LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 111





Syeira menyiapkan baju ganti Arend. Ia menatanya di atas ranjang. Syeira lantas mengambil handuk bersih yang baru dari lemari. Satu kebiasaan buruk kecil Arend. Sering lupa bawa handuk ke kamar mandi.



Arend membuka pintu kamar mandi sedikit, ia mendongakkan kepala ingin melihat situasi kamarnya. Karna ia lupa membawa handuk. Tapi Arend berhenti, ia sedikit kaget kala Syeira sudah berdiri di sana. Dan Syeira mengulurkan tangan memberikan handuk pada Arend dengan berdiri membelakangi pintu kamar mandi.



Arend terpaksa menerima bantuan Syeira. Ia tidak mungkin akan berteriak memanggil Zico. Apalagi keluar dari kamar mandi tanpa handuk.



Dengan gerakan cepat Arend meraih handuk itu dari tangan Syeira. Dan Arend kembali menutup pintu kamar mandinya.



"Bisakah kau keluar dari kamar.? Aku ingin mengganti baju.!" Arend berteriak dari kamar mandi. Syeira menghembuskan nafas kasar. Dan ia lekas pergi tanpa menjawab teriakan Arend.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Zid baru saja selesai memimpin rapat para staf *N~A Cell*. Rencananya malam nanti ia akan datang ke apartemen Arend untuk berkunjung. Bos nya itu kembali bersikap sangat kaku padanya seperti awal mula pertemuan mereka dulu. Dan tentu itu membuat Zid merasa tidak nyaman. Ia harus kembali menjalin hubungan secara baik dengan sang Tuan CEO.



Meldy merapikan tumpukan berkas. Lalu ia membawanya. Untuk segera di bawa ke ruang arsip.



"Biar aku yang bawa.!" Zid mengambil alih tumpukan berkas itu.



Meldy tak sempat menghentikannya. Karna Zid sudah bergerak cepat dan bahkan sudah mengangkat setumpuk map itu.



"Dimana ini harus di simpan.?" Zid berpura-pura bertanya. Berharap Meldy akan mengantar, berjalan bersamanya meski hanya sekedar menemaninya menyimpan berkas-berkas. Yang penting bisa lebih lama bersama Meldy.



Dan berhasil. Meldy melangkah menunjukkan tempat arsip pada Zid.



Zid dan Meldy telah sampai di ruang arsip. Kini mereka berdua menata bersama map-map itu dengan rapi di tempatnya.



"Aku tidak pernah melihat Zizi.!" Meldy memberanikan diri bersuara menanyakan keberadaan Zizi. Sudah sangat lama Meldy tak pernah melihatnya lagi.



"Dia sudah berhenti dari *N~A Cell*. Dia kurang nyaman bekerja disini.!"



"Lantas.? Dimana dia sekarang.?!"



Zid tersenyum lalu menggeleng. Mereka sudah selesai menumpuk berkas-berkas itu.



"Apa maksudmu, Zid.?"



"Kami terus bertengkar. Dan dia memilih untuk mengakhiri semuanya. Kami sudah berpisah.!" Ucap Zid. Ia lantas melangkah lebih dulu keluar dari ruang arsip.



"Kau sendiri bagaimana dengan DK.?"



"Hah.? Ah.? Emh.? Baik.!" Jawab Meldy singkat, menyiratkan seakan ia memiliki hubungan dengan Penyanyi tampan itu.



Zid tersenyum kaku dan mengangguk beberapa kali.



"Semoga kalian bahagia.!"



Zid lantas melangkah cepat meninggalkan Meldy yang masih di belakangnya. Hatinya nyeri saat ia dan Meldy membahas tentang hubungannya dengan DK.



Meldy berhenti melangkah, menatap punggung Zid yang semakin menjauh dengan tatapan nanar.



'*Andai kau tahu Zid. Aku selalu merindukanmu meski telah kucoba untuk bisa melupakanmu, aku masih mencintaimu, Zid. Tapi luka yang kau torehkan padaku, aku tak mampu tuk mengobatinya. Itu terlalu dalam dan terlalu sakit*.'



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Baiklah, Papah sama Mamah pulang dulu, Uncle Rain ingin berada disini lebih lama. Kei, kau ikut saja bergabung disini. Biar tidak terlalu jenuh di rumah terus.? Dan kau bisa ikut balik Uncle Rain nanti.!"



Aryan bicara pada semua orang. Cen sudah berdiri. Selama di tanah air, Cen kini menjadi bodyguard pribadi Aryan. Mengikuti perintah Rain.



Kini di apartemen Arend tinggal ada Arend, Syeira, Zico, Rain dan Mikaila.



Arend menatap tajam pada Rain yang juga memberikan tatapan sama halnya pada Arend. Mereka seperti 2 ekor singa yang akan berduel.



"Aaah.?" Terdengar teriakan Syeira dari dapur. Semua orang menoleh.



Syeira meniupi sendiri jari jemarinya yang terasa panas. Ia ingin membuat teh untuk semua orang. Tapi dia masih juga tak pandai dengan urusan dapur.



"Ra.? Tanganmu kenapa.?" Zico lekas mendekati Syeira. Melihat tangan Syeira, Zico lalu menarik Syeira menuju wastafel dan mencuci tangan Syeira dibawah aliran air yang mengalir.



'*Deg*.!'



Jantung Arend berdetak hebat, seperti ada sesuatu yang sakit yang terasa didalam hatinya.




Zico tersenyum ceria. Melihat Arend dengan tatapan berbinar.



"Hey. Kau cemburu, Tuan?"



"Apa kau gila.?"



"Bukan aku yang gila.? Kau yang pikun.?"



Arend meraih botol minum air mineral di atas meja makan, lalu ia lempar pada Zico. Dan itu membuat Syeira tersenyum. Arend melihatnya.



'*Kenapa senyumnya teras mendamaikan hatiku.? Aaahh.? Tidak tidak. Pasti ada yang salah pada diriku*.'



Mereka semua kembali duduk di ruang tamu. Di atas karpet di lantai. Mikaila paling ujung, lalu Rain, Arend berada di samping Rain, lalu Syeira. Dan di ujung sisi yang lain ada Zico.



Mereka tengah menonton sebuah film drama Korea romantis action. Tak ada yang bersuara. Hanya suara televisi yang menggema di seluruh ruangan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Meldy berada di pinggir jalan. Ia menunggu taksi onlin yang di pesannya. Tiba-tiba mobil Zid datang. Kaca pintu mobilnya ia turunkan.



"Mau ku antar pulang.?" Zid memberikan tawaran pada Meldy.



Meldy tersenyum. Dan menggeleng.



"Tidak, aku ingin ke tempatnya Syeira. Kau pulanglah dulu.!"



Zid tersenyum sambil menunduk seakan menyembunyikan bibirnya yang mengembang dari Meldy.



"Ayo.! Aku juga akan ke tempatnya Arend.!"



Meldy terdiam. Hubungannya dengan Zid memang berangsur membaik, tapi hanya layaknya seorang teman. Dan itu yang justru membuat dada Meldy selalu terasa sesak.



"Mel.?" Zid kembali memanggil Meldy yang terlihat melamun.



Meldy senyum lalu mengangguk. Membuka pintu mobil lalu duduk di jok samping Zid. Ia lantas membatalkan pesanan taksi onlin nya. Tapi juga mentransfer sedikit uang ke applikasi taksi onlin yang sudah di pesan.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Layar tv yang menayangkan film drama yang mereka tonton kini tengah menampilkan sebuah adegan ciuman mesra setelah scene pertempuran. *Happy ending*.



Sang tokoh wanita menangis dalam berciuman bersama lawan mainnya.



Rain terus melihatnya. Bibirnya bahkan tersenyum tipis. Zico melihat layar tv terperangah hingga mulut nya sampai menganga. Mikaila terlihat scene akhir itu seperti tidak nyaman. Hatinya berdebar.



Syeira sebentar-sebentar melirik Arend yang melihat ke layar tv dengan raut muka yang datar, Arend tak sepenuhnya berkonsentrasi pada tayangan itu. Pikirannya terus berputar mencoba mengingat. Tapi tidak bisa. Ia tak menemukan memory apa pun sepulang dari penerbangannya dari LA.



"Woaaahh.? Kisah yang menyenangkan. Meski selalu bersedih dan bahkan berpisah pada awalnya. Mereka berdua akhirnya bisa bertemu dan bersama. Aaahhh.. *Ck*.!" Zico heboh sendiri.



"Kau merindukan istrimu.?" Rain bertanya pada Zico. Sebenarnya, Rain teringat Ineke saat film yang mereka tonton tadi menampilkan adegan ciuman.



Arend lekas menoleh. Ia mengernyitkan kening.



'*Apa lagi ini*.?' Batin Arend.



"Sangat, aku selalu merindukannya, Uncle. Tapi kurasa dia sekarang lebih bahagia. Tidak lagi merasakan sakit, dan aku tidak pernah merasakan kesepian. Dia selalu menemaniku di hatiku. Dia selalu ada. **Iya Kan.? Sayangku.? Kau dengar aku**.?"



Zico berteriak sambil mendongak saat mengatakan kalimat terakhirnya. Ia tersenyum tapi matanya sudah berkaca-kaca.



Syeira melihat kasihan pada Zico. Meski bocah tengil itu tak pernah mengatakan maupun menunjukkannya, Syeira yakin jika Zico menyembunyikan semua kesedihan hatinya di balik senyumnya yang terus mengembang.



"Zico.?" Syeira bergerak memeluk Zico yang berada di sampingnya. Arend kembali membulatkan mata. Entah kenapa hatinya selalu sakit dan tidak suka saat melihat Syeira dan Zico yang berkontak fisik.



Zico menyambut pelukan Syeira. Ia masih tersenyum lalu lekas menghapus air matanya sendiri.



"Apa maksudnya.?" Arend membuka suara. Semua orang menatapnya.



"Oh Tuhan.? Cepat kembalikan ingatannya.?"



Zico kembali mendongak dan bersuara keras. Seakan berbicara langsung pada sang pencipta agar mengabulkan permohonannya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...