LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 76





Zid memasuki tempat tinggalnya, di suatu ruang tersembunyi di gedung perusahaan *N~A Cell*.



Meldy sudah tidur di ranjang, sedangkan Zizi, ia masih terjaga, berdiri di dekat jendela melihat pemandangan di luar sana, yang menampakkan view pemandangan pusat kota yang gelap dengan hiasan lampu-lampu yang terlihat cantik di malam hari.



Zizi lekas menoleh ketika mendengar pintu yang di buka, ia kaget. Trauma Zizi begitu kuat terpendam dalam dirinya.



Zid dan Zizi saling pandang, lalu Zid memalingkan muka dan menutup serta mengunci kembali pintunya.



Zid berjalan ke tepi ranjang, membenarkan selimut Meldy yang berantakan, Meldy memang sangat kacau saat tidur.



Zizi masih diam berdiri dan menunduk.



Zid tanpa sungkan melepas kemejanya, ia sangat lelah. Menampakkan body nya yang syarat akan otot-otot yang indah, dada bidang, lengan kekar, perut sixpack, dan sedikit bulu halus yang membuat mata kaum hawa menggila hanya dengan melihatnya, Zid sangat seksi.



Zid duduk di sebuah sofa panjang. Ruangan ini hanya ada kamar mandi, dapur kecil, dan ranjang di tengah, sofa-sofa dan sebuah meja tertata rapi di latar depan dekat Pintu.



"Kau belum tidur.?" Tanya Zid yang akhirnya buka suara pada Zizi yang masih berdiri di dekat jendela.



"Aku tidak bisa tidur.!" Jawab Zizi dengan suara lembutnya.



"Duduklah, kau pasti lelah terus berdiri.!"



Zizi pun mendekat. Dan duduk di sofa dekat Zid.



"Kau baik-baik saja.?" Zid kembali bertanya. Ia menuangkan minumannya yang sudah tersedia di atas meja ke gelas. Lalu ia minum.



"Aku hanya merasa sedikit takut."



"Kau tidak perlu khawatir, sebentar lagi kau bisa pulang.!"



"Aku tidak mau pulang.!"



Zid berhenti minum, ia menatap Zizi dalam, mendengar jawaban yang Zizi berikan.



"Aku tidak bisa pulang, keluarga ku sangat berharap padaku, jika aku pulang dan kenyataannya aku tidak bekerja, mereka akan sedih dan kecewa. Aku akan mencari pekerjaan di kota ini. Untuk bisa membantu keluarga ku di kampung.!"



Jawab Zizi menjelaskan maksudnya.



Zid memalingkan pandangan, ia kembali meminum minumannya.



"Kau sudah makan.?" Zid terus bertanya, ini bukan seperti Zid yang biasanya, yang pendiam, cuek dan dingin, Zid sendiri tidak tahu kenapa. Tapi dia merasa begitu kasihan melihat Zizi. Dan itu seperti mengingatkan-Nya pada adiknya yang telah tiada.



Zizi menggelengkan kepala sebagai jawaban.



"Biar ku buatkan makanan.!" Ucap Zid sambil berdiri dan melangkah menuju dapur kecilnya.



"Tidak perlu, Tuan.? Aku tidak mau menyusahkanmu.!" Ucap Zizi sambil melangkah mengikuti gerak Zid.



Zizi sebenarnya sangat canggung, dia gadis normal yang hanya dengan melihat tubuh Zid tanpa baju saat ini sudah merasa salah tingkah, apa lagi mendapat perlakuan yang manis seperti saat ini, membuatnya tertarik dengan cepat pada Zid.



Zid tidak mempedulikan teriakan Zizi, ia sudah sampai di dapur, meracik bumbu, menyalakan kompor, menuang minyak, memecahkan telur, dan menggoreng nasi. Zid akan memasak nasi goreng.



Zizi berdiri di samping Zid. Ia tak melepas pandangan matanya pada Zid yang fokus pada masakannya.



"Aaahh..?" Teriak Zizi karna tak sengaja terkena cipratan panas pada tangannya.



Zid bergerak cepat, ia mematikan kompor dan melihat tangan Zizi.



"Kau tidak apa-apa.?" Ucap Zid sambil membasuh kan tangan Zizi di wastafel.



Zizi menggeleng pelan, pandangan matanya begitu lekat pada Zid. Hati Zizi berdetak cepat, ia jatuh cinta.



Zid melihat Zizi yang terus menatapnya, mereka diam saling pandang untuk beberapa saat. Zizi menundukkan kepala karna malu, pipinya bersemu merah. Zid pun mulai salah tingkah.



Zizi sangat lembut dan halus, begitu berbeda jauh dengan Meldy yang aktif, cerewet, dan agresif, sedangkan Zizi, dia adalah gadis lemah lembut yang pemalu.



"Baiklah, kita makan. Kurasa nasi gorengnya sudah matang.!" Ucap Zid menghilangkan kecanggungan.



Zid dan Zizi makan bersama. Sesekali pandangan mereka bertemu, membuat mereka salah tingkah dan gerogi bersamaan, belum pernah Zid merasakan hal ini pada Meldy.



3 bulan mengenal Meldy, dua bulan pertama Meldy yang terus mengejarnya, hingga satu bulan mereka menjalani hidup bersama, tak sekalipun Zid merasa gugup, gerogi, ataupun salah tingkah pada Meldy. Zid merasa begitu berbeda ketika kini ia tengah bersama Zizi.



"Kau tidurlah di ranjang, bersama Meldy. Aku akan tidur di sofa.!" Ucap Zid pada Zizi setelah mereka selesai makan.



"Terimakasih.!" Ucap Zizi lembut dan malu-malu, ia terus menunduk. Tak kuasa rasanya jika terus melihat Zid yang tak memakai baju, dengan bentuk tubuh yang sangat menggairahkan.



"Selamat malam.!" Balas Zid pada ungkapan terimakasih Zizi.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



"Welcome.... Mr, Rain Cosa.? Bagaimana kabarmu.? Lama kita tidak bertemu.?" Ucap Leon dengan suara yang mendayu, seakan kemenangan sudah berada di tangannya.



Rain hanya diam menatap Leon tajam, tapi raut muka Rain sangat tenang. Tak nampak sedikitpun ketakutan di sana, berbeda dengan Arend yang sudah terlihat jelas jika saat ini ia sangat ter amat panik.




"My L.?" Syeira hanya bisa menangis, ia merasa takut.



Arend dan Rain menjatuhkan senjatanya ke lantai dengan gerakan pelan membungkuk kebawah.



Leon sudah melebarkan senyumnya dan bahkan tertawa.



Rain tersenyum licik, dengan gerakan cepat Rain menarik sebuah pisau yang tersembunyi di balik sepatunya.



"*Jlep*.!"



"Aaahhhhh.?"



Rain melempar pisau itu begitu cepat dan mengenai Leon tepat di keningnya, membuat Leon berteriak kesakitan, refleks mundur melepas rangkulan tangannya pada Syeira.



Syeira yang hampir jatuh dan Arend pun segera menangkapnya, namun tubuh mereka yang tak seimbang membuat mereka justru jatuh bersama di lantai, dengan posisi Arend memeluk tubuh Syeira yang masih terikat.



Rain melakukan sledding lantai hingga kakinya mengunci kedua kaki Leon dan menjatuhkan Leon ke lantai, dengan gerakan cepat Rain membekuk tangan Leon dan mengambil alih senjatanya.



"Aaahh.?" Leon hanya bisa berteriak merasakan sakit di kening dan tangannya. Darah segar bercucuran dari kening Leon yang tertancap pisau Rain.



Anak buah Klan RG yang lengang saat mendengar teriakan Leon, lekas mendapat serangan dari Cen dan anggota Klan Cosa hingga mereka habis tak tersisa.



"*Aaahh*.?" Leon masih berteriak, ia merasa sangat takut sekarang, Leon sudah berada di ambang kematiannya di tangan Rain.



"My L.?" Arend memeluk erat tubuh Syeira yang jatuh di pelukannya.



"Aku sangat takut.?" Syeira membenamkan mukanya di dada Arend.



Arend mengelus rambut Syeira, menghujaninya dengan kecupan dan ciuman di bibir yang sangat ia damba dan ia rindu.



"My L.? Bisakah kau membuka ikatan ku terlebih dulu.? Aku merasa sakit dan pegal terus seperti ini sejak kemarin.!" Ucap Syeira melebihkan. (*Padahal juga di ikat baru dari siang tadi. Ha ha ha*).



"Iya.!" Jawab Arend dengan kembali memberikan satu kecupan kilat di bibir Syeira.



Arend pun membuka ikatan tangan dan kaki Syeira. Membantunya berdiri, dan terus memeluk tubuh Syeira.



Rain membuang senjata Leon yang ada di tangannya, ia lantas mengangkat kerah baju Leon untuk berdiri.



Dengan tendangan kuat Rain mematahkan kaki Leon tepat di lututnya.



"Aaahh.?" Teriak Leon karna kesakitan.



Tubuh Leon jatuh kelantai, Rain tak tinggal diam, ia kembali mengangkat tubuh Leon dan kembali menendang lutut Leon sebelahnya lagi untuk ia patahkan.



"Aaahhh.?" Leon hanya bisa berteriak histeris.



Syeira tak berani melihat, ia membenamkan wajahnya di dada Arend. Arend menatap tajam pada Rain yang terus menyiksa Leon. Rain sangat kuat.



Tubuh Leon jatuh tengkurap di atas lantai, di iringi teriakan-teriakan dan rintihan kesakitan.



Rain masih belum puas juga. Dendamnya harus terbalaskan sempurna.



Rain berdiri di tengah tubuh Leon yang tengkurap, ia mematahkan satu persatu tangan Leon.



Lalu Rain membalik tubuh Leon hingga kini terlentang menghadap ke atas. Rain mengambil pisau nya yang ada di sepatu lainya, Rain hendak memotong lidah Leon dan mencongkel matanya.



"Uncle.?" Arend tidak tega. Ia pun menghentikan aksi psikopat Rain.



Rain berhenti, Leon menangis.



"Kau ingin memaafkannya, Arend.?" Rain bertanya. Jika Arend mengatakan iya, maka Rain akan berhenti dan membiarkannya. Rain akan menuruti apa kemauan Arend seakan ia menuruti kemauan Ineke. Hanya itu lah yang bisa Rain lakukan demi menyejukkan hatinya yang panas akan rindu pada Ineke.



"Dia hampir menyentuhku, My L.? Dia sudah membuka bajunya. Tapi Mr, RG datang dan akhirnya dia menghentikan aksinya.!" Ucap Syeira yang mengadu, Syeira memang sangat takut tadi, dia bahkan begitu benci dan dendam pada Leon yang terus mengelus wajahnya.



Arend membulatkan mata sempurna mendengar pernyataan Syeira, matanya merah dan ingin rasanya menangis membayangkan bagaimana ketakutan Syeira.



"Bunuh dia dengan cepat, Uncle.?" Itu adalah hukuman yang tepat menurut Arend.



Rain pun tersenyum senang mendengar jawaban Arend.



Rain berpindah memegang kepala Leon.



"Tidak.. Tidak..??" Leon ingin meronta, tapi hanya kepalanya yang bisa bergerak ke kiri dan ke kanan.



Rain menarik kerah kemeja Leon hingga kini tubuhnya terduduk.



Dan? '*Kleck*'



Rain mematahkan leher Leon hingga Leon mati seketika.



Arend memejamkan mata memeluk Syeira yang menangis hebat dalam pelukannya.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...