
Jam menunjukkan pukul 22:00, atau Jam 10 malam.
Zid baru pulang ke tempat tinggalnya di gedung *N~A Cell*, Meldy yang berbaring di atas ranjang menghadap arah jendela dengan selimut tebal menyelimuti tubuhnya, mendengar suara pintu yang di buka.
'*Deg*.!'
Jantung Meldy serasa berdetak lebih cepat, ia sudah menahan tangisnya agar tak lagi keluar membanjiri wajahnya yang sudah sendu.
Ingin rasanya Meldy langsung meluapkan amarahnya saat ini pada Zid. Tapi bagaimana kalau Zid yang nantinya justru marah padanya.? Meldy masih belum siap jika harus kehilangan Zid. Begitulah cinta. Meski telah membakar masih juga di genggam.
**Flash Back On**.
Meldy terlihat sekali jika ia menahan air matanya, sesekali bulir bening itu menetes jatuh di pipi, dengan cepat Meldy langsung mengusapnya.
Darren yang mengendarai mobil mengantar Meldy pulang merasa kasihan.
'*Pasti saat ini dia merasa sangat hancur, patah*.!'
"Jangan melakukan apa pun.! Kau belum memiliki bukti sama sekali saat ini. Kau harus lebih bisa bersabar. Sampai kau bisa mendapatkan bukti jika kekasihmu memang berselingkuh, bisa saja, dia hanya mengantar temannya itu pulang. Tidak lebih, jangan sampai kamu merusak hubunganmu yang belum tentu bermasalah. Atau kau akan menyesali jika dia pergi karna kecerobohan mu.!"
Darren memberi nasehat pada Meldy saat mereka dalam perjalanan didalam mobil.
**Flash back off**.
Kalimat Darren yang memintanya untuk tetap diam dan bersikap normal di ingat Meldy, benar apa kata Darren. Meldy belum memiliki bukti apa pun.
'*Mungkin saja Zid hanya mengantar Zizi. Tidak lebih. Lagian juga mereka tadi tidak terlihat mesra sama sekali. Tapi kenapa hati ini tetap begitu sakit dan nyeri*.?'
Meldy lekas menutup mata kala ia mendengar suara pintu yang di buka Zid. Meldy pura-pura tidur. Ia takut tidak akan bisa mengendalikan perasaannya jika ia harus bertatap muka pada Zid. Atau semua akan kacau seketika.
"Babe.? Kau sudah tidur.?"
Zid mendekat, ia berdiri di tepi ranjang, menghadap Meldy yang berbaring menyamping.
Zid tersenyum, ia melihat wanita yang sangat mencintainya itu sudah terlelap.
"*Cuupp*.!" Zid mengecup kening Meldy hangat.
Lagi, Zid bersikap manis tak seperti biasanya. Harusnya Meldy merasa bahagia, tapi entahlah, melihat Zid yang keluar dari restoran bersama Zizi membuat hati Meldy terus sesak. Dan Zid yang mengecup keningnya justru semakin membuat lara di hati Meldy.
Meldy tetap diam dan meneruskan kepura-puraannya tidur, Zid berbaring di atas ranjang, dan dia merengkuh tubuh Meldy yang memunggunginya. Zid memeluk Meldy dari belakang, hingga mereka benar-benar terlelap melewati malam.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Di tengah malam yang sunyi, Cellin terbangun dari tidurnya, kepalanya tiba-tiba terasa sangat sakit, benar-benar sakit.
Cellin terduduk di ranjangnya, memegangi kepala plontosnya yang tak berambut, hanya ada sebuah Ciput kecil yang menutupi kepalanya yang kini gundul.
Cellin merasakan sakit yang teramat, sakit di kepalanya terasa begitu dahsyat, ia melihat Zico yang terlelap di sebelahnya. Zico tidur tengkurap dengan kepalanya yang menghadap ke sisi Cellin.
Cellin turun dari ranjang, duduk di tepian. Ia membuka laci nakas, lalu mengambil obatnya pereda nyeri, Cellin tak pernah mengatakan pada siapapun jika kepalanya masih sangat sering terasa sakit tiba-tiba. Ia tak ingin membuat orang-orang di sekitarnya mengkhawatirkannya.
Obat yang seharusnya Cellin konsumsi 3 kali sehari, bisa ia minum 4-5 kali, saat nyeri di kepalanya tak lagi bisa ia tahan.
Cellin meminum air dalam botol yang berada di atas nakas, itu sudah selalu Zico siapkan untuknya.
Cellin merasa ada yang bergerak dari hidung hingga ke bibirnya. Cellin menyentuh nya, dia kembali mimisan.
Air mata Cellin menetes mengiringi rasa sakit pada kepalanya dan takut pada hatinya. Ini sudah mimisan yang ke 3 kalinya semenjak ia pulang ke tanah air.
Cellin menyimpan semuanya seorang diri. Dokter mengatakan jika Cellin kembali mimisan, maka ia harus kembali di terbangkan ke Australia, dan menjalani operasi tahap ke-2.
Tapi efek dari Operasi tahap ke-2 sangat mengerikan, Cellin bisa saja koma, dan jika ia sadar, ia bisa saja amnesia. Melupakan semua orang-orang yang di cintai dan mencintainya, melupakan semua kenangan dan memory nya.
Cellin menangis menatap Zico yang terlelap, ia takut akan meninggalkan pria itu pada suatu hari nanti, dan itu pasti akan terjadi.
Mimisan Cellin masih keluar, ia lekas ke kamar mandi, berusaha menghentikan dengan teknik dasar yang ia tahu dan ia gunakan setiap kali ia mimisan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Pagi di Gedung** ***N~A Cell***.
Zid baru bangun, ia tak mendapati Meldy berada di sampingnya. Zid bangkit dan turun dari ranjang.
Ia memeriksa tempat tinggalnya itu, mencari sosok Meldy, Zid membuka kamar mandi, kosong, Meldy tak ada. Dia sudah berangkat bekerja lebih dulu.
Meldy sengaja menghindar untuk sementara waktu. Ia bingung harus bagaimana, batinnya terus mengatakan jika pasti ada sesuatu antara Zid dan Zizi. Tapi seperti yang di katakan Darren padanya, ia tak memiliki bukti.
Meldy langsung menuju ruangan Arend. Biasanya Bosnya itu selalu datang pagi. Tapi semenjak ada Syeira dalam kehidupannya. Arend sedikit lebih siang datang.
Meldy sudah harap-harap cemas menunggu Arend datang, ada hal yang ingin ia bicarakan pada nya, dan meminta bantuan. Meldy berharap Arend datang sebelum Zid yang datang. Atau Meldy akan susah untuk bisa bicara pada Arend. Karna Zid yang lebih sering mengekor Pada Arend.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Baiklah, aku berangkat dulu. *Cuupp*."
Arend mengecup kening Syeira. lalu ia menautkan kilat bibirnya pada bibir Syeira setelah celingukan melihat situasi sekitar, takutnya ada Zico si pengganggu.
"Bye..!"
"Kakak Ipar.?"
Zico memanggil Syeira yang berdiri di pintu masuk rumah.
"Aku harus ke kantor sekarang, ada pertemuan penting. Aku titip Cellin ya.? Tolong jaga dia untukku.!"
Cellin dan Syeira hanya tersenyum mendengar Zico yang berpamitan akan bekerja malah menitipkan Cellin seperti anak kecil pada Syeira.
"Siaapp..! Tenang saja, aku akan selalu ada di sampingnya.!"
Syeira memeluk lengan Cellin.
"Baiklah, suamimu ini berangkat kerja dulu istriku, sayang.? I love you.!"
Zico memeluk Cellin, lalu menautkan bibirnya pada bibir lembut Cellin, sebuah c!um.a.n yang sangat dalam. Zico tak menghiraukan Syeira yang berdiri melihat aksi nakalnya pada Cellin disana.
Cellin tak melawan. Ia membiarkan Zico merasakan dirinya, hanya itu yang bisa ia lakukan. Bahkan ia sampai saat ini masih belum bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri untuk memuaskan hasrat sang suami. Biarlah semua ini akan menjadi kenangan-kenangan indah untuk Zico saat Tuhan mengajaknya pulang nanti.
"I love you.. Ummuahh.!"
"I love you too.!"
"Bye."
"Wa'alaikum salam"
"Assalamualaikum.!"
"Wa'alaikum salam.?"
Syeira dan Cellin saling melempar senyum, mereka menikmati momen kecil yang terasa sangat membahagiakan dalam kisah hidup mereka yang terasa luar biasa ini.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Arend telah sampai di gedung *N~A Cell*, ia lantas bergegas menuju ruangannya, ada Meldy yang sudah dengan perasaan cemas menunggu kedatangannya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...