LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bab 13



Gadis itu tertidur setelah kelelahan menangisi nasib hidupnya.


Berbeda halnya di sebuah ruang keluarga mereka nampak membicarakan sesuatu penting.Ya mereka keluarga Leonardo.


"Yah,gimana rencana kita tentang penjualan Aina?"tanya Rita Leonardo kepada sang suami.


"Aku udah hubungin teman ayah itu,katanya dia ingin bertemu dulu sama Aina".jelas tuan Leonardo.


"Kita harus cepat-cepat mempertemukan mereka,soalnya keuangan kita menipis banget yah".ketus Rita yang terus memaksa sang suami.


"Iya bu bentar aku hubungin temen ayah itu dulu".sambung tuan Leonardo kepada istrinya.


Lain halnya dengan Revan Alexandra Leonardo ia hanya diam.


Berbeda dengan ibu sambung nya itu.Ia sungguh tega menjual putri kandungnya sendiri.Entah apa yang ada dalam pikiran wanita paruh baya itu.Ia sangat tega menjual anaknya sendiri.


Tak lama berselang waktu tuan Leonardo kembali setelah menghubungi temannya itu yang ingin membeli putrinya.


"Bu kata teman ayah besok siang dia ingin kemari bertemu sama Aina".jelas tuan Leonardo pada istrinya.


"Bagus dong yah.Semakin cepat semakin bagus".jawab nyonya Rita kepada sang suami sambil tersenyum.


Pukul 17.00


Seorang gadis terbangun dari tidurnya,ia sangat kelelahan sampai tak sadar ternyata ia tidur cukup lama.Ia pun beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah itu ia pun bergegas keluar dari kamarnya dan sorot matanya melihat mereka yang terlihat bahagia tanpa dirinya.Ya mereka itu keluarganya sendiri.Keluarga Leonardo.


Gadis itu tak memperdulikan mereka,ia hanya terus berjalan menuju dapur karena ia merasa lapar.Langkahnya terhenti ketika salah satu dari mereka memanggilnya.


"Heh pembawa sial,kemari kamu dulu".panggil sang Ayah dengan tegas.


Ia pun menoleh dan hanya mengikuti apa kata ayahnya.


"Ada apa Ayah?tanya gadis itu Aina Khanza Leonardo.


"Besok siang ada temen Ayah yang mau ketemu sama kamu".jelas tuan Leonardo kepada putri nya itu.


"Hah?mau ngapain temen Ayah ketemu sama aku?tanya Aina dengan penuh keheranan.


"Besok aja kamu tau".sambung nyonya Rita Leonardo.


Di dalam diri gadis itu hanya kepasrahan yang ia miliki.Ia tidak mau membantah kepada kedua orang tuanya.Meskipun orang tuanya tidak mengharapkannya,tapi menurut gadis itu orang tua ya tetap orang tua.Dia yang ngelahirin kita.Jadi kita harus menghormatinya.


.


.


Telihat seorang gadis tengah bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.Hari ini sang kekasih tak menjemputnya karena sedikit ada urusan.


Makanya ia berangkat pagi-pagi di karenakan harus berjalan dulu menuju halte bis.


Pagi yang cerah gadis itu berjalan menikmati cuaca di pagi ini.Beban di pikirannya pun sedikit menghilang.


Tak terasa ia berjalan,ia pun sampai di halte bis.Sekitar 5 menit ia menunggu,sebuah minibus datang.Ia lalu duduk di dekat jendela,yaa itu merupakan tempat duduk favoritnya.Di mana ia bisa melihat pemandangan di luar sana dan juga beban yang ia pikul selama ini perlahan sedikit menghilang.


SMA JAYA PUTRA


Ia berjalan melewati beberapa koridor.Sesekali telinga nya itu mendengar ocehan-ocehan di sepanjang koridor.Tapi ia tak peduli.Ia terus melangkahkan kaki mungilnya itu menuju kelasnya.


"Ainaaa".panggil Natasha teriakk.


"Apaan sih Sha,lebay deh".celetuk Aina.


"Hehehe...biarin yang penting sahabat gue udah masuk sekolah".ketus Natasha dengan senyumannya.


"Eleehh persahabatan luh berdua alay banget tau gak.SAMPAH!!!"sambung Lisha dengan sinis.


"Heh kunti,bilang aja kalo luh iri sama persahabatan gue sama Aina,iyakan?jawab Natasha yang tak mau di kalah.


"Aduhhhh ngapain gue iri sama kalian.Gak ada untungnya kali".jawab Lisha sambil tersenyum.


"Udah..udah Sha.Gak usah ladenin dia".ujar Aina yang menenangkan sahabatnya itu.


Ia pun menarik tangan Natasha menuju tempat duduknya.


Tak lama itu bel berbunyi.Pelajaran mereka pun di mulai dalam keadaan hening sesekali ada yang bersuara.Entah itu menjawab pertanyaan dari guru maupun mereka bertanya tentang pelajaran yang mereka tak mengerti.


.


.


Para siswa/siswi bersorak ria ketika bel pulang berbunyi.Mereka berhamburan keluar dari kelas dengan wajah yang bahagia.Siapa yang tidak bahagia coba kalo bel pulang berbunyi,iyakan?


Tapi berbeda halnya dengan seorang gadis bermata sipit yang berjalan dari kelasnya dengan wajah yang lesuh.Tak ada kebahagiaan terpancar sedikit pun di wajah gadis itu.Mungkin ia sudah di takdirkan seperti ini?


Gadis itu Aina Khanza Leonardo.Di dalam pikirannya ia terus memikirkan perkataan kedua orang tuanya kemarin.Ia takut terjadi sesuatu pada dirinya.Sudah cukup ia merasakan penderitaan hidupnya selama ini.


Lamunannya terhenti ketika ponselnya berbunyi.


Think..°sebuah pesan singkat dari ibunya°


" Cepat pulang,teman ayah kamu udah mau datang".


"Iya Bu".balas Aina.


Tak lama itu Natasha memanggilnya.


"Na,gue anter loh pulang ya".ujar Natasha menawarkan Aina untuk mengantarkannya pulang.


"Gak usah Sha,gue bisa naik bis kok".jawab Aina.Ia memang tidak suka merepotkan orang-orang di sekitarnya.


"Pokoknya loh harus sama gue pulang,oke.Gak ada penolakan".sambung Natasha sambil menarik pergelangan tangan Aina menuju mobilnya.


Aina hanya pasrah dengan perkataan sahabatnya itu.


Di perjalanan mereka sesekali berbincang entah itu Natasha menanyakan tentang hubungan Aina dan Devan,begitupun Aina yang juga menanyakan tentang Natasha dan Devan sewaktu mereka kecil.


Kurang lebih 15 menit perjalanan,sebuah mobil Lamborghini tiba di depan rumah minimalis yang cukup sederhana.


"Na,gue cabut dulu yaa..by..byy"ucap Natasha.


"Iya Sha,makasihnya udah anter gue pulang".sambung Aina dengan senyumannya.


"Iyaa Na sama-sama".sambung Natasha.


Natasha pun langsung meninggalkan rumah itu.


.


.


Gadis itu memasuki sebuah istana kecilnya.Terlihat di ruang keluarga Ayah,Ibu dan kakanya sedang berbincang-bincang dengan seseorang entah itu siapa.Gadis itu hanya melewati mereka dan langsung menuju kamarnya.


Ia membersihkan dirinya,setelah itu ia merebahkan tubuhnya di sebuah ranjang kecil.Ia menutup matanya dengan perlahan melupakan sedikit beban di pikirannya.Gadis itu membuka matanya ketika ia mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Ehh ibu,tumben ke kamar aku".ujar gadis itu dengan raut wajah bahagia.Bagaimana tidak ibunya datang menghampirinya di kamarnya.Sungguh hal yang langkah dalam hidupnya.


"Cepat siap-siap.Pakai baju yang bagus ya.Teman ayah udah dari tadi di bawah nungguin kamu".jelas nyonya Rita Leonardo.


Gadis itu pun hanya mengangguk dengan ucapan ibunya.Lalu ia menutup kamarnya.


Ia sangat kecewa,kebahagiaan tadi hanya angan belaka yang ada di pikirannya.Ternyata ibunya cuma memanggilnya hanya untuk memberitahukan kalo teman Ayah udah nunggu.


Sungguh gadis yang malang.Ia pikir ibunya akan memberikan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang belum pernah ia rasakan selama hidupnya ini.Tapi nihil itu hanya halusinasi yang ia tidak akan pernah merasakan itu.


Di sinilah Aina Khanza Leonardo di sebuah ruang keluarga.Nampak ada seorang wanita paruh baya yang mungkin seumuran dengan Ibunya dan juga seorang pria yang seumuran dengan Ayahnya.Ia berpikir mungkin ini teman ayahnya yang mau bertemu dengannya.


Ia pun menyalim kedua orang asing itu dan tak lupa ia sesekali tersenyum kepada mereka.


"Hai nak cantik.Kamu yang namanya Aina?tanya wanita paruh baya itu sambil tersenyum.


"Iyaa tante saya yang namanya Aina".jawab Aina dengan sopan.


"Oiya nak Aina kenalin nama tante Mita Bramana dan ini suami tante (sambil memegang pundak suaminya) namanya Ardi Bramana".jelas nyonya Mita Bramana dan tak lupa ia tersenyum.


"Iya tante Mita dan om Ardi,kalo boleh tau kenapa ya tante dan om mau ketemu sama saya?tanya Aina.


"Ehm begini Aina,ayah akan jelaskan semuanya kepada kamu".sambung tuan Leonardo kepada putri nya itu.


Ia pun menjelaskan semuanya kepada gadis yang malang itu.Sedangkan gadis itu tak bisa lagi membendung air matanya dengan ucapan ayahnya.Hanya air mata yang bisa gadis itu keluarkan setelah mendengar semua penjelasan dari ayahnya sendiri.


Gadis itu pun berlari meninggalkan mereka semua menuju kamarnya dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.Ia lalu menutup pintu kamarnya dan termenung memikirkan hidupnya.


"Cobaan apa lagi ini Tuhan?


Apakah engkau takdirkan aku di dunia ini untuk hidup penuh dengan kesengsaraan?


"Apakah engkau tidak bisa memberikan aku sedikit saja kebahagiaan?


"Mengapa Tuhan engkau selalu memberikan aku cobaan di luar nalar?


"Entah aku sanggup atau tidak melewati semua takdir yang engkau berikan kepadaku".


"Cukup hanya engkau yang mengetahuinya".gumam gadis itu yang hanya pasrah dengan nasib hidupnya.


Ia pun berjalan keluar menuju ruang keluarga.Ia sudah mengambil keputusan pada dirinya.Apapun keputusan yang ia ambil ia akan menanggung resikonya sendiri.


"Saya akan ikut kepada nyonya Mita Bramana dan Tuan Ardi Bramana".ucap Aina dengan penuh keberaniaan di depan mereka.


Mereka pun kaget mendengar ucapan gadis itu terlebih kepada nyonya Mita Bramana dan tuan Ardi Bramana.


"Apakah kamu yakin dengan keputusan yang kamu ambil nak?tanya nyonya Mita Bramana kepada Aina.


"Iyaa tante saya sudah yakin dengan keputusan yang saya ambil.Ini semua demi kebahagiaan keluarga saya. Apapun akan saya lakukan asalkan keluarga saya bahagia walaupun tanpa kehadiran saya".jelas Aina dengan menahan air matanya.Ia tak mau terlihat sedih di depan keluarganya.


"Oke nak kalo itu keputusan kamu".sambung tuan Ardi Bramana.


"Iyaa om,tapi saya mempunyai satu permintaan sebelum saya pergi bersama om dan tante".ucap Aina.


"Permintaan apa itu nak?tanya nyonya Mita Bramana.


"Sekarang saya belum bisa ikut dengan om dan tante.Saya butuh waktu dulu untuk meninggalkan rumah ini.Mungkin sekitar dua hari saya akan pindah ke rumah om dan tante".jelas Aina kepada sepasang suami istri itu yang selalu tersenyum kepadanya.


"Iyaa gak papa nak,terserah kamu aja.Tante juga ngerti pasti kamu berat untuk tinggalkan rumah ini".ujar Mita Bramana sambil mengelus rambut sang gadis yang ada di hadapannya itu.


"Makasih ya tante".jawab Aina dengan senyuman.