LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Bab 12



5 Tahun yang lalu


Suatu kejadian yang datang adalah sebuah takdir yang tak dapat di lawan. Kadang kala takdir itu berada di tangan mu dan kau yang harus memilih. Kadang juga takdir itu yang menghampiri dan memilih dirimu.


Dari cerahnya mentari, wajah tampan itu mulai menerka.


Tentang dunia yang tak tau kedepannya.


Rasa hatinya seakan remuk, saat mengenang jasad mamanya satu tahun yang lalu. Keluarga konglomerat yang tak menjamin apa - apa termasuk kebahagiaan.


Belum genap dia menerima tentang kematian itu. Ia harus melihat hal yang lebih menyayat. Namun dia harus melawan itu dan menjalankan pesan terakhir mamanya untuk merubah papanya. Sepeninggal wanita yang amat ia sayangi, papanya memutuskan kembali ke Jakarta.


Devan merasa cukup lega untuk hal itu karena dia beranggapan bahwa di Jakarta ada seseorang yang menunggunya. Sahabat yang dia ingin membagi segala beban hidup yang dia miliki. Namun di luar dugaan Renald Alinsky papanya, lebih memilih untuk diam selama tiga tahun tentang kepindahan mereka. Hal itu dilakukan untuk meredam fakta penyebab kematian tersebut.


" Pah aku mau ketemu sama Natasha". ucap seorang anak laki-laki itu memecah suasana sarapan .


"Gak boleh. Kau kan sekarang sudah ada Leon dan Arga."kata papanya sembari mengoleskan selai di roti anaknya.


" Tapi Pah, dulu aku udah janji kalo pulang bakal kabarin dia."lanjut anak itu.


"Gak boleh. Suatu saat Papa akan pertemukan kalian".jawab Papanya.


" Kapan Pah?? Kenapa harus nunggu waktu? Aku maunya sekarr...".


Phaaakkk!!


Bunyi pukulan meja papanya itu memotong ocehan Devan terhenti.


"Apa kau lupa tentang aturan untuk hening ketika makan.!!"teriak Renald.


Devan hanya terdiam melihat Papanya. Peraturan yang membuatnya tak memiliki kesan indah saat makan bersama papa serta mendiang mamanya.


"Makanlah. Sesudah itu Papa akan mengantar mu ke sekolah mu. Jangan membuat ulah atau sampai membuat Papa malu."lanjut papanya.


Tahun ini adalah tahun pertama Devan memasuki tahapan SMP. Bagi murid baru tahun ajaran pertama di wajibkan untuk mengikuti MOS( masa orientasi siswa). Lain hal nya dengan Devan ia meminta kepada papanya untuk tidak melakukan hal tersebut.


"Ingat jangan sampai kau berulah." ucap papanya dari balik kaca mobil.


" Iyah Pah." Jawab Devan.


" Pulang sekolah nanti papa akan menjemputmu." Kata papanya itu sembari berlalu meninggalkan anaknya.


Ya disini Devan berdiri di sebuah sekolah milik mendiang Mamanya.


Kakinya melangkah memasuki sekolah itu di iringi tatapan memuja siswi yang melihatnya.


Trinkkk...!!!


"Eh cepetan udah bell masuk. Siram aja siram." ucap seorang siswi.


Dari jauh ia melihat seorang anak perempuan yang sedang di bully. Gadis itu hanya terdiam menunduk tak melawan sedikitpun. Dari pakaiannya, tampak jelas yang membully adalah kakak kelas Devan dan gadis itu.


Gggyyyyuurrrrr....


Hampir saja gadis itu tersiram air. Devan langsung datang melindungi gadis itu.


"Woiiii.....!!!"sergah Devan kepada siswi-siswi yang menyiramnya.


"Loh semua gak ada otak ya. Loh kakak kelas contohkan hal yang baik bukan kayak begini."sambung Devan dengan sedikit mengertak.


Mereka hanya terdiam melihat amukan sang pangeran sekolah tersebut.


"Maaf... Dev."ucap salah satu di antara mereka.


"Awas kalo loh semua berani nge bully cewek ini lagi. Gue akan keluarin loh semua dari sekolah ini. Paham!!. " ancam Devan.


"Ii..iiya Dev.." jawab mereka sembari lekas meninggalkan devan.


"Kamu gak papa". Suara lembut gadis itu membuat amarah Devan seakan redam.


"Akh..." rintih gadis itu.


Devan langsung menjitak pelan kepala gadis itu. Ia merasa kesal akan gadis yang di hadapannya. Gadis bodoh yang pasrah di tindas.


"Apa kau bodoh ha?Jika mereka menindas mu maka lawanlah. Gunakan kekuatan mu." Kata Devan kesal.


Gadis itu hanya terdiam melihat ocehan pria tampan di hadapannya.


Dia tidak tau harus berkata apa. Seorang anak pemilik sekolah rela di siram air bau demi melindungi dirinya.


"Kalo mereka menindas mu lagi. Cari aku. Kau paham." Tegas Devan.


"Iii..iiiyaa... tapi baju mu." Ucap gadis itu terbata.


"Biar aku yang ganti." Sambungnya


"Siapa namamu?tanya Devan tanpa memperdulikan ocehan gadis di hadapannya. Ia hanya fokus melihat tingkah gadis itu.


"A? Namaku Aina Khanza Leonardo. Panggil saja Aina." Jawabnya.


"Devv......"


Seruan dua pemuda membuat obrolan mereka terhenti.


"Ingat jika ada apa-apa cari saja aku."tegas Devan.


"Buruann woiii.....dev..." teriak sahabat Devan yang tak lain adalah Leon dan Arga.


"Iya.. Bagaimana dengan bajumu?tanya Aina.


"Ganti saja dengan mentraktir ku makan siang."jawabnya.


Pria tampan tersebut kemudian berlalu meninggalkan Aina.


Waktu membawa Aina ke sekolah elit itu. Ia tak pernah menyangka bisa bersekolah di sana. Suatu kejadian dimana ia menolong seorang pria tua yang hampir di tabrak mobil yang tak lain adalah Renald Alinsky pemilik sekolah itu. Budi baik Aina di balas oleh Pria tua itu dengan mengizinkan gadis tersebut bersekolah di tempatnya secara gratis.


Gadis mandiri yang selalu bangkit dengan kaki tangan sendiri. Dia pun langsung mendatangi ruangan wali kelasnya untuk menunjukkan dimana kelasnya.


"Eh.. Dev. Itukan cewek yang bareng lo tadi pagi.?" Tanya Arga sambil menunjuk Aina yang berdiri di depan kelas.


Devan hanya menatap gadis itu dengan perasaan yang aneh.


"Pagi anak-anak. Hari ini kita kedatangan seorang murid baru. Mohon kerja sama dari kalian semua." Kata Pak Guru itu


"Ayok Aina kemari. Perkenalkan dirimu." Sambungnya.


"Emm hai.." kata Aina


Mereka hanya terdiam tak membalas sapaan gadis itu.


"Nama saya Aina Khanza Leonardo. Biasa di panggil Aina. Saya dari alum..."


"Udah. Gue udah kenal. Dan gue ingatkan sama loh semua dalam kelas ini. Jangan ada yang ganggu si Aina."teriak Devan memotong pembicaraan Aina.


Mereka yang mendengar hal itu langsung menatap heran Aina. Ada apa dengan gadis itu sehingga seorang Devan Syahputra Alisnky melindunginya.


Sejak kejadian itu Devan, Aina , Leon Dan Arga semakin akrab. Tidak ada yang berani menganggu gadis itu.


Mereka tak ingin mencari masalah dengan seorang Pangeran Pemilik Sekolah. Terlebih ayah Devan sangat menyukai Aina karna kebaikannya.


Trinkkkkk...


"Gue sama Leon duluan pulang ya Dev, Aina cantik hahah." Ucap Arga sambil sedikit menggoda Aina.


Devan menahan kekesalannya melihat tingkah Arga entah mengapa dia sangat kesal ketika ada orang yang menggoda Aina.


"Diam gak loh.." ucap Devan yang ingin memukul sahabatnya.


Aina hanya tertawa melihat teman - temannya itu.


Dia merasa sangat tenang berada di antara pria tampan yang melindunginya.


"Udah akh ribut mulu hahha. Eh Dev itu kayaknya mobil papa kamu." Ucap Aina sambil menunjuk mobil yg singgah di dekat mereka.


Devan pun langsung pergi meninggalkan teman-temannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mereka yang melihat itu hanya tertawa.


"Yh udah Na. Kami jg duluan ya." Ucap Leon.


"Iyah. Hehe." Jawab Aina melihat mereka berlalu meninggalkannya.


Hampir sekitar setahun mereka menjalani tahapan sekolah menengah pertama tersebut. Sudah menjadi kebiasaan sekolah elid itu di setiap kali libur semester mereka berlibur bersama. Berhubung sekolah itu di pegang oleh Devan sepeninggal ibunya maka dialah yang berhak menentukan bagaimana cara sekolah itu berlibur.


"Kau ingin berlibur ke mana?kata Renald Alinsky memecah keheningan di dalam mobil.


"Emmm... aku gak tau Pah. Aku jg bingung." Jawab Devan


Papah Devan paham betul bahwa anaknya itu menaruh hati kepada temannya, 'Aina'. Tingkah aneh Devan ketika berhadapan dengan Aina membuat Papanya semakin yakin.


"Kau suka Aina kn?tanya Papanya.


Sontak saja Devan jadi salah tingkah mendengar hal itu. Ia heran padahal dia sudah berusaha menutupi namun kenapa orang di sekitarnya tau saja.


"Ahahaha gak kok Pah." Jawab Devan canggung.


"Papa saranin lebih baik camping aja SMP mu kan belum pernah mengadakan camping." Kata papanya.


"Dan ungkapkan cinta mu ketika api unggun".sambung papanya sambil sedikit tersenyum.


Devan yang mendengar hal itu hanya terdiam di dalam lamunan sampai mobil itu berhenti di rumahnya.


"Iyah Pah. Besok aku bicarakan di Rapat wali kelas."jawab Devan yang langsung turun dari mobil tersebut. Ia memasuki rumahnya dan terhenti di depan sebuah figura besar. Yh figura itu adalah milik ibunya. Bibirnya mengukir senyum saat melihat foto itu.


Kenangan masa lalu terbayang lagi di hatinya.


"Mah.. Devan sekarang udah besar. Devan janji mah... suatu saat Devan akan ngerubah papah. " gumam pria tampan itu.


"Ehh.. Den Devan udah pulang. Mau makan apa Den. Biar bibi masakin." Ucap bibi mina. Rasa rindu kepada mamanya cukup terbayarkan saat dia melihat wanita paruh baya di hadapannya itu. Wanita yang menyayanginya dan menggapnya anak sendiri. Ia merasa tenang saat bibi minah berada di dekatnya.


"Aku mau istirahat aja bi. Nanti malam baru aku makan. Soalnya tadi udah makan siang." Ujar devan.


Devan kemudian menaiki anak tangga merebahkan badannya.


Entah mengapa dia mengingat kejadian satu minggu yang lalu saat ia mendengar sesuatu yang aneh dari mulut gadis yang selalu berada di sekitarnya itu.


Sore itu dia dan Aina sedang berjalan di sebuah taman. Dia melihat sorot mata gadis cantik penuh beban.


"Na. Lo itu gue lihat sedih mulu. Kalo ada masalah cerita di gue. Loh anggap gue orang lain aja." Tanya Devan kepada Aina.


Gadis itu menceritakan semua kisah hidup. Untuk pertama kalinya ia membagi segala hal kepada seseorang. Sedikit rasa lega yang ia rasakan. Lain halnya Devan ia merasa sangat kaget mendengar hal itu. Ia tak pernah membayangkan keluarga yang membenci anak kandungnya sendiri.


"Den..bangun.. udah pagi." Teriak bibi mina dari balik pintu.


"Emmm iya biiik." Jawab Devan.


Pagi ini semua murid SMP tersebut bergegas untuk mengadakan acara camping di Puncak Bogor.


Yh sesuai keputusan Devan hal itu pasti akan berlaku.


Malam yang dingin mereka hangatkan dengan canda tawa. Semua merasakan hangatnya api unggun tersebut.


Dari jauh Devan memandang Aina secara tajam. Suasana hening ketika ia angkat bicara. Semua mata merekam kejadian langkah itu.


Seorang Pangeran Sekolah mengatakan isi hatinya.


"Aina, gue udah lama suka sama loh.Gue mau loh jadi pacar gue." Kata Devan.


Aina tak berkata apapun dia hanya mengangguk dengan pipi yang sudah memerah.


"Cieeee......" teriakan teman-temannya menambah hangatnya suasana di malam itu.


Sejak kejadian itu aina dan devan resmi menjadi kekasih.


2 tahun setelahnya..


"Na,gak kerasa aja kita udah anak SMA hahaha." Ujar pria tampan bermata biru itu.


"Iya Dev hehe." Jawab gadis cantik di sebelahnya


"Coba andaikan kita satu sekolah lagi hehe.." gumam pria itu


"Ingat ya Aina kalo misalnya ada orang yang bully kamu cepat tanya aku." Kata pria itu yang tak lain adalah Devan.


Gadis itu hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya ia tak ingin lagi membebani kekasihnya itu.


Di hari yang mulai menunjukkan cahaya kemerahannya itu, merekapun meninggalkan taman tersebut.


Seorang Devan Syahputra Alinsky adalah pewaris tunggal dari semua aset milik papa dan mamanya.


Di usia dini ia sudah diharuskan untuk bisa mengelola sebuah Rumah Sakit Mewah milik keluarganya serta beberapa usaha kecil yang di rintis mendiang mamanya.Status pelajar tak menjadikan Devan harus mengeluh.


Keseharian Devan selepas sekolah adalah pergi ke rumah sakit bukan untuk menjenguk atau pun berobat melainkan mengontrol semua yang ada disana.


"Sore Pak Devan, "sapa dokter dan perawat tersebut.


Devan hanya membalas dengan senyuman tipis andalannya. Dia segera memasuki ruangannya. Ya ruangan direktur rumah sakit tersebut.


" Pak ini beberapa berkas yang anda butuhkan tentang perkembangan rumah sakit ini." Kata dokter Ali wijaya salah satu dokter kepercayaan Papanya.


"Oh iyah. Letakkan saja di meja." Ucap Devan yang sedang fokus pada layar lapotopnya.


"Emm maaf melenceng pak. Saya ingin memberitaukan sesuatu." Kata dokter tersebut.


Devan sontak menghentikan aktivitasnya. Dia menatap ke arah Dokter tersebut dengan isyarat untuk memulai pembicaraan.


"Saya beberapa hari yang lalu menangani kasus tranpalasi ginjal. Pendonor umurnya kira-kira seperti anda. Tetapi sesudah operasi,pendonor tersebut memutuskan untuk tidak di rawat. Saya hanya takut terjadi kesalahan." Kata dokter Ali Wijaya.


Pria bermata biru itupun berpikir hal yang sama. Jika terjadi kesalahan terhadap pendonor tersebut. Pastilah nama rumah sakitnya tercoreng.


"Ini berkas tentang pendonor itu pak. Siapa tau anda memerlukannya." sambung dokter tersebut dan segera keluar dari ruangan direktur tersebut.


Devan langsung membuka map itu. Matanya menatap tak percaya. Seseorang yang dia kenal bahkan sangat dekat dengannya bisa senekat itu. Tanganya bergetar ketika membaca identitas pendonor itu. Ya dia adalah Aina Khanza Leonardo.


Dia langsung lari meninggalkan rumah sakit tersebut sambil sesekali menghubungi kekasihnya.


Di depan sebuah cafe kopi dia sekarang berdiri. Melihat seorang barista yang selalu di dekatnya. Seseorang yang tak bisa di tebak apa jalan pikirannya.


"Na. Apa maksud semua ini?tanya Devan sambil menyodorkan map yang ada di tangannya.


Aina menatap Devan bingung ia segera mengambil map itu dan membacanya. Mau tak mau dia harus menceritakan semua hal itu ke Devan.


"Duduk dulu Dev. Aku akan ceritain semuanya." Kata Aina sambil menyeret Devan ke sebuah kursi.


"Aku ngelakuin ini untuk kakak ku dan keluarga ku mereka butuh uang dan aku memikirkan hanya ini satu-satunya jalan. Kamu gak perlu khawatir karena aku baik-baik aja. Aku juga dapat pekerjaan sebagai barista ini karena ibu yang aku beri ginjal ku itu." Jelas Aina.


" Kamu gak usah mikir apa-apa. Buktinya aku baik-baik aja Dev." sambungnya.


Devan mendengar hal itu tak tau berkata apa. Ia merasa sangat beruntung bisa memiliki kekasih sebaik Aina.