LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bab 16



Ketika diri mulai muak dengan tuduhan Dunia. Tetaplah tegar, masih banyak rintangan . Jangan jadikan muak akhir dari semua.


Dalam kelasnya, gadis bermata sipit itu hanya diam terduduk. Mata yang masih berkaca-kaca menatap lurus ke depan. Pikirannya berkecamuk mencari siapa yang tega terhadapnya. Sementara teman sekelasnya menatap gadis itu dengan tatapan tajam.


"Na... ini minum dulu." Kata Natasha sambil menyodorkan air.


Sedang gadis itu masih saja terdiam. Kaca yang ada di matanya mulai pecah kembali, ketika ia mendengar umpatan dari teman sekelasnya.


"Na.... jangan gini..." sambung Natasha yang langsung memeluk sahabatnya itu.


"Sha... hiks.. hiks.. aku gak seperti yang mereka bilang hiks.. hiks..." ucap Aina dengan air mata yang tertumpah.


"Udah Na... udah.. gue percaya sama loh." Kata Natasha sambil mengelus rambut sahabatnya itu.


"Udah... jangan nangis lagi. Loh gak salah kok Na. Mereka yang ngelakuin itu cuman iri sama loh." sambungnya.


"Hikss... hmmm iyah Sha.. makasih." Kata Aina sambil mengusap air matanya mencoba tersenyum.


"Emm gini dong hehe. Nih minum dulu." ucap Natasha.


Gadis itu langsung meneguk habis air tersebut. Rasa syok yang ia alami sedikit mereda karna sahabatnya. Umpatan yang keluar dari mulut mereka mulai ia rasakan sebagai lagu biasa.


"Sha... aku heran. Siapa ya yang tega fitnah aku ." Ucap gadis itu.


"Emm gue gak tau Na. Udah ahk gak usah di pikirin." Jawab Natasha.


"Tapi... sebenarnya gue curiga sama satu orang." Sambungnya menatap tajam Aina.


"Siapa Sha? Tanya Aina.


"Gini yah Na... loh ingat gak kejadian kemaren yang gue di marahi papah gue." Ucap Natasya.


Aina hanya mengangguk perlahan.


"Asal loh tau ternyata yang ngirim tuh foto sama fitnah gue si kunti. Emm.. sekarang tentang kejadian loh, bukannya gue mau fitnah dia atau apa ya. Gue curiga sama dia, soalnya dia tuh kan benci banget sama loh dan kejadian kemaren tuh, udah jadi bahan pendukung kalo dialah yang fitnah loh". Sambungnya.


"Masa sih Sha... Kenapa Lisha sampai setega itu . Aku salah apa sama dia." Kata Aina bingung.


"Emm itu cuman curigan gue ajah Na. Gak usah di pikiran akh. Tuh ibu Ros udah mau masuk." Kata Natasha sambil menunjuk ke arah pintu kelas.


Trinnggkkk...!!


Dari jauh tampak seorang gadis berjalan keluar gerbang SMA Jaya Putra. Gadis itu tampak hanya fokus ke handphonenya mencoba untuk tidak memperdulikan tatapan sinis orang di sekitarnya.


¤"Dev, kamu dimana? Kamu jemput aku kan."


Think.!


¤"Iyah Na.. Aku udah mau OTW."


Yh itu adalah pesan singkat dari kekasihnya, Devan. Hari ini Aina tak sanggup untuk naik bis. Bukan karena lelah melainkan ia butuh sandaran kepada seseorang.


Tak lama kemudian sebuah motor butut singgah di depannya. Aina hanya berusaha tersenyum kepada pengendara itu dan menahan semua kesedihan yang ia rasa.


"Na.. maaf lama ya. Bensin aku tadi habis untung aja tadi dekat sama pertamina." Kata pria tampan itu.


"Gak papalah Dev. Yuk jalan. Kita singgah di taman dulu yah." Ucap gadis itu.


Devan hanya membalas dengan senyumannya. Ia tau betul bahwa Aina pasti sedang ada masalah.


Mereka pun menyelusuri jalanan ibu kota itu dalam keadaan hening.


"Turun Na.. udah sampai." Ucap Devan lembut.


"Ahh..? Udah sampe ya hehehe." Ucap Aina.


"Kita duduk di sana dulu Dev." Sambungnya sembari menunjuk salah satu kursi taman.


"Kamu kenapa Na?Tanya Devan Khawatir.


"Tadi di sekolah aku ribut. Aku... aku di tuduh jadi ****** Dev... hiks hiks." Ucap Aina tak dapat membendung air matanya.


"Siapa Na yang bilang begitu?Tanya Devan emosi.


"Mereka salah paham Dev. Aku kemaren jalan sama papa di mall terus ada yang buntutin. Dia fotoin aku terus nyebarin berita palsu." Jelas Aina.


"Kamu gak papa kan Na. Jangan sedih ya kamu kan gak salah." Ucap Devan menenangkan kekasihnya tersebut.


"Iyah Dev... makasih."kata Aina.


Mereka pun menanti senja di taman tersebut. Hiburan yang Devan hadirkan untuk Aina membuat gadis itu sedikit melupakan masalahnya.


"Aina.. pulang yuk ini udah sore. Aku juga harus ke rumah sakit." Kata Devan


"Yh udah Dev. Yuk.."Ucap Aina tersenyum.


Dalam perjalanan pulang Devan terus saja mengoceh untuk menghibur kekasihnya. Ia tak bisa melakukan apapun terlebih lagi kesibukannya sebagai Direktur Rumah Sakit. Motor bututnya terhenti di sebuah rumah mewah nan megah milik orang tua angkat Aina.


"Na... jangan sedih lagi yah. Kalo ada apa-apa telpon aku. Ok." Ucap Devan.


"Iyah Dev..." jawab Aina dengan penuh senyuman.


"Ya udah aku pergi yam Selamat sore Ainanya Devan hehehe." Kata Devan sedikit menggoda.


"Ih apaan sih kamu." Ucap gadis itu dengan pipi memerah.


Aina pun melihat motor butut itu menjauh dan menghilang dari pandangannya. Ia segera memasuki rumah baru nya tersebut. Raut wajahnya tak sedikitpun menampakkan kesedihan. Aina tak ingin merepotkan orang tua angkatnya. Ia lebih memilih memendam sendiri masalah yang ia hadapi.


"Aina... udah pulang nak." Ucap Mamanya memeluk gadis tersebut.


"Mama khawatir tadi mama kira kamu kenapa di jalan." Sambungnya.


"Emm maafin Aina Mah. Aina tadi ke taman dulu sama teman." Kata Gadis itu.


"Gak papa Na... yang penting kamu udah pulang." Kata mamanya.


"Yah udah Mah, aku mau ganti baju dulu sekalian mandi hehehe. " kata Aina sambil berlari ke lantai atas kamarnya.


Mamanya hanya geleng-geleng dan tersenyum melihat tingkah anak gadisnya itu. Wanit paruh baya itu seakan beruntung mendapatkan anak angkat sebaik dan secantik Aina.


Selang beberapa menit, Aina pun turun dan menghamipiri kedua orang tua angkatnya tersebut di ruang keluarga.


"Papa... kok tumben pulang cepat." Kata Aina yang langsung duduk di samping mamahnya.


"Emm... di kantor lagi gaknbanyak urusan." Jawab Papanya.


"Huuuhh... bohong tuh Na. Papa kamu sengaja gak lembur cuman karena mau makan malam sama kamu." Kata mamanya.


"Ih mamah ember." Ucap papanya.


Aina pun hanya bisa tertawa melihat kedua orang tua angkatnya itu.


"Gimana kalo kita makan malam di restoran ajah. Suasana baru gitukan." Ucap papanya.


"Mama gak setuju akh. Bagusan juga kalo di rumah." Kata Mamanya.


"Aina ikut ajh Pah." Jawab Aina.


"Ihh Aina... ya udah kalo gitu mama juga ikut.' Ucap mamanya itu.


"Oke deal. Ayok ke mobil."kata papanya beranjak dari tempat duduk.


Keluarga itu pun menembus dinginnya malam dengan kehangatan yang mereka ciptakan. Tenang dan bahagia itulah yang ada di hati seorang Aina. Namun di dalam lubuk hatinya ia sangat merindukan keluarga kandungnya.


Mobil yang membawa mereka pun terhentih di salah satu restoran bintang lima.


"Pesan apa Mah."kata papanya Aina.


"Samain ajh sama Papa. Kalo kamu Na? Tanya Mamanya.


"Aku juga samain aja mah." Ucap gadis itu.


Sekitar 10 menit mereka menunggu pesannya datang. Keluarga itu pun menikmati makan malam dengan canda dan tawa. Senyuman lebar jelas terpancar di wajah mereka.


"Mama mau ke toilet dulu ya. Kebelet." Ucap mamanya beranjak dari tempat duduk.


Aina dan Papanya hanya tertawa mendengar hal itu.


Dari jauh tampak di pojok meja restoran itu seorang wanita yang sedang memperhatikan Aina. Ia menutupi mukanya agar tak terlihat oleh siapapun.


"Na... makan ini enak banget nih." Ucap papanya sambil menyuapi Aina.


"Emm... enak pah..." kata Aina tersenyum.


Ckrek.! Ckrek.!


Aina merasa ada seseorang yang membuntutinya. Dia merasa tidak tenang dan berusaha menelusuri tiap sudut restoran itu dengan matanya.


"Kamu kenapa Na...?" Tanya papanya.


"Emm...kayaknya ada yang buntuti aku lagi Pah." Ucap Aina sambil sesekali melirik semua meja yang ada.


"Gak usah dipikirin Na. Kamu kan gak ada berbuat salah." Kata Papanya mencoba menenangkan.


Aina mencoba untuk tenang dan berpikir positif. Betul juga kata Papanya untuk apa dia khwatir jika ada yang membuntutinya. Tanpa di sengaja kepala gadis cantik itu berputar melihat ke belakang.


"Lisha...." gumam Aina pelan.


Ya itu adalah teman sekelasnya, Lisha. Namun, kali ini Lisha hanya sendiri tidak bersama kedua sahabatnya. Ia hanya berlalu melewati meja makan Aina.


"Na.. Aina.." ucap Papanya sambil melambaikan tangan di depan wajah Aina.


"Aina kenapa Pah? Kata Mamanya yang langsung duduk dari toilet.


"Ini Mah melamun ajah dia." Jawab Papanya.


"Gak kok Mah.. hehehe." Ungkap Aina.


Kedua orang tuanya itu hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Mereka sadar bahwa aina pasti sedang memikirkan sesuatu. Namun mereka belum berani menanyakan hal tersebut.


"Udah kenyang nih Pah." Kata Mamanya.


"Iyah Mah ayok balek hahah." Sambung Papanya.


"Ayok Pah. Aina juga ngantuk hehehe." Tambah Aina.


Merekapun meninggalkan restoran itu dan bergegas menikmati udara malam. Angin malam itu membawa mobil mereka kembali ke rumah mewah dan megah tersebut.


Tringgkkk...!!!.


" Sha... tungguin aku." Teriak seorang gadis berlari di koridor.


Gadis bermata coklat itu langsung berbalik menatap sumber suara itu. Senyuman lembut dia berikan kepada gadis yang mendekatinya itu.


"Ehh lihat itu si cupu ternyata bener dia ******."


"Iyah... iss jijik gue lihat fotonya."


Aina mendengar sangat jelas ocehan mereka. Dia hanya terdiam dan terus berjalan.


"Ahh..." rintih Aina yang bahunya seperti terasa di tumbur tembok. Ya itu Lisha yang menyenggolnya.


"Eh kunti. Apa-apaan loh nyenggol Aina." Ucap Natasha.


"Natasha sepupu gue yang paling imut loh itu kudet atau apa sih. Masa loh gak tau foto terbaru sahabat loh ini lagi suap-suapan sama om-om hahaha." Jelas Lisha.


"Betul tuh. Loh yang kemaren belain si ****** nih loh lihat foto mereka.Tapi sayangnya wajah si om-om nya itu gak jelas gitu." Sambung Nada memberi selembar foto kepada Natasya.


"Eh cupu ternyata loh itu emang gak ada akhlak ya." Kata Lisha mendorong pelan Aina.


"Maksud kalian apa?Aku bukan ******!." Ucap Aina membantah.


Natasha yang melihat hal itu hanya terdiam. Ia tak tau harus berkata apa. Dia tak berani lagi membela sahabatnya. Di foto itu jelas terpampang perbuatan Aina.


"Alah gak usah bacot loh ya." Bentak Lisha.


"Maling mana ada yang ngaku." Sambungnya.


Aina hanya menangis mendengar perkataan mereka. Ia sekarang menjadi yakin bahwa memang Lisha yang membuntutinya.


"Eh ada apa lagi ini. Bubar ayok bubar." Teriak Ibu Ros.


"Pas ibu datang. Kemaren kan ibu gak percaya sama kami. Ini ibu lihat buktinya yang lebih jelas." Ucap Miska memberi selembar foto tadi.


"Apa-apan ini Aina?? Apa ini ha?Kamu mau permaluin nama sekolah ini ha??Ucap Ibu Ros geram.


"Pokoknya sekarang kamu ikut Ibu ke ruang kepala sekolah." Sambungnya.


"Betul tuh buk. Bikin malu ajh tau. Keluarin ajah dia Bu." Tambah Nada.


"Iyah buk keluarin Aina huuuuuuuhhh...." sorak mereka.


"Ayok cepatan ikut ibu." Sergah Ibu Ros.


Aina hanya terdunduk mengikuti langkah wali kelasnya itu.


Sampai di ruang kepala sekolah Aina hanya terdiam tak berani mengeluarkan sepatah katapun. Ia takut jika harus melibatkan dan merepotkan Papanya. Namun jika terus begitu maka pasti dia akan mencoreng nama baik keluarga barunya.


"Saya minta kamu telpon papa kamu dan suruh datang ke sekolah ini." Perintah kepala sekolah .


"Ta..ta..tapi pak." Ucap Aina terbata.


"Cepat telpon dia.!!" Sergah kepala sekolah itu.


Aina mengeluarkan hanphonenya dan segera menelpon Papanya itu.


"Pah... hiks... hiks... papah datang ke sekolah. Kepala sekolah manggil pah... hiks... hiks.." ucap aina.


Dia pun mematikan telpon itu setelah mendengar jawaban dari papanya.