
Syeira melamun, duduk terdiam memeluk kedua kakinya yang lututnya sejajar dengan dada. Ada perasaan sedih mendalam yang tak bisa ia ungkapkan. Dan tak ada satupun yang bisa ia salahkan. Meldy dan Zico sudah terlelap di samping kiri dan kanannya.
"Khem.!" Zid berdehem. Membuyarkan lamunan Syeira.
Syeira lekas menoleh dan berdiri melihat Arend dan Zid yang sudah berada di belakangnya.
"Mereka sudah tidur.?" Zid bertanya. Dan Syeira lekas mengangguk sebagai jawaban.
"Menurut ku, biarkan saja mereka tidur disini. Zico tidak tidur dengan benar beberapa hari ini. Dia sebenarnya masih sangat kehilangan Cellin, Zico hanya menutupi kesedihannya dari semua orang. Dan kurasa, Meldy, dia juga terlalu lelah. Jadi biarkan saja mereka tidur, tidak usah di bangunkan lagi.!"
Syeira berbicara mengutarakan pendapatnya. Arend terus menatapnya tajam. Ia seakan mencari kebenaran dari perasaannya yang pernah mencintainya. Dan Arend tak mendapatkan jawaban.
Zid mendekat. Ia menatap Meldy yang benar-benar sudah terlelap. Meldy memang menjadi sangat sibuk sejak Arend kecelakaan. Ia harus mengerjakan begitu banyak pekerjaan tambahan.
"Kalau mereka tidur disini berdua. Yang ada mereka akan saling berpelukan esok pagi.!"
Zid berseloroh. Ia begitu tahu bagaimana Meldy kalau sudah terlelap tidur. Selalu mencari sesuatu untuk bisa ia peluk menjelang pagi hari.
Arend dan Syeira masih terdiam.
"Kalau boleh. Biar aku pindahkan Meldy ke kamar Zico. Dan aku yang akan menemani Zico tidur disini.!"
"Hah.? Iya iya.!" Syeira setuju dengan keputusan Zid.
Zid pun langsung mengangkat tubuh Meldy yang sudah terlelap untuk ia pindahkan ke kamar Zico. Syeira membantu membukakan pintu kamar.
Zid membaringkan tubuh Meldy di atas ranjang Zico. Ia lantas menyelimuti tubuhnya. Zid memandangi wajah Meldy dalam. Ia sungguh sangat merindukan wanita yang pernah menjadi miliknya seutuhnya itu dulu. Sebelum akhirnya ia sendiri yang merusak semuanya dengan pengkhianatannya bersama Zizi.
"Zid?." Syeira yang masih berdiri di dekat pintu memanggil Zid. Menyadarkan Zid dari lamunan.
Zid mengangguk, dan bergerak keluar dari kamar Zico.
Arend sudah duduk di meja makan.
"My L.? Kau belum makan malam. Kau juga Zid. Kalian tunggulah, biar aku panaskan dulu makanannya. Tadi aku, Zico sama Meldy udah makan duluan.!"
Syeira bergerak Ingin meraih makanan di atas meja untuk ia panaskan. Namun Arend dengan cepat mencegahnya menyentuh makanan yang juga di sentuh Syeira. Tangan Arend tidak sengaja menyentuh tangan Syeira. Membuat keduanya merasa canggung. Seperti 2 orang asing.
"Tidak usah di panaskan Syeira. Aku akan makan ini saja.!" Zid pun sudah duduk.
Syeira memberikan satu kotak makanan pada Arend dan satu makanan pada Zid. Arend dan Zid lekas makan.
Syeira menuangkan air putih di gelas Arend, lalu ia berpindah menuang kan air di gelas Zid. Lagi, hati Arend merasa sakit dan ia kesal setiap melihat Syeira yang dekat dengan pria lain, seakan ia merasakan cemburu.
Karna kesal Arend tidak sengaja menyenggol gelasnya sendiri hingga airnya tumpah mengenai celananya. Dan itu tepat berada di titik tit nya.
"Ouuh, $h!.t.t.!" Arend mengumpat kesal. Zid mendongakkan kepala dan Syeira pun ikut kaget.
"My L.?" Syeira lekas meraih tisu yang ada di atas meja. Dan dia berjongkok di depan Arend yang duduk di kursi. Syeira mengusap air yang tumpah mengguyur membasahi celana Arend tepat di area spesialnya.
Arend terpaku dan Zid terperangah. Syeira tak begitu menyadari dengan apa yang saat ini tengah ia lakukan.
Syeira mengusapkan tisu itu pada area Arend. Dan Arend jelas bisa merasakannya. Barangnya bahkan seakan merespon. Arend masih terpaku dan terdiam, ia sangat terkejut, matanya membulat sempurna dengan rahangnya yang menganga.
"Don't touch me.? Are you crazy.? You want to tease me.?"
Arend berteriak kesal. Wanita yang ia anggap asing telah dengan berani menyentuh asetnya.
Syeira terkejut, ia baru menyadari perbuatannya yang memang ambigu. Syeira berhenti bergerak. Ia terdiam. Tapi kalimat Arend yang berteriak mengatakan seolah Syeira ingin menggodanya membuat Syeira merasa sakit hati.
Syeira mendongakkan kepalanya ke atas menatap Arend yang menunduk menatapnya tajam.
'*Jangan ada perang di antara kalian. Kumohon*.!' Zid takut jika best Couple ini berselisih.
Syeira menatap Arend penuh kekesalan. Matanya merah dan sudah berkaca-kaca. Ia lantas berdiri cepat. Dan melempat tisu yang di pegangnya dengan kasar ke arah dada Arend.
"Bersihkan sendiri. Aku tidak mau peduli lagi denganmu.!" Teriak Syeira pada Arend di iringi air matanya yang sudah menetes. Arend hanya terdiam.
Syeira lekas membalikkan badan lalu melangkah, ia hendak masuk kedalam kamar, tapi gerak kakinya terhenti, dan dia kembali membalikkan badan menghadap Arend.
"Aku bukan gadis seperti itu. Kau yang sudah bodoh karna melupakanku.!" Syeira mengatakannya dengan sangat tegas. Lalu ia kembali melangkah, masuk kedalam kamar dan bahkan membanting pintu.
Zid sampai kaget dan Arend masih terdiam. Selera makannya sudah hilang.
Syeira menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menangis. Hatinya sakit, Arend berteriak padanya menuduhnya menggoda dirinya. Syeira merindukan Arend nya yang dulu. Ia tidak menyukai sikap Arend yang sekarang dingin dan angkuh padanya. Syeira merindukan Arend yang berbicara lembut dan memanjakannya. Ia sudah pernah berjuang untuk bisa mendapatkan hati pria kulkas itu, dan haruskah kini ia kembali berjuang..? Syeira lelah.
Syeira menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia menyembunyikan diri yang tengah menangis dalam diam. Tubuh Syeira berada di sisi ranjang menghadap ke arah lain yang membelakangi pintu.
Arend tak menghabiskan makanannya. Ia melangkah masuk ke kamar meninggalkan Zid yang masih duduk di meja makan.
'*Oouuhhh.? Tuan CEO.? Kau membuat semua orang kembali harus berusaha keras untuk bisa mendekatimu*.!'
Zid mengingat sekilas tentang dulu saat pertama kalinya bertemu Arend. Dan dia yang kaku harus menghadapi orang yang lebih kaku lagi darinya. Dan Arend yang mulai berubah bisa lebih hangat saat ia jatuh cinta pada Syeira.
'*Tidak peduli Tuan CEO akan mengingatmu kembali atau tidak Syeira. Tapi kau harus bisa membuat Tuan CEO kembali jatuh cinta padamu, atau kalau tidak. Dia akan kembali menjadi manusia robot. Haaahh*.!'
Zid menutup makanannya dan dia berjalan ke arah ruang tamu, ia akan tidur bersama Zico di karpet lantai depan tv.
Arend sudah berada di dalam kamar, ia melihat Syeira yang berbaring kesamping memunggungi nya. Arend lantas menutup pintu perlahan.
Ada rasa bersalah yang terbersit dihatinya. Arend merasa sangat bingung dengan keadaan dirinya yang tak terkontrol. Ingatannya tak menemukan sedikit pun titik tentang syeira. Tapi Arend menyadari hatinya yang bergejolak karna wanita tak di kenalnya itu.
'*Siapa kau sebenarnya*.?'
Arend naik ke atas ranjang, ia membaringkan tubuh di sisi yang lain. Ia terlentang menghadap langit-langit kamar, berusaha mengingat tentang Syeira.
Syeira yang masih terjaga merasakan ranjang yang bergerak dan Arend yang telah berbaring di sampingnya. Ia sesekali masih sesenggukan dan Arend bisa mendengarnya.
Waktu terus berjalan. Hingga semuanya terlelap dalam keheningan. Melewati malam yang melelahkan. Syeira dan Arend sudah tertidur.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"*Kau belum tidur*.?"
"*Kau juga belum tidur*.!"
"*Kenapa kau belum tidur*.?"
"*Karna kau belum tidur*.!"
"*Apa aku boleh mendekat*.?"
"*Kau hanya diam. Itu artinya?, kau mengizinkan*?.!"
"*Ra*.?"
"*Hemmm*.?"
"*Aku c!\_ u. m leher kamu ya*.?"
"*Aaahh*.??"
"*Aku sangat mencintaimu, Syeira. sangat*.!"
...----------------...
"Haah.?" Arend terbangun dari tidurnya, nafasnya tersengal. Ia bermimpi tentang hal yang tabuh. Mimpi yang membuat seluruh badan Arend merasakan gelanyar aneh dan struman-setruman gelora b!r4hi.
"S!Al.? Kenapa aku harus bermimpi seperti itu.?"
Arend menatap Syeira yang terlelap di sampingnya. Selimut yang Syeira pakai sudah terbuka setengah. Memperlihatkan wajah cantiknya yang kini menghadap ke sisi dirinya berbaring.
Arend merasa sangat bingung dan juga panik, ia bermimpi berhubungan badan dengan Syeira. Membuat jantungnya kini berdetak tidak normal.
Arend turun dari ranjang. Ia lantas memilih keluar dari kamar, dan akan tidur di sofa ruang tamu yang terletak di dekat dinding.
Zico dan Zid juga sudah tidur dalam lelap mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 2. Dan Arend membaringkan tubuh. Kini Ia akan sulit untuk bisa tidur lagi.
Arend tak menyadari bahwa mimpi basahnya adalah gambaran dari malam pertamanya dulu dengan syeira. Gelombang aliran otak kecilnya menghantarkan memory itu. Tapi Arend justru hanya berpikir jika ia tengah bermimpi b4$4h karna tidur seranjang Dangan seorang wanita.
Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi Arend. Ada perang antara batin dan akalnya yang tak sejalan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...