
"Mel?" Zico kembali memanggil nama Meldy yang justru melamun dalam diam menatap hampa pada perhiasan-perhiasan itu.
Meldy lantas mendongak dan tersenyum.
"Aku tidak tahu, maksudku? Mungkin seleranya akan berbeda dengan seleraku." benar yang dikatakan Meldy, setiap wanita memiliki kesukaan pada hal-hal yang berbeda-beda. Termasuk perhiasan dan Designe nya.
Zico mengangguk membenarkan.
"Kalau begitu pilihlah yang sesuai seleramu." ucap Zico santai namun terdengar serius.
"Hah?" Meldy terbengong.
"Ayo pilih? Kamu suka yang mana? Yang ini? Ini? Atau ini? Yang mana?" Zico menunjuk satu persatu perhiasan yang di suguhkan oleh para pekerja dihadapan mereka di atas etalase kaca.
"Kok malah nyuruh aku sih? Suruh aja pacar kamu buat milih sendiri. Aku mau pulang." Meldy kesal dan dia menghentakkan kaki sambil melangkah hendak pergi.
"Heeii?" Zico meraih tangannya menghadapkan tubuh Meldy pada dirinya. Meldy sudah cemberut. Dan dia melihat ke arah lain memalingkan muka dari Zico.
'*Menggemaskan*.'
"Hei? Hei? Lihat aku?" Zico menyentuh dagu Meldy dengan lembut menghadapkan wajahnya agar saling menatap.
Muka mereka sejajar karena Meldy yang memang sudah tinggi masih mengenakan sepatu hak.
Meldy pun akhirnya menurut dan menatap Zico yang sudah memandangnya penuh kasih dan sayang. Tatapan Zico jelas terlihat jika dia jatuh cinta pada wanita di depannya itu.
Tangan kanan Zico bergerak merapikan anak rambut Meldy ke belakang telinganya.
"Kau sangat cantik, Meldy. Selalu. Bahkan perhiasan-perhiasan itu tak ada yang mampu menandingi kecantikanmu." Ilmu buayanya muncul kepermukaan.
"Iiiisshh, kamu pikir aku ini anak baru kemarin sore apa? Yang bisa kamu rayu. Mau mu apa?" Meldy nyolot. Background Zico seorang Cassanova. Mengatakan akan melamar seorang gadis. Dan justru merayunya. *Sialan memang*. pikir Meldy.
"Haaii. Kau ini. Membuyarkan suasana romantis saja.!" Zico yang sudah dalam mode romance seketika berubah menjadi kembali biasa. Dan tangannya yang memegangi Meldy juga sudah melepasnya kembali.
"Ah, sudahlah. Aku mau pulang." Meldy melangkah kesal.
"**Aku mencintaimu MELDY AURORA**?"
'***DEG***!'
Langkah Meldy seketika terhenti. Bahkan orang-orang yang berada di sekitar sana langsung memperhatikan mereka berdua.
'*Apa yang kudengar tadi? Zico menyatakan cinta? Apa aku sedang bermimpi*?.'
Meldy masih berdiri terdiam tak bergeming. Matanya membulat menatap lurus kedepan. Bibir sensualnya yang merah sedikit terbuka karena menganga.
Zico lantas melangkah ke arah Meldy yang diam tak bergeming, ia berhenti di hadapan Meldy yang berdiri membelakanginya tadi. Hingga kini mereka sudah kembali berhadapan.
"Aku mencintaimu, sungguh. Menikahlah denganku." Zico mengucapkannya dengan lancar. Bukan berarti ia tidak *nervouse*, Zico juga gugup. Namun semua ini sudah ia rencanakan dari awal dan benar-benar matang.
"A-ap ap apa?" Meldy kaget. Terkejut. Hatinya yang tadi patah tiba-tiba tertusuk panah. Panah cinta.
"Maukah kau menikah denganku, Mel?" Zico memegangi kedua tangan Meldy, kedua tangan mereka sama-sama terasa dingin, baik tangan Zico maupun Meldy. Sorot mata Zico begitu tulus menatap Meldy yang sudah berkaca-kaca. Rasa bahagia, sedih dan haru datang secara bersama.
"Trima trima terima."
"Trima trima trima."
Para pekerja disana menyerukan suara itu hingga para pengunjung yang lainpun sama halnya. Dan Zico semakin tersenyum bersemangat. Tak jarang di antara mereka ada yang mengeluarkan ponsel dan mengabadikan momen indah itu untuk di unggah ke laman sosial media.
"Kau serius? Kau mencintaiku?" suara Meldy bergetar. Air matanya sudah menetes.
Zico tersenyum tulus sambil mengangguk.
"Tentu." jawabnya singkat namun mantap.
"Ini bukan prank?" Meldy memastikan. Yang justru membuat Zico tertawa kecil.
"Bukan. Aku benar-benar mencintaimu, Meldy. Karena itu, jika kau juga mencintaiku. Maka mari kita menikah."
"*Hiks hiks hiks*!" tangis Meldy pecah dan semakin keras, disertai senggukannya yang membuat bahunya naik turun. Seorang pekerja di toko perhiasan lekas memberikan tisu. Meldy menerima dan langsung menggunakannya untuk mengeluarkan cairan bening dari hidung.
'*Kkhhhiusss Kkhhsss*'
Zico hanya tertawa melihat tingkah konyolnya.
"Bu Kan kah, kau mem benci ku?" ucap Meldy tersedu-sedu karena tangisnya yang menggebu.
"Maaf jika aku pernah melakukannya. Tapi aku benar-benar mencintaimu sekarang, kemarin, dan aku tidak tahu pasti itu sejak kapan."
Zico mengangguk yakin.
"Kalau begitu, belikan aku perhiasan yang banyak sekarang. Aku mau terlihat sangat cantik di acara pernikahan. *Hiks hiks hiks hiks*!" ucap Meldy manja dan terlihat sangat lucu saat tangan kanannya menunjuk kembali ke toko perhiasan di belakang mereka.
"Dasaarr!" ucap Zico sambil tertawa.
"Yeeaayyy!" orang-orang yang berada disana pun sorak soray. Dan memberikan tepuk tangan.
Meldy berhambur kedalam pelukan Zico. Ia sedikit menunduk agar wajahnya bisa masuk ke leher Zico. Sama-sama tinggi soalnya.
"Apa kau juga mencintaiku?" Zico kembali bertanya berbisik di telinga Meldy. Meldy mengangguk manja.
"Aku menunggumu terlalu lama berharap agar kau mengatakannya. Aku sudah mencintaimu sejak lama. Entah kapan. Tapi aku diam saja. Tidak berani mengatakan. Kau bilang seorang wanita harus mempunyai harga diri dan rasa malu. Aku juga takut jika mengejar pria terlebih dulu. Tidak akan mendapat cinta yang tulus dan malah berakhir seperti kemarin dengan Zid\_\_"
"Suut" Zico lekas menutup mulut Meldy yang menyebut nama Zid dengan jari telunjuknya.
"Jangan menyebut namanya, aku cemburu." ucap Zico yang membuat Meldy tersenyum senang dan mengangguk antusias.
Mereka saling menatap cukup lama. Zico mengelus wajah dan rambut Meldy. Dan Meldy juga terus menatap Zico dalam penuh kasih sayang.
"Ayo, kita pilih perhiasannya. Kau boleh mengambil apa saja." ucap Zico menggandeng tangan Meldy. Dan Meldy melangkah gontai nan manja di belakang Zico yang menariknya lembut.
Mereka kembali berdiri di depan etalase kaca. Para pekerja sudah siap untuk melayani.
"Keluarkan semua produk terbaik kalian. Calon istriku harus mendapat apapun yang dia inginkan." Zico bersikap sangat dewasa. Meldy sangat bahagia. Hatinya berbunga-bunga.
'*Oohh, beginikah indahnya cinta. Beginikah rasanya dimanja? Beginikah yang kata orang wanita akan menjadi ratu di tangan pria yang tepat*?'. \[Dan berduit.\]
Meldy larut dalam lamunannya sendiri sambil terus menatap Zico yang mulai melihat-lihat kalung, cincin dan gelang.
"Kau mau yang mana?" suara Zico membuyarkan lamunan Meldy.
"Aaahh?" Meldy tersadar, dan dia ikut melihat-lihat perhiasan.
Lalu Meldy menunjuk sebuah kalung permata yang sangat indah.
"Yang itu, apa ada satu set?"
"Ada Nona!" jawab pekerja.
"Aku mau satu set lengkap." ucap Meldy.
"Kau dengar itu?" Zico berbicara pada pekerja. Dan mendapat respon cepat.
Pilihan sudah di tentukan. Perhiasan yang ingin dibeli sudah didapatkan. Zico dan Meldy kembali keluar dari pusat perbelanjaan itu. Kini mereka sudah berada di mobil.
Canggung, yah, tiba-tiba rasa itu menyergap keduanya. Jika biasanya selalu berisik dengan pertengkaran-pertengkaran. Sekarang hawanya jadi berbeda. Malu-malu biawak.
Keduanya berotak 21\+. Dan sudah saling menyatakan cinta. Bahkan sudah membahas pernikahan yang ingin dilangsungkan dengan cepat.
Meldy yang sudah lama tidak berc!nta dan Zico yang juga selalu bergejolak karena hasratnya. Hingga kini jantung keduanya berpacu tak menentu karena isi otaknya yang mengada-ada.
"Kita menikah besok." seru Zico dengan suara gugup dan cepat.
"Hah?" jelas Meldy kaget.
"Tidak, itu terlalu cepat." ucap Meldy.
"Baiklah, 3 hari dari sekarang." Zico kembali berucap yang membuat Meldy menganga. Zico tidak sabar.
"Itu masih terlalu cepat. Aku harus menghubungi Mam and Dad di Singapura, terus mereka juga pasti harus menghubungi keluarga besar. Aku juga harus menyiapkan gaun. WO, gedung. Catering, Dan\_\_?" belum sempat Meldy menyelesaikan ucapannya. Zico sudah menyela.
"Itu semua sudah ada yang akan melakukannya. Hanya 2 yang boleh kau lakukan. Menghubungi keluarga. Dan memilih gaun pengantin kesukaanmu. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan memberikanmu pesta pernikahan yang sangat mewah seperti impianmu di gedung bintang lima dengan semua pelayanan VVIP."
Meldy pun tersenyum senang dengan yang Zico katakan.
"Satu Minggu. Sudah tidak boleh ditawar. Kita akan menikah satu Minggu lagi." Zico bersungguh-sungguh.
Meldy pun tersenyum semakin senang. Lalu menganggukkan kepala dengan manja.
"He eemm!" jawab Meldy. Menggandeng lengan Zico yang mengemudi, lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Zico.
"Kau tidak boleh bekerja dulu, kau tidak boleh lelah, kau harus banyak istirahat dan melakukan perawatan-perawatan. Persiapkan dirimu untuk malam pertama kita."
"Haaaahh??" Meldy mendongak. Mengangkat kembali kepalanya yang tadi bersandar pada pundak Zico.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...