
think..think...think
Seorang gadis bermata sipit terbangun dari tidurnya setelah mendengar notifikasi handphone nya.Ya ia adalah Aina Khanza Leonardo.
Tangannya meraba mencari benda segi empat kecil itu.
"Na,gimana kalo hari ini kita jalan-jalan yuk.Bosen di rumah."sebuah pesan singkat dari seseorang.
"Gue gak bisa sha.Soalnya hari ini gue kerja..maaf yaa"balas Aina.
"Ohh yahh udah,gak papa kok.Lain kali aja kalo gitu."balas dari seseorang.
Ia Natasha Putry Albert sahabat Aina.
Bukan tanpa sebab hal ini sudah biasa dilakukan sebagai bentuk hiburan di salah satu sekolah konglomerat itu.
Seorang gadis telah bersiap untuk berangkat kerja. Ia berjalan dari dalam kompleks rumahnya menuju halte bis yang jaraknya sekitar 300 meter. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya bis itu datang dan ia pun langsung menaiki bis tersebut. Gadis itu terduduk di salah satu pojok bis. Matanya menatap keluar jendela. Senyuman tipis terukir di wajahnya. Hembusan angin pagi seolah menyapanya membuat gadis itu sedikit melupakan beban hidup yang ia derita.
Di sinilah ia di salah satu Cafe Kopi kekinian yang cukup dekat dengan sekolahnya.
Di cafe tersebut ia adalah seorang Barista cantik yang lihai melukis di atas kopi. Ia juga merupakan salah satu orang kepercayaan manager cafe itu. Baginya kopi adalah sebagian dari ketenangan. Tangan mungilnya bagaikan sahabat untuk kopi itu. Andai dunia seperti kopi yang ia bisa racik dengan sesuka hati.Namun ia sadar bahwa semua hal itu adalah omong kosong belaka.Ia hanyalah seorang tokoh di dalam dunia.Tokoh yang menjalankan perintah dari skenario Tuhan.Terkadang skenario itu tidak sesuai akan harapannya,tapi ia harus menjalani sebagai bukti kesanggupannya.Dan semua itu ia lakukan dengan kesabaran yang begitu besar yang ia harus jalani dalam hidupnya.
Cafe Kopi ini juga termasuk tempat nongkrong anak-anak milenial yang sebaya dengannya.Terkadang teman sekolahnya sering nongkrong di Cafe tersebut dan ia sering kena bully,tapi semua bullyan mereka ia hanya menghiraukannya saja.Ia juga terkadang merasa iri dengan kehidupan teman-temannya yang menikmati masa muda mereka yang mungkin juga ia ingin rasakan seperti mereka tapi apalah daya si gadis itu.Bagaimana bisa ia harus seperti mereka.Biaya sekolahnya saja ia tanggung sendiri dengan kerja paruh waktu.Ia bekerja dari kelas 1 SMA untuk membiayai dirinya sendiri,ya orang mungkin di luar sana melihat mereka keluarga yang sempurna,keluarga yang bahagia,tapi mereka tidak tau apa yang terjadi dengannya.Keluarga yang di bilang sempurna tapi tidak pernah mengharapkannya lahir di dunia ini.Mungkin ini memang takdir yang harus ia terima dalam hidupnya.Hanya kesabaran yang mampu menguatkan diri gadis itu.Terkadang ia menganggap mengapa takdir itu sangat kejam dan tak ingin berpihak padanya.Namun ketika ia melihat orang di luar sana yang lebih kuat menjalani takdir yang menyeramkan daripda dirinya,ia sadar bahwa semua itu di ciptakan karena Tuhan menyayangi dirinya.Walaupun takdir itu biasanya tidak sepihak dengan keadaan kita.Keluhan tentu ia pernah lakukan.Siapa lagi tempatnya berkeluh kesah jika bukan kepada sang Maha Pencipta.