
"Aku Maghrib dulu.!"
Meldy terbengong, ia tak bisa lagi mencegah Syeira yang sudah berhambur pergi. Kewajibannya sebagai muslim memanglah yang utama. Meldy harus bersabar.
Syeira menunaikan kewajibannya sebagai muslim berjamaah bersama dengan Arend.
Meldy terus menunggu, saat Syeira sudah keluar, Meldy hendak menghampiri, tapi Syeira menghentikan langkah Meldy, ia menyetop tangannya agar Meldy berhenti.
Syeira masuk kedalam kamar Zico. Ia harus membantu Cellin sekarang, Zico masih belum pulang. Bisnis papahnya Aryan yang kini ia pegang seakan ingin meremukkan badan Zico.
Meldy masih menunggu dengan sangat cemas. Waktu terus berlalu. Arend ingin tertawa melihat Meldy yang mondar mandir.
Dengan santai Arend makan di meja makan tanpa menoleh ke arah Meldy yang sesekali menoleh ke arahnya. Meldy meremas jari jemarinya karna sudah sangat cemas.
"Ra.?"
Syeira sudah keluar dari kamar Zico.
"Udah masuk waktu Isyak, Mel. Sebentar lagi ya.?"
Syeira kembali mengulur waktu, ia harus menunaikan shalat isya' sekarang.
Syeira masuk ke kamarnya, di susul Arend yang menahan senyum sinisnya. Ia kasihan pada Meldy, tapi tetap saja semua ini juga terasa lucu baginya.
Meldy sangat lelah menunggu, jam sudah menunjukkan hampir pukul 8 malam.
Syeira dan Arend keluar.
"Ra.?" Meldy langsung berhambur mendekat.
"Aku sudah menghubunginya. Dia bilang dia akan keluar, tapi saat aku tanya mau kemana. Dia bilang cuma jalan-jalan. Dan aku sudah mendapat alamat apartemen nya.!" Syeira berbicara pada Meldy yang sudah terlihat sangat panik.
Meldy merasa lega, dia mengangguk-anggukkan kepala nya mendengarkan ucapan Syeira.
"Tuan CEO. Kau sudah berjanji padaku.!"
Meldy langsung mengajak Arend untuk berangkat.
"Aku ikut.!"
Syeira menghentikan langkah mereka. Arend mengernyitkan kening, Meldy terbengong melihat Syeira dan Arend bergantian.
"Aaahh.?? Tentu saja. Ayo.!"
Meldy langsung mengerti jika Syeira mungkin saja cemburu padanya jika Arend akan pergi hanya berdua dengannya. Dan Meldy langsung bisa memahami itu.
**Cemburu itu memang sulit untuk di ungkapkan. Tapi sakitnya nyata tanpa bisa di jelaskan. Dan mungkin itulah yang saat ini tengah di rasakan Syeira**.
"Kita tunggu sampai Zico pulang.!" Seru Syeira, yang lagi-lagi membuat mereka harus menunggu, Meldy serasa mau mati.
"Haaa\_.h?"
"Benar, kita tidak bisa meninggalkan Cellin sendiri. Kita tunggu sampai Zico pulang.!"
Arend menimpali, memberi dukungan atas pernyataan Syeira, lagi pula, Arend merasa ini memang seru, melihat seorang wanita yang begitu heboh karna persoalan cintanya. Karna laki-lakinya yang mendua. Arend seakan melupakan rasa sakitnya cemburu yang pernah ia rasakan pada Syeira akibat ulah Darren Khanza.
Detik waktu berjalan seakan sangat lambat. Jam sudah menunjukkan pukul 9, dan Zico belum juga pulang.
Meldy memainkan ponselnya. Ia ingin tahu dimana sekarang keberadaan Zid.
"Dia bilang akan pulang terlambat.!"
Ucap Meldy pada Syeira dan Arend. Nada suaranya sudah semakin melemah. Bahkan semangatnya serasa pudar. Mata Meldy mulai berkaca-kaca. Pasti saat ini. Zid tengah bersama Zizi. Mungkin mereka makan malam romantis bersama diluar, atau apa saja.
"Aku akan menyuruh orang untuk mengikuti Zid mulai besok.!"
"Ide yang buruk. Dalam waktu kurang dari satu jam. Zid pasti akan tahu.!"
Arend menyahut. Ia tengah sibuk memainkan laptopnya, sebenarnya Arend sudah mengetahui dimana lokasi Zid dan Zizi berada, radar dari ponsel mereka yang Arend lacak menunjukkan mereka tengah berada di suatu tempat yang sama. Tapi Arend memilih diam, biar kan Meldy menyelesaikan permasalahannya dengan misi dan caranya sendiri.
Meldy menarik nafas dalam, kini dadanya benar-benar terasa sesak. Sakit sampai ke ulu hati.
"Assalamualaikum... Aku pulang.?"
"Aaahhhh,,,, Tuan Zico.?\_\_ Untunglah kau sudah pulang.?"
Tanpa sadar Meldy berhambur memeluk Zico yang datang, saking senangnya, sikap Meldy yang suka sembarangan memang sangat mengkhawatirkan.
"Hiiihh,, Apa yang kau lakukan.?"
Zico lekas melepas tangan Meldy yang melingkar di tubuhnya, memberikannya pelukan penyambutan.
Arend berekspresi datar, ia begitu mengenal Meldy, dan itu sudah biasa. Syeira hanya bisa nyengir ngeri, '*Wanita ini benar-benar membahayakan*.?'
Syeira tak akan membiarkan Meldy untuk dekat-dekat dengan Arend. Atau kejadian tak terduga dan tak di inginkan bisa saja terjadi.
Zico masih tercengang, dadanya jelas berdegup kencang. Biar bagaimanapun, Zico adalah pria dewasa normal, mantan Cassanova, dan sudah berpuasa begitu lama.
Dan Meldy, wanita yang cantik, seksi, dengan pakaian serba ketat dan terbuka. Jelas mampu membangkitkan kelelakian seorang pria.
Tapi Zico benar-benar sudah berusaha insyaf, mendapat serangan yang tiba-tiba, Zico justru bergidik ngeri, hanya Cellin lah kini wanita yang ingin ia sentuh dan ia biarkan menyentuhnya.
"Iiihhhh,,, apaan sih Lo, Mel.?"
Meldy nyengir kuda, ia baru menyadari apa yang telah dilakukannya.
"Sudah, tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kau sudah datang, tolong jaga Nona Cellin dengan baik selama kami pergi, oh ya. Semoga dia lekas sehat.!"
Meldy menarik tangan Syeira dengan gerakan cepat, untuk ikut melangkah bersamanya. Keluar dari apartemen Arend, meninggalkan Zico yang masih berdiam diri karna kebingungan.
Arend menepuk pundak Zico. Ia lantas turut melangkah mengikuti gerak dua wanita yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
"Apa anda sudah menunggu lama.?"
"Tidak, saya juga baru sampai.!"
DK tengah melakukan pertemuan di resort taman terbuka di gedung apartemen SA City, bersama seorang Director tv. Untuk membahas konsernya yang akan diadakan Minggu depan.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
**Operasi Di mulai**.
Zizi tidak di rumah, Zid juga mengatakan akan pulang terlambat, Meldy yakin jika mereka kini pasti tengah jalan berdua.
Alamat apartemen sudah di dapatkan, ada Arend yang akan membuka kunci berkode. Meldy akan mengambil kesempatan untuk menaruh mini Cam tersembunyi di apartemen Zizi. Meski begitu, Meldy tetap berharap jika semua kecurigaannya tidak lah benar, harapan dari akal nya. Padahal hatinya ia sudah sangat yakin jika Zid telah mencuranginya dengan Zizi.
Arend, Syeira, dan Meldy, mereka bertiga kini tengah berada di depan pintu apartemen Meldy.
Syeira dan Meldy menunggu dengan cemas. Berharap Arend segera bisa membuka kode sandi pintu nya.
Arend masih belum bergerak, ia yakin akan ada perang maha dahsyat setelah ia benar-benar membuka kode sandi pintu itu.
"Ayo.? Buruan Tuan CEO.?"
Meldy sudah tidak sabar, dan Arend malah hanya diam saja.
"Aku tidak akan menemanimu masuk, Mel. Aku dan Syeira akan menunggu mu di luar.!"
Arend mengantisipasi hal yang mungkin akan terjadi.
"Iya baiklah. Aku akan masuk sendiri. Tapi cepat buka.? Atau Zizi akan segera pulang.!"
Meldy sangat panik, ia menyadari kini ia tengah melakukan tindak kriminal dengan memasuki rumah orang tanpa izin. Bahkan ia akan menaruh kamera pengintai untuk memata-matai orang itu. Jelas itu melanggar hukum.
Arend mulai menekan tombol angka, ia lantas mengeluarkan sebuah chip miliknya. Dan Arend menekan beberapa angka kembali.
Itu seperti meretas sebuah akun, dan Arend menggunakan sandi buatannya untuk membuka pintu itu melalui Chipnya.
Syeira dan terlebih Meldy, merasa sangat gugup, panik, cemas dan takut menjadi satu. Melihat Arend yang tengah mencoba membuka kode sandi pintu apartemen Zizi.
'*Niit*.'
Pintu terbuka.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...