LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 34



Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Ayla sudah balik ke Mension Aryan.


Zico tengah mengantar Cellin pulang, hatinya berbunga-bunga, Zico mengumpulkan keberanian, dia berniat mengungkapkan perasaanya sekarang pada Cellin.


'Bismillah.'


"Mau langsung pulang.? Apa kita ngopi dulu.?"


Zico mulai berbasa-basi.


"Pulang saja, aku merasa lelah."


Cellin memang benar sedang merasa lelah. Sandiwara yang secara tiba-tiba harus diperankannya tadi cukup menguras energi karna memposisikannya dalam ketegangan dan emosi.


Tiba-tiba Zico menginjak rem, menghentikan mobil. Laju mobil yang sedang cukup aman berhenti tanpa mengagetkan. Karna mobil sudah memasuki gang lebar menuju rumah Cellin.


Cellin menoleh ke arah Zico yang kini juga sudah melihatnya.


"Ada yang ingin aku katakan.,"


Cellin kembali menatap depan, ia sudah menebak kemana arah pembicaraan Zico.


"Aku cinta sama kamu."


Jantung Zico berdetak kencang. Akhirnya ia berhasil mengungkapkan isi hatinya.


"Kau sudah tahu jawabannya, jadi? Lupakanlah."


Jawaban yang Cellin berikan membuat Zico merasa lemas seketika.


"Apakah itu penolakan.?"


Zico meminta kepastian. Cellin memang sudah memiliki calon suami, dan akan menikah sebentar lagi. Tapi Zico juga tahu jika Cellin tidak mencintai pria itu.


Cellin hanya diam, matanya sudah berkaca-kaca, rasanya ingin menangis membuang beban.


"Cellin, hanya dengan satu kata "ya." Aku akan langsung membawa keluarga ku untuk melamarmu, kau lihat sendiri tadi, mamah sudah merestui hubungan kita, bahkan meski itu hanyalah palsu. Aku sungguh-sungguh, Cellin."


"Aku tidak bisa, Zico."


"Jika masalahnya adalah uang, aku bisa memberikannya lebih."


Sontak Cellin menatap Zico nanar, hatinya merasa nyeri mendengar Zico mengatakan tentang uang padanya.


"Please, jangan salah paham, bukan itu maksudku, aku mencari tahu semua tentang dirimu lewat Syeira. Aku yang memaksa untuk dia menceritakannya. Aku hanya butuh satu jawaban, apakah kau menerima cintaku.? Akan aku bayar semua uang keluarga Faisal."


Suara Zico terdengar tulus dan bersungguh-sungguh. Cellin menatap maniknya dalam.


"Aku tidak bisa Zico. Kita berasal dari dunia yang berbeda. Dan aku takut untuk masuk kedalam duniamu."


"Apa maksudmu.?"


"Kau terbiasa berhubungan dengan para wanita meski tanpa adanya ikatan maupun rasa. Dan aku membenci itu. Aku tidak menyukai itu. Itu akan menyakitiku."


"Aku akan berubah. Aku janji."


"Tidak akan semudah itu, Zico. Bagaimana aku bisa percaya begitu saja.? Itu semua pasti sudah menjadi candu untukmu."


Cellin terus menolak Zico. Zico mendengar setiap kalimat yang Cellin ucapakan padanya.


"Kau mungkin merasa begitu tertarik saat ini padaku, namun nanti, saat kamu sudah mendapatkan ku. Kau akan merasa bosan. Lalu kau akan kembali menikmati mereka tanpa mempedulikan ku, dan aku.? Aku yang akan terluka, aku yang akan merana, hanya aku yang akan menderita."


"Cellin, kau berpikir terlalu jauh.!"


"Iya,__.! Memang itu yang harus ku lakukan.? Memikirkan masa depanku, hingga tidak lagi akan ada anak-anak lain yang terlahir seperti diriku, dan aku tidak mau jika aku melahirkan anak yang bernasib sama seperti ku."


"Cellin,? Apa yang kau katakan.?"


Ucap Cellin tegas mengakhiri perdebatan mereka. Cellin turun dari mobil. Melangkahkan kaki menuju rumah yang berada tak jauh lagi dari letak mobil Zico berhenti. Terlihat Cellin mengusap air matanya saat berjalan.


Zico ingin turun dan mengikuti, namun keadaan jalan yang cukup ramai oleh ibu-ibu dan anak-anak komplek menghentikan niat Zico.


Zico memukul kemudi kasar. Ia mendapat penolakan beserta jawaban dan alasan yang akan sangat sulit untuk bisa membuatnya kembali berjuang.


'Ada trauma kehidupan yang singgah di hatinya. Dan kini justru trauma itu jelas tercermin oleh diri ku.' Aaahhh..__ $h!_ -**'


...****************...


Syeira dan Arend tengah membersihkan dapur berdua, mencuci perabotan yang kotor. Arend yang mencuci dan membilas, Syeira yang menata perabot-perabot itu kembali ke tempatnya.


Arend berekspresi dingin. Dia memang sangat pandai mengendalikan diri, sedang Syeira terus saja mencuri pandang pada Arend.


Sesekali Syeira dengan berani menyentuh jemari Arend kala ia menerima benda dari tangan suaminya. Arend menyadarinya, tapi Arend menganggap jika Syeira tanpa sengaja melakukannya.


Selesai. Dapur sudah kembali bersih dan rapi. Arend melangkah ke ruang tamu, duduk menyandarkan diri di sofa. Melepas lelah.


Syeira mengikuti, ia duduk di sebelah Arend yang bersandar sambil terpejam. Syeira terus melihat Arend.


"Apa kau begitu suka menatapku.?"


"Hah.?" Syeira kelabakan. Arend sudah membuka mata sekarang, dan dia tertangkap basah terus melihat ke arah nya.


Syeira memalingkan muka. Meraih remote TV yang ada di meja. Lalu menyalakan layar LED itu. Menyembunyikan pipinya yang merona laksana kepiting rebus.


Sebuah adegan romantis terpampang nyata di depan mata. Syeira membulatkan mata, merasa kaget dan terlebih malu melihat adegan romantis dari serial drama Korea. Arend malah tersenyum tipis melihat layar TV yang membuat Syeira terbengong itu.


Syeira kembali memencet tombol off mematikan TV. Ia jadi salah tingkah. Syeira meletakkan kembali remote TV di atas meja. Ia lantas bangkit, ingin segera pergi ke kamar menghilangkan rasa gugup yang Mendera.


Tangan Arend meraih tangan Syeira dengan cepat dan kuat. Tubuh Syeira yang tak seimbang membuat Syeira terjatuh tepat di atas tubuh Arend. Jelas mereka berdua kaget bersama.


Syeira mendongakkan kepala, mengangkatnya sedikit hingga kini wajahnya dan wajah Arend bertemu semakin dekat.


Mata mereka saling pandang dengan lekat. Sangat romantis, Mata Syeira yang nakal tertuju pada bibir Arend yang menggoda, ia sampai menelan kasar salivanya, adegan di TV barusan kembali terbayang. Arend hanya diam dengan raut mukanya yang tetap datar melihat manik Syeira. Padahal jantungnya sendiri sudah tak tahu dalam tekanan berapa.


Pintu di buka tiba-tiba. Zico datang. Syeira dan Arend menoleh bersama.


Sontak saja Syeira bangkit kembali berdiri dan Zico menutup mata membalikkan badan sambil berteriak kencang.


"Apa yang kalian lakukan.? Kenapa tidak di kamar.?"


Syeira menggerakkan kedua tangannya seakan mengatakan tidak, raut mukanya menahan panik dan malu, sedangkan Arend justru tersenyum tipis karna merasa senang.


"Iiisshh',,, Apa yang kau katakan? Kami tidak melakukan apa-apa.! Hentikan pikiran kotor-mu itu. Dasar otak M3_ $. UM."


Sungut Syeira kesal.


Syeira lantas pergi melangkah menuju kamar, meninggalkan kedua saudara yang sedang sedikit g!L4.


Arend semakin tersenyum lebar, Syeira terlihat sangat menggemaskan.


Syeira masuk kedalam kamar, menutup kembali pintunya, lalu memegang dadanya yang berdegup kencang.


"Tidak normal."


Lirih Syeira memegangi dadanya yang sulit untuk bisa ia kendalikan.


Syeira melangkah menuju ranjang, menjatuhkan tubuhnya di atas tempat nyaman itu, menarik selimut menutup seluruh tubuhnya. Ada rasa malu yang dominan. Rasanya ia ingin menghilang saja dari bumi saat ini juga.


...****************...


Malu-malu Macan.