LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 95





Syeira dan Meldy telah sampai di Cafe yang mereka tuju, mereka memilih tempat yang berada di pojokan di sudut Cafe itu.



Meldy hanya diam menatap kosong pada meja. Syeira melihat buku dan memilih menu yang dia inginkan. Syeira memberikan buku menu pada Meldy, untuk dia memilih makanan yang dia inginkan.



Meldy menunjuk satu menu secara asal. Itu adalah kue berukuran sedang lumayan besar seperti kue ulang tahun. Teh dan kopi ikut menemani menu kue mereka.



"Hey.? Kalian juga disini.?"



Syeira dan Meldy mendongakkan kepala serentak menoleh pada seseorang yang datang menghampiri mereka.



"DK.?" Syeira berseru. Ia sedikit kaget. Syeira tahu Arend suaminya sangat tidak menyukai pria ini.



"Aku gabung ya.?"



DK langsung duduk di salah satu kursi di dekat Meldy yang berhadapan dengan Syeira. DK tidak mempedulikan ia mendapat izin atau tidak untuk ikut bergabung. Dia langsung membawa dirinya duduk dengan santai.



"Apa kalian juga sering kesini.? Aku sering sekali datang ke tempat ini untuk sekedar ngopi. Tapi aku belum pernah bertemu dengan kalian.!" DK membuka obrolan.



Meldy diam, jemarinya memainkan pisau dan garpu yang sudah tersedia di atas meja. Meldy memutar-mutar benda itu dengan malas. Wajahnya masih sangat sendu. Kecantikan wajahnya yang polos tanpa tergores make up menjadi nilai plus yang memancar kan aura kecantikannya.



Syeira tersenyum kaku melihat DK.



"Ini pertama kalinya kami kesini, tapi aku sudah pernah mencoba kue nya. Lewat onlin, rasanya sangat enak.!"



"Memang sangat enak, tapi akan lebih enak lagi jika kita datang secara langsung, apalagi bisa bertemu dengan teman-teman tak terduga seperti ini.!"



Pembawaan DK sangat ringan, ia supel. Mudah bergaul. Dan tampan.



Syeira mengangguk dengan senyum kaku nya menanggapi DK yang bicara. Pria itu pernah menggodanya dulu,tapi kini Syeira melihat DK lebih intens memperhatikan Meldy yang sedang dalam mode silent. DK terus menatap Meldy dengan sorot mata yang dalam, sedangkan Meldy seakan tak menganggapnya ada.



Syeira memainkan ponselnya. Mengirim pesan singkat pada Arend. Ia harus segera memberitahukan posisi dan kondisinya saat ini.



Tak butuh berapa lama. Pesan balasan masuk. Arend meminta melakukan panggilan Video dan menaruh ponsel syeira di atas meja. Arend tidak bisa datang, ada pekerjaan. Dia akan melihat dan memperhatikan mereka dari video telepon itu.



Syeira pun mengangguk. Melakukan panggilan video. Lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Tak ada yang curiga. Bahkan Syeira sudah menghubungkan bunyi suara ponselnya pada earphone yang ia simpan di dalam tas. Hingga jika Arend berbicara, suaranya tak terdengar oleh mereka.



Menu yang mereka pesan datang.



"Tuan DK, anda juga disini.?"



Seorang pelayan yang membawakan pesanan Syeira datang, dan dia mengenal DK, itu artinya DK tidak berbohong jika dia memang sering datang ke tempat ini.



Pelayan itu menata menu pesanan Syeira, mereka sedikit terkejut dengan kue yang ukurannya lumayan besar. Tapi Syeira hanya diam, itu pasti menu yang di tunjuk asal oleh Meldy tadi.



"Tolong, bawakan saya kopi biasanya.!" Ucap DK pada pelayan itu.



"Tentu saja.!"



Pelayan itu kembali lagi pergi.



Arend yang sedang sibuk sesekali melihat ponselnya yang menayangkan situasi Syeira dan Meldy disana, yang juga ada si tengil DK.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Kau belum menjawab pertanyaanku, Zid.?"



Zizi kembali bertanya. Meminta kepastian pada Zid yang masih terdiam.



"Apa kau akan meninggalkanku, Zid.?"



"Apa yang kau katakan Zi.? Aku hanya masih belum siap dengan semua keadaan ini, aku juga mencintai Meldy, Zi. Aku mohon mengertilah.!"



"Aku sepi tanpa mu, Zid. Aku tak bisa tidur, malam-malamku berjalan dengan terus memikirkanmu. Jika kau memang tak lagi menginginkanku, aku akan ikhlas untuk pergi.!"



"Zi.?"



Zid langsung merengkuh tubuh Zizi yang sudah menunduk dan menangis sesenggukan.



"Sudah berhenti, jangan menangis lagi. Kita masih di kantor. Tidak enak di lihat orang. Kau tenanglah. Aku akan menemui mu nanti malam. Tapi aku harus pergi sekarang.!"



Zizi mengangguk, Zid mengelus rambutnya lalu mengecup pucuk kepala Zizi. Sekelebat bayangan Meldy yang selalu menyambarnya menautkan bibir dengan cepat datang, Zid kaget dan melepas tangannya yang memeluk Zizi.



Zizi bingung, namun ia tak sempat bertanya, pintu lift sudah terbuka, dan Zid sudah melangkah keluar. Sedangkan Zizi harus kembali ke lantai bawah, tidak ada pekerjaan yang akan ia kerjakan di lantai ini, ia hanya masuk lift dan mengikuti Zid.




"Iya, ada apa, La.?" Nama perempuan itu Lala.



"Tuan CEO meminta anda untuk menemuinya jika anda sudah kembali.



Zid mengangguk setelah mendengar pesan yang Arend sampaikan padanya.



Zid memutar arah, melangkah menuju ruang Arend berada. Yang masih satu lantai dengan ruang rahasianya.



Zid membuka pintu. Arend duduk di kursi kebesarannya. Ia menyandarkan punggungnya menghadap kebelakang, yang artinya membelakangi pintu masuk, dan belum menyadari adanya Zid disana. Atau sebenarnya Arend sudah tahu, tapi membiarkannya.



Arend fokus melihat layar ponsel yang di angkatnya. Video di layar ponsel Arend menunjukkan Meldy yang saat ini tengah duduk berdua di sebuah Cafe bersama DK.



Zid yang melihatnya membulatkan mata.



"Meldy.?" Zid pun bersuara.



Dengan santai Arend memutar kursinya. Tersenyum ramah, lalu menaruh ponselnya di atas meja.



"Kau sudah datang, Zid.? Bagaimana dengan kantor Papah.?" Arend seakan tak mempedulikan ekspresi Zid yang terperangah melihat layar ponselnya tadi.



"Zid.?" Arend kembali memanggil namanya. Zid belum memberikan jawaban dari pertanyaan Arend tadi.



"Semua berjalan dengan lancar, Arend.!"



Arend mengangguk.



"Arend.? Itu, Meldy? Apa yang dia lakukan bersama DK.?" Suara Zid gemetar, cemburu itu datang, dan sakitnya luar biasa menghujam ke dasar hati.



"Apa.? Mereka hanya makan kue bersama. Mereka tidak sedang tidur bersama.!"



Ucap Arend penuh penekanan saat mengatakan kalimat terakhirnya.



Zid menelan salivanya kasar. Matanya merah, dan sudah berkaca-kaca. Arend menskak Matt dirinya. Zid lekas keluar pergi meninggalkan Arend di ruangannya itu tanpa permisi.



Arend tersenyum sinis pada Zid yang bertingkah menyebalkan.



"Mencintai, tapi tega menyakiti. B4ng$4t.!" Umpat Arend pada Zid yang sudah pergi.



Zid berlari cepat. Ia tahu tempat itu, Cafe yang tengah Meldy kunjungi. Dan Meldy yang terlihat duduk berdua dengan DK sempurna membuat hati Zid panas seperti terbakar. Ia marah.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Meldy masih diam. Syeira yang terus mengajaknya bicara tak mendapat tanggapan.



"Tidak baik untuk mendiamkan makanan, Nona Meldy. Kue di depanmu ini sangat enak, kau pasti akan melupakan sakit di hatimu ketika memakannya.!"



DK angkat bicara setelah ia cukup diam melihat Meldy yang hanya membisu seperti patung tanpa suara dan pergerakan.



Meldy pun meraih pisau dan garpu. Ia lekas memotong dan memakan kue itu dengan cepat, ia sendiri ingin menghilangkan rasa sakit pada hatinya.



Tapi apa.? Semakin ia memakan kue itu, hatinya justru semakin nyeri. Ada satu kenangan, dimana dia ingin memesan kue di Cafe ini sebagai kue pernikahannya nanti dengan Zid. Dan semua tinggallah angan.



Itu pernah terpikirkan saat Meldy memesan kue untuk ulang tahun Syeira yang pestanya sudah di rencanakan secara sembunyi oleh Arend.



Air mata Meldy terus lolos membanjiri pipinya yang mengembung karna ia memakan begitu banyak kue itu secara brutal.



Apa kalian tahu bagaimana rasanya makan sambil menangis.? Itu sakit, sesak. Sangat tidak enak, sangat. Dan itulah yang di rasakan Meldy saat ini, makan dengan menangis. Menangisi kehancuran hatinya.



Syeira menatap nanar pada Meldy yang seperti itu. Mata Syeira sudah berkaca-kaca.



DK geram dengan sikap Meldy yang seakan terus menyakiti dirinya sendiri.



Kue yang dimakan Meldy sudah habis separuh lebih hanya dalam waktu beberapa menit.



DK akhirnya tidak tahan. Ia menarik kue yang ada di hadapan Meldy. DK menariknya dengan kasar.



Hingga Meldy menangis sesenggukan dan menjatuhkan pisau dan garpunya penuh kepiluan. Syeira berdiri dari kursinya dan langsung memeluk Meldy yang kacau.



"Syeiraa'\_?? Kenapa ini sangat sakit.?? *Hiks hiks hiks*. Aku tidak tahan, Ra.?"



DK tak sanggup melihat Meldy yang seperti ini. Hatinya ikut merasakan nyeri dan sakit.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...