
Meldy masih berdiri dengan iringan deraian air matanya yang terus mengalir, dadanya sesak dan hatinya hancur. DK yang melihatnya membiarkannya. Membiarkan Meldy menangis, biarkan dia mengeluarkan racun yang secara perlahan serasa ingin membunuhnya. Hingga semua racun itu habis dan Meldy bisa kembali pada Meldy yang lama.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zizi membawa Zid ke apartemennya, dan mereka sudah sampai.
Dengan susah payah Zizi akhirnya berhasil membawa Zid yang sudah sangat mabuk ke kamarnya. Zizi membaringkan tubuh Zid di atas ranjang.
Zizi lantas melepas sepatu Zid. Zid masih terjaga meski kesadarannya sudah tak sepenuhnya. Zid menatap langit-langit kamar bernuansa putih itu. Pandangannya samar. Buram. Dari sudut-sudut matanya, air mata Zid menetes.
Kini Zizi berpindah ke atas, ia hendak membuka kancing kemeja Zid. Ia harus melepasnya karna sudah basah. Bau alkohol sangat menyeruak menusuk penciuman di hidung Zizi.
Zid menatap wajah Zizi. Samar-samar ia melihat wajah Meldy disana. Zizi tersenyum pada Zid yang terus menatapnya. Zizi merasa senang mendapat tatapan itu dari Zid. Tapi yang Zid lihat saat ini adalah wajah Meldy, senyum Meldy.
"I love you, Babe.?" Lirih Zid yang merengkuh tengkuk Zizi. Ia lantas menautkan bibirnya pada bibir Zizi.
Zizi pun membalas. Mereka saling mengecap, menyesap, membelitkan lidah, bertukar Saliva. Zid dan Zizi saling mengeksplor kedalam mulut lawannya.
Zid bergerak, ia bangkit dan duduk. Kedua tangannya menyentuh wajah Zizi yang ia lihat sebagai wajah Meldy.
Zid menelusuri setiap jengkal wajah itu, wajah Meldy, wajah yang sangat ia rindukan, hingga turun ke leher. Meninggalkan jejak-jejak kepemilikan yang membuat Zizi dengan cepat t3r4n9$4n9.
Zid terus turun, tangannya bergerak cepat mengoyak kemeja Zizi. Zid menariknya paksa. Merobek tepat di bagian tengah hingga bagian depan Zizi terekspose sempurna.
Zid tak tinggal diam. Ia langsung menyerang bagian d.a.d.a Zizi yang ia pikir itu adalah Meldy.
Terus mengeksplor. Menyesap, dan menggigit-gigit kecil. Zizi semakin m3nd3$4h dan mer!NT!h.
Zid tak lagi tahan. Ia sangat merindukan Meldy. Zid lekas bangun dan melepas pakaiannya sendiri. Ia lantas menarik tubuh Zizi agar terbaring, dan Zid segera menutup tubuh Zizi dengan tubuhnya.
"I Miss you, Babe.?" Lirih Zid penuh 94!r4h.
'*Bless.!'
"Aaahhh*.?"
Zid mulai bergerak memompa. Maju mundur, ia melakukannya dengan cukup kasar, hentakannya sangat keras. Zid sangat merindukan Meldy. Dan ia ingin mencurahkan semuanya saat ini.
Zizi merasa sangat senang. Ia berpikir kini Zid telah seutuhnya mencintainya. Zizi begitu menikmati permainan ini, ia pun tak bisa diam, mulutnya terus mend3$4h, men93r4n9. Zid bermain luar biasa.
Zid terus bergerak semakin lama semakin cepat. Ia merasa akan segera sampai pada pelepasan. Zizi pun sama halnya. Zid mendekatkan wajahnya pada wajah Zizi yang dalam penglihatannya kini adalah wajah Meldy.
Zid menautkan bibir nya pada bibir Zizi sambil terus bergerak maju mundur. Kedua tangan Zid meremas kedua tangan Zizi yang ia bentangkan.
"*Aaaahhh.?"
"Aaahhh*.?"
D3$4h mereka saling bersahutan mengiringi pelepasan. Untuk pertama kalinya Zid melepaskannya di dalam.
Zid menjatuhkan tubuhnya. di atas tubuh Zizi.
"I love you, Babe. I love You Meldy.?" Lirih Zid di ceruk leher Zizi.
'***DEG***.!'
Zizi membulatkan mata kala mendengarnya. Hatinya hancur, sakit. Zid menyebut nama wanita lain saat ia melakukan hubungan dengan dirinya.
Zizi mendorong tubuh Zid dari tubuhnya hingga Zid yang sudah tak sadarkan diri tergelepar di samping Zizi.
Zizi menangis. Ia menarik selimut menutup tubuhnya yang baru saja melakukan olahraga panas penuh gelora bersama Zid. Tapi justru kini hatinya serasa di tikam. Hancur porak poranda. Suatu penghinaan baginya melayani laki-laki yang justru menyebut nama wanita lain.
Zizi terus menangis. Ia menatap Zid yang sudah terpejam, dan sesekali justru berlirih pelan menyebut nama Meldy. Zid sangat merindukan Meldy.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Hari-hari berjalan normal. Syeira menjaga Cellin saat Zico bekerja. Arend disibukkan dengan proyek-proyek baru. Selain *Smartphone*. Kini bisnis *N~A Cell* merambah pada produk laptop. Berkat kerja keras semua Tim. *N~A Cell* semakin melambung dan jaya. Dan DK masih .enjadi maskot iklan produk *N~A Cell*.
Zid dan Meldy tetap bersikap profesional saat bekerja, meski tak bisa di tampik jika Mereka masih sama-sama saling memendam rasa cinta dalam diam.
Meldy masih betah dengan kesendiriannya. Ia tak mempedulikan DK yang seakan menunjukkan perhatian. Meldy tidak memiliki rasa pada pria tampan itu, dan Meldy tak ingin menjadi wanita egois yang memanfaatkan perasaan orang lain.
Meldy bahkan tidak datang pada undangan DK di konsernya waktu itu, menjelaskan secara tersirat pada DK jika dia tak ingin menjalin kedekatan dengannya. Meldy tak ingin DK menaruh harapan padanya yang masih belum sembuh dari luka lama.
Dan Zid, ia masih meneruskan hubungannya dengan Zizi. Ia tak mungkin bisa meninggalkan wanita itu begitu saja. Meski kini Zid baru menyadari tak ada rasa cinta di hatinya untuk Zizi. Semua yang terjadi sebelumnya hanyalah karna rasa kasihan, ego dan n4f$u.
Meski Zizi mengetahui Zid hanya mencintai Meldy, Ia tak mau melepas Zid apalagi kehilangan Zid. Jadilah mereka menjalin hubungan rumit yang saling menyiksa batin masing-masing.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Aku akan terbang ke Singapura bersama Lala. Ku percayakan *N~A Cell* pada kalian selama aku pergi."
Arend berbicara pada Zid dan Meldy di ruangannya. Ia akan melakukan perjalanan bisnis. Meninggalkan tanah air selama 3 hari.
"Baik.!"
"Baik.!"
Jawab Zid dan Meldy serentak.
"Oh ya, Mel.? Kalau ada waktu, sesekali temui Syeira. Atau bahkan kalau bisa. Tidurlah di apartment ku dan temani dia. Dia mengamuk tadi pagi karna harus ku tinggal. Bahkan dia tidak mau mengantarku ke bandara. Dia sangat manja akhir-akhir ini. Mudah marah, dan juga ngambek.!"
"Siap, Tuan CEO. Dengan senang hati saya akan datang. Dan tidur di ranjang anda menggantikan anda menemani Syeira.!"
Ucap Meldy ceria bahkan terkesan centil seperti gaya Meldy yang lama.
"Hey.? Jaga batasanmu. Jangan kau apa-apa kan Istriku!" Arend protes. Seakan Meldy adalah saingannya.
"Hey, Anda tenang saja, Tuan CEO.? Saya masih normal..? Ha ha ha ha.?" Canda Meldy yang disertai gelak tawanya sendiri, membuat Zid ikut tersenyum tipis. Zid merasa bahagia setiap melihat Meldy yang bahagia. Ia harus pandai memendam rasa.
"Baguslah kalau begitu. Jangan terlalu lama menjomblo. Takutnya kau jadi tidak normal seperti Lala.!" Ledek Arend.
"Iiiisshh...!" Meldy manyun. Dan Zid tersenyum tertahan.
Arend sudah melangkah keluar. Zid mengekor dan begitu juga Meldy.
Zid dan Meldy akan mengantar Arend ke bandara. Mereka sudah berada didalam mobil saat ini. Zid menyetir. Arend duduk di samping Zid. Dan Meldy duduk bersama Lala yang akan menemani perjalanan bisnis Arend ke Singapura di jok belakang.
Arend tengah melakukan panggilan Video dengan Syeira. Syeira masih terus merajuk dan marah. Tapi saat Arend mengatakan jika Meldy nanti akan datang menemani. Syeira bisa lebih diam. Dan menyerah.
Awalnya Syeira protes karna Arend akan pergi bersama Lala. Tapi setelah mengetahui siapa Lala. Di sertai bukti-buktinya. Syeira akhirnya merasa tenang dan memperbolehkan Arend pergi bersamanya. Lala bukanlah ancaman, wanita itu tidak doyan pada seorang pria. Dan dia sudah memiliki pasangannya.
Arend dan Lala sudah naik pesawat. Dan kini tinggal Zid dan Meldy yang akan balik berdua.
Meldy hendak membuka pintu belakang. Sebelum akhirnya Zid membuka suara.
"Aku akan terlihat seperti supirmu, jika kau duduk di belakang.!" Ucap Zid dingin lantas langsung masuk kedalam mobil duduk di jok kemudi.
Zid bersikap seperti Zid yang lama. Ia berusaha keras untuk bisa menyembunyikan perasaannya pada Meldy. Dan jadilah kini Zid seperti Zid yang dulu. Dingin, diam, dan angkuh.
'*Iisshh*.?'
Meldy nyengir merasa kesal. Tapi akhirnya ia menurut, membuka pintu jok depan. Dan duduk di sebelah Zid.
Zid menginjak gas cepat, ia melajukan mobilnya kencang menuju gedung *N~A Cell*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...