LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 48



Keluarga bahagia itu tengah makan malam bersama dalam keharmonisan. Syeira semakin dekat dengan Ayla, ia yang sebelumnya merasa takut dengan sosok ibu mertua yang kejam dan jahat dalam bayangannya terpatahkan setelah semakin dalam mengenal Ayla.


Beberapa kali pertemuannya dengan Ayla yang terkesan kurang siap dengan sejuta kekurangannya sebagai seorang menantu dan istri dari putranya tak membuat Ayla menyinggung nya sama sekali. Ayla benar-benar sosok ibu mertua yang baik, lembut dan pengertian. Syeira menyayangi Ayla tiba-tiba.


Zico nyeletuk minta ganti rugi pada Arend atas rusaknya ponselnya yang telah Arend banting siang itu. Sontak pernyataan Zico membuat Ayla membulatkan mata kaget dan marah pada Arend.


"Ada apa.? Kenapa sampai membanting ponsel.? Apa kalian bertengkar?"


Ayla terlihat sangat khawatir, takut jika kedua jagoannya itu berseteru, ia tak ingin jika hal seperti itu terjadi.


Zico ingin berbicara, namun Arend sudah lebih dulu menginjak kakinya keras hingga Zico hanya bisa menahan rasa sakit sambil menggigit bibir bawahnya agar tak bersuara.


"Tidak ada Mah, Arend hanya ingin memberi Zico ponsel yang baru." Jawab Arend dengan nada suara yang datar.


Syeira melihat Muka Zico yang berekspresi menahan sakit. Ia lantas menendang pelan kaki Arend dari bawah meja agar suaminya itu melepas pijakannya pada kaki Zico.


"Oouuh! Baguslah kalau begitu, itu baru namanya saudara.! Kalian itu harus saling menjaga. Saling melindungi, saling mendukung, jangan pernah bertengkar. Seperti Mamah dan aunty dulu.?"


Ayla mengucapkan kalimat itu dengan perasaan yang senang, namun ia tak menyadari kalimat terakhirnya yang membuat suasana hati Arend dan Zico berubah seketika.


Ayla mulai berkaca-kaca setelah ia menyadari apa yang baru saja di ucapkannya di akhir kalimat.


Syeira tidak mengerti, kenapa semuanya terasa berubah seketika. Siapa Aunty yang di maksud itu.? Dan ada apa dengannya.? Kenapa mereka semua terlihat sedih setelah mama mertua menyinggungnya.?


Mata Arend menatap meja nanar, Syeira menyadari raut muka dan bahkan tatapan suaminya itu. Syeira benar-benar merasa penasaran sekarang. Haruskah ia bertanya.? Tapi, bagaimana jika itu tidak sopan.?


"Sambal buatan mamah sangat enak, gurih nya pas. Syeira mau belajar membuat ini dari Mamah.!"


Ucap Syeira mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang.


"Kamu suka.?" Ayla senang karna menantunya suka sambal buatannya.


Syeira tersenyum dan mengangguk.


"Dia memang pecinta semua sambal, Mah.!" Zico menimpali. Dan Syeira menjulurkan lidah padanya.


Arend melihat Syeira, ia tahu jika istrinya itu bersikap mencoba mencairkan suasana.


Makan malam selesai, Syeira membantu Ayla bersih-bersih dan beres-beres di dapur. Arend membawa semua barangnya yang tertinggal di kamar Zico untuk ia bawa ke kamar Syeira, jangan sampai mamanya tahu jika selama ini mereka tidur pada kamar yang terpisah, Sedangkan Zico merapikan kamar.


"Apa kamu bahagia, Ra.?" Ayla bertanya pada Syeira, jarang sekali bukan ada ibu mertua yang menanyakan kebahagiaan anak menantu perempuannya.?


"Iya, Mah. Syeira bahagia. Sangat.!" Jawab Syeira sambil tersenyum.


"Syukurlah, Mamah seneng dengernya."


Ayla membilas tangannya, semua pekerjaan sudah selesai.


"Ya sudah, sekarang cepat istirahat ya.!"


Syeira mengangguk dan tersenyum, ia hendak melangkah.


"Oh ya, kalau bisa. Besok mamah minta di temenin dong di rumah. Tapi kalo gak bisa gak papa!." Ayla meminta Syeira untuk menemaninya esok hari.


"Syeira coba minta izin sama atasan dulu ya, Mah.?"


Ayla mengangguk mengerti. Syeira melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.


Saat pintu kamar di buka Syeira, Arend yang tengah duduk bersila di atas ranjang yang tengah sibuk dengan laptopnya lekas mendongakkan kepala. Melihat ke arah Syeira yang berdiri di depan pintu. Kecanggungan pun terjadi.


Arend lekas menutup laptopnya. Ia meletakkannya di atas nakas. Ia lantas berbaring disisi kiri ranjang menghadap ke arah kiri, memunggungi sisi ranjang yang sebelah kanan. Tak lupa ia menarik selimut menutupi tubuhnya.


Syeira masuk dan menutup pintu, Kaki nya terasa keluh tiba-tiba.


"Kau, sudah mau tidur.?" Syeira bertanya dengan perasaan gamang.


Syeira masuk ke kamar mandi, mengganti baju nya dengan baju tidur disana. Setelah selesai, Syeira mematikan lampu kamar, hanya lampu meja yang kini menjadi penerangan, kamar bernuansa putih itu pun jadi terlihat remang-remang.


Syeira melangkah pelan naik ke atas ranjang, membaringkan tubuhnya di sisi kanan ranjang dan menghadap ke kanan. Jadilah mereka berbaring saling memunggungi.


Detik jam yang berada di atas nakas terdengar berdetak lebih keras dari biasanya. Syeira belum juga bisa tidur, jantungnya berdebar serasa mau lompat keluar. Ini adalah pertama kalinya dia tidur satu ranjang dengan Arend.


Waktu terus berlalu, Mata Syeira tak mau terpejam juga, ia bahkan sudah merasa sangat pegal dengan posisi ini, berbaring miring tanpa pergerakan. Ingin rasanya ia mengubah posisi. Agar ototnya tak begitu terasa kaku.


Syeira akhirnya menggerakkan tubuhnya, ia berbalik menghadap ke kiri. Tepat menghadap Arend yang ternyata juga menghadap dirinya, dan mata Arend terbuka sempurna.


Syeira dan Arend sempat kaget bersama, Arend yang sedari tadi belum juga tidur, menghadap ke arah Syeira menatap punggungnya dalam diam tanpa kata. Kini akhirnya mereka malah saling berhadapan dengan tatapan yang dalam.


Syeira rasanya tidak kuat jika terus bertatapan mata dengan Arend. Ia pun terlentang menghadap ke atas langit-langit kamar.


"Kau belum tidur.?" Syeira mengawali pertanyaan.


"Kau juga belum tidur.!" Jawab Arend mencoba setenang mungkin. Arend tak merubah posisinya sama sekali, ia masih menatap Syeira yang terlentang menghadap ke atas tanpa titik yang pasti.


"Kenapa kau belum tidur.?"


"Karna kau belum tidur.!"


Syeira menelan salivanya kasar, jawaban Arend membuatnya ingin terbang melayang.


"Apa aku boleh mendekat.?" Arend bertanya pada Syeira yang kini kembali menghadap kanan memunggungi dirinya.


'Hei Tuan.? Kenapa kau suka sekali bertanya.? Aku kan malu jika harus menjawabnya.! Mengertilah sedikit.?'


"Kau hanya diam. Itu artinya?, kau mengizinkan?.!"


Syeira memejamkan matanya erat menggigit bibir bawahnya kuat, Rasanya.? Entahlah, gugup, deg degan, takut, malu, tapi yang jelas, rasa bahagia itu hadir sangat mendominasi.


Arend mulai bergerak mendekat dengan pelan, Syeira bisa merasakan pergerakan tubuhnya. Dimana ranjang yang ikut bergoyang seirama dengan gerak tubuhnya.


Arend sudah berada tepat di belakang Syeira yang memunggunginya, jantung Arend sendiri berdetak sangat tidak normal. Ia bahkan harus memejamkan mata tenang untuk mengontrol emosinya.


Arend menggerakkan tangan kirinya merengkuh pelan pinggang Syeira hingga sampai perut bagian depan. Syeira memejamkan mata merasakan sensasi gelanyar aneh menyerang seluruh tubuhnya.


Mata Syeira terbuka terbelalak ketika menyadari tubuh Arend yang menempel pada tubuhnya dari belakang terasa sangat keras.


'DEEGG.'


Jantung nya serasa berhenti berdetak.


"Ra.?" Arend memanggil, Syeira hanya diam dari tadi, Arend juga dihinggapi perasaan Dag Dig Dug dan juga takut. Ini adalah hal pertama baginya.


"Ehmm.?" Syeira hanya ber hemm ria menjawab panggilan Arend.


"Aku c!_ u. m leher kamu ya.?"


'Pertanyaan apa itu, Tuan.? Seharusnya Zico memberikanmu les terlebih dahulu.!'


Kini Syeira mengangguk pelan, ia sendiri seperti merasa ada dorongan. Sengatan sengatan listrik itu terus menjalar di seluruh tubuh.


Arend mendekatkan kepalanya, menyingkap rambut panjang Syeira, men. c. !. _u. m. Ceruk leher Syeira dari belakang, Syeira kembali memejamkan mata. Arend melakukannya dengan pelan, lembut, dan penuh perasaan. Syeira tanpa sadar meng3r4n9.


Cukup lama Arend melakukannya, hingga ia merengkuh tubuh Syeira kuat, memintanya tanpa kata untuk menghadap pada dirinya.


Tidak tahan mendengar er4n9an. Arend langsung menutup mulut Syeira dengan mulutnya secara pelan pada awalnya, hingga temponya mulai berubah dan nafas mereka sampai tersengal. Arend melepaskan tautan bibir itu setelah merasa hampir kehabisan nafas.


...----------------...


Untuk Bab selanjutnya mohon bersabar ya, karna kalau Bab yang mengandung unsur + itu lulus review nya lama, belum lagi kalau di tolak dan harus di revisi ulang, kadang malah harus ganti naskah. Ya, semoga saja Bab selanjutnya bisa segera lulus. 🥲🙏