
'*Ciiiit*.'
Zico menginjak rem, mobil berhenti. Keduanya hanya terdiam, Zico hanya menatap lurus kedepan. Meldy pun sama halnya.
"Sudah sampai."
Setelah beberapa saat dalam keheningan, Zico pun akhirnya buka suara. Meldy mengangguk. Kakinya yang luka-luka yang tadi tak ia rasa Kini terasa sakit semua, perih.
"Thank's!" Lirih Meldy. Ia sangat lemah, tenaganya terkuras. Bukan hanya karna terlalu lama berjalan, tapi karna hati nya yang juga sedih, dan dia belum makan.
Meldy membuka pintu, Zico diam tak menanggapi.
Meldy keluar dari mobil Zico, ia lantas berjalan melangkah ke arah pintu utama gedung apartemen. Zico memperhatikannya.
Langkah Meldy seperti pincang, kakinya berjinjit dan tak seimbang.
"Aaahh? Sial sial, bagaimana kalau besok ini belum sembuh juga? Rasanya sakit sekali, aku tidak tahan!" Meldy ngedumel karna kesalahannya sendiri.
"Aaahh?" Ia berteriak kecil saat sampai di depan pintu. Dan malah bersandar pada kaca sebelah nya.
"Haaahh? Kakiku sakit? *hiks hiks*" Meldy memejamkan mata. Menahan sakit pada kakinya.
Sekian detik kemudian.
"Aaahh?" Meldy berteriak kaget. Tubuhnya di angkat seseorang.
"Zico?"
Entah sejak kapan Zico sudah keluar dari mobil, ia merasa tak tega melihat Meldy yang seperti itu. Pemandangan yang menyakiti matanya.
"Biar ku antar."
"Tapi?"
"Diamlah, berhenti protes."
Zico membawa Meldy masuk ke dalam gedung apartemen. Para Resepsionis yang melihatnya berkasak-kusuk.
"\**Waaahh, tampan sekali dia*"
"*Iya, bule lagi. Bisa memperbaiki keturunan. Hi hi hi*\*"
Zico berhenti di depan pintu lift.
"Bisa tolong kau tekan tombolnya?"
"Aaahh?" Meldy terperangah sejak tadi. Ia tak mengalihkan pandangannya sama sekali dari aksen wajah Zico.
"Aah? Iya iya." Meldy mengangguk cepat dan lekas menekan tombol lift. Zico yang menggendongnya ala bridal style pun membawa meldy masuk ke dalam lift.
Zico tak menatap Meldy sama sekali. Bukan karna tak ingin. D.ad.a Meldy yang berukuran besar sangat mengganggunya. Di tambah dengan balutan pakaian seksi melekat serba terbuka. Sedangkan Meldy. Tak mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia begitu intens menatap Zico.
'*Kenapa aku baru menyadari kalau Zico sangat tampan? Apa mataku yang salah? Aaahh, sebaiknya kuperiksakan mata ku ke Dokter besok*.'
'*Ting*.'
Pintu lift terbuka, dan Zico melangkah keluar.
"Dimana kamarmu?"
"Aaahh?"
"Cepatlah, kau berat."
"Oohh, itu?" Meldy menunjuk satu tempat.
"Turunkan aku."
Zico pun menurunkannya dari gendongan setelah mereka sampai di depan pintu. Meldy menekan sandi angka. Pintu terbuka.
"Aku balik." Zico hendak melangkah.
"Tunggu?"
Diam beberapa saat.
"Terimakasih!" Hanya itu yang Meldy katakan.
"Kenapa kau tidak melepaskannya saja. Bukan hanya dari bibirmu, tapi juga dari hatimu?" Zico berbicara serius menatap dalam manik Meldy.
"A-apa?"
"Sudahlah, lupakan." Zico kembali bergerak.
"Aku sudah berusaha, tapi selalu gagal."
Zico kembali berhenti mendengar ucapan Meldy. Ia lalu mendekat, Meldy menunduk, mencoba menyembunyikan tangisnya.
Entah dari mana dia mendapatkan keberanian itu, Zico merengkuh pinggang Meldy, membawanya masuk kedalam pelukannya.
"Pasti sangat sakit rasanya." Ucap Zico.
Meldy mengangguk, ia lantas membenamkan wajahnya semakin dalam ke dada bidang Zico.
"Aku sudah mengakhiri semuanya, tapi rasa sakitnya tertinggal. *Hiks hiks hiks*."
Zico mengelus kepala Meldy, berusaha memberikan ketenangan untuknya.
"Sudah, istirahatlah, ini sudah malam. Ini bukan seperti Meldy yang biasanya."
Meldy melepas kan tubuhnya dari pelukan Zico. Ia lantas melangkah. Zico mengikuti.
"Kau?"
Zico masuk. Meldy duduk di sofa.
"Dimana kotak obatnya?"
Meldy menunjuk pada satu laci, Zico membuka dan menemukannya.
Zico berjongkok di depan Meldy, ia lantas membawa kaki Meldy ke atas pangkuannya.
"Zico?"
"Ehmm?" Zico fokus pada luka lecet di kaki Meldy, ia mengoleskan krim kulit.
"Apa, menjadi seorang gadis, kita harus bersikap lemah lembut? Maksudku?" Meldy kesulitan meneruskan kalimatnya.
Zico tersenyum, ia mendongak menatap Meldy yang terlihat cute dengan raut muka bingung seperti itu.
"Tidak juga, maaf ya? Aku mengatakan hal yang salah waktu itu. Kau tidak perlu merubah dirimu menjadi seperti apa. Aku suka dengan kepribadian mu yang apa adanya. Mungkin kemarin mood ku hanya sedang buruk."
Zico meraih kaki yang satunya. Dan dia kembali fokus. Meldy menelan salivanya kasar.
Tanpa diketahui Meldy, Zico sebenarnya sedang berperang melawan hasrat Sedari tadi. Tampilan kaki jenjang nan mulus Meldy begitu mengganggu konsentrasi Zico. Sedari tadi Boy nya sudah berdiri. Tapi ada janji yang ia pegang kuat kepada Cellin. Jika tidak, pasti saat ini juga dia akan mencari pelampiasan.
"Sudah. Kau istirahatlah, aku pulang."
Meldy merasa canggung, sedangkan Zico mencoba agar bisa terlihat biasa saja.
Meldy menganggukkan kepala. Dan Zico melangkah keluar. Ia harus segera pergi dari sini.
"$*h!.t.t $h!.t.t $h!.t.t*"
Zico memukul kemudinya berkali-kali saat ia tengah berada di dalam mobilnya. Hasratnya semakin meninggi. Kenapa Meldy menjadi fantasi didalam otaknya.
"Sayang? Kau tahu aku menderita? Kenapa kau memberikanku janji yang sangat sulit?" Zico mengeluh dengan janji yang di minta oleh Cellin.
Tidak melakukan having $3k$ kecuali dengan seorang istri. Itu ternyata cukup menyiksa.
"Haah?" Zico mendengus kesal. Dan dia menyalakan mobil, menginjak gas dan lekas pergi dari sana.
"Aku tidak tahan. Aku harus dapat penyaluran."
Zico menghubungi seseorang.
"Okay madam. Saya tunggu di hotel SA."
Laki-laki bisa gila karna nafsunya, dan perempuan bisa gila karna hatinya.
Zico telah sampai di sebuah hotel yang ia sebutkan pada orang yang ia panggil Madam lewat sambungan telepon tadi.
Hotel yang sangat dekat dengan sebuah Club' malam tempat Zico bermain dulu.
Zico langsung berhambur menuju kamar yang di beritahukan madam.
Zico tahu ini salah. Tapi ia adalah Zico yang meski sudah berusaha begitu kuat memendam hasrat, akhirnya kalah juga.
"Sayang? Maafkan aku."
Zico bergegas. Ia tak tahan dengan jagoannya dibawah sana. Yang sudah berbulan-bulan meronta tak pernah terpuaskan.
'*Klek*.'
Pintu terbuka. Seorang wanita cantik sudah duduk di tepian ranjang, entah sejak kapan dia meloloskan pakaiannya.
Tanpa basa-basi. Zico mendekat, melepas celananya hingga sampai ke paha. Wanita cantik itu berdiri. Zico menekan kuat pundaknya agar dia turun ke bawah.
Wanita cantik itu menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan berdiri di lantai. Menghadap tepat di depan jagoan Zico.
Zico meremas rambutnya dari belakang, lalu mengarahkannya. Wanita itu juga sudah profesional, tanpa di beritahu pun dia sudah tahu harus bekerja seperti apa.
"\**Aaahh,, Ssshh*."
"*Aaahh,, aaahh*\*?."
Zico merasakan seluruh nikmat menjalar ke setiap sendi tubuhnya.
Ia hanya ingin menuntaskan hasratnya. Dengan bantuan wanita bayaran.
Zico terus mend3$a.h saat kepala wanita itu terus maju mundur memberikannya pelayanan terbaiknya.
Zico menarik dan memundurkannya semakin cepat. Lebih cepat. Hingga?
'*Aaaarrgghh*?'
Ia telah sampai pada puncaknya. Dan wanita itu menelan semuanya. Lalu mengusap ujung bibirnya dengan gerakan seksi dan manja.
Nafas Zico tersengal. Dadanya memburu. Nafsu menggelapkannya.
Zico melangkah menuju ranjang, tengkurap. Wanita itu pun ikut bergerak. Ia berpikir akan ada babak selanjutnya. Namun,,,,
"Pergi! Kau akan mendapat bayaranmu dari madam." Suara Zico sangat dingin. Ada penyesalan dalam hatinya.
"Sudah? Kau tak ingin?"
"**PERGI**?"
Zico membentaknya. Menghentikan wanita itu yang masih ingin bicara.
"Iya, iya, saya pergi."
Wanita itu kembali memakai pakaiannya. Dan keluar dari kamar hotel.
"*Cellin? Maaf*!" Zico terlelap.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...