
'*Drrrrttt,,, drrrtttt,,, drrrttt*'
Ponsel Zid berkali-kali berdering, Zizi yang terus menghubungi. Sudah ada belasan panggilan tak terjawab dari kontak Zizi di ponsel Zid.
Zid terduduk berselonjor di rooftop hotel, di temani oleh 2 botol minuman yang kini sudah hampir kosong. Satu botol yang sudah kosong tergeletak di sampingnya. Dan satu lagi masih ada di genggaman tangannya.
Mata Zid sangat merah, keringat dan air matanya bercampur membuat penampilannya terlihat sangat berantakan dan acak-acakan. Dia tak lagi terlihat seperti Zid yang dulu penuh kharisma dan wibawa. Kini ia menjadi sosok Zid yang memprihatinkan.
Hati nya begitu sakit, sangat sulit untuknya bisa menerima kenyataan Meldy yang tak lagi menghiraukannya.
"Aku sangat mencintaimu, Babe.! Please.? Come back to me.? Please.? I Can't life without you. *hiks hiks hiks*.!"
...----------------...
*Meski terasa sakit, menangis, marah. Tapi Meldy akhirnya bisa melepaskan Zid. Namun itu juga bukanlah kemenangan untuk Meldy. Ia sendiri masih tersiksa karna rasa cintanya pada Zid yang tak kunjung sirna. Cinta Meldy pada seorang Zid memang luar biasa besarnya. Dan buah dari terlalu mencintai itu adalah sakit yang luar biasa pula*.
*Sama halnya seperti Zid, Meldy terlihat tegar ketika ia di depan orang, dan rapuh juga menangis ketika ia sendirian*.
*Untuk apa cinta tanpa kejujuran.? Untuk apa cinta tanpa kesetiaan.? Pengkhianatan itu selalu menyisakan luka menganga yang tak pernah bisa terobati*. *Tak ada ikatan yang bisa tuk di pertahankan setelah perselingkuhan*.
*Bagian tersulit dari mencintai adalah menunggu, menunggu ia membalas cintamu. Dan bagian tersakit dari mencintai adalah pengkhianatan. Dia yang mengkhianati cintamu. Dan kedua nya sudah Meldy rasakan*.
...----------------...
**POV Zid**.
"\*Kini aku mengerti apa itu cinta, aku bisa merasakannya, luka yang kurasa ini nyata adanya, ini sakit di atas sakit.
Hati ini sungguh menyusahkan ku, sungguh menyulitkan ku, ia tak mau mendengarkan perkataan ku, tak ada yang diinginkannya, selain cintanya, hanya cintanya, cintanya yang telah pergi meninggalkannya karna kebodohan ku.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Dalam kenangan mereka, Zid dan Meldy sama-sama menangis di hati setiap saat. Tanpa satu sama lain, mereka tak bisa tertidur maupun terjaga. Seringkali mereka memanggil nama yang di rindukan saat dalam kesunyian. Hati mereka tak lagi memiliki kekuatan. Hidup serasa mati, terbunuh oleh sakitnya cinta yang mendera\*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zizi keluar dari apartemennya, ia akan langsung menemui Zid di Hotel dimana tempat diadakannya pesta ulangtahun Syeira. Panggilan teleponnya yang tak kunjung di angkat Zid membuat Zizi terlalu banyak berpikir, ia takut jika Zid akan kembali ke dalam pelukan Meldy. Dan tentu Zizi tak ingin itu terjadi.
Zizi menaiki taksi onlin, dan hanya dalam waktu 30 menit, ia telah sampai.
Zizi lekas masuk dan berlari menuju aula. Tapi saat ia mencapai pintu besar tempat acara, 2 penjaga menghadangnya. Zizi tak memiliki undangan yang mereka minta.
Zizi merasa kesal. Dia mencoba membujuk dan bernegosiasi agar ia di perbolehkan memasuki aula itu. Karna ia hanya ingin mencari dan bertemu Zid. Tapi tentu 2 penjaga itu tidak mengizinkan. Hingga datang seorang pria, dia adalah karyawan *N~A Cell*.
"Zizi.? Kau disini.?" Pria itu sedikit terkejut, karna Zizi hanyalah OB di *N~A Cell*, apa mungkin dia juga mendapat undangan dari perusahaan.?
"Pak. Saya kesini hanya ingin bertemu dengan Pak Zid. Apa anda bisa membantu saya untuk ikut masuk kedalam.?" Zizi meminta tolong.
Pria itu terdiam, ia terlihat berpikir.
'*Apa benar yang mereka gosipkan.? Jika hubungan Pak Zid dan Nona Meldy berakhir karna adanya orang ketiga.? Dan itu Zizi*.?'
"Pak.?" Zizi kembali memanggilnya, menyadarkan pria itu dari lamunan.
"Ah.? Iya. Ehm.? Tapi Pak Zid tidak ada di dalam. Aku lihat tadi dia berada di rooftop, aku juga baru dari sana. Mencari udara segar.!" Jelas pria itu pada Zizi.
Zizi mengangguk antusias mendengar pernyataan pria itu, Zizi pun berterimakasih dan dia lekas pergi menuju rooftop hotel.
'*Ku lihat tadi pak Zid sedang mabuk. Apa ini semua ada hubungannya.? Ah, sudahlah. Akan lebih baik kalau aku diam saja. Atau aku bisa kehilangan pekerjaan ku di N~A cell*.'
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zid masih dalam posisi semula. Terduduk berselonjor. Menunduk lemas. Air matanya sudah mengering, tapi matanya sangat merah, ia masih meratapi rasa sakit hatinya karna cemburu pada Meldy dan DK. Ia ingin marah. Tapi ia tidak bisa.
"Zid.?"
Zizi yang melihatnya lekas berhambur mendekati Zid. Zid mendongakkan kepala kala mendengar seseorang memanggil namanya. Zid tersenyum sinis kala ia melihat Zizi lah yang datang.
"Zid.?" Zizi kaget, ia bingung, keadaan Zid sangat berantakan dan kacau.
"Zid, kau kenapa.?" Zizi sudah ingin menangis. Zid justru tertawa terbahak-bahak sekarang, membuat Zizi sedikit merasa takut.
"Iya.!" Zizi mengangguk. Ia lalu membawa Zid kedalam pelukannya. Kepala Zid masuk ke tengah dada Zizi. Dan Zizi mengelus-elus rambut Zid yang terasa lepek karna keringat.
"Kenapa kau masih mempedulikan ku, Zi.? Kenapa kau tidak pergi meninggalkanku saja.? Semua orang sudah membenciku sekarang, harusnya kau juga melakukan hal yang sama Zi.? Kau tahu.? Jika aku sangat mencintai Meldy.? Kau tahu itu.?" Zid meracau, ia tak bisa mengendalikan dirinya yang hancur karna cinta.
"Hentikan, Zid. Aku tidak suka mendengarnya.!"
"Kenapa Zi.? Kau harus dengar. Apa aku sudah pernah mengatakannya padamu.? Jika aku sangat mencintai Meldy. Aku sangat mencintai Meldy, Zi. Aku sangat mencintainya.? Dan dia pergi meninggalkan ku sekarang.? *Hiks hiks hiks*.!"
"Hentikan Zid.? Aku tidak mau mendengarnya.!"
Zid telah mengungkapkan seluruh isi hatinya. Itu menjadi lebih mudah karna ia sedang dalam kondisi mabuk. Tak seperti biasanya yang bisa bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa dan dia baik-baik saja.
"Ayo kita pulang, Zid.? Sudah ada taksi yang menunggu di bawah.!"
"Pulang.?"
"Iya, pulang. Ayo.!"
"Pulang.? Iya, ayo kita pulang, bawa aku pulang Zi. Jauhkan aku dari mereka. Mereka semua menyakitiku, Zi. Aku tidak suka di sini, aku tidak suka tempat ini, semua ini menyakitiku.!"
"Iya Zid. Ayo. Aku akan membawamu pergi dari semua yang menyakitimu. Aku mencintaimu Zid.?"
Zizi membantu Zid untuk berdiri. Meski mabuk dan sempoyongan. Zid masih cukup baik mengendalikan dirinya dengan bantuan Zizi. Mereka akhirnya bergerak melangkah dan hendak turun.
'*Deg*.!'
Langkah Zid dan Zizi terhenti ketika mereka membalikkan badan, dan berpapasan dengan Meldy dan DK yang ternyata ada disana.
Meldy dan DK baru saja sampai di rooftop, Meldy merasa lelah berada di tengah pesta, ia ingin merasakan hawa udara segar. Sebenarnya itu karna batin Meldy yang terasa tak enak. Merasa hampa dan sepi meski di tengah keramaian. Karna hati yang telah patah. Dan DK jelas mengekor padanya.
Meldy melihat Zid dengan tatapan nanar, Zid yang berdiri sempoyongan di bantu oleh Zizi, ia mabuk.
Zid tersenyum sinis melihat Meldy yang datang bersama DK, Zid berpikir jika Meldy benar-benar telah berpaling darinya, dan menjalin hubungan dengan DK. Zid tertawa terbahak-bahak seolah mengejek Meldy. Wanita yang dulu mengejarnya dan kini melepasnya begitu saja.
"Ha ha ha ha. Pasangan baru kita.? Oh.?? Kalian mau berpacaran.? Mau menggunakan tempat ini. Silahkan.? Si\_ lah\_ kan, Tuan dan Nona.? Kami akan pergi, kalian bisa menggunakannya sepuas kalian. Ha ha ha ha.!"
Zid tak begitu sadar dengan apa yang dia ucapkan. Pengaruh alkohol membuatnya seolah ingin mengeluarkan seluruh isi hatinya dan kekesalannya.
"Diam kau Zid.?" DK berteriak, jarinya menunjuk pada Zid. Dia kesal dan merasa di rendahkan. Tapi tangan Meldy yang lekas menarik lengan jasnya untuk segera menurunkan tangannya menghentikan DK untuk bertindak lanjut.
Meldy menatap lurus kedepan tanpa membalas tatapan Zid yang terus menatapnya dalam. Air matanya menetes meski telah ia tahan sebegitu kerasnya.
"Hey.? Hey.? Babe.? Kenapa kau menangis"
Zid hendak mengusap air mata Meldy yang jatuh di pipinya. Namun dengan gerakan cepat Meldy menepis tangan Zid dengan kasar.
"Don't touch me.!" Suara Meldy penuh penekanan.
"Tolong bawa Tuan Zid, untuk segera pergi dari sini.!" DK akhirnya berbicara pada Zizi. Dan Zizi langsung mengangguk.
"Hey.? Hey.? Kenapa.? Kau mengusirku.? Apa ini hotelmu.?" Zid terpancing emosi. Dan ia ingin agar bisa memukul DK.
Tapi Zizi cepat menahannya. Dan dia sudah menangis.
"Jangan menangis, kenapa kau harus menangis. Kau ingin aku pulang.? Iya, tentu, ayo kita pulang.!"
Zid kembali bersikap manis pada Zizi di depan Meldy dan DK. Ia sengaja melakukan itu. Dan itu sangat berhasil membuat Meldy memejamkan mata meloloskan buliran-buliran air matanya. Meldy masih cemburu dan sakit hati.
Zid dan Zizi pun pergi dari sana. Meninggalkan Meldy yang merasa sepi meski DK telah menemani.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Dalam Hati**.
"*Seluruh mimpiku tentang mu telah hancur, kini kau pergi entah kemana, dan aku pun dimana*.?"***Meldy***.
"*Ini adalah kisah cinta yang sesaat, kau kini telah bersama siapa, dan aku pun bersama siapa*."***Zid***.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...