
**Beberapa hari kemudian**.
Arend sudah kembali aktif di perusahaan *N*~**A** *Cell*, meski ia tak dapat mengingat sebagian perjalanan hidupnya karna amnesia, dan termasuk *N~A Cell*. Arend tak mengalami kesulitan apapun sama sekali. Semua nya sama dengan apa yang ada di benaknya dulu, Designe dan rancangannya pas. Meski begitu, Zid tak pernah jauh darinya. Ia selalu sigap membantu Arend dalam setiap urusan pekerjaan.
Tak jarang hal-hal lucu terjadi karna Arend yang amnesia. Dan itu menjadi hiburan tersendiri bagi Zid.
Dalam benak Arend yang ia ingat barulah langkah awal pembangunan *N~A Cell*. Sedangkan ia sudah melewati fase dan tahap-tahap hingga ia telah melakukan terobosan-terobosan baru menggebrak dunia elektronik di bidang smartphone itu.
Tapi *N~A Cell* harus kehilangan kesempatan kerja samanya dengan perusahaan dari Singapura kemarin. Dan itu tidak masalah. Saham *N~A Cell* tidak terganggu sama sekali.
Arend juga mulai bisa menerima Meldy assistant nya yang.? Yah, *begitulah*.!. Dan Arend harus di perkenalkan ulang kepada beberapa orang penting yang berhubungan dengan *N~A Cell*. Termasuk DK. Maskot utama *N~A Cell*.
Ada hal baik dari hilangnya ingatan Arend. Ia tak lagi menyimpan kebencian dan dendam pada DK. Hanya saja ia bersikap dingin sama seperti dengan yang lain.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zico kembali bermalas-malasan. Tapi ia tetap bekerja di perusahaan Aryan. Seluruh biaya hidup keluarga Cellin termasuk pengobatan sang ayah mertua adalah tanggungannya, ia sendiri yang ingin melakukannya sebagai wujud cintanya pada Cellin. Dan Kakak Cellin juga berkerja di perusahaan Aryan sebagai pengawas gudang.
Aryan beserta keluarganya masih membicarakan tentang rencana kedepan selanjutnya.
Rain akan kembali ke Brazil. Mikaila pun sama halnya. Ia ingin agar ia segera kembali ke negara itu. Bukan karna ia tengah melakukan pelarian. Tapi Mikaila melakukan pengejaran. Ia menyadari hatinya yang bergetar karna jatuh cinta pada Rain. Mikaila akan mengejar cintanya. Dan Aryan serta Ayla belum bisa memutuskan.
Aryan dan Ayla sebenarnya tidak betah tinggal di negara orang itu. Tapi mereka memiliki kewajiban untuk menjaga Mikaila. Semua menjadi sedikit aneh ketika Mikaila mengatakan satu hal.
"Aku akan tetap kembali ke Brazil. Papah Aryan sama mama Ai tidak perlu khawatir. Disana kan juga ada Uncle Rain. Dia pasti bisa menjaga Kei dengan baik. Iya kan, Uncle Rain?!"
Dan karna itu, Aryan dan Ayla masih di Landa kebingungan. Mereka masih harus memikirkan dan membicarakan kembali semuanya secara pasti.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Syeira tidak tahan jika hanya berdiam diri di rumah. Ia pun menghabiskan hari-hari nya di panti asuhan. Menemani dan membantu mengasuh adik-adik panti. Menciptakan kesibukan, menghilangkan kejenuhan. Ia juga harus menghibur hatinya yang pilu karna Arend yang melupakannya.
Arend belum pernah menemani Syeira datang ke tempat itu. Mereka seakan perang dingin. Syeira yang mendiamkan Arend karna malam itu Arend yang meneriakinya menggoda dirinya di depan Zid. Dan Arend tak kunjung meminta maaf.
Sedangkan Arend yang terkesan menjauhi Syeira. Karna ia yang tak bisa mengendalikan hasratnya setiap dekat dengan Syeira. Libido Arend selalu naik tiba-tiba. Dan Arend tak bisa menerima itu di akalnya. Ia tidak mungkin akan berhubungan badan dengan wanita yang tak di kenalnya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Kenapa kau keras kepala sekali, Kei.? Papah Aryan mohon, agar kita tinggal saja di tanah air. Kau bisa masuk ke perusahaan Papah Aaron dan mengurusnya sebagai kesibukan, atau kau bisa masuk di perusahaan papah Aryan bersama Zico. Terserah, tapi jangan kembali ke Brazil.!"
Rain dan Ayla turut mendengarkan Aryan yang masih membujuk Mikaila. Mereka semua duduk di kursi melingkar di halaman belakang mansion Aryan. Tempat favorit Ineke bersama Dion dulu.
Mikaila menatap Rain yang menatap lurus kedepan tanpa meliriknya sama sekali. Cen yang berdiri di belakang Rain bisa menangkap tatapan Mikaila pada Bos nya itu. Dan bahkan Cen mengartikan tatapan Mikaila itu dengan persepsinya sendiri.
'*Gadis itu tertarik pada Tuan Rain*.!'
"Bagaimana menurutmu,? Uncle Rain.?"
Mikaila bertanya pada Rain yang hanya diam. Rain mendongakkan kepala. Ia menatap Aryan dan Ayla.
"Turuti apa yang dikatakan kedua orang tua mu.!"
Mikaila sudah menebak jika Rain pasti akan mengatakan itu. Dan dia mengangguk.
"Baik, tapi kau harus tinggal disini bersama kami sementara waktu.!"
"Apa maksudmu, Kei.?" Aryan bertanya bingung.
"Aku mau Uncle Rain mengajari ku bela diri sebelum dia kembali ke Brazil. Aku juga ingin belajar menggunakan senjata api. Itu syarat ku, jika Uncle Rain setuju, aku akan tetap tinggal disini. Dan Uncle Rain boleh kembali ke Brazil setelah ia selesai mengajariku.!"
"Papah Aryan akan mencarikan mu Coach untuk berlatih.!"
Mikala lantas berdiri meninggalkan perkumpulan yang membahas dirinya itu.
Aryan dan Ayla menatap Rain penuh harap, seakan mereka memohon pada Rain agar tetap tinggal sebentar lagi untuk memenuhi permintaan Mikaila.
"Bagaimana Rain.?" Kini Ayla yang membuka suara bertanya pada Rain.
Untuk beberapa saat Rain masih terdiam. Ia memikirkan sesuatu.
'*Dia telah salah menaruh hatinya. Dia memang pintar dalam menggunakan otaknya. Mikaila sudah merencanakan ini semua*.!'
"Kita turuti dulu apa maunya.!" Jawab Rain. Ia lantas berdiri meninggalkan tempat dan Cen segera mengikuti langkahnya.
"Tuan.?" Cen menghentikan langkah Rain.
"Kau bisa melihatnya, Cen.?"
Cen mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Rain padanya.
"Aku akan bicara dulu padanya.!"
Cen kembali mengangguk.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Hujan deras turun mengguyur seluruh kota, di sertai angin yang bertiup kencang. Dan gemuruh petir yang menyambar bersahutan. Suasana terasa mencekam.
Listrik seluruh kota Padam, hanya beberapa diantara mereka yang memiliki jenset untuk menyalakan listrik rumah mereka. Dan rumah kasih yang sederhana tak memiliki itu.
Hari sudah gelap. Syeira belum pulang ke apartemen karna hujan turun sejak tadi sore. Dan kini ia masih berada di rumah kasih. Berkumpul bersama seluruh penghuni panti di ruang tengah. Mereka saling berpelukan karna ketakutan. Hanya ada 2 senter sebagai penerangan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zico sudah sampai di apartemen sore tadi. Dan Arend baru datang.
"Kau hanya pulang sendiri.?" Zico yang duduk di sofa ruang tamu memainkan ponselnya lekas berdiri kala Arend datang.
Arend mengernyitkan kening.
"Syeira dimana.? Kau tidak menjemputnya.?" Zico kembali bertanya.
"Apa maksudmu.? Memangnya dimana gadis itu.?" Arend menjawab malas. Dan hendak kembali melangkah.
Arend tak pernah berbicara dengan Syeira. Jadi dia tidak pernah tahu dengan kegiatan apa yang di lakukan Syeira selama ini.
Meski begitu, setiap hari Syeira selalu melayani nya seperti kebiasaannya dulu. Menyiapkan baju ganti, sepatu, dan mengambilkan handuk saat mandi. Dan itu semua dilakukan dalam keheningan. Tak ada pembicaraan diantara mereka.
"Kau ini bagaimana.? Setiap hari kan dia pergi ke rumah kasih.? Aaahh.? Dia pasti tidak bisa pulang karna hujan yang turun sangat deras.!"
Zico melangkah, raut mukanya terlihat jelas ia sedang kesal. Dan Arend memperhatikannya.
Zico meraih kontak mobil. Ia lantas bergerak melangkah akan keluar dari apartemen.
"Kau mau kemana.?" Arend meraih tangan Zico. Arend sudah bisa menebaknya. Tapi ia ingin memastikan.
"Menjemput Syeira.? Kemana lagi.? Kau ini suami macam apa.?" Zico berteriak penuh emosi, ia menatap Arend dengan kesal. Dan dengan kasar Zico menepis tangan Arend yang menyentuhnya. Ia melanjutkan langkah nya.
Arend terbengong. '*Kenapa Zico sangat marah*.?'
"Tunggu.? Aku ikut.!"
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...