
Syeira tengah sibuk memainkan ponselnya, ia mengkhawatirkan keadaan Meldy, Syeira mengerti bagaimana perasaan Meldy saat ini, dia pernah berada di posisi sakit dan patah. Syeira takut jika Meldy melalukan sesuatu yang salah.
Arend tiba-tiba memeluknya dari belakang, mengecup ceruk leher Syeira yang berdiri dan fokus dengan hapenya.
"My L.?" Syeira merasa geli, Arend terus mengecupi lehernya, bahkan tangannya bergerilya nakal kesembarang titik, Syeira merasa ini bukan saat yang tepat, hatinya tengah gundah memikirkan Meldy.
Arend membalik tubuh Syeira menghadap dirinya hingga kini mereka saling menatap dalam.
Arend menggerakkan kepalanya dan melihat ke arah hape Syeira. Seakan meminta penjelasan apa yang di lakukan istrinya itu.
"Aku khawatir sama Meldy, dia pasti sakit hati karna Zid membentaknya tadi. Dan itu karna wanita lain.!"
"Haaaa\_\_hh.!" Arend melepas tangannya yang merengkuh pinggang Syeira. Membuang nafas kasar, Arend sudah sangat bosan dengan kisah mereka. Ia lantas menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar.
Arend kembali mengingat bagaimana dulu Meldy dan Zid bertemu, Meldy yang langsung jatuh cinta pada Zid sejak melihatnya pertama kali, dan terus mengejar Zid yang sangat dingin, dan tanpa menyerah, hampir segala cara Meldy telah lakukan untuk bisa mendapatkan Zid. Hingga Zid setuju untuk berhubungan dengan Meldy, dan mereka tinggal bersama.
Meski Arend risih dengan kelakuan Meldy yang sangat terbuka dalam menunjukkan cintanya pada Zid. Tapi jika Zid sampai berpaling, Arend juga pasti akan merasa kasihan pada Meldy.
Syeira turut duduk di tepi ranjang di samping Arend.
"My L.?"
Arend menoleh melihat Syeira yang memang terlihat ada kecemasan di wajahnya. Arend pun bangkit dan duduk bersila menghadap Syeira.
"Tidak di angkat.? Aku takut Meldy kenapa-kenapa.?"
"Apa sekarang kita juga harus menjadi biro jodoh untuk mereka.?"
Arend kurang suka, ia mengerti kemana arah pembicaraan Syeira.
"Bukan begitu..? Paling tidak, untuk saat ini, kita harus memastikan jika Meldy baik-baik saja. Besok dia ada pekerjaan penting kan.? Shooting lanjutan iklan *N~A Cell* Seri yang baru.?"
"Aaahh.?? Cck"
Arend berdecak kesal, memang besok akan ada shooting di perusahaan, dan Meldy yang akan menghandle acara itu.
Arend pun meraih laptopnya, Ia memainkan benda itu, melacak keberadaan Meldy dari radar ponselnya.
"Dia di Club.!" Ucap Arend, menutup kembali laptopnya, dan dia kembali merebahkan tubuhnya.
"Aaiiisshh,,,??"
Syeira menarik tangan Arend untuk kembali bangun, dan dia menyeret sang suami yang bergerak malas.
Arend tahu jika Syeira pasti akan membawanya mencari Meldy. Dan dia hanya menurut meski sangat malas.
"Kita pergi dulu sebentar, kalian mau dibawakan apa.?"
Syeira berbicara pada Zico dan Cellin yang tengah menonton drama di tv ruang tamu.
"Ayam geprek.!"
"Ok.?"
"Hati-hati.!"
Arend pun melajukan mobil nya membelah jalanan pusat kota menuju tempat dimana Meldy berada.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Meldy sudah mabuk, dia minum begitu banyak. Tubuhnya sangat aktif, ia meluapkan semua emosinya di tempat ini.
Meldy bergerak lincah mengikuti alunan musik DJ yang menggema, sesekali ia berteriak meluapkan gejolak hatinya yang patah.
Meldy terus menari hebat hingga ia menabrak seorang pria yang tengah bermesraan dengan wanitanya.
Pria itu melihat Meldy dari ujung kaki hingga ujung kepala, wanita cantik, seksi yang sudah matang. Menggairahkan.
Wanita pria itu menyadari tatapan kekasihnya pada Meldy, ia pun meluapkan emosinya pada Meldy, hingga adu jambak pun tak terhindarkan.
Pria itu berusaha melerai, ia memeluk wanitanya. Sedangkan Meldy yang merasa di kasari lebih dulu, ia tidak terima, Meldy masih ingin menjambak wanita itu, sekalian saja meluapkan emosi yang menggebu.
Tapi tiba-tiba tangan Meldy di tahan oleh tangan seorang pria.
Ucap pria tampan yang kini tangannya menyentuh tangan Meldy.
Meldy dan pria itu saling menatap, meski ia mabuk, Meldy masih bisa mengontrol dirinya, dan Meldy mengenali wajah pria dihadapannya ini.
Dia adalah seorang penyanyi pendatang baru yang tengah melejit namanya. Dan dia juga yang kini menjadi model utama dari *N~A Cell*.
Pria yang memegang tangan Meldy itu adalah DK, Darren Khanza.
"Kau.?" Ucap Meldy dengan suara mendayu dan tubuh yang sempoyongan, ia menepis kasar tangan Darren yang masih memegangnya.
Meldy turun dari lantai dansa. Ia menuju meja bartender, dan duduk di sana.
Meldy menggerakkan jari, meminta minuman pada bartender, dan Meldy langsung menenggak minumannya.
Darren mengikuti, dan duduk di dekat Meldy.
"Kau hanya sendiri.?" Darren bertanya, ia menuangkan minumannya kedalam gelas.
Meldy celingukan melihat ke kiri dan ke kanan. Lalu ia menatap DK, gerak kepalanya sangat menunjukkan jika Meldy sudah mabuk. Tapi dia cukup kuat, hingga bisa mengontrol tubuhnya.
"Ada begitu banyak orang disini.! Dan kau bilang aku sendiri.? Kau butuh kaca mata.!" Meldy bersuara mendayu, dan sedikit tak jelas tapi masih bisa di mengerti oleh Darren, ia kembali menenggak minumanya lagi.
Darren hanya tersenyum sinis mendengar jawaban Meldy.
'*Wanita ini*.?'
"Tuhan mempertemukan kita lebih cepat dari jadwal yang seharusnya. Kau tidak lupa jika besok kita akan melakukan shooting, bukan.?"
Darren menenggak minumannya.
Meldy menyipitkan mata menatap tajam Darren. Matanya sangat sayu, Meldy mendongakkan kepala cepat sambil menghisap kembali air hidungnya yang hampir keluar. Ia mengucek hidungnya yang terasa gatal.
Arend dan Syeira datang, setelah mereka mencari, akhirnya mereka melihat Meldy yang tengah duduk berhadapan dengan seorang pria.
"Mel.?" Syeira datang dan memeluk Meldy yang mabuk. Syeira belum menyadari adanya Darren disana, yang menatapnya tajam dan membulatkan mata.
Arend menatap tajam pada Darren yang melihat istrinya dengan tatapan yang sama seperti dulu, ingin memburu. Membuat Arend serasa naik pitam. Jika bukan karna semua yang sudah terlanjur, Arend ingin rasanya menghentikan kerja sama nya dengan Darren yang membintangi iklan produknya.
"Syeira.? Haaaahhh.?? Haaahh.?? *Hiks hiks hiks*.!" Meldy menangis tiba-tiba, dan begitu kencang, menarik perhatian pengunjung lain.
Darren sampai merasa bingung, wanita ini tadi baik-baik saja, bahkan dengan begitu semangat berdansa. Terlihat kuat dan tegar, kenapa tiba-tiba menangis histeris.
"Cupp, cuupp.? Sudah ya.? Semua akan baik-baik saja.!" Syeira berusaha menenangkan Meldy, ia memeluk Meldy yang menangis dengan pelukan erat, menepuk-nepuk punggungnya.
"Apa Zid akan meninggalkanku.?" Meldy mulai meracau.
"Tidak, dia tidak akan meninggalkanmu,.!"
"Tapi dia membentak ku.?" Meldy menangis sambil berbicara, penuh drama.
"Itu tidak benar, dia hanya merasa kasihan pada Zizi. Tidak ada yang bisa mengambil Zid dari tanganmu.?" Syeira terus menenangkan Meldy yang galau.
"Sungguh.? Kau yakin.? Zid tidak akan meninggalkanku.? *Hiks hiks hiks*.!" Meldy melepas pelukan tubuhnya dari Syeira.
Syeira mengangguk.
"Bagaimana kalau dia pergi.?" Meldy kembali menangis. Membuat Syeira merasa sangat kasihan padanya.
"Kita pulang.!" Arend bersuara. Ia bersiap memegang tangan Meldy, membantunya turun dari kursi, Meldy sudah sangat mabuk, ia kehilangan kontrol dirinya. Tubuhnya sempoyongan.
"Kau.?" Syeira baru menyadari adanya Darren disana.
"Apa kabar, Nona Syeira.?" Darren menyapa disertai senyum *Smirknya*, Ia merasa senang, akhirnya Syeira melihat dan menyadari kehadirannya.
"Jangan bicara padanya.!" Arend berbicara sangat tegas. Ia tak kan memberikan celah sedikit pun pada apa yang bisa menjadi bibit keretakan hubungan mereka.
Syeira lekas memalingkan muka. Ia tak lagi menganggap Darren yang ada disana dan bahkan terus menatapnya.
Arend dan Syeira membawa Meldy keluar dari Club'. Meninggalkan Darren yang tersenyum sinis menatap punggung mereka yang semakin menjauh.
"*Kita bertemu lagi, Nona Syeira*.!"
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...