LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 45





Syeira dan Zico sudah sampai di halaman depan Perusahaan *N~A Cell*.



Di depan perusahaan ada banyak Kamera dan para staf yang sudah bekerja mensetting tempat, seperti akan di adakan sebuah Shooting.



Syeira dan Zico turun dari mobil dengan perasaan bingung. Untunglah ada Cellin disana. Syeira dan Zico menghampirinya.



"Ada apa ini.?"



"Hei.? Kamu kesini.?" Cellin merasa senang melihat Syeira yang datang. Ia tersenyum sangat manis, membuat Zico langsung tergoda.



"Iya ha ha. Tapi ini ada apa.?" Syeira kembali bertanya.



"Nanti siang akan di adakan shooting iklan untuk produk keluaran terbaru *N~A Cell* disini, ngambil Backgroundnya gedung perusahaan langsung. Ini akan menjadi Iklan paling beda dari sebelum-sebelumnya."



Jawab Cellin antusias, karna dia juga ikut andil dalam proses dan penyusunan rencana yang akan menggebrak dunia digital ini.



Syeira mengangguk bangga. Ia pun akhirnya permisi. Zico masih berdiri disana, tersenyum menatap Cellin tanpa mempedulikan syeira yang sudah setengah berlari. Cellin berpura-pura mengabaikan Zico dan dia kembali fokus melihat pada para staf yang bekerja.



Syeira menghentikan langkahnya, ia menoleh kebelakang melihat Zico yang tertinggal, Syeira pun berbalik dan menarik tangan Zico untuk segera ikut dengannya. Syeira ingin kelantai atas menemui Arend di ruangannya, dia merasa takut jika harus naik lift sendirian.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Bagaimana Zid.?"



"Semuanya sudah siap, Tuan.!"



"Apa dia sudah datang.?"



"Dia sedang melakukan tanda tangan kontrak di bagian administrasi, Tuan."



DK sudah berada di perusahaan ini, di salah satu ruang. DK kurang setuju mendapat tawaran pekerjaan ini, namun manajement nya mendorongnya untuk melakukannya, perusahaan *N~A Cell* bukanlah perusahaan sembarangan, bisa bekerja sama dengan mereka pasti akan sangat menguntungkan. DK bisa langsung Go International sebagai bintang iklan.



Tanpa mereka ketahui, ada satu rencana yang telah tersusun rapi di balik semua ini.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Syeira mengetuk pintu, Zid yang membukanya. Syeira tersenyum saru melihat Zid yang membukakan pintu.



"Apa aku bisa bertemu dengan Tuan CEO.?" Syeira bertanya pada Zid yang hanya diam tanpa kata.



Zico yang ada di sampingnya lekas menerobos masuk sambil menarik tangan Syeira. *Untuk apa berbicara pada batu.? Hanya batu yang bisa mengerti batu lainnya*.



Arend yang tengah membaca laporan di kursi kebesarannya mendongak melihat Syeira yang datang dengan muka.? Entahlah, takut, senang.? Atau.? Tertekan.?



Zid keluar. Zico mengikutinya. Menutup pintu dari luar, Zico akan turun kembali ke lantai bawah setelah mengantar seekor itik cantik peliharaan Tuan CEO ini.



Syeira masih diam, tapi dia terus menatap Arend yang juga menatapnya.



Syeira mendekat, duduk di kursi depan meja Arend. Berhadapan dengan sang CEO.



"Maaf.!" Lirih Syeira tulus. Rasa bersalahnya mendorongnya untuk meminta maaf langsung pada Arend.



Arend bangkit, ia berdiri lalu berjalan, mendekat ke samping Syeira, Arend menundukkan badan, tangan sebelah kanan memegang kursi Syeira, yang sebelah kiri memegang tepian meja, mendekatkan wajahnya pada telinga Syeira, Syeira semakin deg-degan di buatnya, kenapa Arend sangat suka sekali berada begitu dekat dengannya, membuat Syeira hilang konsentrasi.



"Kau harus di hukum.!"



Bisik Arend di telinga Syeira, membuat Syeira membulatkan mata dan menelan salivanya kasar.



Arend lantas menyentuh kedua bahu Syeira, membangunkan istrinya itu dari posisi duduk, hingga kini mereka berdiri berhadapan.



"Dimana dia menyentuhmu.?"



Suara Arend yang bertanya terdengar sangat berat. Syeira merasa takut, raut wajahnya sangat tegang.



"Tunjukkan tanganku.!" Ucap Arend membuat Syeira menelan salivanya kasar.



Syeira lantas menyentuh lembut tangan Arend, dengan gerakan pelan membimbing tangan Arend menyentuh pinggangnya. Namun dengan gerakan cepat dan kasar, Arend langsung merengkuh tubuh Syeira hingga menempel sempurna pada tubuhnya.



Syeira semakin tegang.



"Ini gerakan yang benar, dia merengkuh mu sangat kuat."



Syeira mengangguk pelan menanggapi ucapan Arend yang bersuara semakin berat tertahan. Libido Arend dalam mode ON.



Arend menyentuh wajah Syeira dengan tangan sebelah nya. Mengelus pipi Syeira yang halus, menatap manik nya dalam, lalu fokus pada bibir Syeira yang r4num menggoda.



"Apa aku boleh melakukannya.?"



Arend meminta izin. Ia memang sangat pandai menahan hasrat dan emosi, Arend masih mengingat poin perjanjian mereka, yang mengatakan mereka tidak akan melakukan tanpa dasar suka sama suka.



Syeira menunduk, rasanya sangat malu, pipinya merona merah, '*Kenapa harus di tanya, Tuan*.?'



"Diam mu ku anggap sebagai jawaban kau mempersilahkan."



Kata Arend yang mengeratkan pelukannya pada tubuh Syeira.



Arend lantas mendekat, wajahnya mengarah pada leher jenjang Syeira, Arend mencium dalam aroma leher sang istri yang pasti akan menjadi candu untuknya nanti, Syeira memejamkan mata, ia mendongakkan kepala memudahkan Arend mengeksplore lehernya.



Arend menempelkan bibirnya pada leher Syeira, mereka berdua merasa tubuhnya seperti Mendapat sengatan listrik yang sangat kuat.



Arend menjelajah leher Syeira, mencium aromanya, kiri dan kanan. Syeira dengan berani mengalungkan kedua tangannya di leher Arend. Menyentuh leher Arend hingga melakukan gerakan meremas rambut bagian belakang sang suami.




Syeira mendekat lebih dulu, ia menjinjitkan kakinya untuk bisa mengimbangi tinggi badan Arend, Syeira akan menautkan bibirnya pada bibir Arend, mengambil langkah mendahului.



Saat bibir itu semakin dekat. Pintu di buka. Zico datang.



"Oouuhh,,, $h!!\_\_\*\*."



Zico yang kaget berteriak mengumpat, berbalik menghadap pintu. Syeira lekas mundur karna kaget, merapikan rambut dan bajunya. Arend memejamkan mata menahan emosi. Gigi-giginya beradu. Hampir saja untuk pertama kalinya dia bisa merasakan kelembutan dan kemanisan bibir Syeira, tapi saudaranya itu selalu saja datang mengganggu.



"Apa kau ingin mati.?"



Arend berteriak pada Zico.



Zico nyengir kuda dan menggelengkan kepala, Syeira hanya menunduk.



"Tidak. Maaf kan aku, Tuan CEO. Tapi aku di minta untuk segera memanggilmu. Semua sudah siap di lantai bawah."



Ucap Zico cepat dengan suara yang gemetar, lalu ia segera kabur kembali keluar, lari dari suasana yang mencekam.



Syeira yang sangat malu hanya diam dan menundukkan kepala. Arend melihatnya, Syeira tidak berani menatap Arend. *Bukankah itu sangat memalukan*.?



Arend sendiri merasa sangat malu, Ia lantas menarik tangan Syeira untuk segera ikut dengannya, mereka masuk kedalam lift, akan turun kelantai bawah.



Saat berada di dalam lift, mereka berdua jadi canggung. Tidak berani saling pandang apalagi bicara.



Pintu lift terbuka, mereka telah sampai di lantai bawah, Arend hendak melangkah, namun dengan cepat Syeira meraih tangan Arend menariknya kembali masuk kedalam lift, hingga Arend berhadapan langsung dengan Syeira yang menatapnya begitu dalam.



Pintu lift kembali menutup, Syeira memencet tombol kembali ke atas.



"Ada apa.?" Arend bertanya.



Syeira sangat gugup, ia berniat untuk mengatakan semuanya pada Arend saat ini, ia merasa sudah tak sanggup lagi jika harus memendam rasa ini lebih lama. Cinta nya pada Arend sering kali menyiksa batinnya Karna hanya bisa diam tanpa mendapat jawaban.



Syeira menggerakkan tangannya, meraih kalung nya yang berada di dalam kaos yang dikenakannya. Kalung berbandul cincin hitam itu kini berada di luar tepat di dada Syeira.



Arend hanya melihatnya dengan tatapan biasa, jelas saja dia tidak kaget, Arend sudah mengetahui semuanya.



Syeira mengernyitkan kening mendapati ekspresi Arend yang biasa saja.



"Apa kau mengingat benda ini.?"



Syeira bertanya ragu pada Arend.



"Bagaiman aku bisa melupakannya, aku sendiri yang membuat itu dengan kedua tanganku."



Jawaban Arend membuat jantung Syeira berdetak lebih kencang. '*Deg*.'



"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu.?"



Mata Syeira sudah berkaca-kaca. Ia ingin menangis sekarang.



"Maaf.!"



Hanya satu kata itu yang mampu Arend ucapkan. Matanya sendiri sudah terlihat merah, Syeira menunduk dan menangis semakin kencang, '*Apa arti kata maaf itu.? Apa itu berarti jika Arend tidak mencintainya*.?'



Ingin rasanya Arend membawa Syeira kedalam pelukannya. Mengelus rambutnya, dan menunjukkan kasih sayangnya. Tapi Arend tidak melakukannya, dia tidak tahu reaksi apa nanti yang akan Syeira berikan padanya jika Arend melakukan itu.



"Aku melupakanmu saat dulu. Tapi aku tidak akan pernah melupakanmu di masa mendatang.!"



Syeira mendongakkan kepala. Menatap Arend semakin dalam.



"Apa itu artinya.? Aku tidak berani berharap pada apa yang tak lagi pasti. Karna itu sangat menyakiti hati dan raga ini.!"



Syeira secara tidak langsung meminta kepastian. Ia sudah pernah merasakan jatuh cinta, berharap dan menunggu pada orang yang tidak pernah mengingatnya, dan dia tidak ingin mengulanginya. Terjebak pada hubungan yang tak pasti.



Pintu lift kembali terbuka, mereka sudah sampai di lantai atas. Arend kembali menekan tombol. Pintu lift tertutup kembali, mereka kembali menuju lantai bawah.



"Aku mencintaimu, aku telah jatuh cinta padamu. Aku ingin menjadi Suamimu, dan kau menjadi istriku seutuhnya. Tidak hanya sampai bulan atau tahun depan. Tapi sampai maut memisahkan."



Arend mengucapkannya dengan lantang, Syeira menangis, air matanya lolos begitu saja, berderai saling berkejaran, tapi Syeira merasa sangat bahagia. Tentu saja.



"Apa itu benar.? Kau sungguh-sungguh.? Kau tidak berbohong.?"



Kepastian adalah hal yang sangat penting, Syeira kembali menanyakannya. Arend mengangguk-anggukkan kepalanya pasti.



Ingin rasanya Syeira berteriak saking senangnya, namun justru air mata yang terus berderai mengiringi kebersamaan mereka.



"Apa kau sudah mengetahui sebelumnya tentang cincin ini dan diriku.?"



Arend kembali mengangguk sebagai jawaban.



"Sejak kapan.? Kenapa kau hanya diam saja.? Kenapa kau tidak mengatakannya.?"



Arend hanya diam. Dia tidak punya jawaban yang benar.



"Untuk, saat ini, ada yang harus aku lakukan. Kau kembalilah ke ruangan ku, tunggu aku disana."



Arend perlahan mendekat, ia ingin mengecup kening Syeira, namun itu terasa sangat canggung, Arend hanya mengelus wajah Syeira. Mengusap pipinya yang basah karna air mata. Lalu ia melangkah keluar, pintu lift kembali terbuka, mereka telah sampai di lantai bawah untuk kesekian kalinya.



Arend keluar dari lift seorang diri. Syeira masih didalam melihat punggung Arend yang semakin menjauh, hingga pintu lift kembali tertutup dan Syeira kembali ke lantai atas. Menuruti kata Arend, Syeira akan menunggu suaminya itu di ruangannya, hingga Arend selesai melakukan pekerjaannya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...