
Tik..tik..tik
Rintikan air hujan perlahan berjatuhan ke bumi dan di iringi dengan hembusan angin di langit sore yang cukup dingin.
Devan berdiri,lalu beranjak dan....
"Mah,Devan pamit ya..Devan janji akan ngerubah sifat papa."ujar Devan pamit di hadapan makam mamanya sambil mencium batu nisan mamanya".
Ia pun langsung beranjak dan melajukan mobil sport kesayangannya menuju rumahnya.15 menit perjalanan yang ia tempuh,Devan langsung menaiki beberapa anak tangga dan langsung masuk ke dalam kamarnya dengan nuansa putih elegant.Ia langsung merebahkan tubuhnya yang sangat capek.
Krinngggggg...
Pria itu membuka kelopak matanya perlahan,lalu beranjak dari tempat tidurnya menuju ke kamar mandi lalu ia memakai seragam sekolahny.Ia mengambil handponennya dan mengetikkan sesuatu di handponennya kepada seseorang.
"Aina aku udah mau otw nih jemput kamu"pesan Devan kepada Aina.
"Oke gue udah siap kok dev"balas Aina.
(read)
Devan langsung mengambil kunci motor bututnya di atas meja,lalu ia keluar dari sebuah bak istana dengan interior klasik-modern.Devan mengabaikan panggilan papanya di meja makan,ia langsung menancap motor bututnya ke rumah sang pacar Aina Khanza Leonardo.
"Aina udah siapp?tanya Devan
"Iyaaa Devann nya Aina."celetukk Aina menggoda sang kekasih.
"Hmm udah berani ngegombal aku nihh yeee"jawab Devan sambil mencubit hidung Aina
"Hehehhe..udah deh Dev,kapan ke sekolahnya kalo kek gini."jelas Aina
"Iyaa iya cepetan naik"jawab Devan dengan senyuman manisnya yang bisa membuat kaum hawa di luar sana pasti meleleh.
Di perjalanan suasana hening,mereka menikmati suasana di pagi hari yang begitu segar.Tak lupa mereka singgah di warung makan mang Joko untuk sarapan.
"Ehh pasangan romeo dan juliet udah datang".celetuk mang Joko
"Ck mang Joko bisa aja sihh".jawab Devan dengan penuh tawa sambil turun dari motor bututnya bersama Aina.
"Iyaa nih mang Joko baru pagi-pagi nihh udah ngegombal".sambung Aina tak kalah dengan tawanya.
"Hheheheh...silahkan duduk dulu mas devan sama mba Aina".jawab mang Joko.
"Siap mang Joko".jawab Aina dan Devan dengan kompak.
"Cieeee kompakkk".tawaa mang Joko semakin liar.
"Ihhhh mang Joko,dari tadi ngegombal mulu dehh...kapan makannya ini, nanti aku telat lho ke sekolah".jelas Aina dengan pipi yang sudah seperti kepiting rebus.
Devan hanya geleng-geleng kepala melihat sang kekasih di sampingnya dengan pipi yang sudah berubah warna merah karena ulah mang Joko tadi.
Pesanannya pun datang,mereka langsung memakannya dalam keadaan hening. Devan melirik sang pacar dengan raut mukanya yang masih jutek, ,sesekali ia menahan tawanya dengan perlakuan Aina.
"Hmm...Dev aku berangkat dulu ya ke sekolah".ucap Aina sambil mengambil tas nya di atas meja.
"Iyaa cepetan berangkat sana,nanti mang Joko gombalin lagi loo..Emang mau tuh pipi jadi kepiting rebus lagi"jawab Devan meledek sang pacar dengan tawanya.
"Ihhh apaan sihh kamu dev..."jawab Aina dengan penuh ********.
Aina pun langsung berlari menuju ke sekolahnya.Devan hanya menatap kekasihnya itu hingga bayangan nya pun hilang.
Lalu ia pun juga beranjak dari tempat duduknya dan tidak lupa ia membayar sarapannya ke mang Joko dulu.
SMA MERAH PUTIH,ya di sinilah sekarang Devan Syahputra Alinsky berada,berjalan di sepanjang koridor sekolahnya dengan wajah yang cuek,dingin.Teriak histeris kaum hawa terdengar di telinganya tapi ia menghiraukannya,tohh dia sudah punya kekasih.
Ia sudah sampai di kelasnya dan di sambut dengan sahabatnya,siapa lagi kalo bukan Arga dan Leon.
Sahabat Devan dari kecil sampai sekarang.Mereka tau semua masalah yang ada di keluarga Devan,termasuk hubungan Devan sama papanya tidak baik.
"Hei bro gimana hubungan loh dengan Aina?tanya Arga
"Baik".jawab Devan singkat.
"Lohh kenapa Dev,ada masalah yaa?"tanya Leon yang khawatir melihat Devan.
"Dev, loh kok diem aja. Sayang kali sama muka ganteng loh. Udah kayak tembok aja hahaha." Gurau Arga menghibur sahabatnya.
Devan sama sekali tidak menggubris candaan itu. Tatapannya masih saja datar seakan ia tuli tak mendengar.
"Selamat pagi anak-anak." Sapa Ibu Shofy wali kelas XlI IPS 4 dengan sedikit centil.
"Pagi bu...".jawab mereka serentak.
"Dev..Dev...Oi Devan.. Bu Shofy tuh udah dateng." Bisik Arga dari belakang tempat duduk Devan.
Arga kesal kepada Devan yang masih saja tuli ia langsung mendorong kursi sahabatnya dengan kakinya. Devan kaget dan hampir saja tersungkur kedepan. Setidaknya itu cukup menyadarkan lamunannya. Ia langsung menatap Arga yang sedang tertawa pelan dengan raut muka masam.
Tringkkk!!
Semua murid SMA MERAH PUTIH menyambut bel itu dengan penuh kebebasan. Ya bel itu adalah pertanda bahwa semua aturan aneh yang ada di sekolah konglomerat itu tidak berlaku lagi.
3 sahabat itu berjalan menuju parkiran di iringi dengan teriakan histeris siswi-siswi yang mengidolakan mereka
" Ga, pulang sekolah main basket yuk?Loh juga Devan udah lama gak main." Tawar Leon kepada sahabatnya.
"Gak Bisa!".jawab Devan datar.
Sambil sesekali menatap tajam Arga. Ia masih saja kesal dan seakan ingin menerkam sahabatnya itu
"Gue sih ikut aja".jawab Arga.
Leon dan Arga yang mendengar pernyataan Devan paham saja dan tidak menanyakan alasannya lagi. Mereka langsung naik ke mobil masing-masing.
["Aku udah pulang , in mau otw"]
Sebait pesan singkat yang ia kirim kan untuk seseorang.
Dari jauh ia melihat seorang gadis dengan dandanan sederhana. Gadis yang selalu membuatnya tegar melawan kejamnya dunia. Gadis yang ia cintai yang menghiburnya dengan canda tawa.
"Aina sayang, yuk naik."kata Devan sedikit menggoda.
"Paansih kamu Dev hahaha".jawab Aina yang sedikit tersipu malu.
Dua sejoli itu berjalan mengikuti arus kota. Suara hingar bingar kendaraan seakan menjadi lagu bagi mereka.
"Kita singgah di taman dulu".suara bass itu memecah keheningan.
Mereka berjalan- jalan di taman itu. Hati pria itu seakan tenang melihat kekasihnya tertawa. Suasana senja yang menghangatkan membuat hatinya merindukan seseorang.
Mereka pun terduduk di sebuah kursi taman.
"Dev, kamu kenapa sih? Dari tadi diam terus." tanya aina
"Aku kemaren ribut lagi sama papa. Aku mergoki papa lagi, dia masih sama kayak dulu".jawab Devan dengan raut wajah senduh.
"Sabar ya, kita sama doa aja supaya papa kamu bisa cepat berubah".kata Aina.
"Semua itu ada waktunya. Suatu saat nanti pasti Om Renald sadar kok, kalo semua yang ia lakuin tuh gak bener. Yang penting kamu usaha ajah terus dan yakinkan hati kamu." Sambung Aina.
Kata-kata yang terlontar dari mulut gadis bermata sipit itu seakan menenangkan dan membangun semangat baginya.
"Makasih ya Aina. Kita pulang yuk ini juga udah gelap".jawab Devan dengan penuh senyuman.
"Masama Dev".kata gadis itu.
Devan pun segera mengantar kekasihnya itu pulang dan bergegas kembali ke rumahnya.
"Dari mana aja loh ha!??" Sergah Revan Alexandra Leonardo.
Aina hanya diam tak bergeming mendengar pertanyaan saudaranya itu.
"Loh itu yah udah jadi pembawa sial sekarang pulang malam sama cowok. Dasar ******!!!. " ucap Revan dengan nada keras.
"Sekarang mana uangnya. Loh udah kan terima bayaran tuh cowok" sambungnya.
Gadis itu tak habis pikir mengapa kakaknya sendiri sampai tega mengatakan hal seperti itu kepadanya. Air matanya tumpah tak tertahan. Ia segera berlari menuju kamar tanpa memperdulikan teriakan saudaranya. Ia membaringkan badannya menutup mata menganggap semua kata yang terlontar dari mulut kakaknya hanya mimpi.