LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 81





Zid masih diam, ia menatap Zizi dengan sorot mata yang dalam. Mata Zizi terlihat sayu. Jantung keduanya berdetak tidak normal. Gelanyar rasa itu datang semakin kuat.



Semua orang menatap mereka dengan penuh harap. Syeira dan Meldy berharap jangan sampai itu terjadi, sedangkan Zico sangat menanti.



Zid mendekat, ia ternyata bergerak untuk memberikan kertas yang digigitnya itu pada Zizi, yang tak mungkin bisa menggigit kertasnya.



Mata Meldy melihat Zid yang bergerak menatap dengan nanar, hatinya terasa sangat nyeri tiba-tiba, ia berharap Zid tidak memberikannya pada Zizi. Dan mengakhiri permainan. Tapi Meldy salah, Zid rupanya bergerak.



Wajah Zid dan Zizi sudah semakin dekat, air mata Meldy berdesakan, tapi ia menahannya sekuat tenaga, akan sangat memalukan jika ia Menangis sekarang, meski hatinya benar-benar terasa sakit.



Zid dan Zizi sudah berhadapan. Mereka terlihat seperti akan melakukan gerakan menautkan bibir.



Semua orang menatapnya tajam. Arend bahkan yang terlihat datar dan dingin sejak tadi sekarang sudah membulatkan mata.



Zizi memalingkan muka. Membuat semua orang kaget dan berdebar.



"Aku mengaku kalah.!" Ucap Zizi yang membuat ketegangan di antara mereka semua sirna.



Syeira sampai memegang dadanya. Cellin hanya diam, Zico terlihat kesal, ia tidak jadi bisa melihat adegan live. Arend memalingkan muka, entah apa yang dipikirkannya.



Meldy tersenyum kaku, ia berusaha menetralkan rasanya yang sesak. Syeira bisa menangkap sorot itu dari Meldy.



Zid mengeluarkan kertasnya.



"Baik, kau harus menerima hukuman mu, sekarang.?" Zico berseru menunjuk Zizi yang mengaku kalah.



"Truth.? Or Dare.?"



Zico masih sangat semangat, ia tak menyadari situasi yang terjadi, sedangkan yang lain. Semuanya sudah merasa canggung.



"Truth.!" Jawab Zizi.



"Baik, satu orang boleh menanyakan satu pertanyaan pada Zizi.!" Zico masih antusias.



"Apa kau punya pacar.?" Zico menjadi orang pertama yang bertanya.



"Tidak.!" Jawab Zizi.



Giliran Cellin yang sekarang harus bertanya.



"Apa kau bahagia.? Nona Zizi.?" Cellin bertanya dengan lembut dan sopan. Membuat Zico sangat gemas. Ingin rasanya.? Andai saja Cellin tidak sedang sakit.



"Iya.!" Zizi mengangguk.



"Apa kau sedang jatuh cinta.?" Kini Syeira yang bertanya.



Zizi terdiam. Meldy sangat menunggu jawaban Zizi.



"Aku tidak tahu pasti, mungkin iya.!" Jawab Zizi, yang membuat hati Meldy semakin nyeri. Insting wanita memang sangat kuat dan akurat.



Sekarang saatnya Arend yang bertanya.



"Kau betah bekerja di *N~A Cell*.?"



"Sangat, Tuan Narendra, terimakasih sudah mempekerjakan saya.!"



Arend mengangguk mendengar jawaban Zizi.



Meldy menatap tajam Zizi. Gilirannya sekarang untuk bertanya.



"Are you a virgin.? Nona Zizi.?"



Sontak Zid, Zico, Syeira dan Arend mendongakkan kepala, membulatkan mata melihat Meldy yang bertanya.



Zizi kaget dan gugup, tubuhnya bahkan bergetar merasa takut, ada trauma dihari yang lalu yang tak seorang pun tahu. Mata Zizi berkaca-kaca. Ingin rasanya ia menangis sekarang, Zid bisa menangkap raut muka Zizi yang terlihat jelas tengah sedih dan takut.



"Kau bisa mengganti pertanyaanmu dengan soalan yang lain, Meldy.?



Zid bersuara, ia merasa kasihan melihat Zizi yang serasa di permalukan oleh Meldy, apalagi Zizi yang hanya diam dan tubuhnya bergetar, Zid sudah tahu apa itu jawabannya. '*She is not a virgin*.!'



Meldy mengernyitkan kening mendengar Zid yang seakan membela Zizi. Hatinya sakit, dan apa itu tadi.? Zid memanggil Meldy dengan namanya.? Bukan dengan panggilan Babe sepeti biasanya.? Membuat hati Meldy semakin sakit dan sesak.



Air mata Zizi sudah tumpah, ia merasa malu dan menunduk. Meldy sangat benci melihat Zizi yang polos. Tatapan Meldy sudah berubah menjadi kebencian. Dadanya sangat sesak.



"Baik, kau tidak bisa menjawabnya, Zizi? Kalau begitu, kau harus menerima hukuman mu. Iya kan Zico.?"




Meldy bergerak meraih sebotol air mineral yang ada di tengah mereka. Meldy lantas membuka penutupnya dan ia semprotkan air itu dengan cepat ke arah Zizi hingga membasahi muka dan kepalanya, bahkan menetes ke tubuhnya.



"Meldy?" Zid berteriak dan membentak Meldy di depan semua orang, Zid meraih botol yang di pegang Meldy dengan kasar.



Zizi hanya bisa menangis dan Ter Isak. Syeira kaget, Zico membawa Cellin kembali ke kamar, pertunjukan itu tidak baik untuk Cellin lihat.



Meldy hanya diam dengan sorot matanya yang tajam. Air matanya lolos mengiringi hatinya yang sakit. Hati Zid berpaling, Meldy bisa merasakannya.



Meldy berdiri, dan ia lekas pergi dari sana. Meldy berlari meninggalkan semua orang tanpa permisi.



"Mel.? Babe.?" Zid berusaha memanggil dan mengejarnya. Ia baru menyadari kesalahan yang sudah di buatnya. Tapi Meldy sudah berlari kencang.



Arend menatap datar lurus kedepan, enggan melihat Zid, Syeira menatap Zid dan Zizi dengan tatapan, entah lah.? Ada kesedihan dan kecemasan di hati Syeira.



"Kami permisi, Arend. Nona Syeira.? Maaf telah membuat kekacauan.!" Zid berpamitan. Membawa Zizi pergi dari sana.



Arend hanya diam. Ia tahu akan kemana kisah Zid selanjutnya. Ia sudah pernah memperingatkan Zid sebelumnya.



Syeira tersenyum kaku dan mengangguk kala Zid dan Zizi pamit.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Meldy menaiki taksi menuju Club', itu adalah tempat paling tepat untuknya saat ini menghilangkan rasa sakit hati dan cemburunya.



Zid mengantar Zizi pulang, Zizi masih terus menangis sepanjang perjalanan. Tubuhnya bergetar karna tangisnya yang sesenggukan. Zid merasa kasihan. Tubuh Zizi basah karna Meldy mengguyurnya tadi.



Zid menginjak rem, ia melepas jas yang di pakainya, lalu ia pakaikan jas itu ke tubuh Zizi. Zid mengelus lembut wajah Zizi yang sendu karna terus menangis. Lalu ia kembali menjalankan mobilnya membelah keramaian jalan, menuju apartemen Zizi.



Zid dan Zizi telah sampai di apartemen. Zid membuka pintu. Zizi masuk, ia terus menundukkan kepalanya, Zizi merasa malu.



"Kau bersihkan dirimu dulu di kamar mandi. Akan aku buatkan sesuatu untuk kita makan.!"



Zizi mengangguk dan menurut. Ia masuk ke kamar mandi. Dan kembali menangis mengingat pertanyaan Meldy yang mengingatkannya akan kejadian buruk yang lalu.



Saat ia berada di tangan anak buah RG. 4 Orang pria menyeretnya menjauh dari ruang penyekapan para gadis itu, membawa Zizi ke sebuah ruang,. Dan mereka melakukannya disana. Jelas itu menjadi trauma yang besar dan sulit untuk Zizi lupakan. Dan berada di dekat Zid membuat Zizi merasa tenang, nyaman dan aman.



Zizi keluar, wajahnya sangat sembab, ia hanya melilitkan handuk di dadanya yang menutup sampai paha, kamar mandi itu berhadapan dengan dapur, dimana ada Zid yang tengah memasak.



Zid tidak sengaja melihat Zizi yang baru keluar dari kamar mandi. Dan mereka saling pandang dalam diam. Zid menelan salivanya kasar, melihat pemandangan yang menggairahkan di depan mata.



Seorang gadis polos dan lemah, yang selalu bersikap malu-malu, berhasil membuat Zid merasa gugup. Dan jantungnya terus berdegup tak menentu.



Zizi masuk kedalam kamar, ia memakai kemeja putih yang sangat besar, itu kemeja Zid yang pernah ia pakai kemarin saat pertama kali Zid menolong dan membawanya ketempat tinggalnya di *N~A Cell*.



Zizi membiarkan rambut panjang nya terurai dan belum tersisir, basah dan menggantung.



Zid menyiapkan makanan di meja makan yang ada di dapur. Ia lantas melangkah menuju kamar Zizi untuk memanggil dan mengajaknya makan bersama.



Zid baru saja akan mengetuk pintu kamar Zizi. Tapi Zizi sudah membukanya dan berdiri di depan Zid.



Zid melihat penampilan Zizi dari bawah hingga atas. Zizi tak memakai alas kaki, menampakkan kakinya yang polos, ia hanya mengenakan kemeja putih miliknya dulu. Menampakkan kaki dan pahanya yang mulus. Dia gadis yang masih sangat ranum namun terlihat manis dan menggiurkan.



Zid dan Zizi hanya terdiam. Dada keduanya sudah begitu berkecamuk akan rasa-rasa yang terus mendorong mereka.



Zizi menunduk malu. Zid mengelus wajahnya, mengangkat dagu Zizi, mata Zizi kembali memerah dan ia menangis.



"Hey.? Jangan sedih. Lupakan yang di katakan Meldy tadi.!"



Zid berusaha menenangkan Zizi yang kembali sedih.



Zid lantas melangkah, bergerak mengecup kening Zizi dalam. Penuh perasaan, Zizi memejamkan mata menerima perlakuan manis Zid.



Zid melepaskan bibirnya yang mengecup kening Zizi, Zizi masih menunduk malu. Zid sangat menyukainya, Zizi jauh berbeda dengan Meldy yang selalu bersikap dominan dan agresif.



Zid melangkah maju, menabrak tubuh Zizi, dan Zid terus melangkah, membuat Zizi berjalan mundur. Mereka masuk kedalam kamar, Zid menutup pintu, terus bergerak, dan Zizi terus mundur hingga tubuhnya menabrak tepian ranjang.



Zizi kehilangan keseimbangan, ia jatuh di atas ranjang dengan posisi terlentang.



Zid naik keatas ranjang dengan pelan, berada di atas Meldy. Mereka saling menatap dalam. Ada gelanyar yang sama yang mereka rasakan di dada. Sebuah dorongan.



Zid menjatuhkan diri menutup tubuh Zizi. Wajahnya semakin dekat dan menautkan bibirnya pada bibir Zizi. Mereka memulai pemanasan sebelum ke olahraga inti.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...