
"Apa kau takut.?" Tanya Cellin pada Zico yang sudah menangis tak lagi mampu menahan sesak di dadanya.
Mereka tengah berada di ruang rawat inap Cellin, Cellin berbaring setengah duduk di atas ranjang, dengan berbagai macam selang alat medis menempal pada tubuhnya.
Zico duduk di kursi samping ranjang Cellin. Ia menunduk, menangis sesenggukan, memegang erat tangan Cellin dengan kedua tangannya.
Cellin tersenyum manis menatap lemah ke arah Pria yang sangat di cintai nya itu, Seorang Pria yang mencintainya tanpa kata tapi atau pun kata dengan. Zico mencintai Cellin tanpa syarat dan apa adanya. Cintanya sangat tulus seperti udara yang memberi nafas pada manusia.
Cellin akan melakukan 3 tahap pemeriksaan awal sebelum nantinya di kemudian hari bisa melakukan operasi.
Pertama Cellin akan melakukan MRI, lalu CT-Scan ulang, dan Angiografi, Untuk melihat letak aneurisma sehingga tidak terjadi kesalahan saat pembedahan.
Zico sangat takut jika Cellin tidak bisa di selamatkan. Ia takut kehilangan orang yang sangat dicintainya itu.
Sedangkan Cellin, ia sudah pasrah, Apapun hasil akhirnya nanti, ia tidak begitu peduli. Tuhan sudah memberikannya satu kebahagiaan yang luar biasa dengan bisa menikah dengan pria yang di cintanya dan juga mencintainya. Itu sudah merupakan titik kebahagiaan paling akhir yang diinginkan Cellin. Dan Tuhan begitu baik telah memberikan kesempatan itu pada Cellin sebelum ia kembali pulang kepangkuannya.
"Kalau kamu masih terus saja menangis, aku akan merasa sedih.!" Cellin berbicara sangat lembut.
Zico mendongakkan kepala menatap wajah cantik sang istri. Ia lalu mengusap air matanya sendiri. Berdiri dan mengecup kening Cellin. Cellin memejamkan mata menerima ungkapan kasih sang suami.
Zico tidak mengerti, kemarin saat berangkat dari tanah air, Cellin sudah terlihat sehat, bahkan terlihat sangat baik. Namun tiba-tiba dia kembali dropt dan kehilangan kesadaran selama 28 jam. Membuat Zico begitu syok dan takut.
Para perawat datang, Mereka akan membawa Cellin ke ruang periksa. Kakak juga ikut masuk. Membantu mengangkat tubuh Cellin yang sangat lemah.
Cellin di bawa untuk di periksa.
Zico menangis sambil berdiri di depan pintu ruang periksa, ia terus mondar mandir kesana kemari, Zico tidak bisa tenang.
Sedangkan Kakak duduk di kursi deret, ia terus melantunkan doa doa dengan gerak bibir yang pelan. Memanjat penuh harap pada Tuhan agar memberikan rahmat. Hanya doa doa itu lah yang Kakak punya untuk membantu kesembuhan Cellin sang adik tercinta.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Mikaila terus saja memberontak, ia tidak mau mengikuti perintah yang di berikan Meghan. Meghan sangat kesal, ia lantas menjambak rambut Mikaila, menariknya hingga kepala Mikaila mendongak sempurna.
"Dengar, Kau bersiap sendiri. Atau aku yang memaksamu.!" Meghan melepas tangannya yang menjambak rambut Mikaila dengan kasar. Mikaila menangis memegangi kepalanya yang terasa panas.
"Bersihkan tubuhmu cepat di kamar mandi, lalu ganti baju mu dengan ini.!"
Meghan melempar baju ganti untuk Mikaila tepat di mukanya.
"Setelah itu makanlah. Aku akan mengantarmu ke rumahmu setelah kau selesai.!"
Ucap Meghan tegas. Mikaila pun akhirnya menurut, wanita ini sangat kejam, tidak, bukan hanya wanita ini, tapi semua orang penghuni Mension ini adalah orang-orang jahat yang kejam. Mikaila semakin yakin jika mereka lah yang membunuh Papahnya.
Mikaila masuk ke kamar mandi dan membawa baju yang di lempar Meghan untuk nya tadi.
Mikaila menyalakan shower. Tapi dia masih berdiam diri. Ia berpikir. Ini adalah kesempatannya untuk bisa membalas dendam. Mikaila tidak akan keluar dari tempat ini sebelum ia bisa membunuh pria yang telah membunuh Papahnya itu.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Arend dan Syeira telah sampai di kawasan terlarang Rain Cosa. Ada begitu banyak penjagaan yang terdapat di tempat bahkan jauh sebelum bisa mencapai Mension Rain.
Mobil yang di kendarai Arend dan Syeira di hadang oleh beberapa pria berkulit hitam berbadan tinggi besar berpakaian serba hitam lengkap dengan persenjataan.
Syeira merasa takut, tapi seperti yang di katakan Arend padanya. '*Diam saja*.!' Maka Syeira hanya diam dan memejamkan mata mengurangi rasa takutnya. Yang justru membuatnya merasa semakin jatuh dalam kegelapan. Dan Syeira memilih untuk kembali membuka matanya. Melihat apa yang terjadi.
Arend membuka kaca mobilnya. Seorang Pria mengarahkan senjatanya tepat di kepala Arend. Dengan santai Arend menatap arah depan. Lalu mengatakan satu nama, yang membuat pria itu lekas menarik kembali senjatanya. Dan membiarkan Arend melajukan kembali mobilnya.
'***Ineke Cosa***.!'
Hanya itu yang Arend ucapakan.
Arend tersenyum sinis dan menginjak gas setelah pria itu melepasnya. Kini ia benar-benar yakin, Jika ini adalah tempat Tuan Rain Cosa.
"Wooaahh..!" Syeira merasa sangat kagum seakan tak percaya. Mulutnya menganga. Menoleh kembali ke belakang melihat para pria bersenjata itu yang melepaskan mereka begitu saja Hanya dengan menyebut nama Aunty nya.
"Kau harus menceritakan padaku semua tentang aunty Ineke, My L.? Entah kenapa aku jadi begitu menyukainya.!"
Syeira berbicara antusias pada Arend. Ia menyukai wanita yang di panggil Aunty Ineke itu tanpa tahu sebabnya.
Ketegangan dan ketakutan Syeira berkurang, ia mulai menyukai aksi menegangkan yang memicu adrenalin ini. Ia membayangkan kejadian-kejadian ini seperti yang ada pada film-film yang ditontonnya.
Arend mengatakannya dengan perasaan yang dalam. Jika pujian itu Arend lontarkan pada wanita lain, Syeira pasti sudah cemburu, tapi entah kenapa hati Syeira malah menghangat mendengar Arend mengatakannya.
"Aku percaya itu, aku bisa merasakannya hanya dengan caramu menyebut namanya.!" Ucap Syeira dengan senyum lebar mata berbinar, dan pandangan mata itu justru terlihat menggoda bagi Arend.
'*Cuupp*!'
Arend mengecup kilat bibir Syeira, itu sangat menggodanya. Syeira membulatkan mata lalu lekas memalingkan muka. Ia merasa malu dengan tindakan Arend yang suka nakal tiba-tiba. Syeira tersenyum senang. Pipinya merona sebagai respon normal tubuhnya.
Mobil Arend berhenti, kini ia berada tepat di depan gerbang utama Mension Rain. 4 Pria menyergapnya, hampir sama dengan kejadian tadi. Mereka menodongkan senjata memberi kode pada Arend untuk segera keluar dari mobil. Syeira kembali merasa takut.
"Tenanglah. Semua akan baik-baik saja.!"
Syeira mengangguk mendengarkan Arend. Dia harus percaya pada suaminya ini.
Arend dan Syeira membuka pintu mobil mereka. lantas Syeira melangkah setengah berlari ke arah depan mobil hingga kembali bertemu dan berpegangan tangan dengan Arend.
Arend berdiri sangat santai. Ia memasukkan satu tangan kanannya kedalam saku celana. Sedikit menggoda mereka.
Dan ya, sontak saja mereka hampir menarik pelatuk senjata apinya.
"Hei... Calm Down.!"
Arend mengeluarkan kembali tangan kanannya yang tadi ia masukkan kedalam saku celana. Lalu mengangkatnya tinggi. Seperti yang di duga Arend. Mereka sangat sigap dan mencurigai Arend yang akan mengambil senjata.
"Siapa kau.? Untuk apa kau datang kemari.?"
Salah seorang dari mereka bertanya dengan berteriak.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Rain Cosa.!"
"Ada urusan apa.?" Pria tadi bertanya lagi.
"Tuan Muda Arend.?" Seru salah seorang pria yang terlihat lebih dewasa dari yang lainnya. Arend tidak mengenal pria itu, ia sama sekali tidak mengingat wajahnya.
Syeira dan Arend lekas menoleh ke arah sumber suara yang memanggil nama Arend.
"Kau mengenalku.?" Arend balik bertanya.
Pria itu membungkukkan badan. Dan anak buah yang lain yang menghadang Arend pun ikut serta.
"Cukup. Aku datang kemari hanya untuk bertemu dengan Tuan Rain Cosa.!" Arend tidak suka dengan cara penghormatan membungkukkan badan.
Mereka kembali mengangkat kepala setelah Arend berbicara.
"Mari, ikut saya.!"
Arend mengangguk dan melangkah mengikuti gerak Pria itu, menggandeng tangan Syeira.
"Anda mengenal saya.?" Lagi, Arend kembali bertanya, ia merasa tidak puas jika tidak mendapatkan jawaban.
Pria itu tersenyum sebelum menjawab.
"Tentu saja, kau adalah kebanggaan Nyonya Ineke. Aku pernah melihatmu beberapa kali dulu, kau mungkin tidak mengingatku, karna orang Tuan Rain memang begitu banyak jumlahnya.!"
Arend menganggukkan kepala.
Pria itu membawa Arend dan Syeira masuk kedalam Mension. Menyuruh mereka untuk menunggu duduk di sofa ruang tamu.
"Tunggu lah disini. Saat ini Tuan Rain sedang bekerja, aku akan menemuinya untuk mengatakan padanya mengenai kedatanganmu.!"
Pria itu membungkukkan badan lalu lekas pergi.
Arend diam dengan raut muka datar dan tatapan yang tajam. Bayangan aunty nya tiba-tiba berkelebat di depan Arend. Bahkan suara gelak tawanya yang khas terdengar di telinga Arend.
"Tempat ini sangat luar biasa, My L.?"
Suara Syeira membangunkan Arend dari lamunan. Arend sampai menoleh ke kiri dan ke kanan melihat sekitar. Bayangan aunty nya tadi benar-benar seperti nyata.
"Kau kenapa.?" Syeira menatap Arend yang berekspresi seperti kaget dan bingung. Arend menggeleng sebagai jawaban. Dadanya berdegup kencang mendapat sekelebatan bayangan aunty tadi.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...