LOVE And LIFE

LOVE And LIFE
Chapter 105





Arend dan Lala berada di bandara. Mereka sudah sampai di tanah air. Dengan terpaksa Arend harus membatalkan urusan bisnisnya untuk bekerja sama dengan perusahaan di Singapura. Urusan keluarganya lebih penting.



Arend tahu, saat ini Zico pasti sangat membutuhkan dirinya. Sejak kecil, hanya dia dan Ayla lah yang selalu menjadi sandaran saat Zico berada di titik terendah. Dan kini mereka berdua tidak ada di dekat Zico.



Lala sudah memesan taksi onlin. Dan kini mereka sudah dalam perjalanan untuk langsung menuju Rumah sakit.



...----------------...



Beda halnya dengan Arend yang hanya membutuhkan waktu 1 jam sudah sampai.



Ayla beserta rombongan masih harus menunggu satu hari satu malam penerbangan hingga akhirnya baru bisa sampai di Tanah air. Dan itu kemungkinan besok siang.



...----------------...



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Zizi masih terdiam dengan posisinya semula. Ia tak bergerak sama sekali, tangisnya reda. Tapi wajahnya sendu dan matanya sayu. Ia terlalu banyak menangis.



Jam istirahat sebentar lagi tiba. Seorang staf pria masuk ke pantry untuk mengisi botol minumnya dengan air galon yang ada di pantry.



Staf Pria itu melihat Zizi yang terduduk di lantai, dengan tatapan matanya yang kosong.



"Enak banget yah.? Meskipun kerja cuman jadi OB. Tapi bisa istirahat sepuasnya. Gak perlu kerja, gak perlu capek-capek bersih-bersih. Yang penting bisa macarin atasan. Aman semuanya.!"



Staf Pria itu berseloroh seakan menghina Zizi. Zizi menoleh kepadanya dengan tatapan tidak suka. Ia benci di perlakukan seperti ini oleh semua orang.



"Sebenarnya kamu itu cantik, Zi. Kalo kamu gak ngejatuhin sendiri harga diri kamu sebagai wanita baik-baik. Pasti banyak yang suka sama kamu. Kamu itu masih muda. Memang sih, sangat menggairahkan dengan melihat kepolosanmu itu.!"



Zizi berdiri menatap tajam Staf Pria yang terus bicara padanya itu. Ia tak punya daya untuk melawan dan membalas ucapan pria itu. Zizi menyimpan kekesalannya sendiri di dalam hati. Dan dia hendak melangkah.



"Kalau kamu mau menemaniku, aku bisa bayar kamu seperti Pak Zid membayarmu.!"



Kalimat terakhir yang di ucapkan Staf Pria itu pada Zizi sontak membuat Zizi membulatkan matanya.



'*Serendah itukah mereka menilaiku*.?'



Zizi lekas pergi melangkah dengan cepat. Ia akan segera pergi dari gedung *N~A Cell*. Ia sakit hati, sangat, ia di permalukan. Zizi tidak sanggup, ia tidak kuat.



Zid yang di harapkan dan di perjuangkannya tak memberi tempat sama sekali untuknya di hatinya. Dan sekarang, semua orang menyalahkannya. Hanya menyalahkannya.



'*Kenapa harus aku yang mereka salahkan.? Kenapa harus aku yang mereka rendahkan.? Bahkan Meldy sekarang sudah bahagia dengan pria lain. Kenapa harus aku yang mereka hakimi*.?'



Batin Zizi sangat sakit, ia merasa jika semua yang terjadi padanya tidaklah adil. Zizi keluar dan segera pergi dari tempat yang membuatnya merasa sesak itu. Dia akan pergi ke apartemennya. Dan dia memutuskan untuk tidak lagi bekerja di *N~A Cell*. Dia tidak kuat.



Zizi akan memikirkan lagi nantinya bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya di kota besar ini. Yang pasti, dia tidak bisa kembali pulang, karna dia harus bekerja dan mencari uang.



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...



Cellin tengah makan siang, Zico dengan telaten menyuapinya makan. Mereka berdua terus saling melempar senyum. Sesekali Cellin membuka suara mengajak suami tercintanya itu bercanda.



"Ternyata, rasanya memang sangat enak.? Pantas saja itu membuat kamu begitu candu.?"



Cellin membuka suara pelan. Zico mengernyit, ia tak memahami kemana arah pembicaraan Cellin.



Zico berpikir jika yang di bicarakan Cellin adalah tentang buburnya. Zico akhirnya menyuapkan bubur itu kedalam mulutnya sendiri. Ia ingin merasakan makanan itu. Yang di bilang Cellin enak dan bikin candu.



Zico mengernyitkan kening, ia bahkan menjulurkan lidah. Makanan itu sangat hambar, bahkan terasa enek saat di telan.



"Apa nya yang enak sayang.? Ini tidak enak. Bagaimana kamu bisa memakannya.? Akan aku minta Syeira untuk membelikan sesuatu.!"



Zico merutuk, ia merasa kesal ternyata makanan yang di berikan untuk istrinya sama sekali tidak enak.



Cellin hanya tersenyum. Ia tidak peduli dengan itu, karna lidahnya terasa tebal dan kebas.



"Tidak perlu, Suamiku.? Aku tidak membutuhkan makanan yang enak. Sejak beberapa hari yang lalu, aku sudah tidak bisa merasakan rasa apapun dari makanan yang Kumakan.!" Indra perasa Cellin telah rusak.



Mata Zico merah, dan berkaca-kaca. Tapi Cellin tak bisa melihatnya dengan jelas. Pandangan mata Cellin kembali kabur dan buram. Dan dia hanya diam tak mengatakan apapun pada siapapun.



"Baiklah lupakan tentang makanan.!"



Zico menaruh mangkuk bubur itu di atas nakas. Ia tidak tega harus menyuapi terus Cellin dengan bubur hambar itu.



Zico meraih manggis. Lalu mengupasnya, akan lebih baik jika Cellin memakan buah manis itu saja.




"Katakan, apapun pasti akan aku kabulkan.!" Zico masih fokus mengupas manggis. Ia memakannya dulu, mencicipi rasa buah itu. Jangan sampai rasanya tidak enak lagi dan ia berikan pada Cellin.



"Menikahlah lagi saat aku sudah pergi nanti.?"



Zico berhenti, tangannya yang hendak memasukkan manggis ke mulutnya sendiri sontak terhenti. Cellin mengucapkan sesuatu yang di benci Zico.



"Kau boleh meminta apapun, tapi jangan sesuatu yang tak mampu tuk kulakukan.!"



Mereka terdiam untuk beberapa saat, Zico memakan manggisnya. Manis. Ia memberikan itu pada Cellin. Tapi Cellin menolak.



"Aku sangat bahagia.? Itu.? Seakan masih terasa sampai sekarang.?" Cellin kembali mengatakan hal yang membuat Zico bingung.



"Apa.?" Tanya Zico yang tak lagi bisa menebak topik yang Cellin bicarakan.



"Itu.?"



"Itu apa.?"



"Iiih, kamu gak ngerti.?"



"Iya apa.? Jangan bikin aku penasaran.?"



"Itu.?"



"??"



Cellin gugup dan gerogi. Ia ingin membahas hal yang tabuh pada suaminya.



"Malam pertama kita.!" Akhirnya Cellin dengan lancar bisa mengatakannya.



"Uhuk.. Uhuk\_\_.?"



Zico langsung tersedak. Dia meraih botol air dan meminumnya. Istrinya membuatnya merasa gugup dan malu.



"Zico.? Kamu tidak apa-apa.? Apa aku salah bicara.?" Cellin beneran panik.



Zico tersenyum malu-malu. Ia baru mengerti sekarang kemana arah pembicaraan Cellin sejak tadi.



Zico berdiri mengecup kening Cellin hangat dan dalam. Cellin tersenyum selalu mendapat perlakuan romantis dari Sang suami.



"Jadi kau menyukainya.?" Zico bertanya nakal. Ia berbisik di ceruk leher Cellin.



Cellin tersenyum malu, pipinya sudah merona merah jambu. Dan dia mengangguk pelan.



"Apa kita.? Bisa melakukannya sekarang.?" Goda Zico.



"Kamu bisa melakukannya. Dimana saja dan kapan saja. Yang penting tempatnya memang aman tanpa bisa di lihat orang.!"



Zico tertawa mendengar jawaban Cellin.



"Ha ha ha ha.!"



"Tapi hanya kepada istrimu kau boleh melakukannya.!"



Zico berhenti tertawa. Apa yang di ucapkan Cellin terdengar serius.



"Kau adalah istriku.! *Cupp cuup*!". Zico mengecup punggung tangan Cellin berkali-kali. Lalu Zico memeluk tubuh Cellin, memasukkan wajah Cellin ke tengah dada bidangnya.



"Tapi aku akan pergi.?"



"Cellin, bisakah kau berhenti bicara omong-kosong.? Aku bosan mendengarnya.!"



Cellin menangis dalam pelukan Zico. Darah kental kembali keluar dari hidungnya bahkan menempal pada kemeja Zico tanpa Zico sadari.



Cellin mendorong pelan tubuh Zico. Ia harus mengusap mimisannya.



"Cellin.?" Sontak Zico kaget. Cellin kembali mimisan.



"Zico.? Apakah kamu bisa memanggilkan Ayah, ibu, Kakak dan keluarga ku. Dan juga Syeira.?"



"Cellin.? *Hiks hiks hiks*."



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...