LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 72





"Dia pasti akan menyelamatkanku, dan kalian akan habis ditangannya.!" Suara Syeira pelan namun sangat menantang.



"Aaahh.?"



Leon menjambak semakin keras rambut Syeira. Membuat Syeira meringis kesakitan. Tangan Syeira yang berusaha melepas tangan Leon dari rambutnya di pegang kuat oleh Leon.



"Jangan menantang ku, aku bahkan bisa membunuhmu sekarang juga.!"



"Kau tidak bisa melakukannya. Jika aku mati, kau tidak akan memiliki kesempatan untuk selamat.!"



Leon melepas kasar rambut Syeira, Syeira kesakitan dan memegangi kepalanya yang terasa panas.



"Leon.! Mr. RG datang, dia mencarimu.!"



Seorang pria yang baru datang melapor. Leon dan Syeira saling menatap tajam, lalu Leon segera pergi dari sana meninggalkan mereka.



Jam menunjukkan pukul 12 siang, beberapa orang bersenjata datang membawakan makanan. Dalam waktu sehari semalam, para gadis itu hanya dapat makan satu kali di siang hari, itu bertujuan agar tubuh mereka semakin lemah tak bertenaga agar memudahkan mereka untuk dibawa tanpa perlawanan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Aaahhh.!"



Arend berteriak kesal, ia tak mampu memecahkan kode tempat itu berada, bahkan laptop Zid kini terserang virus hingga berasap.



Zid segera mengeluarkan chip nya. Itu adalah satu-satunya barang bukti mereka, jangan sampai hangus.



Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.



Arend kembali memainkan ponselnya.



"Kita berangkat sekarang, Uncle Rain akan landing sebentar lagi.!"



Arend berbicara pada Zid. Ia bergerak tergesa, membawa laptop miliknya, karna laptop Zid sudah hangus tak bisa di gunakan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Leon dan beberapa pria bersenjata kembali memasuki ruang, terlihat Syeira mulai akrab dengan para gadis disana.



Syeira meyakinkan mereka jika semuanya pasti akan selamat, memberikan harapan kepada mereka agar kembali semangat.



Syeira menoleh cepat kala Leon dan yang lain datang, para gadis kembali mundur. Menyisakan Syeira yang berdiri seorang diri di depan mereka.



Tanpa kata, Leon menarik tangan Syeira, untuk ikut pergi bersamanya. Syeira tidak melawan, percuma, tenaganya tidak akan mampu mengalahkannya.



"Kemana kau akan membawaku.?"



Syeira mulai panik, Dua anak buah Leon mengikat kedua tangan Syeira, kedua kakinya, dan menutup mata serta melakban mulutnya.



Lantas mereka memasukkan Syeira kedalam mobil, dan pergi dari sana.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Uncle Rain.?"



Arend memeluk Rain yang baru datang dan turun dari pesawat. Lalu Arend berpindah memeluk Cen. Zid membungkukkan badan menyambut kedatangan Rain dan Cen.



Mereka melangkah, masuk kedalam sebuah mobil Limousin anti peluruh dan berfasilitas mewah nan canggih. Milik Rain Cosa.



Arend memberikan Chip itu pada Rain, menjelaskan jika ia tak mampu memecahkan satu kode tempat yang ada di sana.



Cen mengambil alih Chip itu lalu memeriksanya menggunakan Laptopnya.



"Tuan, Rain.? Ini kode yang sama.?"



"Apa maksudmu, Cen.?" Arend langsung bertanya.



Rain mengernyitkan dahi mengambil alih laptop yang di bawa oleh Cen.



"Hubungi orang-orang kita yang terdekat dari sana. Kita akan langsung melakukan penyerangan.!"



Rain mengembalikan laptop nya pada Cen. Dan Cen bergerak cepat menghubungi anak buah Klan Cosa.




Rain menggoda keponakannya. Sebenarnya, Rain melihat Arend sedikit bodoh jika berhubungan dengan Istrinya, membuat Rain tersenyum tipis mengingat dirinya sendiri yang begitu bodoh kala menghadapi Ineke.



"Apa maksudmu, Uncle.?" Arend mengernyitkan kening. Dan Rain semakin senang karna Arend sudah memanggilnya Uncle. Membuat Rain merasa semakin dekat dengan Ineke.



Rain tak menjawab, ia hanya tersenyum.



Rain meraih tas yang ada di atas meja dekat jendela mobil. Ia membukanya. Berisi beberapa senjatanya yang biasa ia gunakan berperang.



"Apa kau menggunakan senjata, Arend.? Atau kau seperti Aryan.? Maksudku,? Kau menggunakan atau tidak.?"



Arend terdiam, ia belum pernah sama sekali menggunakannya, dan dosa besar jika sampai ia membunuh orang, tapi ada yang harus ia selamatkan. Arend merasa ada alasan penting jika ia sampai melakukannya.



"Aku akan menggunakannya jika itu di perlukan." Jawab Arend mantap setelah memikirkannya.



Rain mengangguk, ia lantas memberikan satu senjata pada Arend, dan Zid.



Zid sempat terdiam, dia adalah mantan Nara pidana, preman kelas kampung, pernah membunuh tetangganya yang memp3rk0s4 adiknya dulu waktu di desa, hingga adiknya mati bunuh diri.



Arend melihat Zid yang masih terdiam dan pandangan matanya nanar. Rain hendak menarik kembali tangannya, tapi Zid segera meraih senjata itu dengan gerakan cepat.



Apa bedanya.? Dia juga akan menyelamatkan hidup para gadis-gadis itu, ia gagal menyelamatkan adiknya. Zid merasa kali ini adalah kesempatan keduanya, ia tidak boleh jika sampai gagal menyelamatkan gadis-gadis itu, meski ia tak mengenal mereka.



Rain mengajari Arend dan Zid secara kilat cara menggunakan senjata itu.



Mobil terus melaju, Cen sudah mendapatkan alamat berkode itu yang sama dengan yang dulu pernah ia pecahkan. Klan RG.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Alamat yang berkode itu adalah suatu daerah industri mati, memang tidak jauh dari pusat kota, itu terletak di pinggiran. Dan banyak bekas pabrik tak lagi terpakai di sekitarnya, yang membuat daerah itu sangat pas untuk di jadikan markas oleh anak buah Klan RG yang berpusat di Italy. Karna sepi dari penduduk.



Cen menggunakan kamera drone, ada sebuah bom yang terpasang disana. Cen mengamati lokasi melalui layar laptop yang terekam oleh kamera.



"Kita akan melakukan penyerangan dari arah Utara, Tuan Rain. Pasukan kita sudah stand by. Akan saya jatuhkan bom itu di area selatan, itu akan memancing anak buah Klan RG mendekat ke arah ledakan, dan kita bisa menyerang dengan lebih mudah.!" Cen menjelaskan.



"Klan RG.? Siapa itu.?" Arend kembali bertanya, sejak tadi dia belum mendapatkan satu pun jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya.



"Mr, RG. Dia sudah pernah berurusan denganku, tapi aku membiarkannya dulu, karna aku tak ingin lagi berurusan dengan negara yang mengingatkan ku dengan aunty mu. Tapi kini takdir akan mempertemukan kami kembali. Dia juga yang ternyata mengadu domba antara aku dengan Tuan Nostra, orang yang di panggil Aunty mu Om Akbar, ayah Cassy, yang membuat persahabatan keluarga kami pecah. Sekarang saatnya pembalasan."



Jawab Rain yang kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran jok, memejamkan mata mencari ketenangan, semua ini justru mengingatkan Rain kembali pada Ineke. Rindu itu terlalu indah untuk sirna.



Arend masih tidak begitu mengerti dengan beberapa poin yang Rain katakan padanya, tapi yang Arend paham, jelas mereka punya urusan lama yang belum selesai, dan kini ada Syeira yang menjembatani pertemuan 2 Klan Mafia itu.



Arend tidak lagi bertanya, meski ia sangat ingin, apa lagi membahas tentang aunty nya. Tapi melihat Rain yang bersandar dan memejamkan mata. Arend akhirnya memilih diam.



Mobil telah sampai di jalan sempit, mereka semua turun, meninggalkan Cen yang ber aksi dari mobil. anak buah Klan Cosa sudah bersembunyi di titik-titik tertentu.



Cen menyiapkan 3 drone, semua sudah di berikan bom, dengan menjatuhkan bom tanpa kendali, maka bom otomatis meledak.



Arend, Rain dan Zid, mereka sudah siap dengan Clip on dan earphone yang tersambung antara satu sama lain, tapi Cen lah yang menjadi panglima perang, mereka semua akan bergerak atas perintahnya, karna Cen bisa melihat situasi sekitar dengan drone nya.



"Cosa, On. Dalam hitungan 5 detik mundur, bom pertama akan meledak di sisi selatan, setelah terdengar bom meledak, langsung melakukan penyerangan dari Utara, dan pasukan menyebar ke sayap kiri dan kanan. Siap.?"



"Siap.!"



"Siap."



"Siap.!"



"5-4-3-2-1."



"***BOOOMMM***!"



"Go.!"



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Author mau minta maaf, karna author tadi liburan akhir tahun 😁😁 ini sudah sampai rumah, langsung semangat ngetik lagi. 😅🙏🙏



![](contribute/fiction/3747165/markdown/23363190/1640945852331.jpg)