
Kei terdiam dalam lamunan, duduk seorang diri di kantin perusahaan *N~A Cell*, di hadapannya tergeletak secangkir coklat panas yang masih mengepulkan asap di atas meja, ia belum sempat sarapan tadi di rumah karena kesiangan, dan dia baru saja akan sarapan, menunggu menu pesanannya yang baru disiapkan.
Tangan kanannya menopang dagu, pandangan matanya mengarah ke luar dinding kaca yang menampakkan pemandangan di luaran sana. Ia kembali terbayang akan kejadian malam itu, malam resepsi pernikahan Zico dan Meldy, terlebih saat dirinya yang berada dalam pelukan dua pria yang menatapnya dalam penuh arti yang tak bisa ia mengerti.
***Flash back on***.
*Suasana menjadi hening seketika, Kei berada dalam pelukan Zid setengah berbaring, dan tangan kanannya dalam genggaman Darren, sungguh pemandangan yang ambigu*.
*Kei lekas bangun dan berdiri dengan tegap, mengerjapkan mata, merapikan dress greynya yang mewah, menatap lurus ke depan dengan raut muka* *canggung, ia menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata*.
*Gemuruh tepuk tangan begitu riyuh tertuju pada Darren yang telah berhasil menangkap buket bunga pengantin yang Zico dan Meldy lemparkan bersama barusan. Senyum kedua mempelai terlihat tulus sangat bahagia*.
*Dengan songongnya Darren membungkukkan badan berkali-kali lalu melambaikan tangan yang menggenggam buket mawar putih itu pada semua orang*.
*Darren membalikkan badan hendak memberikan buket bunga yang ia tangkap untuk ia berikan pada Kei di hadapan semua orang, namun tiba-tiba Kei sudah melangkah cepat meninggalkan tempat, diikuti Zid yang juga keluar meninggalkan kemeriahan acara yang begitu menyesakkan dada. Meski setelah sampai di depan pintu utama aula keduanya berpisah menuju arah yang berbeda*.
***Flash back Off***.
"Jangan ngelamun, nanti kesambet. Makhluk halus juga suka sama wanita cantik," bisik Darren yang datang tiba-tiba muncul entah dari mana. Ia berdiri sedikit membungkuk di belakang Kei mengagetkan gadis berparas cantik itu.
"Kau?" Mata Kei membulat mendapati wajah Darren yang begitu dekat dengan wajahnya dan tersenyum begitu manis.
"Good morning," ucap Darren santun sambil menjatuhkan bo.kongnya pada kursi di depan Kei, duduk berhadapan.
"Morning," jawab Kei santai, ia lantas menyeruput coklat panasnya yang sudah hangat hingga pas untuk ia nikmati.
'*Srruupp*.' Kei menyeruput coklat hangatnya lalu meletakkan kembali cangkir di atas lepek.
"Aaahh...." sahut Darren. Dan Kei menatap bingung pria di hadapannya itu.
"Aiisshh, minum kopi tanpa Ah itu seperti ibarat cinta yang tak bersambut, ayo cepat ucapkan, Ah,,,," "Aaahh,,," Beo Darren sekali lagi.
Kei terkekeh geli saat Darren mengatakan itu, mana ada minum coklat panas saja harus ada aturan seperti itu.
"Ayo ucapkan! Ah...," Darren masih tak puas juga. Sedangkan Kei semakin terpingkal tak mengikuti permintaan Darren agar dirinya berseru *Ah*.
"Apaan sih? Orang ini juga bukan kopi. Lagian kenapa harus ada ahnya? Ha ha ha, ada-ada saja!" Kei menggelengkan kepala beberapa kali, dan Darren memperhatikannya begitu dalam. Ia sampai tersenyum begitu lebar melihat wanita cantik di hadapannya ini tertawa begitu lepas.
"Kamu cantik," celetuk Darren spontan, ia memuji Kei dengan kalimat kejujuran.
"Apaan sih? F.uck Boy banget," tentu Kei tak dapat mempercayai mulut manis seorang pria yang ia pandang tabiatnya dalam versi pribadinya, pria seperti Darren yang terbiasa berkumpul dengan gadis-gadis cantik dan seksi. Sudah barang tentu pandai merayu dan bermain kata.
Darren mengembuskan nafas kasar, seorang pekerja kantin datang membawa mangkuk berisi sup ayam pesanan Kei yang masih panas.
"Terimakasih," ujar Kei pada pekerja kantin itu ramah.
"Aku kemari karena ada meeting dan tanda tangan kontrak, tapi Tuan CEO belum datang, dan aku tidak sengaja melihat kamu, jadi aku memutuskan untuk menemuimu sambil menunggu Tuan CEO." jelas Darren lalu dengan sembarangan ia menyeruput coklat hangat milik Kei, tepat pada bagian bekas bibir Kei yang masih perawan. Iya, bahkan bibir mungil nan ranum itu tak pernah terjamah laki-laki manapun sebelumnya, hatinya selalu tulus setiap kali ia mencintai seorang pria yang tak pernah membalas cintanya. Gadis yang malang.
"Iisshh,,," Kei berdesis kala mendapati cangkirnya berpindah tuan.
"Pesen sendiri kek, main embat punya orang aja." gerutu Kei merasa kesal, dan mendapat sahutan gelak tawa Darren yang menggema.
Zid yang baru datang sarapan di tempat yang sama pun ia melihat Darren yang duduk satu meja dengan Kei dengan sebuah tatapan yang sinis.
'*Dasar pemain, nggak bisa liat yang bening dikit*.'
Zid melangkah melewati meja mereka, ia memesan menu sarapan pada pekerja di balik seat table.
"Nasi dan ikan goreng, sayur sop sama sambel tomat, ditambah teh panas manis." pekerja kantin membacakan menu pesanan Zid. Zid mengangguk membenarkan.
Zid duduk pada salah satu kursi, Kei tak sengaja melihatnya dan pandangan mata mereka bertemu untuk sesaat sebelum akhirnya Zid memalingkan muka seolah tak peduli, atau memang benar-benar tak peduli.
"Sombong," lirih Kei tanpa sadar, Darren mengernyit mendengar Kei yang berbisik namun ucapannya masih dapat ia dengar dengan jelas.
"What? You say something?" tanya Darren, Kei menggeleng cepat diiringi senyum cengir kuda yang ia paksakan.
Sedikit banyak Kei mengetahui kisah cinta seorang Zid yang awalnya menjalin hubungan dengan Meldy yang kini telah menjadi istri saudaranya, Zico. Namun Zid bermain api yang pada akhirnya melahap habis seluruh cintanya hingga hangus tak bersisa.
Ada rasa kasihan, namun apa yang dilakukan Zid memang tak termaafkan.
'*Jika aku yang berada diposisi Meldy saat itu, pasti aku juga tidak akan pernah memaafkannya. Tak ada pengampunan untuk penghianatan*.'
"Pulang kerja, jalan yuk!" ajak Darren pada Kei yang langsung mendapat gelengan kepala sebagai penolakan.
"Aaahh, ayolah! Kita makan malam bersama, atau kamu mau belanja, atau kita bisa datang ke Club'. Kamu pasti suka Clubing, kan?" Darren berusaha agar Kei bersedia pergi bersama dengannya.
Entah saking kerasnya suara Darren atau memang pendengaran Zid yang begitu tajam. Hingga pembicaraan antara Darren dan Kei dapat Zid dengar dengan baik.
Kei terlihat berpikir, cukup lama ia hanya berdiam diri di rumah, mendapati pemandangan para pasangan yang diselimuti cinta penuh bahagia, pasangan yang tak lagi muda papahnya Aryan dan mamahnya Ayla, atau pasangan muda yang sedang sayang-sayangnya, Arend dan Syeira, dan pasangan hot terbaru, Zico dan Meldy. Yang ke semuanya dengan secara gamblang dan terbuka mengekspose kemesraan di mana saja di sana, Sedangkan Kei, dirinya hanya seperti seekor nyamuk yang menyandang status jomblo akut dalam mension mewah milik Aryan itu.
Kei akhirnya mengangguk. Ia butuh merefresh otaknya. Dan Kei rasa tidak ada salahnya untuk keluar bersama Darren, toh dia adalah mitra di perusahaan Arend, seluruh keluarganya juga sudah mengenalnya.
"Bagus, mau kemana?" seru Darren antusias. Ia begitu senang tak menyangka jika Kei akhirnya setuju.
"Club'." jawab Kei santai.
'*Apa yang akan kau lakukan pergi dengan pria macam itu, Nona Kei*?' batin Zid.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
*Gimana ya? Masa beneran ditulis ini kisah Kei, Zid sama Darren? Kan udah End? 🤧*