LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 139



Sekali dia berhenti, dia tak kan ganggu hidupmu lagi, tak kan lagi mempedulikanmu, bahkan senang mengabaikanmu, itulah wanita yang hatinya telah patah karena pengkhianatan.


Dan itu yang dilakukan oleh seorang Meldy Arora kepada Zid, pria yang pernah sangat dicintainya. Ada yang pernah mengatakan, wanita bisa memaafkan apapun kesalahan pasangannya, tapi tidak dengan Pengkhianatan. Jadi, jika kini Zid merasakan sebuah penyesalan, itu adalah buah dari apa yang sudah ditanamnya sendiri.




'*Klek*' Meldy membuka pintu apartemennya setelah beberapa kali belnya berbunyi.



"Zid?"



Meldy terkejut karena Zid yang datang ke tempat tinggalnya sepagi ini. Dengan keadaan yang\_? Kacau.



Rambut Zid berantakan, acak-acakan. Kemeja hitam yang ia kenakan lusuh dengan kedua kancing atasnya terbuka. Bagian bawah kemejanya sebelah masuk kedalam celana, sebelahnya lagi diluar. Lengan kemejanya yang kanan tergulung sampai siku dan yang kiri tidak.



Mata Zid sangat merah dan bengkak. Wajahnya kucel, bau alkohol menyeruak masuk ke penciuman hidung Meldy.



Zid berdiri lunglai, tangannya bersandar pada tembok dekat pintu.



"Zid?" Meldy panik, gugup dan cemas melihat Zid yang datang menemuinya dalam keadaan seperti itu.



"Kau tidak mempersilahkan aku masuk Mel?" suara Zid sangat serak, lirih.



Meldy merasa tidak enak. Jantungnya berdegup karena takut.



'*Jangan menyebut namanya, aku cemburu*.' suara Zico yang pernah mengatakan kalimat itu pada Meldy tiba-tiba kembali terdengar ditelinga Meldy saat ini.



"M-ma maaf, Zid. Aku tidak bisa. Jika kau ingin mengatakan sesuatu. Katakan saja sekarang." Tubuh Meldy semakin gemetar, ia takut jika Zid sampai melakukan sesuatu.



Tebakan Meldy, pasti Zid selama semalaman terus minum dan kini malah datang menemuinya.



Tersungging senyum sinis di sudut bibir atas Zid mendengar jawaban Meldy. Lalu mengangguk-angguk mengerti.



"Apa benar yang mereka katakan. Kau akan menikah dengan Zico? Apa benar kabar itu, Mel?" air mata Zid menetes saat mengatakannya. Entah kenapa hati Meldy merasa sedih. Ia bukanlah wanita tak berperasaan yang meski Zid sudah pernah menghancurkannya lantas begitu saja tidak peduli.



"Iya, Zid. Aku dan Zico akan menikah 4 hari lagi."



'*Bugghh*!' Zid memukul dinding keras.



'*Hah*?' membuat Meldy mundur dan menyentuh dadanya saking kagetnya.



"Kenapa harus dia, Mel?"



"Ziiidd?"



Zid mendorong bahu Meldy keras masuk kedalam apartemen, kakinya menendang pintu hingga kembali menutup dan terkunci otomatis dari dalam.



Meldy yang didorong keras oleh Zid mundur hingga kakinya menabrak sofa panjang dan tubuhnya jatuh ke belakang tepat di atas sofa panjang itu. Zid yang tak seimbang tubuhnya pun ikut terjatuh menimpa Meldy dengan posisi saling berhadapan.



"Aaahh?"



Entah apa yang merasuki pikiran Zid. Zid menggenggam kedua tangan Meldy dengan kedua tangannya, mengarahkannya ke atas kepala, dan Zid bertindak mele.ceh.kan Meldy dengan menciumi wajah, leher dan bahkan berusaha menautkan bibirnya dengan bibir Meldy.



"Aaahh? Zid? Hentikan?"



Zid tak mempedulikan Meldy yang terus berteriak padanya.



"Zid? Kubilang hentikan. Lep-paskan, Zid?"



Meldy terus berontak, menggelengkan kepalanya cepat ke kanan dan ke kiri agar bibir Zid tak mampu menjamahnya. Tangan Meldy menggenggam sekuat tenaga untuk bisa mendorong tangan Zid agar ia bisa lolos dan berdiri.



'*Ting tong*?' suara bel apartemen Meldy berbunyi. Mata Meldy melebar merasa senang seseorang datang.



"Tolong aku? *Hiks hiks*. Tolong? Zico?" Meldy berusaha teriak meminta pertolongan. Tapi itu percuma. Antara luar dan dalam tidak akan terdengar.



Meldy yakin jika yang datang adalah Zico. Karena hari ini, mereka akan melakukan fitting baju pengantin mereka.



'*Ting tong*?' sekali lagi bel berbunyi. Meldy masih terkunci pada tubuh Zid.



Zid sama sekali tidak peduli, ia gelap mata. Pikirannya tak lagi jernih. Zid terus mencoba menaklukkan Meldy sekuat tenaganya.



'*Kumohon jangan pergi*?' lirih Meldy dalam hati pada seseorang yang datang yang ia yakini adalah Zico.



Di luar pintu.




Zico berpikir sesaat, dan dia memutuskan untuk kembali lagi nanti saja. Zico pun pergi meninggalkan apartemen Meldy.



"Zid? Lepaskan? *Hiks hiks hiks*. Kumohon sadarlah Zid? Apa kau tidak kasihan padaku? *Hiks hiks hiks*."



Tubuh Meldy tak lagi berontak, ia sudah lelah, hanya deraian air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.



Mendengar kalimat Meldy yang lirih, melemah dan mengiba. Zid akhirnya berhenti memperlakukannya seperti tadi. Ia lantas mendongak menatap wajah sang mantan yang masih sangat dicintai.



Tak ada lagi cinta itu di mata Meldy untuknya. Bahkan kini saat ia menyentuhnya. Meldy menangis menjerit begitu lara.



Zid melepas kedua tangan Meldy, dan dia bangun dari tubuh Meldy, berdiri di dekat sofa. Meldy lekas bangun, duduk dan menata bajunya yang berantakan.



"Kau benar-benar sudah tidak mencintaiku, Mel?"



Meldy lekas menggeleng.



"Kau mencintai Zico?"



Meldy cepat-cepat mengangguk.



"Sama seperti kau mencintaiku dulu?" Zid terus menangis saat mengucapkan kalimat-kalimatnya.



"L-le lebih, *hiks hiks hiks*?" jawab Meldy terbata, karena senggukan-senggukan tangisannya.



Zid mendongak mencari udara karena dadanya yang terasa sesak. Ia mengusap kasar rambut hingga wajahnya. Lalu melangkah keluar dengan cepat dari apartemen Meldy tanpa mengatakan apa-apa lagi.



"*Hiks hiks hiks*." Meldy hanya bisa menangis menerima kejadian memalukan seperti ini.



Bukan karena sok suci. Wanita juga memiliki prinsip dan harga diri. Jika kemarin ia mengejar Zid dan menyerahkan tubuhnya karena dia mencintainya, dan Zid menerima cintanya. Dan kini, Meldy harus menjaga mati-matian tubuhnya meski Zid yang sudah pernah menjamahnya. Karena semua miliknya kini sudah Meldy serahkan pada Zico. Dan Meldy akan setia menjaganya.



Terkadang tak banyak orang bisa memahami hal itu. Tak hanya lontaran-lontaran kata hinaan dari mulut lelaki yang mengatakan, '*Tidak usah munafik, kau itu sudah tak lagi suci*.' Tapi terkadang justru lontaran hinaan juga datang dari sesama wanita. '*Apa bedanya? Kau juga sudah sering melakukannya sebelumnya*?'



Meldy menjadikan hal-hal yang lalu sebagai pelajaran. Bahkan pria brengsek pun akan tetap memilih wanita mulia bak intan permata untuk dijadikan sebagai pasangan. Seperti Zico sang Cassanova yang justru tertaut pada gadis shalihah seperti Cellin, dan Zico berubah karena wanitanya.



Kiini, Meldy yang bertekad akan mencoba berubah karena Zico. Tanpa pernah Zico memintanya. Bukan merubah jati diri. Tapi memperbaiki diri agar lebih baik.



Meldy mengusap air matanya, ia lekas berdiri. Ada rasa syukur di hati Meldy, karena Zid yang akhirnya melepaskannya. Dan Zico tak melihatnya, beberapa hal tetap harus disembunyikan demi kebaikan. Meldy menyadari jika apa yang dilakukan Zid tak sepenuhnya salah, ia dalam pengaruh alkohol karena hatinya yang patah. Ia juga pernah merasakannya dulu. Jadi, Meldy tidak akan menceritakan kejadian ini pada siapapun. Karena jika Zico mengetahuinya, maka persahabatan mereka semua pasti akan hancur. Bahkan Zid juga mungkin akan melupakannya.



Meldy lekas masuk ke kamar mandi. Dia harus segara bersiap kembali, sebelum Zico datang.



Saat Meldy selesai membersihkan diri. Ia kebingungan mencari pakaian ganti. Meldy ingin memakai baju yang lebih tertutup, tapi tak ada. Semua bajunya menampakkan paha dan belahan dada rendah hingga mencetak garis dadanya sempurna.



"Aku harus membeli baju-baju baru yang lebih layak."



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Hari ini terlewati sesuai rencana. Meldy dan Zico melakukan fitting baju pengantin, lalu Meldy meminta pergi belanja. Dan dia membeli begitu banyak pakaian yang lebih sopan. Tentu saja itu membuat Zico tersenyum senang. Tanpa ia minta, Meldy ingin berubah.



Selama melakukan kegiatan. Tangan keduanya seakan tak pernah terlepas. Meldy menepis ingatan kejadian naas tadi pagi, dan selama sehari bersama Zico ini. Ia terus terlihat ceria dan bahagia.



**Malam**.



"Aaahh? Aku lelah sekali." keluh Meldy saat dalam perjalanan pulang.



"Mau kupanggilkan tukang pijit?" Zico menawarkan. Mereka sudah sepakat untuk saling menjaga sampai mereka sah. Yah, meski itu sangat sulit, dengan kekuatan otak 21\+ yang sama-sama besarnya. Tapi sampai saat ini. Mereka bisa menahan.



"Aah? Tidak." Meldy menggeleng.



"Bagaimana kalau kita pergi spa? Dan pijit bersama besok?" Meldy menawarkan ide.



"Tentu!" jawab Zico sambil tersenyum.



Meldy pun melingkarkan tangannya pada lengan Zico yang tengah menyetir, dan Meldy menjatuhkan kepalanya pada bahu Zico.



"Terimakasih, terimakasih sudah mencintaiku, terimakasih sudah memilihku." lirih Meldy tulus. Dan Zico mengecup pucuk kepalanya sebagai hadiah. Sangat indah.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...