
\**Semua orang tahu kata cinta, tapi tak semua orang bisa memahami maknanya. Begitupun dengan hidup. Bukan hanya tentang bernafas. Dan bahagia. Namun juga lengkap dengan luka dan derita*.
*Ego membawa manusia tega menyakiti sesama. Ego juga mampu menghancurkan apa yang sudah sekian lama dijaga agar bisa tetap bersama. Hingga cinta dan kehidupan itu rata dengan tanah pada akhirnya. Dan sejarahnya dikenang oleh semesta*\*.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Kei tak dapat lagi menghubungi Rain. Pesan terakhir yang Rain kirim padanya cukup membuat Kei membisu tak mampu merangkai kata. Jika cintanya pada Rain hanya semu, maka biarkan saja itu berlalu tanpa temu dan tuju.
'*Ada hati yang telah mati meski pemilik raga masih bernyawa. Ada cinta yang hidup abadi meski pemilik raga telah kembali ke tanah*.'
^^^**Rain & Ineke**.^^^
Itu adalah isi pesan singkat yang Rain kirim terakhir untuk Mikaila. Rain dan Ineke adalah keabadian cinta yang tak bersama ketika di dunia.
Hati Rain yang telah mati meski ia masih hidup, dan cinta Ineke yang masih hidup meski Ineke telah tiada. Begitulah makna pesan Rain pada Kei.
Memang sakit buat Mikaila. Tapi ia akan sembuh dengan satu kata. Ikhlas.
Kei mulai menjalani hidupnya dengan normal. Ia bekerja di perusahaan Arend. Bukan karena masih cinta dengan CEO perusahaan itu. Tapi itu memang bidang Kei. Dan dia menyukainya. Kei adalah lulusan dari kampus yang sama dengan Cellin dulu. Dan Kei bekerja di posisi yang sama dengan posisi yang pernah Cellin tempati.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
Zizi memutuskan untuk tidak menikah dengan Zid. Alasannya sederhana. Sekuat apapun hubungan mereka nantinya. Hati Zid tak kan bisa berpaling dari Meldy. Dan itu justru akan semakin menyakiti satu sama lain.
Gugurnya janin Zizi sudah menjadi bukti jika Tuhan tak ingin mempersatukan mereka. Meski Zid awalnya bersikukuh untuk bertanggung jawab dan bahkan ingin menikahi Zizi. Nyatanya Zizi pada akhirnya memilih meninggalkan Zid tanpa pamit.
Ya? Zizi kembali ke desanya, ke tengah-tengah keluarganya. Tanpa seorang pun orang yang tahu. Tak ada yang Zizi bawa. Ponsel. Rekening. Kartu, semua ia tinggal di kamar apartemennya. Zizi ingin memulai dari awal hidupnya yang dulu datang ke kota tanpa membawa apa-apa. Pulang pun sama halnya.
Meski hukum karma pasti berlaku, akan susah baginya nanti untuk bisa menikah. Atau, kalaupun menikah. Maka kesuciannya di malam pertama pasti akan di pertanyakan oleh sang suami. Dan biarkan dia menjalaninya.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
7 bulan telah berlalu.
Syeira kontraksi. Sebentar lagi ia akan melahirkan anak pertamanya. Dan dia kini sudah berada di dalam ruang bersalin sebuah Rumah Sakit di pusat kota. Arend dan Ayla menemaninya.
"\*Huuhhh, huuuhh, huuuhh? Aaaahhhhh"
"Tarik nafasnya Nyonya. Tenang! Anda pasti bisa."
"Aaahhh? Mamah? Sakiiitt\*??"
Kondisi di dalam ruang bersalin itu sangat runyam. Syeira terus berteriak kesakitan. Sedangkan Arend dan Ayla juga sangat heboh. Dokter dan para suster malah ikut panik karena Arend yang sedikit-sedikit mengancam akan menghancurkan Rumah Sakit ini jika Syeira dan bayinya kenapa-napa. nampaknya \*Tuan CEO sudah menggila.
"Aaahh?"
"Jangan mengejan dulu Nyonya? Belum saatnya\*?" Dokter sangat panik. Itu baru pembukaan dan belum saatnya keluar, tapi Syeira lagi-lagi mengejan.
"Apa maksudmu belum saatnya Dokter? Apa kau mau membunuh bayiku?" Arend berteriak pada Dokter itu.
Keringat Dokter itu bercucuran bukan karena dia lelah, tapi lebih kepada perasaan takutnya yang begitu sangat pada Arend yang terus membentaknya.
"*Diam Kau Na-ren-draaaaa*?" teriak Syeira. Syeira pusing mendengar Arend yang terus marah-marah.
Ayla bingung harus berbuat apa? Ia hanya memegangi kuat tangan kiri Syeira dengan kedua tangannya. Sambil tak putus melantunkan doa dalam hati agar semuanya baik-baik saja.
Sedangkan tangan Syeira yang kiri Arend yang memegangi.
"Ayo, sayang? Dorong lagi?" Arend mencoba memberikan semangat, tapi justru\_
"\*Plaaakkkk"
"Ah\*?"
Syeira menampar Arend keras lalu menjambak rambutnya.
"**BISAKAH KAU DIAM, TUAN NARENDRA?? PUNYAKU MAU ROBEK KARENA BAYIMUU**\_\_?" Syeira pun seperti sudah sama gilanya. Ia merasakan sakit yang luar biasa tapi masih harus pusing dengan suaminya yang terus berteriak melebihi dirinya.
Para Suster yang melihatnya hampir tertawa namun mereka tahan. Dokter tak berani. Rasa takutnya menjalar ke setiap pori-pori.
"Aaaahh? Iya iya iya sayang? Iya iya iya iya!"
"*Mamah? Sakkiitttttttttt*?"
"*Oweekk, oweekk,, oweekk*!."
"Alhamdulillaah"
Semua orang menyerukan kalimat yang sama. Seorang bayi perempuan yang sangat cantik telah lahir dengan selamat, sehat, lengkap, dan sempurna.
"Haaaaahh!." tubuh Syeira lemas. Dan ia menarik nafas panjang yang seakan tak dapat ia rasakan. Seluruh tubuhnya seperti mati. 1000 urat dan ototnya serasa putus bersamaan.
"Selamat sayang? Terimakasih?" Arend menciumi wajah Syeira dan mengecupi punggung tangannya. Tapi Syeira tak menanggapi. Ia begitu lemah dan menikmati rasa yang luar biasa pada tubuhnya. Tak merasakan apa-apa. Tapi sejenak kemudian. Senyumnya mulai mengembang.
"Selamat sayang? Terimakasih. Cucu mama sudah lahir." Ayla menciumi Syeira lalu memeluk Arend.
Para suster langsung memberikan perawatan pertama pada sang bayi.
Bayi perempuan yang sangat cantik. Wajahnya lebih dominan pada sang ayah. Cukup besar. Dengan berat badan lahir 3.5 kg. Dan tinggi badan yang cukup tinggi. 55cm.
Beberapa saat, suster kembali datang dan memberikan bayinya pada Syeira untuk mendapatkan ASI pertama. Dan di dekap dalam dada hangat sang ibunda.
'*Hei Baby L? Kenapa mata, hidung, pipi, bibir, dagu, dan bahkan jidatmu harus sama persis dengan Daddy mu? Aku yang hampir mati karena melahirkan mu, tapi kau tak membawaku sama sekali dalam dirimu*.' Batin Syeira. Ia ingin protes. Namun sangat lemah dan tak berdaya.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama?" Ayla bertanya antusias.
"Sudah mah. Kami akan mengumumkannya nanti secara resmi pada acara pemberian nama. Untuk sekarang, kita panggil dia Baby L. Inisial dari namanya." Arend yang menjawab.
"Baby L?." senyum semua orang mengembang. Kondisi di dalam ruang bersalin sudah kondusif. Dan mereka yang di luar masih ketar-ketir menunggu kabar.
Aryan, Zico, Kei, Zid dan Meldy berada di depan ruang bersalin.
Mereka semua sangat cemas. Apalagi Zico. Ia terus mondar mandir kesana kemari tanpa henti.
Apalagi saat di apartemen sore tadi, dialah yang mendapati Syeira pecah ketuban berdiri di dekat sofa ruang tamu, sedangkan Arend belum pulang. Dan Zico langsung melarikan Syeira kerumah sakit, dan baru menghubungi Arend. Lalu mengirim pesan singkat pada grup perusahaan untuk minta doa keselamatan. Sehingga Zid dan Meldy yang membaca pesan itu lekas bergegas datang.
"Aaahhh? Kenapa lama sekali? Dan belum ada yang keluar?" Entah sudah berapa kali Zico berteriak. Ia begitu cemas.
Seorang Zico yang tak mengerti apa-apa. Melihat Syeira mengeluarkan air begitu banyak dari area bawahnya tumpah ruah di atas lantai jelas membuat Zico parno seketika. Di tambah Syeira yang berteriak kesakitan sepanjang perjalanan mereka. Luar biasa horornya.
'*Klek*.' pintu di buka.
"Dokter?"
"Dokter?"
Semua orang berhambur mendekat pada Bu Dokter yang keluar.
"Dokter? Bagaimana?"
Dokter itu mengusap lagi wajahnya. Ia masih terlihat sangat panik dan takut. Membuat semua orang yang melihatnya berpikir yang tidak-tidak.
"Dokter? Jawab? Jangan diam saja?" Zico sudah tak bisa lagi bersabar.
Dokter itu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
"Hhhaaahhhhh" "Selamat, Bayinya telah lahir dengan selamat."
"Alhamdulillah!" Aryan bernafas lega. Sangat lega.
"Aaaahhh??.. Hi hi hi hi? Ha ha ha." Meldy melompat-lompat kegirangan.
"Yeaaacchhh?." Zico pun sama gilanya. Tanpa mereka sadari Zico dan Meldy bergandengan dengan kedua tangan mereka melompat-lompat dan berteriak bersama. Lalu saling berpelukan. Menjadi pusat perhatian orang-orang.
Dokter pun tak berani melarang untuk tidak berisik di rumah sakit. Ia memilih untuk lekas pergi ke ruangannya.
Zid menatap cemburu pada Meldy yang kini lebih dekat dengan Zico meski keduanya saling tak mengakui perasaan. Dan bersembunyi di balik kata teman.
Selamat. Baby L telah lahir.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...