu perginya sama papa."sambungnya.


"Ihh Pa. Ini kan pesta anak muda sekalian reuni sekolah mereka. Ngapain papa mau ikut Natasha." Kata Mamanya.


"Papa juga gak bakalan pergi kalo cuman pesta anak muda. Papa di undang Tuan Ardi Bramana, kolega papa." Ujar papa Natasha.


"Bramana?Oo.. itukan pemilik sekolah SMA Jaya Putra." kata Mamanya.


Sedang Natasha berusaha mengingat percakapannya di mobil dengan Bagas.


"Iya Ma. Dan yang papa tau Bramana itu gak punya anak. Kok sekarang dia ngadain pesta untuk Aina lagi. Aneh kan?" Ungkap Papanya.


"Iya juga sih Pa. Yang mama ingat juga nama ayahnya Aina kan Steven Leonardo. Yah kan Sha.?" Ucap Mamanya sambil menatap Natasha.


"Iya Ma. Mungkin Aina anak angkatnya." Jawab Natasha.


"Pokoknya kamu harus pergi dengan papa. Lagian juga di pesta itu kamu harus mempertanggungjawabkan sesuatu." Tegas papanya yang langsung meninggalkan mereka.


"Kamu dengerin omongan papamu yah sha. Kamu kan tau sendiri gimana konsekuensinya kalo nolak perintah papamu." Kata Mama Natasha.


"Yah udah mama masuk dulu." Sambunganya sambil mengelus rambut putrinya itu.


"Apa yang harus ku pertanggung jawabkan? Apa ini ada hubungannya dengan foto itu? Akh... ngak mungkin. Aku gak salah. Udah jelas Lisha lah yang salah bukan aku." Gumam Natasha di dalam hatinya.


Ia pun langsung menyusul langkah kaki ibunya meninggalkan gazebo itu. Kesendirian membuatnya harus terus berperang dengan pikiranya.


Hari yang di tunggu pun tiba. Hari kelahiran seorang gadis cantik Aina Khanza. Gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang kedua orang tua kandungnya. Namun Tuhan punya cara sendiri untuk memberikannya kebahagiaan untuk dirinya. Pesta ulang tahun itu di gelar di sebuah aula hotel berbintang lima di kawasan Jakarta. Tampak interiornya tersebut sangat mewah. Di dindingnya terpajang beberapa lukisan yang bernilai fantastis sebagai pertanda akan kecintaan Aina terhadap seni. Sedang hidangan makanannya yang sangat mengunggah selera. Tak lupa pula kue ulang tahun setinggi 70 centi meter menghiasi ruangan itu. Dari jauh terlihat gadis cantik itu berjalan mengikuti karpet merah mengarah ke tempat lokasi kue tersebut.


Gadis cantik itu di balut gaun panjang menyeret lantai bewarna merah muda. Hiasan ringan melekat di wajahnya membuatnya tampak bagaikan seorang putri raja.


Semua tamu tampak takjub berada dalam pesta itu. Terlebih alumni seangkatan Aina yang tak menyangka bahwa gadis itulah putri pemilik sekolah yang pernah mereka tempati.


"Woah... Aina loh cantik banget malam ini." Ucap Lisha yang memakai dress panjang bewarna merah.


"Emm gak lah biasa ajah Lish." Kata Aina dengan wajah memerah.


"Haha adek abang udah gede udah 19 tahun. Eh btw kenalin dong abang sama teman cantik mu ini." sahut Bagas yang memakai setelan jas bewarna putih.


"Makasih yah abang. Tapi kenalan sendiri lah emang aku mak comblang". Kata Aina .


"Gak usah Sha. Kami udah kenalan kok." Kata Lisha tersenyum kepada Aina.


Bagas hanya menganggung mendengar hal itu.


"Dimana??Tanya Aina penasaran.


"Ceritanya tuh panjang pokoknya kami ketemu kebetulan pas Bagas di uber sama pacarnya." Ungkap Lisha.


"Eh ee e. Enak aja kau bilang pacarku. Dia itu cewek gila yang nge fans sama aku bukan pacar ku." Sahut Bagas tak terima perkataan gada beragaun merah tersebut.


"Hahaha alasan kamu Gas." Sambung Aina sengaja memancing.


Bagas hanya menampilkan muka dengan penuh belas kasihan kepada kedua gadis itu. Bahkan ketika tampak kesalpun dia masih saja di anggap lucu oleh orang yang melihatnya.


Akhirnya puncak dari acara itupun di mulai. Nyanyian para tamu dan tepukan tangan mereka menyeru aina meniup lilin menambah keriuhan pesta tersebut. Potongan kue pertama ia berikan kepada kedua orang tua angkatnya yang sangat ia sayangi. Kasih sayang orang tua yang sedari dulu ia harapkanpun di dapatkannya dari mereka. Potongan yang kedua ia ingin kepada sahabatnya Natasha namun entah mengapa dia tidak melihat gadis itu. Dia pun memberikan kue tersebut kepada Devan kekasihnya serta Lisha dan Bagas.


"Selamat yah Aina..." ucapan selamat dari semua orang dan doa mereka saat bersalaman dengan gadis itu sambil memberikan kado untuknya.


Merekapun menikmati pesta itu di temani alunan musik ringan. Beberapa pasang dari mereka ikut berdansa dalam pesta itu.


"Nona Lisha mau kah anda berdansa dengan saya." Ucap Bagas sambil membungkukkan dan memeberikan tangannya di hadapan Lisha.


Sontak saja tingkah Bagas tersebut mengundang tawa untuk mereka.


Terlebih Tuan Bramana dan istrinya yang sudah menganggap pria tampan itu anak laki-laki mereka.


Dengan sedikit tawa Lisha pun menyambut tangan tersebut.


Di lain sisi mata Aina terus saja mencari keberadaan sahabatnya. Dalam hatinya berkata tidak main mungkin Natasha tidak datang.


"Dev... kamu ngak lihat Natasha. Kok dia gak ada yah.?" Tanya Aina kepada Devan.


"Gak tau. Aku gak lihat." Jawab Devan sambil menatap Aina lembut.


Malam ini Devan tidak banyak bicara. Ia hanya menatap kekasihnya itu tak hentih. Ia bagaikan pengawal putri dengan setelan jas bewarna hitam yang takut putri itu di lirik oleh pria lain


"Nah itu Natasha." Sahut Leon menunjuk gadis yang baru masuk di ruangan itu dengan setelan dress bewarna hitam.


"Maaf yah Na aku terlambat." Ucap gadis tersebut.


"Iyah loh lambat banget Sha. Acara paling pentingnya udah lewat. Eh btw loh pake baju warna item kayak mau melayat aja hahah." Celoteh Arga sambil memakan kue di tangannya.


"Syutt..." ucap Leon memukul pelan bahu sahabatnya itu.


"Gak papa Sha. Yang penting loh udah datang." Kata Aina tersenyum.


"Makasih Sha..." jawab Aina.


"Cek cek cek." Ucap seorang pria menggunakan mikrofon di tengah pesta tersebut.


Seketika musikpun berhentih


"Yah selamat malam semuanya. Saya Ardi Bramana mengucapkan selamat untuk putri saya Aina Khanza Bramana. Di tengah pesta ini yang juga dihadiri beberapa mitra kerja saya dan tentu saja guru serta kepala Sekolah SMA Jaya Putra. Dan sahabat, teman-teman Aina. Saya mengucapkan banyak terimakasih atas kehadiran kalian." Ucapnya.


Tampak di samping kiri dan kanan pria tua itu berdiri Bagas dan Lisha. Semua orang bertanya mengapa mereka berdua berada di sisi papa angkat Aina tersebut.


"Di samping itu saya ingin menyampaikan hal penting. Di antaranya soal pewaris keluarga Bramana." Kata pria itu.


"Yah selama ini kalian tau bahwa saya dan istri saya tidak mempunyai seorang anak. Dan akhirnya kami menemukan Aina yang merupakan titipan Tuhan untuk kami. Maka saya Ardi Bramana menyatakan semua aset warisan dari keluarga Bramana di berikan atau di warisi kepada Aina Khanza Brahmana." Ungkapnya.


Sontak saja kalimat tersebut membuat heboh keadaan pesta itu. Mereka langsung menatap ke arah gadis dengan gaun bewarna pink tersebut. Sementara gadis itu hanya menganga tak percaya.


"Adapun jika Aina tak bersedia ataupun karna panggilan tuhan atau bisa di katakan meninggal maka warisan tersebut akan di sumbangkan untuk amal. Hal penting yang kedua yang ingin saya ungkapkan kepada kalian semua tentang peristiwa lalu yang membuat anak saya malu. Untuk itu biarkan detektif saya Bagas Wijaya yang menjelaskannya. Silahkan Bagas." Ucap Tuan Bramana sembari menyodorkan mikrofon tersebut.


"Detektif.?" Ucap Natasha Pelan. Dia mulai merasa ada yang janggal akan pesta ini. Rasanya ia ingin segera keluar dari ruangan tersebut.


Semua orang pun mengalihkan pandanggannya ke arah Bagas terutama teman-teman Aina dan guru mereka dahulu.


"Malam semua. Di sini saya akan menjelaskan dan mengungkap semuanya. " kata Bagas menampilkan wajah datarnya.


"Tentang foto-foto dan kabar hoax yang tersebar kemaren sudah terjawab sekarang bahwa itu tidaklah benar dan sudah jelas bahwa Aina dan Tuan Bramana adalah seorang ayah dan anak. Semua tau bahwa penyebar foto itu adalah wanita di samping saya Lisha." Ucap Bagas.


Huuuuuuu..... tampak sorakan keluar dari mulut mereka untuk gadis di sampingnya tersebut. Sedang Lisha hanya tersenyum sambil melambaikan tanganya.


"Tenang semua. Memang benar bahwa Lisha lah yang menyebarkan foto tersebut. Namun di balik itu semua ada dalang penyebabnya." Sambung Bagas.


Semua pun kaget mendengar hal itu. Dan mulai bertanya siapa yang menjadi dalang tersebut.


"Saya menyelidiki kasus ini dan mendapat bukti nyata. Silahkan di lihat sendiri." Ucap Bagas sambil memencet tombol sebuah remot.


Semua mata menuju ke arah layar LCD tersebut. Dan betapa terkejutnya mereka tentang gadis yang ada di rekaman cctv itu adalah Natasha sahabat Aina sendiri.


Tak terkecuali dengan Aina yang meneteskan air mata tanda tak percaya akan perbuatan sahabatnya itu.


"Untuk kelanjutan mengapa foto itu bisa ada di tangan Lisha silahkan Lisha sendiri yang menjelaskan." Sambung Bagas.


"Emm. Mau mulai dari mana yah. Sebenarnya gue gak mau ngungkap semua ini karna Natasha adalah sepupu gue sendiri. Namun jika salah tetap salah. Dan kesalahan itu harus di pertanggung jawabkan. Dari sejak peristiwa itu gue ngeliaht jejak Natasha yang seolah-olah dia tidak tau apa-apa. Makin lama gue sadar bahwa bukan gue siapa lagi yang menyadarkan mereka. Ini rekaman suara yang sengaja gw rekam pada saat Natasha ngasih foto itu." Ujar Lisha .


"Ini apa?


"Itu foto Aina jalan sama om-om."


"Om-om. Loh dapat ini dari mana?


"Loh ngak perlu tau. Yang intinnya jangan sampai orang lain tau kalo gue yang ngasih foto ini ke loh."


"Loh gila yah. Mau ngejebak sahabat loh sendiri."


"Bukan urusan loh. Sebarin aja foto ini. Dan jangan sampai loh buka mulut akan gue."


Seketika keadaan riuh atas rekaman suara tersebut. Semua tatapan mengarah ke gadis bergaun hitam itu.


"Sha... koh kamu tega sama aku hiks... hiks..." tanya Aina menatap sahabatnya itu.


"Udah Na. Udah jelas-jelas dia ini sahabat yang gak tau diri. Loh gak usah tangisi orang kayak dia." Ucap Devan emosi.


"Woah... parah lo Sha. Gue sama sekali gak nyangka atas perbuatan loh." Tambah Leon. Sedang Arga hanya bisa menganga melihat peristiwa di depan matanya.


Di lain sisi pria tua yang merupakan papa Natasha hanya menatap tajam putrinya itu dari jauh sembari meneguk jus jeruknya.


"Saya sangat minta maaf atas peristiwa ini Tuan Albert. Saya tidak mempunyai maksud mempermalukan anda." Ucap Mama Aina.


"Kenapa begitu nyonya Bramana. Saya sudah tau semua ini dari Ardi sebelum saya datang ke pesta. Saya juga ingin melihat anak itu meminta maaf dan bertanggung jawab akan tindakannya. Prinsip saya walaupun itu anak saya jika dia salah maka dia tetap salah." Ucap Papa Natasha.


"Bener tuh Ma. Papa udah lama kenal dengan Tuan Albert ini dan sangat tau prinsipnya persis kayak papa." Sahut papa aina.


Sedang Mama Aina rersebut hanya tersenyum melihat prinsip aneh kedua pria di hadapannya itu.


Bisikan umpatan terus keluar dari mulut mereka untuk Natasha.


"Ahhhgggkkktttt.... senang loh Na. Senang loh bikin gue malu kayak gini. Yah emang gue. Emang gue yang jadi dalang foto itu. Kenapa?Kenapa loh semua nyalahin gue? Bukan gue yang salah tapi Aina yang salah. Dia yang dapat banyak perhatian dari orang. Bahkan orang yang gue sayang dan orang yang gue tunggu dari kecil jadi pacarnya. Gue benci sama loh Na. Saat gue tau kalo loh pacaran sama Devan." Teriak Natasha di pesta itu.


"Ehh. Sha lo gila yah. Aina tuh sahabat loh sendiri." Sergah Devan yang mulai emosi.


"Yah.. emang gue gila. Kenapa?Gue akui gue munafik baik di depannya, sedang di belakangnya gue dendam. Dan loh Devan loh juga orang yang munafik loh gak lebih buruk dari gue. Loh itu munafik yang berjanji tapi gak pernah loh tepati." Teriak Natasha menunjuk muka teman masa kecilnya itu.


"Sha..." rintih Aina.


"Natasha itu waktu kita kecil. Dan hanya ucapan anak kecil yang belum tau apa-apa loh paham ngak sih." Tegas Devan.


"Yah gue tau kalo itu ucapan anak kecil. Tapi bagi gue janji adalah janji yang harus loh bayar. Tapi apa loh gak bayar janji itu." Jawab Natasha.


" Dan buat Loh Aina gue gak akan begini kalo seandainya bukan Devan yang ada di sisi loh." Sambungnya yang langsung meninggalkan ruangan tersebut.


Aina hanya bisa terdiam menatap punggung Natasha yang menjauh.


"Na minum dulu kamu gak papa kan." Ucap Mamanya memeberikan segelas air.


"Gak papa kok ma. Aku emang kaget lihat sikap Natasha sekarang. Tapi itu semua ada alasannya. Kadang cinta membuat diri kita bisa berubah. Aku paham kok Sha..." ucapnya sambil tersenyum.


"Na... loh beneran gak papa." Tanya Devan khawatir.


"Iyah Dev aku gak papa. Cuman sedikit syok aja tadi. Tapi sekarang gak lagi. Aku yakin Natasha itu baik hanya kamu yang bikin dia berubah." Kata Aina sambil menatap kekasihnya itu.


"Iya Na aku gak tau harus gimana. Padahal itu cuman omongan anak kecil tapi dia anggapnya serius." Kata Devan.


Aina hanya tersenyum mendengar hal itu. Dia sadar walaupun yang sekarang ia rasakan adalah rasa terkejut akan kebenaran tersebut namun Natasha juga merasakan hal sakit yang sama.


Pesta kemudian kembali di lanjutkan dengan cukup meriah. Sekitar pukul 23.30 mereka pun mengakhiri pesta tersebut.


Aina mengambil kotak kecil yang di berikan sahabatnya tadi. Tampak di dalam kotak itu gelang cantik bewarna putih dan sebuah kartu ucapan selamat serta permohonan maaf dari Natasha.


"Na... ayok pulang" kata Papanya.


"Iya pa ayok." Ucap Aina yang segera menyusul orangtua angkatnya tersebut.