LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 83





"Aaahh sssshhh.!"



Zid terus bergerak maju-mundur, meluapkan seluruh gairahnya yang terbakar dalam kelembutan Zizi. Mereka berdua serasa menggila bersama. Melebur menjadi satu. Saling meminta dan memberi lebih.



Hingga Zid yang tak lagi dapat menahan dirinya, segera mencabut dan mengeluarkannya di atas p3rut Zizi.



*Game Over*.



Zid terbaring di samping Zizi yang memeluk tubuhnya. Bayangan Meldy hadir, keceriaannya, kecentilannya, kecerewetannya, berisiknya, tawanya. Membuat Zid menatap langit-langit kamar Zizi dengan sorot mata yang nanar. Ada rasa bersalah begitu besar yang datang di hatinya.



Zid bangun, ia langsung masuk ke kamar mandi, setelah membersihkan tubuh, Zid kembali keluar dan lekas memakai kembali pakaiannya.



Zizi pun ikut bangun, memegang selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.



"Kau akan pergi.?" Suara Zizi sangat lembut.



"Aku harus pergi, Zi. Aku takut terjadi sesuatu pada Meldy, kami belum pernah bertengkar sebelumnya.!"



Zid memakai jam tangannya, lalu duduk di tepi ranjang dan memakai sepatunya.



"Setelah semua yang terjadi.? Setelah kita melakukan ini.?" Zizi bertanya dengan diiringi deraian air matanya yang terus lolos membasahi pipi nya.



Zid merasa bersalah, apapun yang akan di lakukannya kini semua salah. Dan semua sudah terlanjur.



"Kita bertemu lagi besok. Istirahatlah.!" Zid bangkit lalu mengecup lembut kening Zizi. Mengelus rambut Zizi dan Zid melangkah keluar.



Zizi hanya bisa menangis merasakan perih di hatinya. Ia merasa sangat sedih harus menjalani hubungan seperti ini. Itu sangat menyakitkan. Zizi terus menangis.



Saat dalam perjalanan, Zid terus memainkan ponselnya, ia menghubungi nomor Meldy berkali-kali, dan tak ada jawaban.



Di satu tempat rahasia gedung *N~A Cell*, tempat tinggalnya Zid dan Meldy.



Arend menggendong Meldy yang mabuk dan sesekali bwekicau, memasuki tempat tinggalnya, Syeira menutup pintu setelah meraka masuk.



Arend lekas membaringkan tubuh Meldy di atas ranjang. Syeira membantu melepas sepatu Meldy, lalu menyelimuti tubuhnya.



"Bagaimana sekarang.? Apa kita harus meninggalkannya.? Aku merasa tidak tega.?"



Syeira menatap Meldy yang terlelap dengan wajah sembab dan mata yang membengkak karna habis menangis.



Arend hanya diam. Ia tengah berpikir, dimana Zid sekarang. Kenapa tidak ada di rumah.? Jika hanya mengantar Zizi, seharusnya dia sudah berada di rumah saat ini.



Ponsel Meldy yang berada di tas kembali berdering. Syeira meraih tas Meldy lalu membukanya, mengeluarkan benda pipih yang berbunyi itu, satu panggilan masuk.



"Zid menelfon.!"



Syeira mengulurkan tangan memberikan ponsel Meldy pada Arend.



Arend menerimanya lantas menarik panel hijau ke atas. Ia menerima panggilan dari Zid.



"Babe.? Kau dimana.? Aku menghubungi mu dari tadi.? Kau dimana biar aku jemput.? Aku minta maaf soal yang tadi.!"



Zid terus berbicara, ia tak tahu jika kini ia tengah berbicara dengan Arend.



"Dia di rumah, Kau cepatlah pulang.!"



"Arend.? Okay. Aku sudah di jalan.!"



Arend menutup teleponnya.



"Ziiid....?? Don't leave me baby.? I love you so much... Love\_\_ Love\_\_. Soo much. You're My love, My Life.!"



Meldy kembali meracau, bayangan Zid kembali hadir memenuhi kepalanya yang tak sepenuhnya sadar. Ia memang sangat mencintai Zid.



"Aku tidak tega jika harus meninggalkannya seorang diri dalam keadaan seperti ini, My L.? Kita temani dia sebentar lagi ya.?"



Arend mengangguk, dia dan Syeira masih di tempat Zid, hingga Zid tiba, membuka pintu dan masuk dengan tergesa. Zid sudah merasa pasti sesuatu terjadi, karna Arend yang mengangkat teleponnya Meldy dan bahkan ada di tempatnya.



Zid menghentikan langkahnya kala melihat Arend dan Syeira yang ada di sofa ruang tamu.



"Kamu dari mana saja.? Meldy pergi ke Club', dia sampai mabuk gara-gara kamu.?" Syeira mengomel.



Zid lekas berhambur ke ranjang melihat kondisi Meldy yang sudah terlelap, wajahnya benar-benar sembab. Wanitanya habis menangis.




"Terimakasih.!" Ucap Zid pada Arend dan Syeira.



"Kau harus meminta maaf pada Meldy besok. Kau sudah membuatnya menangis.!"



Zid mengangguk mendengar pernyataan Syeira.



"Kita pulang My L.?"



Syeira melangkah terlebih dulu, Arend masih berdiri menatap tajam pada Zid. Ada kekesalan di wajah Arend yang ia tunjukkan pada Zid.



Arend mengernyitkan kening, matanya menyipit, Zid semakin merasa tidak nyaman. Arend sangat peka.



"Aku sudah pernah memperingatkan mu, Zid. Tapi kau malah pulang setelah mandi dengan sabun yang lain di luar sana. Bau nya mungkin lebih harum menurutmu, tapi sabun mu di rumah ini yang sudah mengharumkan tubuhmu selama ini.!"



Arend menatap tajam Zid yang tak berani menatapnya, Zid memalingkan muka.



Arend tersenyum sinis dengan raut kekesalan dan kecewa. Ia lantas melangkah pergi meninggalkan Zid.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Apa menurutmu Zid menyukai Zizi.? Atau Zizi yang menyukai Zid.? Apa menurutmu hal seperti itu bisa terjadi.? Meldy sangat mencintai Zid, apa yang kurang dari dia. Bahkan aku sangat cemburu dan tidak menyukainya saat pertama kali melihatnya, dia hampir sempurna menurutku, dia tinggi, langsing, putih, seksi, kecantikan luar biasa. Zid tidak mungkin sanggup berpaling darinya, iya kan. My L?"



Arend hanya diam dan fokus menyetir, tidak memberikan tanggapan atas apa yang di ucapkan Syeira secara heboh.



Arend masih ingat jelas bagaimana dulu Meldy yang terus mengejar Zid. Mungkin itu yang membuat Zid merasa tidak ada tantangan terhadap Meldy, dan Meldy yang terlalu terang-terangan. Selalu mendominasi.



Sedangkan Zizi terlihat lemah, kalem, polos dan malu-malu, Pasti Zid menemukan sesuatu yang berbeda. Arend terus diam tenggelam dalam pikirannya sendiri.



"My L.?"



"My L.?" Syeira berteriak setelah beberapa kali ia mengajak Arend bicara dan Arend hanya diam.



"Hah.?? Apa.?"



"Iiihh,,,, nyebeliinn.? Gak di perhatiin dari tadi.? Iiishh.?"



Syeira jadi sewot sendiri. Dia manyun dan bersedekap menghadap depan.



Arend menginjak rem tiba-tiba. Dengan gerakan cepat Arend menyentuh wajah dan kepala Syeira lalu ia hadapkan menghadap wajah nya, dan Arend langsung menautkan bibirnya pada Syeira. Secara cepat, tepat, dan akurat.



Syeira membulatkan mata mendapat serangan tiba-tiba dari Arend. Jantungnya berdetak cepat, ini di jalan. Dan di dalam mobil.



Arend terus mengecup, menyesap, membelitkan lidah, mengeksplor semakin dalam kelembutan mulut Syeira.



Syeira memejamkan mata, mereka terus melakukannya. Tangan Arend bermain di d.a.da Syria, itu memang menjadi tempat favoritnya.



Hingga bunyi klakson yang sangat kencang mengagetkan mereka dan membawa mereka kembali ke dalam kondisi kesadaran yang penuh.



"Oouuhh,, $h!!. t.\*\*.!" Arend mengumpat kesal. Ia memukul kemudi mobil. Syeira menyentuh bibirnya yang terasa lembab dan basah. Sambil senyum-senyum bahagia.



"Kau menertawakan ku.?" Arend merasa kesal melihat Syeira yang tersenyum di tengah kemarahannya.



"Tidak.? Siapa yang menertawakanmu.?" Syeira menyangkal.



"Itu?. Itu? Kau tersenyum.?"



"Apa yang salah dengan tersenyum.? Memangnya kenapa kalau aku tersenyum.?" Syeira nyolot.



"Kau akan aku hukum.!"



Arend kembali melajukan mobilnya. Menginjak gas dengan kecepatan tinggi.



"Apa salahku.? Kenapa aku harus dihukum.?" Syeira tidak terima.



"Karna aku merindukan suara lirih mu, aku merindukan rintihan mu, 3r4n94nmu, akan aku buat kau mend3$4h sampai pagi tiba.!" Seringai Arend dengan senyum liciknya.



Syeira hanya bisa membulatkan mata, menelan salivanya kasar, membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti, membayangkan apa saja yang akan Arend lakukan, stamina suaminya itu tak main-main saat di atas ranjang. Membuat Syeira bergidik ngeri.



"*Sampai pagi.? Oh No*.?"



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...