
**3 hari berlalu**.
Arend belum juga siuman. Hasil pemeriksaan CT-scan menyatakan bahwa dinding otak Arend mengalami cedera berupa retak. Pembuluh darah di sekitar otak mengalami kelainan, otak kecil cedera dan terhimpit akibat tekanan saat benturan keras terjadi, kemungkinan Arend akan mengalami amnesia saat bangun nanti. Tapi semua belum bisa disimpulkan sampai Arend bangun dan sadar.
Aryan kembali fokus pada perusahaan. Mikaila, Rain dan Cen tinggal di rumahnya, dan menemani Ayla, Zico dan Syeira di rumah sakit. Zid dan Meldy mengurus *N~A Cell*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Mikaila dan Rain duduk di sofa ruang rawat Arend. Mereka tak pernah akur, jarang sekali saling bicara. Rain yang benci dengan sifat Mikaila yang kekanakan. Dan Mikaila yang benci dengan sifat Rain yang angkuh, kejam dan sok berkuasa. Mereka selalu saling pandang dengan tatapan sinis.
Ayla dan Syeira berada di dekat ranjang Arend. Dan Zico pun sama halnya. Cen selalu mengekor pada Aryan sesuai perintah Rain.
Arend mulai membuka mata. Dengan sangat perlahan ia menerima peredaran cahaya yang terasa menyilaukan mata.
"My L.?"
"Arend.?"
"Putraku.?"
Mikaila dan Rain sontak mendongak saat mereka mendengar Syeira, Ayla dan Zico yang berseru memanggil nama Arend.
"Mamah.?" Lirih Arend sangat pelan. Ia tidak begitu mengingat apa yang terjadi. Tapi ia menyadari jika kini ia berada di Rumah sakit.
"Sayang.? Kamu mengingat mamah.?"
"Maksud mamah apa.? Kenapa Arend harus lupa sama mamah Arend sendiri.?"
Ayla menangis sambil tersenyum lantas lekas memeluk Arend.
'*Syukurlah. Arend tidak amnesia. Para Dokter telah salah mendiagnosa*.!'
"Zico.?" Arend merasa aneh dengan penampilan Zico. Saudaranya itu terlihat lebih rapi dan lebih berwibawa. Tidak seperti Zico yang sebelumnya.
Zico memeluk Arend. Rain dan Mikaila tersenyum melihat Arend dan berdiri di depan ranjang Arend.
"Tuan Rain.? Anda disini.?" Arend hanya fokus pada Rain. Tak mempedulikan adanya Mikaila disana. Sama sepeti sebelum-sebelumnya.
'*Apa.? Tuan Rain.? Bukankah Dia telah memanggil ku Uncle kemarin*.!'
Syeira lekas memeluk Arend yang belum memperhatikannya.
"My L.? Syukurlah kamu baik-baik saja.!"
Syeira sudah memeluk Arend dengan sangat erat. Ia merasa sangat takut dan khawatir.
Arend mendorong keras tubuh Syeira. Ia membulatkan mata penuh kekesalan. Rahangnya mengeras, dan gigi-giginya beradu.
"What are you doing.? What a F.U.C.King hug.?"
Arend berteriak dan mengumpat Syeira. Ia tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya karna terlalu emosi.
"Aaahh.?" Arend memegangi kepalanya sendiri.
"Arend.?"
"My L.?"
"What the. F.u.c.k. My L.? Stop Call me like that. I don't know who you are. Just go away from me.?"
Syeira membulatkan mata. Semua orang pun sama halnya. Arend tidak mengingat Syeira.
Apa yang sebenarnya terjadi.?
Rain lekas memangil Dokter. Dan semua orang di harap untuk keluar dari ruangan. Para ahli memeriksa.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...

Arend mengalami amnesia Retrograde. Hilangnya memory dimulainya dari satu waktu tertentu.
Dan memory yang terhapus dari Arend adalah semua hal tentang setelah sepulangnya ia dari kuliah di luar negeri bersama Zico.
Seingat Arend. Ia tadi tengah melakukan penerbangan dari luar negeri bersama Zico, Aryan dan Ayla setelah kelulusan pendidikan mereka di luar negri.
Dan usaha *Smartphone N~A Cell* yang di rintis Arend sejak remaja baru akan menjalani pemotongan pita di buka nya perusahaan itu esok hari. Arend tak mengingat jika kini ia telah merajai bisnis ponsel.
Karna itu dia merasa aneh pada Zico yang terlihat rapi, saat mereka berangkat dari LA, Zico masih lah Zico yang dulu dalam benak Arend.
Itu juga yang membuat Arend merasa sangat aneh dengan adanya Rain disana. Ia masih tak begitu menyukai Orang yang menjadi alasan meninggalnya aunty nya itu dulu.
Intinya. Separuh dari memory Arend telah terhapus. Termasuk Syeira. Meldy, dan Zizi.
Sedangkan Zid adalah teman virtualnya yang sudah ia percaya sebagai partner sejak pertama kali menciptakan *Smartphone* *N~A Cell*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Syeira menangis dalam diam duduk di kursi deret. Arend tak mengingatnya. Ia tak menganggapnya sebagai seorang istri. Hati Syeira hancur. Ia mengingat ucapan Cellin yang dulu begitu takut jika dia harus menjalani operasi tahap kedua karna Cellin takut akan koma dan takut kehilangan memory nya.
Nyatanya, dilupakan oleh orang yang sangat kita cintai itu memanglah sangat sakit.
Zico datang menghampiri Syeira yang menangis seorang diri di bangku deret.
Syeira mendongakkan kepala melihat Zico yang datang dan mengajaknya masuk. Matanya bengkak dan merah. Zico pun sama halnya. Tak ada raut kebahagian sama sekali dalam wajahnya, dan juga wajah keluarga besar itu.
"Dia tidak mau aku berada di dekatnya, Zico.?"
"Dan kau akan menyerah.?"
Syeira menunduk. Zico menarik tangan Syeira kuat hingga Syeira kini sudah berdiri dan mengikuti langkah Zico yang membawanya masuk kedalam ruang rawat Arend.
Arend hanya terbaring diam. Dia merasa semua hal terasa aneh. Tapi dia sendiri tidak mengerti itu apa.
'*Kenapa Tuan Rain Cosa ada disini.? Bagaimana Papah dan Mamah bisa menerimanya.? Dan gadis itu.? Gila saja semua orang memperkenalkannya sebagai istriku. Kapan aku menikah.? Yang ada aku sedang patah hati karna baru saja putus dari Carolin*.!'
Carolin nama kekasih Arend semasa kuliah. Yang terpaksa harus berpisah karna jarak tempat.
Zico dan Syeira masuk. Arend melihat mereka jengah.
'*Ufhhh.. Jangan gadis ini lagi*.?'
Arend memalingkan muka ketika Zico dan Syeira berada di dekatnya. Syeira hanya diam menunduk takut. Ia begitu takut ketika kemarin Arend membentaknya dan membuat Arend merasakan sakit di kepalanya.
"Bagaimana keadaan mu sekarang.?" Zico bertanya.
"Aku mau pulang.!" Jawab Arend dingin. Zico menganggukkan kepala.
"Baik. Kita akan pulang, aku juga sudah tidak betah berada di tempat ini.!"
"Carikan aku apartemen. Aku tidak mau tinggal di mansion papah.!"
Syeira hanya diam mendengarkan. Ia tak berani membuka suara.
"Ha ha ha ha.!" Zico tertawa. Ini adalah tawanya yang pertama setelah berhari-hari.
Arend menatapnya tajam. Tidak mengerti dengan tingkah Zico yang menertawakannya.
Seperti dejavu. Arend masih sama dengan niat awalnya dulu yang tak ingin tinggal di mansion Aryan dan memilih hidup mandiri di apartemen nya sendiri.
"Kenapa kau tertawa.? Apa nya yang lucu.?" Arend melempar bantal pada Zico. Zico lekas mengelak dan menangkap bantal yang dilemparkan Arend padanya.
"Dasar Pikun.? Kau itu sudah punya apartemen.? Ha ha ha ha.!"
Zico kembali tertawa dan melempar balik bantal Arend. Syeira bergerak cepat menangkap bantal yang di lempar Zico. Ia tak mau jika Arend sampai terluka.
"Zico.? Kau ini.?" Syeira berteriak pada Zico. Arend lekas menolehnya cepat. Ia mengernyitkan kening dan menyipitkan mata.
'*Gadis ini*.?'
Arend merasa heran. Dan Zico malah kembali tertawa.
"Dimana ponselku.?" Arend menanyakan ponselnya.
"Ponsel yang mana.? Yang baru apa yang lama.?" Zico duduk di tepi ranjang Arend dan bahkan membaringkan tubuhnya di samping Arend. Syeira duduk di kursi dekat ranjang.
"Kalau ponselmu yang lama sudah kau hancurkan. Kalau yang baru dibawa Zid!"
"Apa maksudmu.? Zid.? Kau sudah bertemu dengannya.?"
Dalam ingatan Arend dia baru akan bertemu dengan Zid saat acara pemotongan pita.
"Haaah.? Kau ini. Dengar. Kau ini baru saja mengalami kecelakaan, kepalamu di pukul oleh seseorang dengan keras. Hingga kini kau menjadi pikun."
'*Bugh*'
"Aah.?"
Arend menyikut wajah Zico karna sudah mengatainya pikun.
Zico lekas bangkit dan turun dari ranjang Arend. Menyentuh mulutnya yang sakit Karna mendapat Sikut maut dari sang saudara yang kini di sebutnya pikun.
"Aaahh.? Kau ini.? Mau tahu semuanya atau tidak.? Di kasih tahu malah main mukul."
Arend terdiam. Sesekali ia melihat Syeira yang terus melihatnya. Dan Arend kembali memalingkan muka. Jengah. Ia tak pernah suka di dekati oleh wanita manapun. Kembali menjadi Arend si kulkas 20 pintu.
"Begini saja. Sekarang tahun berapa.?" Zico menanyai Arend dengan licik.
Arend menyebut satu tahun disaat mereka baru pulang kembali ketanah air. Dan Zico kembali tertawa. Bagi Zico, ini adalah hal yang lucu, karna si genius menjadi orang yang lupa dan tak tahu apa-apa.
Zico menunjukkan ponsel nya pada Arend, dimana dilayar depan ponsel itu menunjukkan hari, tanggal, bulan dan tahun saat ini.
Arend membulatkan mata seakan tak percaya. Tapi Arend kembali fokus pada hal yang lain.
"Dari mana kamu mendapatkan ponsel itu.? Perusahaan mana yang telah mengeluarkannya.? Itu adalah rancangan ku,.? Apa data ku telah di curi.?"
"Ha ha ha ha.?" Kembali Zico terbahak-bahak setiap Arend mengatakan sesuatu yang ia lupa.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
***Bersambung***.