
Syeira mendapatkan izin dari Bu Mela untuk tidak masuk kerja lagi hari ini, tentunya setelah melewati masa debat yang cukup alot, ini hari terakhir Syeira di berikan izin. Esok hari tak peduli hujan badai, Syeira harus tetap datang dan bekerja, atau Bu Mela akan memecatnya.
Syeira menemani Ayla sang mamah mertua seharian. Mereka menghabiskan waktu dengan membuat kue, belajar memasak, menonton film, dan bahkan karaoke berdua di rumah.
Sesekali Ayla memperhatikan cara Syeira berjalan yang terlihat tidak nyaman dan bahkan tertahan.
'*Mereka kan sudah menikah hampir 6 bulan.? Kenapa masih seperti itu.? Apa ukuran putraku sangat besar*.?'
Otak nakal Ayla bekerja. Ia lalu beristighfar dan segera menepis pikiran kotornya. Yang terpenting baginya adalah, keluarga kecil anaknya sangat bahagia.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zico terus datang ke ruang kerja Cellin, gadis yang di tunggunya sedari pagi tak kunjung datang, Bahkan sebentar lagi jam makan siang, dan Zico sekali lagi datang ke meja Cellin.
"Cellin sepertinya tidak masuk kerja, Tuan Zico.!" Ucap seorang karyawan yang berada pada satu ruang dengan Cellin.
"Kau tahu kenapa.? Atau.? Kemana dia.?"
Karyawan itu menggelengkan kepala sebagai jawaban. Zico berdecah kesal. Ia membuang nafas kasar.
'*Kemana dia.? Kenapa tidak masuk kerja*.'
Zico yang tidak sabaran lekas keluar dari perusahaan, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang ramai lancar, ia akan langsung menemui Cellin di rumahnya. Rindu yang menggebu itu tak akan Zico biarkan membelenggunya hingga takluk dalam rasa sakit.
Zico menepikan mobilnya di sisi kiri jalan dekat Rumah Cellin. Ia lantas turun dari mobil, berjalan menuju Rumah Cellin yang nampak sepi, namun pintu nya terbuka.
"Assalamualaikum... Permisi.?" Zico mengetuk pintu rumah Cellin yang terbuka itu.
Tak lama kemudian seorang ibu-ibu datang, dia adalah salah satu kerabat Cellin, adik dari ayahnya yang sedang sakit stroke di rumah.
Ibu itu juga ada di rumah sebelah saat kemarin melihat Zico yang menjadi tontonan para tetangga saat membujuk Cellin untuk menerima Cintanya.
"Budhe.?" Zico menyalim khidmat punggung tangan wanita dewasa itu.
"Cellin tidak ada di rumah nak Zico. Dia pingsan tadi pagi, dan langsung dibawa ke Rumah Sakit.!"
Tanpa berbasa basi, wanita yang di panggil Zico Budhe itu langsung berterus terang menceritakan keadaan. Bahkan nada bicaranya terdengar panik.
Lagi pula dia juga tahu, jika Zico datang ke rumah mereka pasti karna ingin bertemu dengan Cellin. Tidak ada hal lain lagi.
"Apa.?" Jelas saja Zico kaget. Ponsel Cellin juga yang di hubungi sejak tadi dalam mode off, ternyata pemiliknya sedang berada di Rumah Sakit.
"Sakit apa, Bu.?"
Wanita itu menggeleng, ia sendiripun tidak tahu, bahkan seluruh keluarganya tadi pagi juga sangat panik dan tidak tahu.
Budhe di rumah ini untuk menjaga ayah Cellin dan keponakan Cellin yang masih kecil.
"Di Rumah Sakit mana.?"
Zico mengangguk mendengar jawaban Budhe yang menyebut salah satu nama Rumah Sakit di pusat kota.
Zico berterimakasih dan pamit, ia lekas pergi dari rumah Cellin menuju Rumah Sakit tempat Cellin di rawat.
Zico melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hatinya merasa was-was, ia takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada gadis yang sangat dicintainya itu.
Zico telah sampai di Rumah Sakit, ia memarkirkan mobilnya. Masuk dan langsung menuju ruang IGD, ia berpikir jika Cellin pingsan tadi pagi, mungkin saja saat ini dia di rawat di ruangan itu. Dan benar saja, Zico melihat Ibu, Kakak dan Kakak ipar Cellin tengah duduk di kursi deret depan Ruang IGD.
"Nak Zico.?" Ibu Cellin langsung menyambut kedatangan Zico,. mengulurkan tangannya sambil menangis.
Kakak dan Kakak ipar melihat Zico yang baru datang dengan raut muka yang sendu, sedih sedan, kakak ipar juga sama halnya seperti ibu, dia menangis dalam pelukan suaminya, Zico memeluk tubuh ibu Cellin yang bergetar karna tangisan.
"Ada apa ini.? Cellin sakit apa.?" Mata Zico sudah berkaca-kaca, hatinya terasa nyeri tiba-tiba tanpa tahu alasannya kenapa.
Pak Dokter keluar dari ruang IGD. Menemui mereka yang tengah bersedih.
"Cellin harus di rawat, petugas medis akan segera memindahkannya ke kamar inap."
"Dokter.? Cellin sakit apa.?" Zico bertanya. Ibu Cellin kembali menangis deras.
"Salah satu pihak keluarga, mohon ikut saya ke ruangan, kita harus membicarakan hal ini dengan segera."
Dokter kembali berbicara tanpa menjawab Zico yang sedang bertanya, ia akan menerangkan semuanya nanti di sana.
Kakak Cellin melangkah maju, dia akan mengikuti Dokter untuk berbicara.
"Saya ikut, saya adalah calon suaminya.!" Zico pasang badan, membuat Ibu dan Kakak Cellin mendongak melihatnya haru. Dokter mengangguk sebagai persetujuan.
Sebelum mereka melangkah meninggalkan tempat itu. Beberapa petugas keluar dengan mendorong ranjang rawat Cellin. Zico membulatkan mata melihatnya. Gadis yang sangat dicintainya tengah terbaring lemah tak berdaya, matanya tertutup sempurna tak sadarkan diri. Zico berlari mendekat menghentikan para penjaga yang mendorong ranjang roda Cellin. Ibu dan Kakak pun sama halnya.
"Cellin.? Cellin kamu kenapa.?" Zico mengelus wajah Cellin yang pucat, tak terasa air matanya telah jatuh menetes membasahi pipinya.
Cellin tidak berkerudung, rambut panjangnya tergerai, dia memang gadis imut yang sangat cantik, ada selang oksigen di hidungnya, juga selang infus. Ia terlihat begitu lelap dalam tidur.
"Maaf pak, kita harus segera membawa pasien ke ruangan, agar segera mendapat penanganan lanjutan."
Zico mundur, para petugas akan membawanya pergi.
"Tunggu, tempatkan dia di kamar terbaik di Rumah Sakit ini.!"
Para petugas sempat terdiam. Namun tatapan Zico yang sangat tajam membuat mereka segera mengangguk.
Zico lalu menoleh kearah Dokter dan Kakak Cellin yang masih berdiri menunggunya. Sedangkan Ibu dan Kakak ipar ikut menemani Cellin yang di bawa.
Zico mengusap air matanya, dan ia lekas melangkah mengikuti Pak Dokter dan Kakak Cellin yang sudah berjalan lebih dulu.
Dokter mempersilahkan Zico dan Kakak Cellin untuk duduk. Ia lantas membuka laptop dan menunjukkan gambar yang terdapat pada layar laptopnya pada mereka.
"*Aneurisma otak, adalah pembesaran atau penonjolan pembuluh darah otak akibat melemahnya dinding pembuluh darah. Ini adalah penyakit yang di derita oleh Cellin*."
Kakak mendengar Dokter yang sedang berbicara menerangkan, sedangkan Zico meraih Laptop yang di tunjukkan oleh Dokter. Ia membaca, mengamati dan mencoba memahami.
"*Aneurisma otak yang membesar dan pecah bisa menyebabkan perdarahan dan kerusakan otak. Misalnya jika terjadi pada batang otak, aneurisma otak bisa menyebabkan terjadinya stroke batang otak. Dan juga bahkan Kematian*."
Zico membulatkan mata melihat ke arah Dokter yang menjelaskan, ingin rasanya Zico memukul Dokter itu, ia tidak terima dengan kata Dokter itu yang menyebut tentang Kematian. Sedangkan Kakak Cellin hanya bisa menangis sambil menunduk, selain penyakit yang di derita adiknya, ia juga begitu sedih memikirkan biaya pengobatannya nantinya.
Kakak Cellin merasa jika dirinya tidaklah berguna menjadi anak laki-laki keluarga ini, dia kini bahkan kembali menganggur setelah di berhentikan oleh ayah Faisal.
"Lakukan pengobatan terbaik, lakukan apapun untuk bisa menyelamatkannya."
Zico berdiri dengan gagah, ia menutup kasar laptop Pak Dokter, menatap tajam ke arah Dokter yang tengah duduk dengan perasaan gamang itu.
"*Saya menyarankan agar dia di bawa ke Luar Negri. Tapi tentu Biayanya tidak akan murah*.!"
Zico mencengkeram kerah baju Pak Dokter, membuat kaget Kakak Cellin dan juga Dokter itu sendiri. Air mata Zico kembali menetes, matanya terlihat sangat merah.
"Aku akan bayar berapapun biayanya, kau harus menyelamatkannya. Jangan khawatirkan soal Uang.!"
Zico berbicara penuh penekanan, Uang bukanlah masalah baginya, yang terpenting adalah kesembuhan Cellin saat ini.
Kakak Cellin yang mendengarnya merasa senang, ia meraih pundak Zico agar melepas cengkraman tangannya pada Pak Dokter.
Pak Dokter hanya diam, dia bisa mengerti keadaan Zico saat ini, bagaimana besarnya rasa cinta, apa lagi dia adalah calon suaminya.
Zico kembali duduk, mencoba untuk tenang, ia mengusap pipinya yang basah karna tetesan air mata.
"*Meski begitu, Resikonya sangat tinggi, Tuan. Akan ada begitu banyak tahapan-tahapan pengobatan, yang mungkin akan berjalan hingga berbulan-bulan, dan bahkan tahun lamanya. Dan itu pun masih memilki kemungkinan-kemungkinan yang memiliki efek buruk. Dan bahkan gagal*."
Zico menggebrak meja sangat keras. Dadanya terasa begitu sesak. Ia lekas menghubungi Arend untuk segera datang, Hanya dialah satu-satunya orang yang selalu Zico andalkan untuk menyelesaikan segala masalahnya.
Dokter kembali menjelaskan semuanya pada Zico, ia lantas meninggalkan Zico dan Kakak Cellin yang masih terdiam di ruangannya setelah ia selesai menjelaskan. Dia juga harus memeriksa pasien yang lain sekarang.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
\**Jangan lupa karcis parkir nya dengan like ya.. 😁😁 itu bisa jadi penyemangat yang luar biasa buat author. 🙏😊*\*