
2 hari kemudian.
Arend, Zico dan Zid sedang membahas langkah-langkah selanjutnya kedepan, Zico berencana membawa Cellin keluar negri untuk menjalani pengobatan.
Aryan akan membiayai semua pengobatan Cellin dengan syarat Zico harus bersedia menjadi CEO di perusahaannya, dan tentu saja Zico bersedia, demi Cellin. Aryan berencana untuk pensiun dini, ia sangat lelah dengan semua kesibukan yang tak ada habisnya, ia ingin merasakan hidup tenang tanpa tekanan dengan Ayla istri tercinta.
Arend memerintahkan Zid untuk menjadi sekretaris Zico sampai Zico menemukan orang yang cocok. Itu lah kenapa Arend meminta Zid mempelajari tentang perusahaan Aryan selama ini, itu Arend siapkan untuk menyambut hari dimana Zico bersedia untuk masuk ke perusahaan Aryan.
Arend, Zico dan Zid masih membahas tentang keberangkatan Cellin esok hari. Zico akan meminta Kakak Cellin untuk bisa selalu menjaga Cellin selama 24 jam selama di Rumah Sakit luar negri, Zico menyadari setelah ia benar-benar masuk ke perusahaan Aryan, ia pasti akan sangat sibuk. Dan pasti tidak akan memiliki waktu sepenuhnya untuk menemani sang istri.
Seorang perempuan muda yang sangat cantik dan seksi masuk kedalam ruangan setelah Zid memintanya datang, dia adalah kekasih Zid. Perempuan bernama Meldy itu akan di tugaskan untuk menghandle pekerjaan-pekerjaan Zid yang akan ia tinggal selama mengikuti Zico di perusahaan Aryan.
Semua rencana sudah tersusun dengan matang, Zico dan Zid duduk berdampingan di sofa, mereka sibuk dengan laptop masing-masing, sedangkan Arend berdiri di dekat meja kerjanya. Dan membaca laporan yang terdapat pada sebuah Map.
Meldy keluar dari ruangan Arend dengan gaya centilnya, entah bagaimana Zid bisa jatuh cinta pada wanita yang sangat centil dan suka bermanja itu, bahkan Meldy sangat suka untuk terlebih dulu menggoda. Tapi mau bagaimana, Zid memang jatuh cinta padanya setelah Meldy terus mendekati dan mengejarnya selama hampir 2 bulan tanpa henti dan jeda.
Meldy yang baru keluar dari ruangan Arend berpapasan dengan Syeira yang baru saja datang.
Syeira melihat penampilan Meldy dari ujung kaki hingga ke ujung kepala, Syeira merasa kesal tiba-tiba, Meldy menggunakan rok yang sangat mini menampakkan paha mulusnya, dengan kemeja tipis yang ketat mencetak lekuk tubuhnya sempurna. Di tambah gaya Meldy yang begitu centil dengan tawa nya yang ceria.
Syeira membulatkan mata, mulutnya menganga melihat Meldy yang melangkah dengan langkah gontai dan manja. Ia berpikir jika Meldy pasti baru saja menggoda suaminya.
Syeira membuka pintu ruangan Arend lantas menutupnya dengan kesal. Arend sampai menoleh karna pintu yang di banting. Raut muka Syeira menakutkan, tapi juga menggemaskan, entahlah, wajah cantik itu terlihat lucu saat berekspresi marah.
"Kau bermain-main dengannya.?" Syeira berteriak pada Arend tanpa alasan yang jelas. Ia cemburu buta.
"Apa.?" Tanya Arend bingung dengan nada suara yang pelan.
"Kau..??" Syeira melangkah cepat dengan kedua tangannya seperti hendak mencekik Arend.
Entah kenapa Arend jadi merasa panik, ia mengingat Meldy yang baru saja keluar, dan mungkin saja Syeira berpapapasan dengannya lalu salah faham.
"Ku bunuh Kau Narendra Putra Aryan.!"
Teriakan Syeira menggema. Arend panik, ia membulatkan mata, dan menganga, bibirnya terasa keluh tiba-tiba.
Arend meletakkan map nya di atas meja lantas segera melangkah setengah berlari menghindari Syeira yang mengamuk.
"Kau kenapa.?" Arend berteriak pada Syeira yang terus mengejarnya. Mereka berdua saling kejar-kejaran mengitari meja dan kursi kerja Arend. Arend melupakan Zico dan Zid yang masih ada di sana. Bahkan Syeira yang sudah terselimuti oleh kemarahan tak menyadari adanya dua makhluk yang kini dengan santai tengah memperhatikan aksi konyol mereka.
Zico dan Zid menyenderkan punggungnya di sandaran sofa secara bersamaan. Mereka menonton aksi kejar-kejaran sepasang suami istri. Menikmatinya dengan santai.
"Sepuluh juta. Syeira akan memukulnya."
Zico berbicara pada Zid, ia menjadikan aksi Arend dan Syeira sebagai bahan taruhan.
"Seratus juta, Arend akan menaklukkan istrinya.!"
Zid tidak main-main dalam melakukan taruhan, Zico sampai membulatkan mata menatapnya yang melihat Arend dan Syeira dengan muka datar.
"Baik.!" Seru Zico setuju.
"Kau berani memasukkan wanita ke dalam ruangan mu.? Dasar bedebah...?" Syeira berteriak kencang. Tapi tetap saja raut mukanya terlihat sangat imut di mata Arend.
"Kau salah faham. Biar kujelaskan.!"
"Pukul dia.?" Zico sudah tidak sabar. Jika Syeira memukul Arend, maka dia yang akan menang. Zico berpikir Syeira lah yang pasti akan menang, dia adalah gadis itik yang bar-bar, di tambah Arend yang sangat menyayanginya juga pasti akan mengalah pada Syeira.
Zid hanya tersenyum sinis, ia sangat yakin dengan tebakannya. Zid sangat percaya dengan kemampuan Arend. Dia pasti akan menaklukkan Syeira dengan mudah.
Arend sudah merasa lelah berlari. Ia berhenti dan meraih kedua tangan Syeira dengan masing-masing tangannya. Menahan kedua tangan sang istri yang sudah ingin memukulnya sedari tadi.
Arend lantas menjatuhkan tubuh Syeira di atas mejanya, dan dia menutup tubuh Syeira dengan tubuhnya. Hingga beberapa benda yang berada disana jatuh berserakan.
Nafas Arend dan Syeira tersengal. Keduanya menatap dalam dan tajam. Syeira mencoba menggerakkan kedua tangannya memberikan perlawanan dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Arend pada tangannya.
"Dia kekasih Zid. Dan aku tidak sedang sendiri di ruangan ini." Arend akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan benar, Syeira membulatkan mata setelah mendengar pernyataan Arend.
"Ada Zico dan Zid disana." Arend menggerakkan kepalanya ke arah sofa memberi kode pada Syeira yang kini emosinya telah redam berganti dengan rasa malu dan muka merah padam.
Syeira menoleh kearah sofa, dimana Zico dan Zid yang telah duduk di sofa memperhatikan aksi konyolnya sejak tadi.
Zico nyengir kuda, ia melambaikan tangannya manis ke arah Syeira, sedangkan Zid hanya tersenyum sinis.
"Sejak kapan mereka disana.?" Syeira bertanya panik.
"Jauh sebelum kau datang.!"
Jawab Arend melepas cengkraman tangannya pada lengan Syeira, Syeira berdiri memperbaiki posisi dengan benar. Ini sungguh sangat memalukan. Ia merasa sangat canggung sekarang.
Zid bangkit. Ia telah menang.
"Aku tunggu 100 juta ku.!" Ucapnya pada Zico sambil melangkah meninggalkan mereka yang kini terdiam. Arend merasa bingung menatap Zico tajam. Zico hanya nyengir kuda lalu lekas berhambur pergi mengikuti Zid keluar dari ruangan Arend.
Kini tinggallah Syeira dan Arend berdua di ruangan itu tanpa nyamuk-nyamuk pengganggu.
Syeira melangkah menuju jendela dekat sofa. Ia berusaha menghilangkan rasa malu nya. Syeira melihat kearah bawah di luar sana. Arend mendekat.
Ia berdiri di belakang Syeira, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana. Sangat gagah dan tampan.
"Jadi.? Ada apa.? Kenapa kau datang dan marah tiba-tiba.?"
Arend sengaja menggoda Syeira, seru rasanya jika sampai Syeira mengakui cemburu yang membutakan nya tadi.
Syeira hanya diam. Arend lantas menarik lengannya, menghadapkan Syeira yang memunggunginya sedari tadi, dan kini mereka berhadapan sempurna.
Rasa malu yang belum hilang juga bertambah dengan rasa gugup dan takut. Arend memandangnya dalam dengan tatapan mata yang sayu, Syeira memahami tatapan apa itu, itu adalah tatapan cinta penuh damba.
Syeira menelan salivanya kasar, memalingkan muka menatap lantai tanpa titik yang pasti.
Wajah Arend semakin mendekat, ia ingin menautkan bibirnya pada bibir Syeira. Namun dengan gerakan cepat tubuh Syeira merosot kebawah, dan ia berjongkok menghindari serangan Arend. Ia lantas segera bangun dan melangkah berlari dengan kencang keluar dari ruangan setelah ia berhasil lepas dari kungkungan suaminya.
Arend hanya bisa tersenyum tertahan melihat tingkah sang istri yang sungguh menggelikan.
Syeira menyentuh dadanya saat ia berada di depan pintu ruangan Arend. Bayangan malam pertama mereka sungguh masih terbayang dan bersemayam. Dan rasa sakit yang dirasakan Syeira selama sehari semalam itu membuatnya sedikit merasa trauma. Apa lagi setelah malam pertama itu, Arend tak lagi memiliki kesempatan untuk mendekat, Syeira selalu menemani Cellin di Rumah Sakit. Dia ingin menunjukkan kasih sayangnya pada sang sahabat.
"Aku merasa haus akan 3r4n94nmu Syeira, Kapan kau akan memuaskan dahagaku.?"
Tentu saja Arend sangat merindukannya, dimana saat-saat Syeira merintih dan m3nd3$4h di bawah permainan nakalnya.